PRAHARA WANITA
”Sudah emak bilang, jangan dekati dia. Dia itu bajingan, keparat, maunya enak sendiri.”
Mimin tersenyum.Kata-kata emak tempo hari masih terngiang-ngiang.
Apa yang salah dengan dia. Bukankah dia orang baik, ganteng, bodi tegap, punya mobil, orang kantoran, banyak duit. Ah emak. norak amat. Nggak tahu jika wanita zaman sekarang begitu susahnya mendapat jodoh.
“Coba lihat tu gadis-gadis yang sudah berumur. pada antri semua untuk menjadi perawan tua. Emak, emak, bodoh amat sih. Aku kan wanita, susah nyari calon suami kaya dia,” Suara hati mimin membela diri.
Dibandingkan jono, “Puih!!” pemuda kampungan itu, jika ingat dia rasa-rasanya aku mau muntah!. Miskin, tidak berpendidikan, jelek!.., nggak ah. Mending aku bunuh diri dari pada harus menjadi istri jono.
”Min, emak cuma bilang, jangan mudah percaya dengan yang namanya lelaki. Mereka itu semuanya sama. Mau enaknya saja. Mereka itu bajingan.”
Ah emak, lagi-lagi bajingan-bajingan, emang semua laki-laki di dunia ini apa bajingan?. Jika begitu bapak dulu bajingan keparat juga dong, nggak kan.
Emang mimin pikirin. Lagian mas ifan udah janji mau menikahi mimin. Jika sudah nikah tentu emak juga yang senang. Derajat kita akan naik, mak. Banyak harta, rumah bertingkat, perhiasan, teve, kulkas, makanan enak, semuanya ada. Kemana-mana naik mobil, nggak usah lagi naik angkot yang bikin mimin pusing,sesak nafas.
Ah emak, mentang-mentang ditinggal pergi bapak bukan berarti semua laki-laki itu bajingan.
Andaikan emak tahu, bagaimana mas ifan mampu membuatku jatuh cinta, tetapi semuanya terlalu indah untuk diungkapkan dengan kata-kata. Terlalu indah dan terlalu nikmat.
Tapi emak, lagi-lagi bilang jika mas ifan itu yang menurutku merupakan pria yang paling hebat yang pernah kujumpai walaupun usianya sudah memasuki empat puluh lima tahun namun tetap gagah, adalah lelaki yang kurang ajar. Ah emak. Mimin semakin pusing dibuatnya.
***
Dua hari lalu mas ifan mampir kerumah. Penampilan necis ala anak muda, setelan kaos oblong putih yang dipadu dengan jins biru seakan menambah kegagahan mas ifan. Mimin menjadi bergetar. Mas ifan mengajaknya jalan-jalan. Malam minggu.
Emak sempat memakinya didalam kamar. “Dasar anak kurang ajar, haram jadah, kau mau pergi dengan lelaki bajingan itu, hah!!”
”Dasar emak gila!!, jika memang tidak senang sama mas ifan hadapi dia dong, langsung jumpai mas ifan dan bilang bahwa mas ifan itu lelaki keparat, lelaki bajingan seperti yang selama ini emak katakan, jangan bisanya marah ama mimin doang.”
“Min, emak Cuma ingin mengingatkan bahwa kamu itu masih anak-anak. Masih tujuh belas tahun. Belom dewasa untuk urusan seperti ini. Apa nggak malu kamu dilihatin orang-orang, anak gadis kok berjalan berduaan dengan lelaki dewasa seperti dia. “Min, mau dikemanain muka emak, emak malu Min.”
”Bodo!!” Mimin langsung cabut.meninggalkan emak yang menurutnya terlalu ikut campur.
Seperti kemarin-keamarin, dengan mobil bagusnya, mas ifan mengajaknya jalan-jalan, ke mall, belanja baju, make up, minyak wangi, nggak ketinggalan makan makanan enak, kentucky. lalu istirahat dihotel.
Pertama sih mimin masih malu-malu dan rada takut menghadapi mas ifan, tapi lama-lama udah terbiasa. mimin siap menghadapi mas ifan yang selalu ingin melampiaskan rasa cintanya kepada mimin dengan letupan-letupan birahinya yang masih saja membara.
“Aku jatuh cinta pada lelaki yang selalu emak maki, lelaki bajingan.” Mimin tersenyum.
***
Mimin hamil. Ya, hamil. Benih mas Ifan telah bersarang di dalam rongga tubuh yang paling dicintainya. Benih cinta mas ifan telah menyatu dalam tubuhnya, membentuk segumpal darah yang emak kata adalah darah bajingan.
“Bajingan!!”
“Bajingan!!”
“Dasar wanita kotor!!”
Emak menamparnya berkali-kali, menjambak rambut panjangnya. Memaki-maki. “Dasar anak anjing keparat, anak tidak tahu diuntung, anak bajingan. Mau-maunya engkau bersetubuh dengan laki-laki bajingan keparat itu. Dasar anak bodoh!!”
Mimin diam. “Mas ifan udah janji akan menikahiku, sehingga aku rela tubuh mas ifan terus-menerus menelanku, menelanjangiku dengan cintanya. Menyuntikkan benih birahinya kedalam rahimku. Aku jatuh cinta.” suara hati mimin yakin.
Aku mencintai mas Ifan. Dada bidangnya, senyum manisnya, kumis tipisnya, kenakalannya, uangnya, mobilnya, semua aku cinta. “Hanya emak yang memakinya, bajingan keparat. Bajingan-bajingan, emang semua laki-laki di dunia ini bajingan. Jika begitu bapak dulu bajingan keparat juga dong, nggak kan”, bentak mimin kesal.
”Min..mimin, emak sudah bosan, capek. Kamu itu anak tidak punya otak. Bodoh!!. Otakmu itu seperti otak binatang. Pikirkan!!,” jeritan emak semakin meninggi. air mata emak terjatuh.
Mimin tersentak, ketakutan. emak menagis.
“Kasihan emak, ia telah melahirkanku, merawatku seorang diri tanpa kehadiran seorang suami. tetapi mak, aku terlanjur cinta.”
***
Mimin membetulkan kerudung lusuh dikepalanya, sebuah kerudung pemberian teman wanita sekamarnya, yang sangat setia memberinya pelajaran-pelajaran hidup.
Alhamdulillah. Bibir mungilnya terus bertasbih. Langkah kakinya masih kuat, seperti 10 tahun lalu.
Seorang wanita tua berkerudung telah menantinya sedari pagi, menanti dalam penantian kesabaran dan cinta. Wanita tua itu tidak sendiri, seorang gadis cilik mengapit erat tangan kirinya, wajahnya menyiratkan sebuah kerinduan yang tiada tara. Kerudung mungilnya terombang-ambing tertiup angin yang masuk dari celah-celah jendela.
