Adakah yang Mendengar Kami!

Standard

Sebuah desa di pedalaman Nagan Raya, Aceh. Ada yang aneh di daerah ini. Mulai dari pemerintahan hingga berbagai masalah sosial lainnya.

Sebut saja Ijal. Usianya baru 14 tahun. Tapi, jangan harap kita bisa melihatnya menggunakan seragam putih biru untuk berangkat sekolah. Setiap pagi, disaat anak-anak seusianya berangkat sekolah, ia hanya menenteng sebuah parang untuk ke kebun.

Tidak sendirian. Kedua adiknya, juga ikut bersamanya. Mereka bertiga menuju kebun walau hanya sebatas membersihkan kebun. Siang harinya mereka kembali ke rumah untuk makan siang. Lalu kembali lagi ke kebun dan sore harinya mereka bermain bersama teman-teman hingga larut malam.

Besok harinya, rutinitas ini terus dilakukan dan ntah sampai kapan.

Mengapa Ijal dan kedua adiknya tidak sekolah? Ibunya (Sebut saja Ibu Nah) bercerita. Sambil menitikkan air mata, “Sejak suami diambil orang, saya tidak mampu lagi membiayai mereka,” ujar Ibu Nah. 

Suatu malam, pertengahan tahun 2005, tiba-tiba rumahnya diketuk. Tidak ada rasa curiga, sang suami membuka pintu. Ternyata diluar, sudah ada beberapa orang yang tidak mereka kenal. Tanpa sempat mencium anak-anaknya, tanpa sempat berpamitan, suaminya itu langsung dibawa pergi. Entah kemana.

“Hingga saat ini saya tidak tahu di mana gerangan suami saya,” sambung Ibu Nah.

Namun, berdasarkan pengalaman, jika hilang pada masa konflik, maka tidak akan pernah pulang alias telah meninggal. Begitulah nasib yang dialami Ibu Nah.

Sejak itu, ia harus ke kebun menanam apa saja yang bisa ditanam untuk memenuhi kebutuhan dapur. Anak-anaknya masih sempat bersekolah saat itu. Dua tahun berselang, Ibu Nah menyerah. Dia tidak sanggup lagi membiayai anak-anaknya sekolah.. next

Warna Warni (Berbagi Keberkahan)

Standard

Tataplah wajah-wajah dibawah ini. Lalu tanyakan pada diri kita, sudahkah kita memberi warna kehidupan ini pada mereka. Bahwa hidup ini tidak sendiri. Kita saling mengisi dan berbagi dalam segala hal.

Kehidupan adalah sebuah berkah yang diberikan Allah. Kehidupan di dunia, bukan hanya untuk menjalani sebuah rutinitas alamiah, seperti makan, tidur, kerja, dll. Akan tetapi, kehidupan adalah sebuah berkah agar kita mengenal kehidupan ini yang sesungguhnya.

Ada keluarga, lingkungan dan tentunya agama sebagai panduan menjalani kehidupan.

Kehidupan ini penuh warna dan corak. Ada yang senang, ada yang sedih, miskin, kaya, lapar, haus, dan kesemua itu berpasang-pasangan agar kehidupan ini benar-benar seimbang. Sebagaimana sayap pada burung, antara siang dan malam, semuanya berpasang-pasangan.

Penuh warna dan sangat indah bila dijalani.

Tapi, ntah mengapa, di akhir zaman ini, keseimbangan itu sudah mulai hilang dari dunia ini…. next

Kami Ingin Tetap Tersenyum

Standard

Siapakah yang mampu memberi senyum diantara kita…

siapakah yang mampu mengajak mereka meraih mimpi

siapakah yang mampu memberi harapan bagi mereka…

Siapakah yang siap berdampingan berjalan bersama…

Kitakah, sayakah, kamukah, diakah, ….. kapan dan kapan….

