Remaja Aceh dan Prostitusi

Standard

Pengantar

Ibarat dua sisi mata uang. Seks bebas dalam kehidupan, memang sulit dipisahkan. Bayangkan, ”penyakit” peradaban ini, tak mengenal agama, ras, jenis kelamin serta batas usia. Ironisnya, praktik menyimpang itu, diam-diam melanda remaja di Aceh, sebuah daerah yang menerapkan syariat Islam.

Sinyalemen banyaknya remaja laki-laki di Aceh yang terlibat seks komersil (bebas—red), hingga kini memang agak sulit dibuktikan secara langsung. Maklum, selain sulit mencari nara sumber, praktik itupun terjadi sangat rapi dan tersembunyi. Begitupun, setelah saya turun langsung ke beberapa lokasi di Banda Aceh. Fenomena dan sinyalemen tersebut, ternyata benar-benar terjadi.

Selama dua pekan, saya menelusuri (keluar-masuk) sejumlah rumah kecantikan (salon) di Kota Banda Aceh. Tujuannya, apalagi kalau bukan untuk memastikan semua itu.

Jum’at Malam, 2 Januari 2009, pekan lalu. Akhirnya saya mencoba melihat secara dekat aktifitas beberapa salon yang disinyalir sebagai tempat pelampiasan nafsu.

Jam masih menunjukkan pukul 20.00 WIB, Jum’at malam, 2 Januari 2009 lalu. Itulah hari terakhir, pertualangan saya, menyisir sejumlah salon di ibukota provinsi ini. Lalu-lalang kendaraan umum pun masih terlihat ramai. Setelah mempersiapkan segala keperluan, akhirnya, saya mencoba memasuki salah satu salon di Jalan Chik Pante Kulu Banda Aceh. Sebut saja Salon Mawar (samaran—red).

Saya memilih salon ini, tak lepas dari informasi dan rekomendasi salah seorang pelanggan tetap (narasumber) salon tersebut. Alasannya, selain lebih murah, cewek-cewek yang disedikan juga masih terbilang cantik. Dan tentu, keamanan juga terjamin.

Tepat di depan Salon Mawar, seorang lelaki berbaju putih duduk sambil menghisap sebatang rokok. Menurut informasi dari salah satu pelanggan, lelaki itu merupakan penjaga Salon Mawar.

Sesaat setelah memasuki salon, seorang wanita menyapa saya. “Mau apa Bang?” Saya menjawab. “Cap Cay”. Secara kasat mata, salon tersebut tidak ada yang berbeda dari salon-salon umumnya yang ada di Banda Aceh. Alunan musik jiran membahana dalam ruangan yang dipenuhi poster-poster mode rambut terkini.

 

Wanita muda dengan setelan kaus merah celana jeans itu menghidangkan segelas air putih. Sambil sedikit berbasa basi. Lalu, proses tawar menawar pun terjadi. Untuk sekali boking diluar salon saya harus merogoh kocek sebesar Rp 500 hingga Rp 700 ribu rupiah. Sedangkan untuk “main” (maaf naik ke bulan—-red) di salon, patokannya hanya Rp 200 ribu. Namun, tarif tadi masih bisa dinegoisasi.

Saat itulah, saya melihat seorang remaja (berusia sekitar 18-20 tahun) menuruni tangga lantai dua salon tersebut. Tanpa rasa sungkan dan malu, remaja itu keluar tanpa ada rasa takut dilihat orang atau digerebek petugas Wilayatul Hisbah (WH).

Remaja-remaja tersebut (sebagaimana pengakuan salah seorang remaja yang berhasil ditemui), sudah biasa dan bukan hal yang baru lagi. Bahkan, pihak pengelola Salon tidak pernah melarang mereka.

Selain salon Mawar di Jalan T Chik Pante Kulu, ada beberapa salon lain yang menyediakan layanan seks bagi laki-laki hidung belang, tak kecuali anak remaja. Sebut saja di Jalan Teratai, Jalan M Daudsyah, Jalan Darma dan beberapa salon lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.

Menariknya, posisi salon-salon ini berada dalam lingkungan yang ramai lalu lintas. Namun, mereka seperti tidak merasa takut bila sekali-kali di gerebek Wilayatul Hisbah (WH).

Permasalah utama, tentu bukan pada masalah gerebek-mengerebek itu. Sebaliknya, kehadiran salon-salon yang menyediakan jasa seks tadi, justru telah membuka ruang bukan hanya bagi para lelaki dewasa, tetapi menjerat remaja laki-laki untuk ikut menikmati jasa yang disediakan salon-salon itu. Konsekwensinya, selain melanggar nilai dan norma agama (Islam), juga adat istiadat yang berlaku di Aceh. Lebih tragis lagi, akibat seks bebas itu, tak sedikit remaja laki-laki yang mengidap penyakit kelamin seperti sipilis atau “raja singa”. Dan tak mustahil pula, akan menjurus kepada HIV/AIDS.

Kondisi ini, diakui salah seorang dokter di RSU Zainal Abidin Banda Aceh. Dokter yang tak mau disebutkan namanya ini mengatakan. Banyak remaja seusia 17-20 tahun yang menderita penyakit kelamin seperti sipilis.

Kata dia, Infeksi Menular Seksual (IMS) kini mulai menjangkiti kehidupan remaja di Aceh. Baik jenis gonorchea maupun sifilis. Sifilis adalah penyakit kelamin menular yang disebabkan oleh bakteri spiroseta, treponema pallidum. Penularan penyakit ini, umumnya terjadi melalui kontak seksual; tetapi, ada beberapa contoh lain seperti kontak langsung dan kongenital sifilis (penularan melalui ibu ke anak dalam uterus).

Gejala dan tanda dari sifilis banyak dan berlainan; sebelum perkembangan tes serologikal, diagnosis sulit dilakukan dan penyakit ini sering disebut “Peniru Besar” karena sering dikira penyakit lainnya. Bila tidak terawat, sifilis dapat menyebabkan efek serius seperti kerusakan sistem saraf, jantung atau otak. Sifilis yang tak terawat dapat berakibat fatal.

nikah fenomena baru pasca gempat dan tsunami yang melanda Aceh, 26 Desember 2004 silam? Entahlah, agaknya pemerintah daerah belum menyentuh masalah atau bisa jadi tidak pernah mau peduli? *

Sumber : Modus Aceh

 

18 thoughts on “Remaja Aceh dan Prostitusi

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s