Air mata mimin terjatuh. Gadis cilik itu adalah anak dari buah birahinya dengan mas ifan, sepuluh tahun yang lalu.
Ia terbayang akan kejadian itu. yang telah membawa perubahan dalam hidupnya, dari seorang gadis remaja menjadi seorang wanita yang sesungguhnya.
”Min, lelaki itu,” suara emak tertahan..
“Lelaki yang sangat kau cintai dan engkau bangga-banggakan selama ini, lelaki yang selalu menyebabkan emak memarahimu dan engkau balas memaki emakmu ini, adalah lelaki yang darahnya, cintanya pernah ada didalam tubuh emak. Dia adalah lelaki yang pernah emak peluk mesra dengan ciuman dan kecupan-kecupan nakal, lelaki yang selalu memasuki tubuh emak dengan darah-darah birahinya, darah yang membentuk segumpal daging, daging yang membentuk sebuah orok manusia yaitu engkau, min. dia ayah kandungmu!”
Mimin pusing. ternyata emak menyimpan sebuah kisah yang tak mampu ditahannya. mimin menganggap dirinya sebagai korban, korban emak dan korban bapaknya.
Perut mimin semakin membesar. Mas ifan masih terus menyuntikkan benih cintanya ketubuh mimin. Tetapi malam itu mimin begitu buas. Wajah emak terbayang-bayang di matanya. Setiap himpitan tubuh mas Ifan yang semakin kuat menindih tubuhnya, sekuat itu pula bayangan wajah emak menjerit di pelupuk mata. Peluh membasahi tubuh mereka, merangkulnya, desahan-desahan nafas mas Ifan semakin jelas menggambarkan wajah emak.
Mimin semakin buas. menciumi dan menjilati seluruh lekuk-lekuk tubuh lelaki itu, menikmati segalanya. Hingga sampai pada sebuah gundukan daging keras, menjilatnya, lalu.. lalu.. dan lalu menggigitnya dengan sekuat tenaga yang telah disimpan beberapa hari.
Putus!!. Mas Ifan yang dicintainya menjerit dan memaki sekeras-kerasnya, “Dasar wanita setan, anjing, lonte busuk!!.”
Semua terlambat. Pisau ditangan mimin telah bersarang di tubuhnya. Menghemburkan darah segar. Darah yang telah menyatu dengan darahnya. Darah yang kata emak adalah darah bajingan, darah keparat.
Air mata mimin kembali membuncah.
”Emak….”
Mimin berlari. Menghampiri emak. Mencium kedua kakinya. Mohon ampun.
‘Mak, Sepuluh tahun sudah aku di lembaga permasyaraktan ini. apakah emak sudi menerimaku menjadi seorang wanita seperti emak.”
”Sudahlah, Min. Tidak ada yang perlu disesali. Hidup akan terus berjalan. Tegarkan hatimu, seperti karang tengah lautan. Teguhkan langkahmu, seperti gunung yang selalu tegak teguh. Berbuatlah kebaikan, seperti matahari yng selalu bersinar demi manusia, tidak perduli manusia itu jahat ataupun baik.”
“Emak, engkau dan anakmu ini, harus tetap berjalan. Lagi dan lagi, sampai kita tiada lagi, min.”
“Emak…maafkan aku. Engkau adalah wanita yang terbuang oleh nasib. Terasing oleh keluarga. Terpasung oleh lingkungan. Namun engkau tetap berjalan merawatku, membesarkanku dengan cinta, mendidikku menjadi wanita yang sesungguhnya.”
SELAKSA
Matahari begitu terik, saat kedua tanganku berusaha menarik keranjang-keranjang besar yang berisi buah semangka, untuk dijual kepasar. Bulan-bulan seperti ini memang masa panen bagi keluarga kami. Terutama aku dan abah. Bukan hanya panen buah semangka. Tetapi juga panen rezeki uang.
Peluh yang melekat ditubuh seperti tak terasa olehku, uang didepan mataku seakan menari-nari untuk segera dipetik dan dinikmati.
Matahari kian meninggi dan panas semakin menggigit. Kendaraan yang akan kami tumpangi belum juga datang. Bukannya tidak ada. Bahkan banyak angkot yang lalu lalang didepan kami. Namun ramainya siswa SMU yang baru pulang sekolah membuat seluruh angkot penuh luber. Banyak siswa laki-laki yang bergelantungan seenaknya di pintu belakang angkot.
Aku menggeleng-gelengkan kepala, “Nggak mikirin, kalau jatuh apa nggak mampus”, pikirku.
Sebenarnya, masih ada kendaraan lain yang lebih besar dan lebih murah ongkosnya, akan tetapi siang terik seperti ini sangatlah tidak nyaman bagi kami untuk naik kendaraan umum tersebut. Selain harus berdesak-desakan dengan penumpang lain, tentu kehadiran kami yang berpeluh keringat seperti ini akan membuat penumpang lainnya menjadi terganggu, terutama dengan aroma yang ditebarkan oleh tubuh kami.
Setengah jam menunggu, akhirnya kami dapat angkot juga, walau angkot sudah terlihat penuh. Mau tidak mau dan sangat terpaksa kami naik juga, takut kesorean sampai kepasar. Ada satu tempat duduk untuk abah. Aku bergelantungan dipintu angkot. Seperti anak-anak SMU tadi. Lupa dengan yang namanya maut. Gila!.
Kegerahan yang yang sedari tadi kurasakan mulai berkurang. Hembusan angin telah menyegarkan tubuhku yang penat. Keringat mulai mengering. Aku semakin tidak sabar, dalam hati sudah terbayang uang, hasil penjualan semangka. Uang itu akan kubeli sandal. Sandalku yang lama sudah tidak layak pakai lagi. Abah juga berjanji, bila panen ia akan membelikanku sandal baru
Namun hatiku was-was, aku sedikit khawatir. Khawatir dengan keranjang-keranjang semangka tersebut, karena sebagiannya terpaksa dimasukkan kedalam angkot. Ditaruh diatas tidak memungkinkan lagi. Sudah tidak ada tempat. Jika dipaksakan bisa fatal.
Ketakutanku bukan karena keranjang yang diatas angkot, tetapi bagaimana jika para penumpang lainnya marah karena keranjang yang didalam angkot mengganggu kenyamanan mereka. Otomatis angkot menjadi sempit akibat keranjang-keranjang tersebut. Buktinya, sebelum aku dan abah naik, aku melihat dengan jelas, banyak penumpang yang dengan terpaksa melipat-lipat kakinya karena sempit. Belum lagi rona wajah mereka yang sepertinya marah dengan kehadiran abah, sehingga anak-anak SMU pada menutup hidung semua. Nggak tau, apakah karena abah bau keringat ataupun memang bau badan yang tidak pernah memakai parfum.