Hapuslah Air Mata Mereka

Standard

Berbagi, kata yang sangat sederhana dan sebuah kata yang bisa jadi, hanya kata yang tidak berarti dan biasa-biasa saja.

Hidup adalah anugerah. Dalam tubuh kita pun banyak anugrah yang Tuhan berikan. Bukan pada wajah yang cantik, ganteng ataupun pada bentuk tubuh yang indah. Akan tetapi ada sebuah anugerah yang terkadang kita tidak pernah memperhatikannya. Yaitu, keseimbangan.

Bukan sebuah keseimbangan dalam artifisial umum, ada tawa, ada tangis, ada sakit ataupun sehat. Melainkan sebuah keseimbangan yang akan mengatrol keseluruhan hidup. Keseimbangan jiwa, hati, perasaan dan tentunya… bagaimana dengan sebuah keseimbangan ini, kita benar-benar merasakan bagaimana “nikmatnya iman”.

Saat wajah bisa dibeli untuk terlihat cantik dan tampan, saat tubuh dapat dibeli dengan bentuk yang proposional (dalam pandangan sekarang), saat harta dapat dibeli dengan berbagai cara, saat jabatan dapat diraih dengan berbagai usaha, namun, akankah kita bisa merasakan nikmatnya iman, merasakan bagaimana lapangnya hati sebagaimana luasnya samudera.

Cobalah sekali waktu, Jika pun tidak sanggup, karena berbagai alasan, cobalah sekali waktu datang ke panti asuhan, tataplah wajah mereka, rasakan, dan pikirkan, seandainya adik kandung kita, anak kandung kita berada dalam posisi mereka.

Jika pun tidak mampu, sesekali waktu, disaat kita ke pasar, lihatlah, bagaimana kehidupan mereka, bagaimana anak-anak harus banting tulang bekerja. Mulai dari mengumpulkan sampah, mengemis, hingga, tidak sedikit dari mereka yang bekerja sebagai pencopet.

Belum lagi anak-anak cacat yang nyaris tidak memperoleh perhatian, baik keluarga maupun lingkungannya.

Belum lagi anak-anak yang harus menghabiskan masa kecilnya, masa bermainnya di penjara, mereka harus menjadi manusia “dewasa” untuk bisa bertahan hidup.

Anak-anak yang berjuang, tak peduli siang dan malam, tak peduli teriknya matahari, tak peduli derasnya hujan dari langit, mereka akan tetap terus berjalan dengan langkah kaki yang gontai, dengan perut yang kosong, dengan rasa takut yang tak dapat terucap, dengan rasa sakit yang tak terkira, dengan air mata yang tak tahu sudah berapa banyak terjatuh… next

Kita Semua Bisa Menjadi Pahlawan!

Standard

Siapa yang tidak mengenal Cut Nyak Dhien, Panglima Diponegoro, Pattimura dan para pahlawan lainnya di negeri ini. Mereka adalah para pahlawan yang berjuang mempertahankan negeri ini. Para pahlawan yang siap mengorbankan seluruh hidupnya. Tidak peduli darah habis di tubuhnya, tak peduli rasa lapar dan haus, mereka tetap bertahan dengan kekuatan mereka. Tidak hanya menggunakan senjata, juga menggunakan pikiran dan tenaga.

Dan sadarkah kita, saat ini, banyak pahlawan yang berada disekitar kita. Mereka terus berjuang dan bertahan dengan kemampuan mereka, mereka bertahan dengan darah dan air mata.

Lihatlah, bagaimana seorang kuli bangunan, tak peduli terik matahari membakar tubuhnya, tak peduli air hujan yang membasahi tubuh, tak peduli tidur diatas kayu atau lantai yang dingin. Mereka terus bertahan. Semua mereka lakukan demi keluarga, membiayai anak-anaknya bisa melanjutkan pendidikan, menjaga keluarganya dari hal-hal negative karena kondisi ekonomi yang morat marit.

