Pindah Rumah
Salam, Alhamdulillah, blog ini akhirnya pindah rumah juga. Berhubung, karena, saya belum mengerti melakukan redirect blog ini kerumah baru, maka saya hanya bisa melakukan secara manual seperti ini. Jangan segan-segan untuk singgah kerumah baru saya ya…. semoga berkenan dan saya tetap membutuhkan masukan dan dukungannya…. Beberapa daftar tulisan :
Kita Semua Bisa Menjadi Pahlawan
“Kontes Putri Aceh” dan Dunia “Sok” Suci
Kami Ingin Tetap Tersenyum
Warna Warni (Berbagi Keberkahan)
Kemana Mereka Mengadu!
Hapuslah Air Mata Mereka
Rumahku Rumahmu
Aku Ingin Pulang
Mereka Adalah Manusia Pilihan
Tanyakan Pada Hati
Gagal PNS, Bunuh Diri!
Keresahan Saat Menulis (Jangan Buang Tulisan Anda)
Mari Berbagi
Kemana Mereka Mengadu!
Jangan Panggil Aku Lonte
Jamie Morgan dan Aceh
Lautan Jenazah Yang Terlupakan
Kuala Langsa, Wisata Bakau tak Terjamah
“Kebersamaan dan Keberagaman”
Politik Desas-Desus di Aceh
“Kontes Putri Aceh” dan Dunia “Sok” Suci
Saat ini, sebanyak 20 dara Aceh yang terpilih menjadi finalis Pemilihan Putri Indonesia (PPI), mulai dikarantina di Hotel Lido Graha, Kota Lhokseumawe, Aceh. Seluruh Finalis akan menjalani tes membaca quran (mengaji).
Akan tetapi, bukan pengakuaan atawa penghargaan yang mereka peroleh, justru hinaan dan cacian yang diberi masyarakat, bukan hanya kepada para finalis (secara tidak langsung), juga pada acara puti-putrian itu.
Lelah dan bingung, mungkin ini satu perasaan saya saat membaca ribuan komentar yang tidak sedikit memaki dan melecehkan tentang acara Kontes Putri Aceh yang diselenggarakan oleh salah satu lembaga di Aceh.
Lebih dari separuh komentar,baik di dunia maya maupun dunia nyata, menyalahkan dan menganggap kegiatan tersebut sebuah ajang penghinaan dan pengrusakan moral. Merusak keberlangsungan penerapan syariat Islam di Aceh. Huh!! Padahal, “kondisi Syariat Islam di Aceh sudah babak belur!”
Menurut saya, secara pribadi, kontes-kontes putri tidaklah salah dan memang tidak perlu disalahkan. Karena, yang harus kita pahami adalah, apa tujuan dari kontes-kontesan tersebut? Baca selanjutnya Klik disini
Martha Say’s
...kekalutannya pada awal pagi kemarin telah pula menyadarkan akan makna semua mimpi-mimpiku selama ini,
” saat kutanyakan padanya benar semua itu?
” SubhanaAllah Ameera , namun ia hanya terdiam dan tak bergegas untuk
menjawab semua tanyaku..tapi aku telah puas dapat tau gejolak dalam hatinya ‘bahwa dia mencintaiku dalam hatinya ….
Martha say’s :Amiin …
dia mengeluhkan ingin bertemu denganku tapi ia tak mau menagih rinduku..
dia masih malu, karena dia seorang pemalu yang sifatnya harus dipancing terlebih dahulu…dia mengatakan betapa malu ingin mendaki ku, dan kujawab aku aku tak terlalu tinggi setinggi pohon kelapa, jadi tak susahlah untuk didaki,
Martha Say’s :
hatinya dipenuhi warna warni bunga, dan dia ingin menyerahkan semuanya untukmu,tp dia belum tahu,bunga apa dan warna apa yang dirimu suka… seandainya dia tahu,pasti dia akan cari jalan…,karena itu, bukalah jalan itu, dan berilah tanda warna dan bunga yang dirimu suka kepadanya…
yaa Martha ….
dia menyukai bunga mawar berwarna warna biru ..
begitu juga aku..
namun sayang sekali sangat susah untuk mencari musim mawar berwarna biru ..
^_^ sehingga sua pun harus penuh sabar dii ujung waktu…” Aku dan dia “
Martha Say’s :
Yah, bersabar adalah jawabannya. agar kalian bisa melepas semua kerinduan yang indah itu menjadi sempurna saat berjumpa kelak, disebuah taman yang dipenuhi bunga berwarna biru, dibawah langit cerah dan birunya air laut……
betapa haru yaa perjumpaan itu…
aku pun sangat merindu …
sebuah episode dari Kemino Ayane
Kemana Mereka Mengadu!
Ramli (38) menyeka keringatnya. Teriknya matahri tidak mengundurkan hasratnya untuk terus memanggil calon penumpang untuk menanaiki labi-labi yang dikemudikannya.
Siang itu, Selasa (12/05/09), antara sabar dan putus asa, Ramli terus memanggil remaja-remaja berbaju putih biru yang sedang menunggu labi-labi di terminal Kedah Banda Aceh.
Sejak beberapa tahun ini, omset pendapatan para supir labi-lavbi dan pemilik labi-labi memang dalam kondidi yang memprihatinkan. “bayangkan, bila tahun 2005 kami masih bisa mendapat pendapatan bersih 70 ribu rupiah perhari, kini jangankan 50 ribu, untuk menutup minyak dan uang harian ke pemilik saja terkadang tidak mencukupi, ujar supir labi-labi jurusan Ulee Kareng-pasar Aceh ini.
Selain dikejar permasalahan kebutuhan ekonomi yang semakin hari kian melambung, kehadiran sepeda motor dengan sistem kredit murah secara tidak langsung telah menggerogoti pendapatan Ramli sebagai supir labi-labi.
Ramli tidak menyalahkan perusahaan sepeda motor, karena tekhnologi dan kebutuhan manusia memang semakin berubah sesuai zamannya.
Bahkan, tidak sedikit para pemilik labi-labi yang beralih profesi dengan menjual labi-labi yang selama ini tempat menggantung hidup. Supir dan kernet juga mendapat imbasnya.
Sebut saja Ali. Pria berkulit hitam asal Lhoknga yang pernah menjadi kernet supir labi-labi ini kini menjadi sebagai tukang cuci piring di salah satu rumah makan di bilangan Simpang Surabaya.
“saya tidak ada lagi pekerjaan sejak pendapatan labi-labi menurun drastis. Sebagian besar supir atau pemilik labi-labi tidak lagi membutuhkan kernet demi menghemat pengeluaran,” ujar Ali.
Selain Ali, ada Maimun. Laki-laki paruh baya yang pernah menjadi supir labi-labi jurusan Lambaro Angan – Pasar Aceh ini juga banting setir menjadi penarik becak. Menurut Maimun, menarik becak sama keringnya dengan menjadi supir labi-labi. Akan tetapi, tambah Maimum, hasil menarik becak masih bisa ditabung sedikit.
Fenomena ini, memang terlalu remeh untuk menjadi perhatian pemerintah. Padahal, Aceh, sebagaimana diketahui memiliki anggran yang luar biasa “wah”. Namun sayang, dana triliunan rupiah itu lebih banyak yang menguap ntah kemana.
Inilah saalah satu fenomena kemiskinan terselubung yang jarang mendapat perhatian. Khususnya oleh Pemerintah kita sendiri, Aceh!
Lalu bagaimana dengan supir angkot di daerah lainnya? nyaris tidak jauh berbeda!!!