Abah seperti mengetahui kekhawatiran diriku. Ia menoleh kearahku, lalu menekurkan wajahnya. Ikut khawatir. Andaikan bisa, aku ingin duduk disamping abah dan berkata. Tetapi aku tidak mampu…..
“Sudah, sudah……..aku mau turun saja!” tiba-tiba seorang penumpang berteriak dan marah. Membuyarkan lamunan khekhawatiranku.
Seorang wanita muda berjilbab dengan pakaian dinas kantoran. Ia terus mengomel. Mungkin tidak tahan dengan sakit dikakinya yang terjepit dan berlipat akibat keranjang buah semangka kami. puncaknya itu tadi, berteriak!
Kulihat abah menarik keranjang lebih dekat kekakinya, agar wanita tersebut dapat menggerakkan kakinya.
“Maaf mbak……” suara abah lirih. Sebelum abah selesai bicara wanita tersebut langsung berkata “maaf, maaf, maaf. Makanya kalo bapak mau bawa barang banyak jangan naik kendaraan umum, nyusahin orang lain”.
Abah terdiam. Tidak tahu mau bicara apa. Andaikan aku dapat berbicara, tetapi aku tidak mampu…….
Aku pun hanya bisa diam. Tidak mau menambah masalah dengan keadaanku yang seperti ini. Mau bagaimana lagi, karena kesalahan ada pada kami. Kami tidak dapat berbuat apa-apa. Sudah nasib. Menjadi rakyat jelata!.
Seorang bapak yang duduk tepat didepan abah ikut menampakkan kejengkelannya dengan menengdang keranjang semangka tersebut kekaki abah.
“Gini, mbak, kakinya yang kanan dimiringkan sedikit biar tidak sakit dan tidak mengenai keranjang”. Kata ayahku pelan sambil menarik keranjang didepan wanita tersebut.
“dimiringkan kemana? Sudah sempit begini. Makanya kalo sudah tau nggak ada tempat, tadi ngapain naik!!”. Kata wanita tersebut dengan nada tinggi.
“Nyusahin orang saja, tau!!”
Abah menarik sedikit lagi. Tetapi akibatnya keranjang tersebut mengenai penumpang lainnya yang berada disamping abah sehingga mereka ikut marah.
Kulihat beberapa penumpang lainnya juga kesakitan. Aku semakin resah, seorang ibu dengan lipstik agak menyala ikut mengomel, kesal. Ya Allah maafkan kami. Ternyata kehadiran kami telah menyusahkan banyak orang. Ya Allah tolonglah, janganlah keberadaan kami menyusahkan orang lain.
“Sekali lagi, maaf ya ibu-ibu. Mbak-mbak…..saya mohon maaf jika keranjang saya telah menyusahkan anda-anda” suara serak abah nyaris tidak terdengar.
Apa yang kukhawatirkan terjadi juga. Sakit di dalam hatiku semakin nyeri. Nyeri yang kembali mengoyak luka lama, ketika abah diusir oleh penumpang lain didepan mataku beberapa bulan lalu. Apakah karena penampilan kami seperti ini sehingga mereka begitu mudah dan seenaknya memarah-marahi abah. Seandainya mereka merasakan seperti apa yang kami rasakan saat ini. Tetapi sudahlah, sudah nasib rakyat jelata. Andaikan aku bisa berbicara………tetapi aku tidak mampu. Bathinku semakin tersiksa. Sesak.
Aku tidak mau kehadiran kami dapat membuat manusia lain berdosa. menganggu kenyamanan mereka, walau angkot merupakan kendaraan umum. sudah nasib rakyat jelata!.
Aku segera memencet bel. Turun. Walau pasar yang kami tuju masih sekitar dua kilometer, aku tetap menarik keranjang-keranjang semangka tersebut dan mengeluarkannya dari dalam angkot. Abah tahu apa yang kulakukan. Ia turun dan ikut menarik keranjang tersebut. Supir angkot ikut menurunkan keranjang yang diatas.
Setelah habis keranjang diturunkan, supir angkot melihat para penumpangnya satu persatu. “bapak, ibu, kakak, mbak dan adik-adik, jangan marah-marah gitu, dong. Kasihan, kan bapak ini dan anaknya”
Sambil menunjuk kearah kami ia terus berkata “ tolong dan bantu mereka untuk mencari sepiring nasi. Hanya sekali setahun mereka panen seperti ini. Begitu sulitnya mereka mencari makan”.
“hanya sekali dalam setahun kami panen, mbak. Ya… saat-saat musim kemarau seperti ini.” Abah menambahkan.
Kupinggirkan keranjang-keranjang tersebut kepinggir jalan. Angkot telah menjauh dari pandanganku. Menunggu angkot lain yang sudi mengangkut kami. Kupandangi punggung abah yang berpeluh mengangkat dan menggeser keranjang-keranjang tersebut. Air mataku terjatuh. Abah.
“ba…ba..bah…….” suaraku tergagap.
Abah membalikkan tubuhnya, merangkulku. “Tenanglah harist, kita tunggu angkot yang lain saja” ia memandangku. Meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja. Tegar seperti karang ditengan lautan. Kuat bagaikan gunung.
Tetapi tahukah ia, bahwa aku anaknya, telah terkoyak-koyak jiwanya dengan kehidupan manusia yang selalu ingin menang sendiri, menghina dan merendahkan yang lemah. Hidup dalam ketertindasan. Bukan rakyat jelata yang merdeka!.
“ba….bah……” aku semakin erat memeluknya. Peluh kembali membasahi tubuhku bersatu dengan peluhnya. Abadi. Aku tidak ingin berpisah dengan abah.
“bersabarlah, nak…..”
Isakan tangisku semakin menjadi-jadi dalam pelukannya. Seandainya aku dapat berbicara dan tidak bisu, tentu aku akan membela abah ketika didalam angkot tadi. Tetapi apa daya. Aku rakyat jelata yang bisu!!.
Seandainya hidupku seperti mereka. Hidup berkecukupan. Makan enak, tidur diatas kasur empuk. Punya uang untuk membeli apa saja. Tentu aku akan dapat membahagiakan abah. Tidak usah bekerja dalam terik panas yang menyengat tubuh, tidak berbasah dalam hujan. Betapa nikmatnya hidup seperti mereka.