Lihatlah bagaimana seorang Office Boy (OB), disaat orang-orang berdasi melewatinya, disaat pejabat-pejabat menyuruhnya untuk berbagai urusan sepele, namun dia tidak gentar dan malu menjadi seorang OB. Karena, di rumahnya, seorang wanita tuda selalu menunggunya membawa rezeki.

Lihatlah seorang nelayan, walau hidup pas-pasan karena banyaknya rentenir, mereka akan terus berusaha dan terus berusaha, tetap bertahan agar bias member senyum kepada keluarganya.

Lihatlah para pembantu rumah tangga, walau sering mendapat penghinaan, dan terkadang siksaaan, mereka tetap bertahan dengan kekuatan mereka. Mereka berjuang dengan hati dan kekuatan yang ada. Semua dilakukan hanya untuk keluarganya di kampung.

Jutaan pahlawan ada disekitar kita.

Lalu bagaimana dengan kita?

Pernahkan kita terpikir untuk menjadi pahlawan, walau bukan sebagai pahlawan sesungguhnya di medan peperangan, tapi, adakah kita berusaha menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain, manusia yang bisa memberi harapan hidup bagi orang lain?

Tanyakan pada diri kita.

Sudah berapa banyak keluh kesah yang kita keluarkan, sudah berapa banyak protes yang kita keluarkan dari mulut, sudah berapa umpatan yang kita ucapkan, sudah berapa banyak ketidakpedulian kita kepada lingkungan, sudha berapa banyak… sudah berapa banyak….. sudah berapa banyak hal-hal lain yang telah kita buang…. Waktu, usia dan kesempatan.

Lihatlah, berapa banyak manusia yang gagal namun mereka tetap bertahan dan kembali bangkit. Lihatlah perjalanan hidup mereka, mereka bangkit bukan hanya untuk memikirkan diri sendiri, akan tetapi bangkit untuk bisa memberi manfaat bagi orang-orang yang berada disekililingnya.

Tanyakan pada diri kita.

Sebanyak apa dan sejauh mana cobaan dan kegagalan yang kita hadapi, seberapa banyak kesulitan yang kita temui…. Tanyakan pada diri kita… tanyakan…

Kita bisa dan kita mampu. Jangan takut pada angin yang berhembus, jangan takut pada batu yang ada ditengah jalan.

Marilah kita mencoba, buanglah rasa takut dan keragua-raguan yang datang. Jangan takut akan halangan yang semua itu belum tentu kita hadapi, jangan takut pada kegagalan yang belum tentu terjadi. Yakinlah dan berpikir positif, kita bisa dan kita mampu!

Kita semua sama dan kita semua mampu!

Sudah berapa banyak manusia yang berjuang, terjatuh, lalu bangun, terjatuh, kembali berdiri, terjatuh, bangun dan berdiri sambil terus bertahan, terjatuh,,, dan lihatlah… kini mereka tersenyum. Nikmat.

Lihatlah, berapa banyak manusia yang ada disekeliling kita. Mereka semua menanti kita, menunggu dan terus menunggu. Akankah kita berdiam diri? Akankah kita hanya termangu dalam waktu yang terus berjalan, akankah kita hanya menghabiskan waktu dengan senda gurau? Akankah… akankah… kita diam?

Kita semua mampu, dan kita semua bisa!

Kemana Mereka Mengadu!

Standard

Ramli (38) menyeka keringatnya. Teriknya matahri tidak mengundurkan hasratnya untuk terus memanggil calon penumpang untuk menanaiki labi-labi yang dikemudikannya.

Siang itu, Selasa (12/05/09), antara sabar dan putus asa, Ramli terus memanggil remaja-remaja berbaju putih biru yang sedang menunggu labi-labi di terminal Kedah Banda Aceh.

