Pembantaian Syariat Islam di Aceh

Standard


answering-ff.org
answering-ff.org

Cita-cita dan harapan negeri yang bersya’riat mungkin, kini, hanya akan tinggal kenangan. Sebuah harapan akan kehidupan yang islami dengan menjalankan syariat yang kaffah, tanpa terasa mulai hilang. Kondisi yang terlihat justru sebuah pembantaian terhadap syariat Islam itu sendiri.

Terprovokasi, memprovokasi, diprovokasi? Anda boleh berpikir seperti itu.

Kita harus jujur dengan kondisi saat ini. Kita tidak lagi dapat membohongi diri kita, tidak lagi harus bertopeng dan “bermegah-megahan” dengan label syariat Islam. Karena kondisi yang terjadi saat ini sangat menyedihkan dan memalukan.

Entah mengapa, keadilan itu selalu menjadi barang yang sangat mahal di negeri ini, sebuah negeri yang bersyariat Islam. Padahal, salah satu tujuan penegakan syariat Islam itu adalah untuk sebuah keadilan dan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Namun yang terjadi, masyarakat pun semakin apatis dan tidak sedikit pula yang ikut-ikutan bermain “curang” atas ketidakadilan yang selama ini dilihatnya.

Hukum memang hanya untuk orang kecil, hukum memang untuk dilanggar. Itulah yang saya lihat saat ini.

Syariat Islam di Aceh tidak lebih sebagai “tumbal” kepentingan dan keegoan. Saya tidak tahu, apakah syariat Islam sebagai tumbal bagi masyarakat atau masyarakatlah yang menjadi tumbal dari syariat islam itu sendiri demi kepentingan “ego”.

Berbicara real, lihatlah, apa yang terjadi dengan syariat Islam di Aceh. Hampir 10 tahun berjalan, Kondisi Aceh nyaris tidak ada perubahan.

Pelanggaran syariat Islam terus menerus terjadi, bahkan semakin vulgar. Bukan hanya masyarakat awam, pejabat pemerintah, mahasiswa, pelajar, seolah-olah berlomba untuk melakukan kemaksiatan (mesum). Jadi tidaklah salah jika ada anggapan, syariat islam di Aceh adalah Syariat yang berbalut maksiat.

Lihat saja, pemberitaan media di Aceh, nyaris setiap harinya masyarakat dicecoki oleh pemberitaan narkoba, pembunuhan, khalwat, korupsi hingga prostitusi. Jika melihat persentase, setiap tahun justru mengalami peningkatan yang luar biasa.

Pembantaian Syariat ini mulai terasa sejak Wilayatul Hisban atau WH sudah tidak berdiri sendiri secara independen. WH sudah serumah dengan SatPol PP. Dulu, sewaktu awal-awal serumah, memang WH tidak cocok dengan Satpol PP, bahkan sempat jotos-jotosan antara Wh dan satpol PP pada sebuah perhelatan besar.

Tapi sekarang, jangan heran dan terkejut saat melihat anggota WH ikut bersama SatPol PP “memberangus” kios pedagang di pinggir jalan. Mereka sudah sangat lengket ibarat dua sejoli.

Ntah ada hubungannya tau tidak, marwah WH pun lama-kelamaan mulai luntur dimata masyarakat. Sudah banyak  cerita dan kasus yang melibatkan anggota WH. Sebagai pengayom yang juga mencoba mencicipi korban “tangkapannya”. Masih ingat bagaimana tiga oknum WH memperkosa seorang gadis “tangkapannya” di Langsa? Sangat memilukan!

Nah, sekarang coba kita lihat. Dimana kasus itu berada? Bagaimana pelakunya ditindak? Semuanya hilang ditelan bumi.

Kasus terakhir, dua insan berlainan jenis terpaksa dihukum cambuk karena ketahuan berciuman.  B E R C I U M A N !!!

Benar-benar pembantaian terhadap keadilan. Coba kita runut ulang kasus-kasus mesum yang melibatkan pejabat dan orang-orang besar di Aceh? Dimana semuanya? Hilang ditelan fulus (uang).

Syariat Islam di aceh bisa dibeli dengan uang. Ada uang, akan bebas dari cambuk dan hukuman, bahkan ada uang, kasusnya juga bisa dibayar ke media agar tidak terpublish. Sangat menyedihkan memang!

Nah, bagi korban dari masyarakat awam yang tidak berduit, apes dah. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain harus menerima nasib syariat Islam.