Tapi aku yakin, Allah swt telah berbuat adil kepada setiap manusia. Walau hidup kami serba kekurangan, walau hidup kami sering dihina dan dilecehkan oleh orang lain namun kami bahagia. Hidup dalam kebersamaan dan kasih sayang. Bebas berjalan dan berlari. Karena bumi ini milik Allah. Semuanya milik Allah, dan suatu saat pasti akan kembali kepada Allah.
Memories 1999
METAMORFOSA
“Eh, mau kemana kamu, seng!. Cepat balik!!. Bantuin emak.’
“Asenggg……….dasar anak anjingg…!!!!!”
Aku terus berjalan, dibelakangku suara emak semakin meninggi. Aku capek. Tiap hari diomelin melulu. Gini salah. Gitu salah. Nggak pernah ada benernya. Semua salah. Mentang-mentang jadi emak, emang bisa seenaknya ngatur-ngatur anaknya. Busyet!!enak benar dong jadi orang tua.
Aku lelah. bosan.
Aku mau lari. Cari bapak, menurut cerita mak onah tetanggaku, bapakku pergi meninggalkan rumah ketika aku berusia satu tahun. Kasihan dia. Dulu sebelum minggat, tiap hari diomelin melulu sama emak, seperti aku sekarang. Dapat setoran ojek sedikit diomelin. Setoran banyak dibilang kurang dan jika nggak ada setoran? jangan tanya. Piring didapur pada beterbangan, anjing dan babi berhamburan keluar dari mulut emak. Udah nyari duit susah, ee….piring malah dibanting-banting. Kata mak onah lagi untung bapak pinter silat sehingga bisa mengelak dan menangkis setiap serangan emak (duh… mak onah, kayak di senetron aja sih…). “Dasar emakmu itu gila, seng!” mak onah ikut-ikutan ngatain emakku gila.
Lagian digituin tiap hari siapa tahan. Bapak pergi ntah kemana. Mungkin saja merantau ke seberang pulau dan bisa jadi kawin lagi, atau jangan-jangan …….nggak taulah. Asal jangan mati saja!. Aku nggak mau kehilangan bapak. Lebih baik kehilangan emak. Biar mampus sekalian tuh mak lampir cerewet. Kualat? Masa bodo!! Emang gue pikirin.
Semenjak bapak pergi ibu mulai banting tulang, tapi itu cuma sebentar, karena setelah aku bisa bicara dan berjalan aku malah harus menggantikan peran bapak alias jadi budak. Cari uang, ngemis plus nyopet dan jambret jadi pekerjaan wajib jika aku masih ingin pulang kerumah. Kerjaan pun semakin bertambah ketika muncul tuyul-tuyul dirumahku, si ani dan si mena. Aku harus mengurus mereka berdua. Ngerjain PR sekolah, nyuciin baju, ngasih jajan mereka. Busyet!! Emang aku apa? Baby sister? Sudah aku nggak disekolahin. Malah jadi budak!. Dasar mak lampir. Bisanya keluyuran mulu. Alasannya nyari duitlah, nyari makanlah, berdaganglah, nyari itu inilah. Dasar pembohong! Paling-paling jual diri. Jadi “wanita pemuas”. Puehh!! Wanita pemuas, dasar emak lampir. Lonte busuk!!.
Kasihan si anik, si mena. Tuh anak moncrot kebumi nggak ada bapaknya, anak haram!. Pernah si anik nanya “ mak, bapak tok ndak puyang-puyang. Kemana cih. Kita cali yuk, mak?”. Langsung dijawab emak “ bapak,bapak,bapak. bapak taikmu. Jangan tanya-tanya bapak bajinganmu itu. Dia udah mampus, tau!”. Si anik terdiam. Mena menagis sejadi-jadinya karena dia sedikit ngerti apa kata emak. Melihat mena menangis emak langsung menarik kupingnya. “heh….loe ngapain nangis-nangis segala. Diaamm…..!!!!”. suara lolongan emak memekakan telingaku. Aku hanya terdiam melihat-detik-detik kehidupan kami yang penuh tangisa, jeritan, makian dan amarah
Dasar emak haram jadah! Udah buat anak nggak tanggung jawab. Kasihan bapak. pasti dia sangat menderita bathin dapat istri kayak hantu bela-u gitu.
Aku mau pergi. Lari sejauh-jauhnya. Menjauh dari mak lampir brengsek!. Aku mau cari bapak. aku rindu. Si anik dan Mena? Bukan urusan gue. Lagian mereka bukan adik gue. Anak haram!
*****
“Puehh!!”
Hidup dijakarta ternyata susah banget. Cari makan sulit, mau tidur sulit, cari kerja malah lebih sulit lagi. Semua harus pake duit. Bayangin, bisa-bisanya beol saja harus bayar. Orang untuk makan saja susahnya amit-amit, eee…….waktu mau dikeluarin malah harus bayar juga, akayak nggak ada kerjaan. Mau nyari istri?, jangan tanya, harganya bisa selangit. Gilee……gile……., hidup pada mahal semua. Dunia edan.
Untung ada mang udin, tetanggaku yang ikut membantu dan menyukseskan aksi minggatku tempo lalu. Ia juga baik. Mau ngasih aku kerja. Walau untuk sementara aku menjadi pesuruhnya. Nggak penting. Pokoknya aku dapat duit dan bisa makan. Lagian bapak pun ntah kemana. Capek nyari. Ngabisin duit saja. Udah sebulan dicari-cari kok nggak jumpa juga.
Kata mang udin, pekerjaan yang aku geluti mudah, ngasih barang lalu ambil duit. Selesai. Eh ternyata benar, kerja mudah dan hasilnya ? jangan tanya. Aku bisa makan enak setiap hari. Tidur juga nyenyak.
Sehari, dua hari, minggu, bulan, akhirnya aku jadi terkenal. Terkenal sebagai bandar narkoba remaja. Sabu-sabu, heroin, ekstasi dan segala macam yang berhubungan dengan nenek kakeknya narkoba aku sudah pernah jual bahkan ngerasain juga sering, he..he
Namaku sudah terkenal dibilangan beberapa jalan dijakarta. Tinggal sebut nama aseng cobra, maka semua orang akan tahu. Bahkan polisi juga banyak yang tahu, karena mereka sebagian besar juga pelangganku. Lumayanlah dapat bekingan aparat.
Sekarang jelas aku bangga karena kini aku menjadi orang kaya. Tidak lagi susah-susah ngemis untuk cari uang lagi, yang penting kan usaha, dari pada ngemis-ngemis nggak ada harga diri.
Enaknya lagi, sekali-kali mang udin ngasih bonus. Aku Diajarin untuk menjadi manusia dewasa. Aku dikasih lonte..bo!! he..he..he.. lumayanlah buat pengalaman.