Sejak beberapa tahun ini, omset pendapatan para supir labi-lavbi dan pemilik labi-labi memang dalam kondidi yang memprihatinkan. “bayangkan, bila tahun 2005 kami masih bisa mendapat pendapatan bersih 70 ribu rupiah perhari, kini jangankan 50 ribu, untuk menutup minyak dan uang harian ke pemilik saja terkadang tidak mencukupi, ujar supir labi-labi jurusan Ulee Kareng-pasar Aceh ini.

Selain dikejar permasalahan kebutuhan ekonomi yang semakin hari kian melambung, kehadiran sepeda motor dengan sistem kredit murah secara tidak langsung telah menggerogoti pendapatan Ramli sebagai supir labi-labi.

Ramli tidak menyalahkan perusahaan sepeda motor, karena tekhnologi dan kebutuhan manusia memang semakin berubah sesuai zamannya.

Bahkan, tidak sedikit para pemilik labi-labi yang beralih profesi dengan menjual labi-labi yang selama ini tempat menggantung hidup. Supir dan kernet juga mendapat imbasnya.

Sebut saja Ali. Pria berkulit hitam asal Lhoknga yang pernah menjadi kernet supir labi-labi ini kini menjadi sebagai tukang cuci piring di salah satu rumah makan di bilangan Simpang Surabaya.

saya tidak ada lagi pekerjaan sejak pendapatan labi-labi menurun drastis. Sebagian besar supir atau pemilik labi-labi tidak lagi membutuhkan kernet demi menghemat pengeluaran,” ujar Ali.

Selain Ali, ada Maimun. Laki-laki paruh baya yang pernah menjadi supir labi-labi jurusan Lambaro Angan – Pasar Aceh ini juga banting setir menjadi penarik becak. Menurut Maimun, menarik becak sama keringnya dengan menjadi supir labi-labi. Akan tetapi, tambah Maimum, hasil menarik becak masih bisa ditabung sedikit.

Fenomena ini, memang terlalu remeh untuk menjadi perhatian pemerintah. Padahal, Aceh, sebagaimana diketahui memiliki anggran yang luar biasa “wah”. Namun sayang, dana triliunan rupiah itu lebih banyak yang menguap ntah kemana.

Inilah saalah satu fenomena kemiskinan terselubung yang jarang mendapat perhatian. Khususnya oleh Pemerintah kita sendiri, Aceh!

Lalu bagaimana dengan supir angkot di daerah lainnya? nyaris tidak jauh berbeda!!!

sumber foto

Seandainya Aku Petani, Bukan Jurnalis?

Image

Apa yang istimewa dari seorang jurnalis, bila dibandingkan dengan petani? Kedua profesi ini, memiliki kelebihan tersendiri. Selain pekerjaan sebagai guru (Teladan, tentunya), seorang petani dan jurnalis merupakan sebuah pekerjaan yang sama mulianya.

Tapi , bagi saya , hidup sebagai jurnalis ternyata tidaklah semudah membalik telapak tangan. Sangat berat, bahkan.

Seharusnya, saya tidak layak untuk membicarakan hal ini, karena saya masih terlalu mentah dalam “dunia” jurnalistik. Belum berusia lima tahun saya menjadi seorang jurnalis.

Namun, dalam rentang waktu yang singkat tersebut, saya melihat begitu banyak “kekhilafan” yang sulit untuk dihapus. Sangat jauh berbeda dengan seorang petani (walau sejujurnya, saya tidak berhak membandingkan kedua pekerjaan ini). Tapi ini hanya berupa pendapat pribadi yang telah lama terpendam.

Ternyata, petani lebih mampu menjadi diri sendiri dan menerima apa adanya disbanding pekerjaan sebagai jurnalis. Petani bekerja sepenuh hati dan memberi manfaat jauh lebih luas dan lebih dalam untuk kehidupan orang banyak.

Sebaliknya, ketika berdiri untuk menjadi seorang jurnalis, saya seperti berdiri di antara dua sisi yang sulit untuk dipisahkan, yaitu sisi baik dan sisi buruk. Sulitnya mmebedakan kedua sisi ini, karena keduanya nyaris tidak terlihat.