Kasus korupsi? Jangan Tanya lagi. Masih ingat status aceh sebagai daerah paling korupsi di Indonesia? Saat itu aceh sudah berstatus syariat Islam. Dan nyatanya, hingga saat ini, korupsi masih merajalela di Aceh.

Belum lagi dengan aturan Qanun yang gamang di Aceh. Qanun Jinayah misalnya. Justru Pemerintah Aceh hingga saat ini masih belum menandatanganinya. Padahal Qanun Jinayah merupakan kunci pelaksanaan Syariat Islam di Aceh.

Qanun Jinayah yang telah disahkan itu masih 50 persen. Belum masuk pembahasan korupsi dan hal-hal penting lainnya.

Saat pengesahan Qanun Jinayah, justru ratusan orang dari berbagai ormas melakukan demo penolakan. Seolah-olah, Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) berjuang sendiri terhadap Qanun Jinayah demi terlaksananya syariat Islam di Aceh. Dalam qanun Jinayah termaktub hukuman rajam di Aceh.

Yusny Saby, salah seorang tokoh pendidikan dan ulama di Aceh bahkan pernah meminta, Pemimpin Harus Mampu Terapkan Qanun Jinayah

Saat ini, disaat Partai Aceh memegang sebagian besar kursi di DPRA, ternyata Qanun Jinayah juga tidak jelas juntrungnya.

Lalu untuk apa semua perjuangan yang mengatasnamakan rakyat ini! Dimana perjuangan yang mengatasnamakan keadilan ini!

Karena itu, saya menganggap, saat ini telah terjadi pembantaian Syariat Islam di Aceh!

Bersambung……

72 thoughts on “Pembantaian Syariat Islam di Aceh

  1. Akibat terlalu dipaksakan, Jadilah manusia yang Munafik.

    Pemahaman yang Mendalam dalam bersyariah. Menjadikan Tolak Ukur Keberhasilan Syariah Itu Sendiri.

  2. hiks hiks, ketidakadilan memang selalu menjadi pembunuh dimana saja dimuka ini. sayangnya, kali ini, korbannya adalah syariat Islam itu sendiri.

  3. ceknas

    TOREHAN MAHA TAK SEMPURNA*

    Sejuta Tulisan Tak Beratidi Bumiku ini

    Mereka pandai menulis

    Tapi yang lainnya Pandai Berbuat

    Pada hakikatnya Tulisan Hanya Konsep.

    dan Perbuatan adalah Kelakuan Yang

    Lebih dekat dengan Tujuan

    Wahai anak bangsa

    Kata-kata ceknas juga hanya tulisan

    Bagaimana aku mengajarkan BerbuaKlo aku saja masih menggunakan hal yang samauntuk mengubah masalah ini

    Wahai penulis..hilangkan kelakarmu membuat konsep baruKarena menurut ceknas awam kita akan larutdalam kelakar itu

    Buat apa menulis toh yang tertulisdari Maha Sempurna**punBelum dilakukan

    Mulailah berbuat dari diri sendiri duluberpandu kepada tulisan yang Maha sempurnaTulisan sempurna saja tidak ada gunaapa guna tulisan dari maha tak sempurna

    * (Manusia)** (Allah)

  4. Martha Andival

    Terima kasih puisinya cek Nas :)

    Saat ketidakadilan dibiarkan merajalela, diskriminasi dibiarkan dalam kehidupan, haruskah kita berdiam diri melihat semua ini?

    Haruskan kita berdiam diri melihat diskriminasi dalam kehidupan di negeri syariat? Dan membiarkan manusia terus hidup dizalimi.. dizalimi… oleh ketidakadilan

    Apa gunanya hidup hanya untuk memikirkan diri sendiri, memikirkan kenyamanan diri sendiri, sedangkan diluar sana, manusia menangis dan menjerit karena tidak adanya keadilan dan mereka terus terzalimi.

    Hidup dalam diskriminasi? Masya Allah. Haruskah kita membiarkannya, dan kita hanya duduk-duduk beribadah tanpa memikirkannya!

    Ketidakadilan, diskriminasi, kezaliman itu, harus dipahami, dia tidak menimpa kepada orang zalim saja. orang-orang shaleh dan orang-orang baik juga terkena imbas. Korupsi? semua manusia terkena imbasnya…..
    harus berdiam diri dan memikirkan diri sendiri, berzikir didalam kamar, puasa, sholat? sedangkan saudara-saudaranya diluar sana terzalimi?