******
Dasar apes. Sial. Dasar mang udin keparat. Laki-laki tengik! Bandot busuk! Aku ditipu. Tega-teganya mang udin, ternyata mang udin memanfaatin aku. Dasar keparat!. Kribo dekil!!
Aku kesal. Mak lampir keparat, ini semua gara-gara emak. Gara-gara dia aku nggak bisa sekolah dan belajar. Coba, jika aku tidak dipingit dan menjadi budaknya? Tentu aku tidak akan luntang lantung di jakarta sampai menjadi bandar narkoba. Jika saja emak menyekolahkanku, tentu aku tidak akan kemalangan seperti ini. Dasar apes!.
Aku tertangkap polisi. Masuk penjara. Itu pun masih untung leherku nggak di penggal. Coba kalau jadi dipenggal? bisa berabe. Nyawa kan cuma satu. Lagian dosa yang pada bejibun mau dikemanin, pada nunggak semua belum dilunasin. Apa nggak ngeri kalau masuk kubur dengan dosa bertumpuk gitu?. Aduhhh…mang udin, kok tega-teganya sih. Jika aku jadi dipenggal, mending bunuh diri sekalian. Biar terkenal. Masuk koran, masuk tivi.
Sekali lagi aku masih beruntung. Katanya sih aku masih dibawah umur. Jadi banyak pertimbangan-pertimbangan. Aku mendapat discont kurungan. Lumayan. Yang penting aku nggak usah lagi capek-capek kerja. Makan udah pasti dapet tiap hari. Gratis. Tidur nggak kehujanan kayak gembel-gembel. Mandi nggak bayar. Apalagi beol. Semua gratis boo!!
****
Aku bebas. Nggak terasa udah 7 tahun berlalu, kini umurku sudah 20 tahun, aku mau pulang. Rindu sama anik, mena, dan sama…. mak lampir. Ups!, salah. Bukan mak lampir. Tapi emak. Aku mau minta maaf. Tobat! Mang udin? Biar saja, aku nggak akan balas dendam, yang penting aku bebas. Bebas. Sekali lagi bebas!!
Aku sudah terlalu lelah dengan hidup seperti ini, kapok masuk penjara, aku dikerjain “habis-habisan” dengan senior-senior dipenjara, mereka merampas jiwa lelalkiku yang sesungguhnya, mereka merusak jiwa dan perasaanku sebagai manusia.
Aku ingin menghirup udara kebebasan, bebas dari segala rasa takut dan benci, ebas dari rasa demdan amarah. Aku nggak tau apakah suatu saat nanti pintu tersebut akan kembali terbuka bagiku.
“Ardhan….”
Aku terkejut. Sebuah suara berat dari belakang terasa dekat ditelingaku. Suara itu seperti tidak asing bagiku. Tetapi….aku tidak ingat. Ardhan?, dan rasa-rasanya aku juga tidak asing dengan nama itu. Bukankah namaku……”ASENG”.
Aku berbalik. Empat orang manusia. Seorang lelaki berjenggot dengan tiga wanita berjilbab jumbo. Anggun. Aku terkesima. Wajah mereka penuh keteduhan dan kedamaian. Begitu bersahaja dengan pakaian sederhana yang mereka kenakan.
Sepertinya aku pernah melihat mereka semua. Dimana? aku tidak tahu. Tetapi pria itu, bukankah ia….serr…tiba-tiba darahku naik. Kukepalkan kedua tanganku, karena dialah sehingga aku menikmati masa-masa kehancuran jiwaku di dalam sel. Tetapi, tiba-tiba pandanganku tertuju pada tiga wanita disampingnya. Bukankah wanita-wanita itu…, sepertinya, ah…, mudah-mudahan bukan. Semoga aku tidak bermimpi.?, dan bukankah wanita-wanita itu…sepertinya..ah…, mudah-mudahan bukan.
“Ardhan….” suara lelaki itu terdengar serak.
Aku menoleh kekanan kekiri mungkin ada orang lain yang dipanggilnya. Tidak ada. Aku semakin terkejut. Laki-laki berjenggot tersebut memelukku.
“Ardhan, ini bapak, nak”
“Bapak??” yang benar saja akh, apa aku benar-benar bermimpi. Nggak percaya. Aku tidak percaya!. Jika dia ayahku, lalu siapa ketiga wanita ini.
“Mereka adalah emakmu, ani dan mena. Adik-adikmu”.
Aku tidak percaya. Sekali lagi aku tidak percaya. Tidak percayaa…..!!!!
Ya Allah……
Mengapa mang udin yang menjerumuskan diriku itu adalah ayahku…..
Mang udin ayahku……
Ya Allah……
Aku kapok….
Memories 1994
“Terlalu sakit, bahkan sangat menyakitkan. Dia yang selama ini tempat aku berharap, dia yang selama ini sebagai sumber inspirasi yang memberikan sugesti. Ternyata semua berakhir penuh rasa sakit yang menyakitkan”.
Kupandangi wajah tirus didepanku. Wajah tirusnya seolah menutup semua kehebatan super yang selama ini ia miliki. Wajah tampan, cerdas, kaya, empaty, dari keluarga baik-baik dan ia juga pemuda yang baik (huh!!!, untuk yang satu ini belum bisa kuterima). Memang terkesan sempurna, tapi itu dalam kacamata kalian. Bukan kacamataku.
“Bagaimanapun aku masih sangat mencintainya, walaupun aku sadar kalian tidak mengharapkan kehadiran diriku. Namun aku benar-benar mengharapkannya. Mengharapkannya, Dina”, eramnya memandangku.
Pria didepanku menyeruput kopi panas yang dihidangkan pelayan. Matanya terlihat sembab. “ Ah, cowok ini”. Pikiranku mulai bergentayangan, mengingat kembali masa-masa suram keluargaku saat ia masuk dalam kehidupan kami secara illegal. “Illegal!!”. Yah, begitulah dalam penafsiranku. Kehadirannya telah memporak-porandakan hatiku, bahkan keluargaku.
“Dina….”, suaranya nyaris hilang oleh alunan gemerisik musik yang mendayu-dayu.
Aku menatapnya karena ia juga menatapku. Aku mencoba meraba-raba sebesar apa cinta yang merasukinya sehingga ia seperti ini. Dalam hati aku tersenyum, “Rasakan tuh cinta. Makanya, jika mau bercinta harus siap-siap menerima petaka cinta”.
“Dina, dimanakah dia sekarang. Aku sangat merindukannya, aku tidak bisa hidup tanpa dirinya. Please…..”, harap pemuda didepanku. Memohon.