Saya sadari, ini semua tergantung pada pribadi masing-masing. Namun, melihat kehidupan para jurnalis, ternyata begitu berat “cobaan” yang harus dijalani.

- Cobaan terhadap godaan nafsu (Baik Harta, Tahta maupun Wanita)

- Cobaan terhadap sikap Idealis.

- Cobaan terhadap tekanan luar (Objek pemberitaan), dan

- Cobaan untuk melihat dan bermimpi akan kehidupan masa depan yang layak.

Semua cobaan itu hanya sebagian kecil saja. Karena, pada dasarnya, cobaan lain kerpa datang dari kantor media tempat kerja, termasuk “sempitnya” lahan media di Aceh (khususnya).

Semua cobaan itu seakan menjadi sempurna kala upah mencari berita ternyata jauh dari kata layak, bahkan berada pada titik rendah dari upah minimum yang diberlakukan oleh pemerintah (Baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah). Belum lagi ketiadaan jaminan masa depan ketika keluar, ketiadaan asuransi, menambah beban yang tak berkesudahan. Hidup sebagai jurnalis benar-benar dalam ancaman dan selalu dalam tekanan, jika tak mau dikatakan “ditekan” atau “dipaksa”.

Terkesan cengeng dan bodoh! Tapi, inilah yang saya lihat dan rasakan!

Kerisauan ini, sering sekali saya dengar dari beberapa teman yang berprofesi sebagai jurnalis. Keraguan akan masa depan, kadang-kadang, telah membuat mereka “gelap mata”. Meskipun hati menolak, namun, keadaan telah memaksa untuk ikut “bermain” dan melepaskan tanggung jawab sebagai kontrol sosial.

Tidak hanya itu, kadang-kadang, seorang teman jurnalis berkata: “Aku tidak makan dari pagi karena tidak ada uang”.

Sayangnya, bukan jurnalis muda, para pencari berita yang sudah berlevel senior pun merasakan hal yang sama. “Uang untuk membayar sewa rumah tidak ada”, “Bagaimana saya bisa menikah jika gaji belum tetap”, “Bagaimana saya bisa membayar uang kuliah” dan banyak lagi keluhan-keluhan yang tidak mampu terurai dna diterangkan. Karena, sesame jurnalis, sudah saling memahami kondisi masing-masing. “Curhat” merupakan jalan untuk menenangkan diri dan perasaan akan ketidakpastian hidup sebagai seorang jurnalis.

Saya yakin, mereka bukan manusia lemah. Dan itu terbukti, seberat apapun kehidupan yang harus dijalani, toh mereka tetap setia dengan pekerjaan mereka sebagai jurnalis.

Kadang-kadang saya berfikir, menjadi seorang petani justru lebih baik. Sedemikian burukkah menjaid seorang jurnalis? Tentu saja tidak. Semua, tetap tergantung pada tekad dan kreativitas masing-masing.

Akan tetapi, kondisi riil di lapangan, orang sering tertipu. Sebagian orang menganggap pekerjaan jurnalis adalah profesi yang hebat. Sebagai contoh, seorang jurnalis dapat bertemu langsung dengan tokoh-tokoh besar, pejabat, bupati hingga presiden.

Padahal, dalam kehidupan normal, tidaklah sebagaimana yang terlihat diluar. Seorang jurnalis harus kembali untuk berjuang, bagaimana mencari makan, menghidupi keluarga dan membiayai pendidikan anak-anaknya.

Memang ada ungkapan, “kehidupan ini sudah diatur oleh yang di Atas”. Pernyataan klise ini sering saya dengar, tapi, apakah saya harus tetap menjadikan pernyataan itu sebagai pegangan. Tentu tidak bisa!