    Dari Anas r.a. bahwa Rasulullah saw. Bersabda:
    “Tolonglah saudaramu yang zalim maupun yang dizalimi. Anas bertanya: Kami menolong orang-orang yang dizalimi, bagaimana caranya menolong orang yang zalim? Rasulullah saw. bersabda: Cegahlah kedua tangannya”
    (HR. Bukhari).

    Dikeluarkan oleh Bukhari dari Urwah bahwa seorang wanita telah mencuri pada zaman Rasulullah saw ketika terjadinya penaklukan Makkah. Lalu kaumnya menemui Usamah bin Zaid ra untuk mendapatkan ampunan bagi anak perempuan mereka.

    Urwah berkata, “Ketika Usamah menemui Rasulullah saw dan member tahu permintaan kaum itu, wajah Rasulullah saw menjadi kemerah-merahan dan bersabda, ‘Apakah kamu berkata-kata denganku mengenai hukuman Allah SWT (untuk mengubah atau meringan-ringankannya)?’”

    Usamah berkata, “Ampunilah saya wahai Rasulullah.”

    Pada waktu petangnya Rasulullah saw berkhutbah dihadapan orang banyak. Baginda memuji Allah seperti biasa dan bersabda, “Amma ba’du. Sesungguhnya telah binasalah kaum yang terdahulu apabila orang-orang mulia di kalangan mereka mencuri, mereka tidak menghukumnya. Tetapi apabila orang-orang rendah di kalangan mereka mencuri, mereka menjatuhkan hukuman ke atasnya. Demi Allah yang memegang jiwa Muhammad di dalam tangan-Nya! Jika seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri pasti aku akan memotong tangannya.”

  5. hasnan

    penegakan syariat islam di aceh jangan menjadi kenangan sejarah, kepada jamaah dunia maya yg beriman kepada Allah dan Rasul harus responsif terhadap tereduksinya substansi syariat secara perlahan di Aceh.

  6. Martha Andival

    memang benar mereka tidak memperjuangkan hal itu, tapi bukankah saat ini mereka duduk di parlemen, dan kesempatan untuk itu tentu lebih besar.

  7. Setahu saya, PA tidak pernah memperjuangkan SI. Jadi usah berharap banyak.

    Soal implementasi, yang saya pahami, ketimpangan pelaksanaan SI di Aceh bukan karena syari’at Islam-nya yang salah. Melainkan muslimnya yang belum benar-benar memahami sehingga tidak bisa mencintai. Saya pribadi merasakan hal itu. Ketidakpahaman seringkali menyebabkan saya enggan, atau bahkan “menggugat” hukum Tuhan.

    Saya tidak mengerti, apakah memberlakukan voting setuju-tidak setuju terkait pelaksanaan SI di Aceh kepada masyarakat muslim (yang saya yakini akan dengan suka rela baku hantam dengan orang yang menyebutnya non muslim) adalah sesuatu yang arif? Jika hasil votingnya -katakanlah- tidak setuju, apa lantas kita sebagai muslim akan beramai-ramai menyatakan, pelaksanaan SI di Aceh harus digugurkan? Jujur, saya ngeri membayangkan hal itu.

  8. Martha Andival

    Lagi-lagi kepemimpinan. Sebenarnya, kepemimpinan yang kurang memahami agam dapat diimbangi dengan wakil-wakil yang selalu memberi “arahan” tentang jalan pemerintahan agar tetap terjaga dalam koridor. Tapi jika pedampingnya juga tidak memahami inilah yang menjadi masalah. Jika sudah seperti ini, rakyat memang harus berjuang sendiri melawan ketidakadilan.

    terimakasih sudah mampir, bang.

  9. Martha Andival

    Setuju, Syariat islam tidak salah dalam hal ini. Begitu halnya dalam ulasan saya dalam tulisan diatas. Karena banyaknya masyarakat yang belum memahami syariat itulah (seperti saya sendiri), sebenarnya, perlu dilakukan survei. Survei ini bukan untuk menolak atau menggagalkan penerapan syariat Islam di Aceh, tapi untuk mengetahui sejauhmana pemahaman dan kesiapan masyarakat Aceh dengan Syariat Islam, sehingga dapat dicari solusi melalui sosialisasi yang lebih intensif (maunya sih saat awal-awal penerapan syariat Islam).