Aku diam. Mencoba menikmati sisa-sisa ketampanan yang masih tersisa diwajahnya. Ah.., bayangan itu kembali hadir, sangat menyakitkanku. Mungkin tubuh mungilku masih mampu menahan sakit itu, tapi hati, jiwa dan perasaanku, apakah dia tahu.
“Dina”, suaranya terputus.
“Tolong aku…, aku yakin kamu tahu mengetahui dimana dia sekarang”, pinta pemuda didepanku, memelas.
Ia meraih tanganku dan menggengamnya erat. Aku diam. Pikiranku masih melayang-layang mencari yang hilang dalam kehidupan keluargaku. Antara dunia nyata dan halusinasi. Inilah petaka dan marabahaya cinta. Membuat manusia gila!.
Aku melepaskan genggaman tangannya. Pura-pura memperbaiki kerudung hitamku. Padahal hatiku dongkol luar biasa.
Alunan musik slow mengalun lembut, bahkan lembut sekali. Beberapa tamu silih berganti menggantikan tempat duduk yang tersedia. Para pelayan café tak bosan-bosannya berjalan kesana kemari membawa daftar menu untuk pelanggan.
Satu jam setengah aku dan pemuda didepanku duduk disini. Membicarakan tragedi cinta, kemunafikan dan prahara cinta.
“Peuh!!”, aku kesal.
Aku memandangnya ntah untuk yang kesekian kalinya. Hening. Lampu temaram yang menerangi ruangan café kelas VIP di daerah Ulee Kareng Banda Aceh ini memang khusus diperuntukkan bagi para pecinta berat. Buktinya para tamu yang hadir semuanya dalam bentuk pasangan lelaki dan wanita. Termasuk aku dan pemuda didepanku.
Tapi kami berbeda. Jika para tamu lainnya hadir dalam ungkapan dan kebahagiaan cinta, justru aku dan pemuda ini datang untuk mencari serpihan cinta yang berdiaspora. Memuakkan.
Aku kembali masuk dalam labirin keluargaku. Andaikan pemuda didepanku ini tidak pernah dalam kehidupan keluargaku, bisa jadi aku akan terpengaruh dengan kesedihannya ini, terpengaruh dengan ketampanannya. Lalu…ehhem… cinta lokasi deh.
“Dina…, aku tahu dan sadar jika kamu membenciku, marah, kesal dan muak melihatku”.
“Memang iya!!, baru sadar toh. Melihat mukamu saja aku ingin muntah!!”, kataku dalam hati, kesal mendengar perkataannya.
Pemuda didepanku menatap wajahku, ntah apa yang dilihat, mungkin kerundung hitamku atau mungkin perasaannku yang berusaha diselaminya. Aku menatap matanya, mencari cinta itu. Apakah murni seperti yang ia rasakan dan katakan saat ini. Aku mencoba ingin mencari cinta dimatanya itu, cinta yang telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan keluargaku.
Sayang, aku bukan pecinta sejati, sehingga sulit untuk merabanya, walau dengan perasanku sendiri.
“Pemuda ini memang tampan. Walau luka dipelipisnya masih terlihat membiru, kening sebelah kirinya masih dibalut perban. Namun justru ketampanannya semakin terlihat”, sifat kewanitaanku tergoda. “andaikan saja dia pacarku….., ah…gila!!”.
“Beliaulah cinta pertama dan terkahirku, Din. Kasihanilah aku, Din”, suara pemuda didepanku semakin melemah.
Aku kembali memperbaiki kerudung hitamku. Hanya pura-pura. Padahal, kesalnya hatiku luar biasa parah.
Aku kembali teringat, dua hari lalu, kakak tertuaku mendatangi pemuda ini dikantornya (salah seorang staff badan PBB dibilangan Neusu). Aku tidak tahu persis apa yang terjadi, namun aku tahu pasti apa yang akan dilakukan kakakku, yaitu main gebuk alias pukul-pukulan. Babak belur.
Kakakku tidak bisa menerima apa yang telah dibuat pemuda ini terhadap keluargaku. “Anjing biadab!!”, maki kakakku.
Aku mengamati pelipisnya yang membiru. Inilah pengorbanan cinta itu. Babak belur! Cinta harus berkorban, bahkan kita harus rela mengorbankan diri demi cinta. Cinta memang penuh pengorbanan.
***
“Dina, terima kasih atas kebaikanmu,”
Aku diam. Air mataku mengalir oleh perasaan sedih, benci, kecewa, marah dan bahagia. Air mataku jatuh karena desakan cinta yang ada pada pemuda didepanku ini. Biarlah aku berdosa dan durhaka. Karena aku tidak bisa membiarkan cinta dibunuh untuk orang-orang yang aku cintai.
Pemuda didepanku menyalamiku sebagai ungkapan terimakasih. Semangat hidupnya kemabali hadir setelah aku memberi peluang untuk cintanya.
Aku sesegukan. Sendirian, dalam temaran cahaya lampu dan alunan musik yang mengalun lembut. Air mataku semakin deras mengingat kakak, adik dan ibu dirumah yang menjadi korban cinta.
Aldo Tristan (30 tahun) pemuda didepanku tadi, mencintai Alif Akbar (50 tahun), yaitu ayahku sendiri.
Keluargaku tersakiti oleh sakit yang menyakitkan. Keluargaku disakiti oleh cinta. Cinta illegal pemuda itu dan ayahku.
Wahai…..
Hati-hatilah dengan cinta, tempatkanlah ia ditempat yang benar. Sehingga hati, jiwa dan perasaan akan tetap hidup dalam jalan yang benar.
Memories 2006
For my mum, I love you, I love you and I love you.
“Masih seperti dulu!!”
“kabut tebal yang menutupi lereng-lereng bukit, jalan setapak, kebun-kebun singkong, tanah-tanah tandus, gubuk-gubuk reok, nyaris tidak ada yang berubah. Masih seperti dulu”. Bathinku bergemuruh.
Hatiku semakin miris ketika melihat petak-petak sawah yang merekah akibat kekeringan. Rumput-rumput yang merangas kepanasan dan kehausan.
“Masih seperti dulu”.
Tidak terasa tiga tahun aku meninggalkan tempat ini. Sebuah keterpaksan yang membuatku meninggalkan tempat ini. Pun sebuah keterpaksaan pulalah yang menyebabkan aku menginjakkan kaki kembali kesini. Sungguh sesuatu yang sangat tidak kuharapkan.
Kami terus berjalan. Kurasakan udara yang mulai menghangat, aku yakin matahari telah sepenggalah diatas kami. Matahari yang mengikis kabut diatas lereng, aku dapat merasakan panas itu. Terik!!