Melihat kondisi ini, saya merasa khawatir dan prihatin terhadap masa depan jurnalis muda di Aceh, dan Indonesia pada umumnya. Dalam lonjakan semangat untuk belajar menulis dengan mengikuti berbagai pelatihan jurnalistik, justru masa depan mereka begitu suram. Bukan suram karena sikap diri, melainkan suramnya kehidupan yang harus dijalani. Karena, di Indonesia, sangat sedikit media yang benar-benar bertanggungjawab terhadap jurnalisnya.

Ketika mereka melihat kehidupan jurnalis di lapangan , saya ragu apakah mereka dapat meyakinkan diri, bahwa, menjadi seorang jurnalis adalah pilihan utama dan tujuan dalam hidup!

Banyaknya media “bajingan” yang penuh tipu daya, lalu kemanakah para jurnalis muda harus berlabuh? Apakah ada yang peduli ? Apakah ada kekhawatiran ?

Meskipun, lagi-lagi, diakui, itu semua tergantung pada pribadi masing-masing. Jika anda ingin maju dan berkembang, belajar dengan tekun, pasti bisa!

Namun, dengan kondisi dengan “kekacauan” seperti diatas, apakah ada jaminan bagi jurnalis muda untuk terus bertahan? Karena, selama menjadi jurnalis, saya melihat langsung bagaimana jurnalis berjatuhan dan banting setir.

Ribuan jurnalis muda, saat ini, aktif belajar di berbagai tempat. Dengan segala keterbatasannya, dengan segala kekurangannya, dengan minimnya fasilitas, mereka tetap semangat mengejar cita-cita.

Karena, pengalaman di lapangan, banyak jurnalis yang tergelincir untuk terlibat aktif dalam politik praktis dan “terpaksa” menjadikan posisi jurnalis sebagai batu loncatan dengan menjadi bupati atau lainnya. Tidak sedikit pula jurnalis yang menjadi tameng untuk melindungi pejabat dari kasus korupsi.

Paling tragis, tentu saja, ketika saya melihat seorang jurnalis benar-benar terlibat dalam aksi kejahatan, mulai dari perdagangan obat terlarang hingga kejahatan kriminalitas lainnya.

Mengapa hal ini terjadi? Saya yakin, kita semua sudah tahu jawabannya.

Akhirnya, menjadi petani ternyata menjadi pilihan terbaik untuk terus hidup. Tak perlu neko-neko. Tak perlu memakai “topeng” kemunafikan.

“Kontes Putri Aceh” dan Dunia “Sok” Suci

Standard

Saat ini, sebanyak 20 dara Aceh yang terpilih menjadi finalis Pemilihan Putri Indonesia (PPI), mulai dikarantina di Hotel Lido Graha, Kota Lhokseumawe, Aceh. Seluruh Finalis akan menjalani tes membaca quran (mengaji).

Akan tetapi, bukan pengakuaan atawa penghargaan yang mereka peroleh, justru hinaan dan cacian yang diberi masyarakat, bukan hanya kepada para finalis (secara tidak langsung), juga pada acara puti-putrian itu.

Lelah dan bingung, mungkin ini satu perasaan saya saat membaca ribuan komentar yang tidak sedikit memaki dan melecehkan tentang acara Kontes Putri Aceh yang diselenggarakan oleh salah satu lembaga di Aceh.

Lebih dari separuh komentar,baik di dunia maya maupun dunia nyata, menyalahkan dan menganggap kegiatan tersebut sebuah ajang penghinaan dan pengrusakan moral. Merusak keberlangsungan penerapan syariat Islam di Aceh. Huh!! Padahal, “kondisi Syariat Islam di Aceh sudah babak belur!”

Menurut saya, secara pribadi, kontes-kontes putri tidaklah salah dan memang tidak perlu disalahkan. Karena, yang harus kita pahami adalah, apa tujuan dari kontes-kontesan tersebut? Baca selanjutnya Klik disini