    Nah yang kita lihat, karena kurangnya pemahaman, lalu masyarakat melihat tindakan diskriminasi dan ketidakadilan terhadap penerapan hukum syariat Islam, justru akan menambah sikap apatis masyarakat terhadap pelaksanaan syariat Islam.

    Ty udah singgah

  10. Tak ada yang dapat bebas “globalisasi” yang di dalamnya seolah wajib termasuk dekdensi moral, korupsi, dan lai sebagainya. Padahal, di antara kecemasan banyak pihak dari awal, sebenarnya banyak juga pihak yang amat berharap Acheh dapat menjadi semacam lead dengan segenap keistimewaannya itu. Mungkin kini dapatlah disebut bahwa tidaklah semata-mata karena ada tsunami yang dahsyat itu yang membuat begitu “rajinnya” tamu-tamu asing datang dan menggoreskan jejaknya di Acheh.

  11. Mungkin ada kepentingan politik dibalik semua kebijakan dan aturan yang dilaksanakan disana. wallahualam…..

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  12. dan satu hal lagi, seperti apa yg pernah di lansir oleh HRW (itu jelas buruknya survei/penelitian yang mereka buat) *awak kaphe sabe musoh keu Iseulam, tapi ureueng Iseulam hantom jak mita lawan ngon kaphe

  13. dan setelah mendapat hasil, yg ber-KTP islam maka ‘di_Islam_kan lagi’ untuk syariat (cukup banyak dayah, pesantren, pengajian di Aceh – tapi coba hitung berapa orang yang bersedia nongkrongin ilmu agama ditempat itu) #renunganbersama :)

  14. Seharusnya lembaganya dulu yg dipikirkan. WH. Dinas Syariat ISlam, merekalah yg seharusnya melihat dan memikirkan keadaan aceh skrg, syariat islam seperti tidak berjalan degn baik.

    Peran Dinas Syariat Islam semakin tidak jelas jugak.

  15. dimana-mana, kepentingan (politik) sering sekali harus memakan korban/ tumbal. Nah kondisi di Aceh sepertinya salah satu kepentingan plitik itu bermain..

    Salam kenal dan salam hangat :)

  16. Teman-teman Detak merupakan pers kampus dan kontrol disana.

    Mengapa peran dinas terkait seperti tidak jelas, karena media sebagai kontrol juga belum maksimal. Terkadang media juga masih suka dan sering dikontrol loh.. =))

  17. RohAceh

    Bung Martha, kali ini gue sedikit setuju ma tulisan ini dari pada tulisan kemaren.

    tetap support untuk kebaikan gan!
    Aceh sama saja spt kota laen di Indonesia, SI yg membedakannya gan. tapi jika syariat yg bikin terkenal aceh seperti ini, akan merusak keseriusan daerah lain untuk ikut melaksanakan SI juga.

    Survei sepertinya perlu dan setengah wajib jika ingin SI tidak berantakan ditengah jalan. Untuk apa SI dilaksanakan kalo untuk dua tahun berikutnya di telantarkan.

    Lanjutkan kritik2nya gan!

  18. sebenarnya memang ada yang salah dari proses pelaksanaan syariat Islam di Aceh yang setengah-setengah. tapi jangan lupa kalo kesalahan yang paling utama adalah masyarakat aceh umumnya sendiri, kok melakukan maksiat? orang Aceh itu seharusnya terkenal dengan islamnya yang taat. berarti kesalahan utama terletak kepada nilai sosial kita yang tidak lagi membentuk generasi muda yang taat.
    ingat hadis yang artinya kurang lebih; semua bayi dilahirkan dalam keadaan suci (islam), orang tuanya lah yang mewarnainya dengan celupan yahudi, nasrani, dan majusi

  19. solusi cit na, menyoe di gampong manteng na jak umi2, nyak wa, abuwa, aneuk muda na padum droe sa dua.. menyoe di kuta, ulama ngon ureueng chik kahana that le geupakoe. aneuk miet cit ka cula calo bak iko jameun,…

  20. pajah beujae ta kalon droe teuh jinoe menyoe di Aceh, takheun maksiat bek peuget, ladom malah galak ata meunan. menyoe dari ayah ngon ma hana that geu didik jeut jih nyangkeuh meunan..

    takalon jameun kiban ayah ngon ma jeut lage jinoe, gara2 didikan bak ureueng chik geuh, hana pateh cinut bak pha ngon gaki. agama geumat kong that.

  21. Martha Andival

    Iya bang, semakin dibilang kok semakin menjadi-jadi.