Kupandangi wajah-wajah disekelilingku. Wajah-wajah lelah. Tangan-tangan kekar mereka silih berganti memegangiku. Dua belas manusia plus diriku. Beberapa dari mereka begitu kukenal, namun lebih banyak yang tidak kukenal.
Kami berjalan mengikuti jalur setapak yang sempit. Jalan yang sudah sangat kukenal. Jalan setapak yang penuh semak belukar disetiap sisinya. Sudah lima tahun. Mengapa masih seperti ini. Hatiku begitu sesak. Masih seperti dulu, tidak ada yang berubah. Bukankah seharusnya tempat ini sudah lebih baik daripada lima tahun lalu.
Aku memandang langit. Putih. Kabut diatas lereng mulai menghilang. Gumpalan-gumpalan awan berlari dan menari. Seperti mengajakku bernyanyi. Aku tersenyum. Jiwaku beku. Aku tidak dapat bernyanyi lagi. Suaraku hanya tinggal puing-puing yang dihempaskan angin. Hilang.
Aku rindu. Rindu akan gersangnya ladang tempat diriku berkebun. Rindu pada teriknya matahari disiang hari yang membakar kulit-kulit kami. Rindu akan sungai-sungai yang senantiasa tidak berair bila kemarau tiba, tetapi berlimpah ruah bila hujan datang. Aku rindu. Rindu akan bongkahan-bongkahan tanah yang merekah karena kekeringan. Ah….aku merindukan semuanya. Guratan-guratan kejadian itu seperti sebuah memori yang terputar kembali dihadapanku. Aku dapat melihatnya. Kini diriku seperti manusia asing. Asing ditempat yang tidak asing dalam hidupku.
Sudah dekat…..
Kami terus berjalan bersama matahari yang kian meninggi, bersama kabut-kabut yang telah menghilang termakan angin. Keringat mulai membasahi tubuh kami. Lelah, haus, gerah, semuanya melebur menjadi satu. Hatiku bergetar, kasihan mereka. Kini aku tidak merasakan semua itu. Jiwaku kering. Perasaanku telah musnah, hancur berkeping-keping ditelan kebuasan manusia.
Ah….biarlah, semuanya telah berlalu.
Sudah semakin dekat. Aku tidak sabar untuk segera beristirahat. Jiwa ini sudah terlalu lelah. Teman-temanku yang sedari tadi memegangiku pun sudah semakin lelah, namun mereka harus tetap bersabar dan bergantian memegangi tubuhku.
“ Ayoo…..Cepatlah berjalan” aku menyemangati teman-temanku
Aku ingin tahu, apakah keluargaku masih seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Seperti sungai-sungai yang mengering. Seperti bongkahan-bongkahan tanah yang merekah kehausan. Ya Allah….aku ingin tahu.
Beberapa anak kecil berlari melewati kami. Mereka memandangku sesaat, lalu kembali berlari sambil tertawa. Tanpa alas kaki, bertelanjang dada. Anak-anak itu masih seperti dulu. Seperti diriku sewaktu kecil, berlari-lari main perang-perangan. Cepatlah berjalan! Aku ingin melihat semuanya.
Kami berhenti. Matahari semakin sempurna diatas kami, Manusia-manusia terbelakang dan terpinggirkan berkumpul menyambut kehadiran kami, terharu!. Kini, aku kembali bersua dengan mereka, kembali bersatu dalam keringnya bumi tempat kami berpijak. Bersua dengan keluargaku yang selalu terhimpit ekonomi dan keadilan. Bersua dengan sanak famili dan tetangga yang terkungkung dalam kemiskinan dan diskriminasi. Bersua dengan teman-teman yang semakin terpinggirkan dalam kehidupan dunia yang gemerlap.
Ternyata mereka masih mengingatku. Masih seperti dulu. Ketika aku meninggalkan desa ini dengan air mata untuk sebuah niat mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri. Menjadi buruh manusia. Mencari secercah cahaya untuk keluarga dan desa.
Jiwaku tersenyum, bukan ragaku, karena aku tidak mampu lagi tersungging dengan bibir. Manusia-manusia laknat itu telah merampasnya dariku.
Disinilah kesejukan hati dapat kutemukan. Dalam cinta dan kasih manusia. Hidup dalam lindungan dan keadilan Allah swt. Aman dari kerakusan dan kebuasan manusia-manusia binatang.
Tetapi…..mungkinkah akan terjadi. Bukankah keadaanku kini telah berubah. Aku bukan lagi seorang gadis desa yang penuh dengan kelembutan. Aku bukanlah perawan yang dapat menjaga jiwa dan perasaannya sendiri. Aku sudah berubah. Duniaku sudah berubah.
Ya Allah, mungkinkah aku bersatu dengan mereka semua, dengan sawah yang mengering, dengan rumput-rumput yang merangas kehausan, dengan tangis kelaparan dan kehausan. Mungkinkah…………..
Hembusan angin semakin kencang menerpaku. Aku tersadar. Dingin.
Kulihat ayah, ibu dan adik-adikku, menangis memeluk tubuh kakuku. Ayah merangkul dan membawaku kedalam liang lahat yang telah disiapkkan untukku.
Akan tetapi aku tersenyum. Melihat matahari yang tersenyum. Awan-awan yang ramai menari diatas cakrawala biru. Teman-teman yang ikut dan memegangi tubuhku sedari tadi juga ikut tersenyum dan gembira, karena sesaat lagi tugas mereka selesai dan akan segera kembali ketempat mereka masing-masing, di atas bumi yang lebih baik dari desaku ini. Terimakasih.
Kupandangi ayah, ibu dan adik-adikku untuk yang terakhir kali. Air mata membasahi wajah mereka. Pun awan dilangit, mulai ramai berkumpul, angin semakin kencang menjerit memanggil awan-awan. Untuk ikut menyaksikan dan menangis bersama.
Aku tersenyum. Apakah masih seperti dulu. Kering membara. Hangus membakar. Tetapi hari ini, kulihat matahari ikut tersenyum sambil berlari lincah bersembunyi dibalik kumpulan awan yang mulai menghitam. Sesak.
Angin semakin kencang, seluruh awan-awan telah berkumpul dan siap menjalankan perintah Allah. Menangis bersama penduduk desa yang membutuhkan kasih sayang dan cinta.
Aku tersenyum ternyata tidak seperti dulu lagi. Titik-titik air mulai berjatuhan bersamaan dengan tidurnya diriku dalam liang lahat. Damai. Tanah mulai merapat. Tangisan manusia semakin meninggi bersatu dengan tangisan langit. Awan semakin menghitam, sedih. Tak mampu lagi menahan air mata. Air mata langit berjatuhan membasahi bumi. Deras, bersatu dengan tanah merapatkan bumi dan tubuhku.