    Sebelum tsunami, melihat pemberitaan media tidak terlalu mengerikan dibanding saat ini.

    Dulu, sebelum tsunami, Syariat islam masih baru, sekarang hampir 10 tahun.. dan kemaksiatan, pembunuhan, perampokan, penganiayaan, pemerokosaan, korupsi, hampir memenuhi setiap halaman media setiap hari.

    sejujurnya, dikampung saya ulama juga semakin kritis (dalam hal jumlah apalagi kualitas). Tahun lalu, ualam yang selama ini memberi ilmu di meunasah dan pengajian2 dirumah telah tiada. Saat ini, untuk memandikan mayat pun harus mengundang ulama dari daerah lain yang jauh.

    Padahal, lulusan institute agama islam, lulusan pesantren bertaburan.

    terkadang, saat makhluk-makhluk seperti kita membicarakan agama langsung di cap “ureung hana ilmee (orang tak ada ilmu agama)… Jangan didengar!”.

  22. pembela yang benar benar

    pue jih yang han jeulas…hana di bahas masalah nanggroe
    yang di bahas masalah pemimpin nanggroe,,

  23. Martha Andival

    KArena itu, mari kita perbaiki bersama-sama, dengan kemampuan masing-masing. apa yang dapat dibuat, walau sekecil apapun akan ada manfaatnya.

  24. paling besar adalah keluarga. dalam keluarga, sering sekali orang tua membiarkan anak-anaknya membangkang dan melawan. kata-kata kotor yg terlontar dari anak-anak sering sekali dibiarkan.

    apalagi, kebanyakan skrg, aktifitas mengajai seperti zaman dulu sudah tidak ada. selesai maghrib, seisi rumah disibukkan dengan sinetron dan film.

    sinetron yg tidak mendidik itusangat banyak pengaruhnya.

  25. Martha Andival

    Hal ini memang sangat mendasar. Sepele tapi susah diubah.

    Orang tua bijak dan memahami agama tentu jawabannya.

    DI Indonesia dan Aceh, nyaris tidak ada lembaga khusus yang selalu memberi pemahaman tentang ini. Jika mendengar ceramah, justru yang dicari lucu-lucu nya bukan isinya.. aneh memang.

    Jika pulang sholat I’d coba lihat komentar jamaah, semua tentang kekocakan yang disampaikan penceramah, tapi bukan inti dari isi ceramah itu.

  26. kita jangan hanya menyalahkan. mulai lah dari diri kita sendiri. coba merenung sudah kah kita mulai dari diri dan keluarga kita. pelanggaran SI memang ada tapi saya rasa tidak separah yang ada di daerah yang ber SI. karena adanya SI di negeri kita makanya sedikit saja pelanggaran maka gaungnya akan lebih dan lebih di hiperboliskan lagi mungkin karena ada sebagian orang tidak suka SI ada di aceh atau kita sendiri tidak sadar dengan hal itu. tapi bayangkan bila di Medan yang tanpa SI. kejadian pelanggaran SI itu sudah biasa makanya tidak di publis dan di hiraukan lagi. jangan hanya menuntut tapi mari kita mulai dari diri dan keluarga kita bukankah itu sudah selesai permasalahannya. kita adalah pemimpin mari kita mulai dari dir kita. pelanggaran itu akan selalu ada dan kita juga akan selalu mempertahankannya.

  27. Naz Lee

    Ajarkanlah Aqidah kepada anak2mu dari rumahmu masing2, barulah SI akan berakar dalam diri Putra-Putri ana2k Aceh dimasa mendatang.

    Nyo Kiban cara taperuno beut aneuk meu ureung chik jih kadang2 hana itepu la???

    yang akhirnya Aceh ibarat Negeri tempat gunjingan orang2 dimana mereka mendengar Aceh full Syariat ternyata hampir full dengan maksiat.

    mari kita Mulai dari diri Sendiri, mulai saat ini, dan mulai Mengkaji tentang ilmu2 SI.

    TIDAK PERLU SALING SALAH apalagi Menyalahkan. Smua kita mau yang terbaik dalam hidup ini!!! dalam sgala lini kehidupan untuk mengapai Taqwa dan mendapat BAHAGIA DUNIA juga Akhirat Kelak.

    (Mantra your idea is MANTRAP!!!)

  28. Amirullah Daeng Sibali

    beginilah yang terjadi jika yang di rombak adalah sistem, alangkah lebih baik jika di awali dengan pembenahan unsur sistem….

    wallahu’alam

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s