Aku tersenyum. Ternyata tidak seperti dulu lagi. Allah maha adil.
Semuanya kan kembali…..kembali dalam dunia yang tak pernah kita lihat dengan hati, jiwa dan perasaan kita.
Memories 2001
HARIST ANAKKU
Januari 1, 2008
28 Desember 2004
Harist anakku…….
Dimanakah engkau kini. Ayah sudah mencarimu kemana-mana, menanyakan pada orang-orang dan pada sanak family. Semua sudah ayah datangi. Mencari ke mesjid-mesjid dan posko-posko pengungsian. Anakku…jangan tinggalkan ayah. Tidakkah harist merindukan ayah. Maafkan ayah nak, karena saat itu ayah tidak bersamamu, untuk melindungi dan menenangkan rasa takut dihatimu. Maafkan ayah, nak.
Insya Allah, Besok ayah akan mencarimu lagi sayangku….
29 Desember 2004
Harist anakku,
Hari ini ayah mendatangi rumah kita, untuk mencarimu. Tidak ada yang tersisa, semuanya hancur dan hilang ditelan air laut. Tak ada bekas yang dapat ayah kenali. Ayah berharap mungkin-mungkin ada tetangga kita yang melihatmu ataupun menyelamatkanmu saat kejadian itu, semuanya menggeleng. Diam. Mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Mencari keluarga dan mengumpulkan sisa-sisa harta benda yang masih dapat digunakan.
Anakku, ayah merasakan kegundahan hati yang sangat dalam. Ayah dirasuki perasaan bersalah kepadamu, nak. Ayah tahu engkau sangat sedih pagi itu karena tidak bisa ikut kepasar bersama ayah. Tetapi tolonglah, nak. Jangan biarkan ayah menangis. Bukankah kita pernah berjanji untuk selalu bersama dalam suka dan duka.
Ayah tak ingin yang lain. Ayah hanya ingin harist, harist satu-satunya milik ayah didunia ini. Jangan tinggalkan ayah, nak. Ayah mohon.
30 Desember 2004
Harist anakku.
Sambil terus berdo’a. ayah mendatangi posko-posko pengungsian. Berharap, bila-bila engkau disana. Ayah begitu bersemangat dan behagia bila melihat anak-anak seusiamu.akan tetapi, kesedihan dan kekecewaanlah yang ayah rasakan, ayah tidak menemukan dirimu, nak.
Harist anakku…….
Ayah merindukannmu, nak. Merindukan semua tingkah lucu dan kepolosan dirimu. Ayah sangat merindukan setiap ocehanmu ketika hendak tidur. Merindukan kejengkelanmu bila tak mampu menjawab PR sekolah. Ayah benar-benar merindukannya, nak.
Ayah akan terus mencarimu, nak.
Pagi, 31 Desember 2004
Harist sayangku…….
Ayah kembali menyusuri kampung kita, mencari tahu tentangmu. Ayah hampir putus asa, namun ayah harus tetap mencari. Mencari dan terus mencari, ayah tidak sanggup hidup tanpa dirimu anakku. Ayah tidak dapat hidup sebatang kara didunia ini.
Dan…..saat itulah Pak Ali tetangga kita mengabarkan kepada ayah, bahwa dirimu telah ditemukan. Betapa bahagianya ayahmu ini, nak. Ayah berjanji, bila bertemu harist tidak akan pernah meninggalkan dirimu sendiri lagi. Itu janji ayah anakku.
Akan tetapi anakku, ayah tidak sanggup anakku, tidak sanggup menahan hati dan jiwa ayah, tidak sanggup menahan air mata ayah. Dirimu telah berubah. Tiada lagi semyum dibibirmu, tiada lagi tawa yang selalu membuat ayah bahagia. Ayah enemukanmu, tapi engkau pergi meninggalkan ayah.
Anakku…..
Janganlah engkau marah, biarlah hari ini ayah menghabiskan hidup dengan penyesalan dan air mata. Penyesalan karena meninggalkanmu pagi itu. Biarlah ayah menangis sepuas-puasnya. Agar terbebas dari semua penyesalan itu, agar hati dan jiwa ayah mampu menerima kepergianmu.
Ingatkah engkau anakku, ketika engkau menjerit memanggil “Ibu! Ibuuu……….” Tetapi ibumu tidak mendengar jeritanmu. Lalu engkau berbalik, berlari memeluk tubuh ayahmu ini. Air matamu berjatuhan laksana salju yang mencair terkena matahari. Membasahi jiwa dan hati ayah. Tahukah engkau anakku, betapa sedihnya hati ayah, ketika melihat dirimu berlari-lari dan menangis memanggil ibumu.
Hatimu hancur berkeping-keping dengan kejadian itu. Jiwamu rapuh seperti ranting-ranting pohon yang mengering. Anakku, ayah berjanji akan terus berusaha dan selalu melindungi hati dan jiwamu. Ayah akan berikan cinta ayah hanya untuk harist. Selama-lamanya. Akan tetapi, siapakah yang akan melindungi hati dan jiwa ayah, ketika semuanya rapuh, anakku.
Malam, 31 Desember 2004
Harist anakku..
Bangunlah, nak. Tataplah wajah ayah. Ayah ingin melihatnya. Apakah selama ini ayah telah melukai hatimu, nak.
Bangunlah, nak.
Ayah ingin mendengarkan semua cerita-cerita lucumu. Seperti kemarin-kemarin. Ayah ingin mendengarnya kembali.
Harist anakku…….
Ingatkah harist sabtu pagi kemarin sebelum gempa, sewaktu haris berangkat mengaji dan ayah akan berangkat ke pasar. Engkau sudah berjalan beberapa meter, namun segera berbalik menghadap ayah. Melambaikan tangan dan berseru “ayah….., hati-hati, ya!. I love you, ayah”. Ayah terkejut, lalu tersenyum. Kata-kata I love you mu membuat ayah bersemangat, setelah berjualan ayah cepat-cepat pulang agar dapat membalas I love you mu, anakku.
Tetapi apa yang ayah dapat siang harinya, engkau malah terpingkal-pingkal mendengar ucapan I love you dari ayah. Ayah malu. Langsung saja ayah raih dan rangkul tubuh mungilmu dan memciummu habis-habisan. Apakah engkau mengingat.
Tapi, setelah itu ayah melihat dirimu seperti dalam ketakutan, wajahmu seolah-olah terluka dan perasaanmu hancur, pijar bola matamu meredup. Seolah-olah cahaya matamu telah pudar. Ayah melihat tetesan air matamu terjatuh. Jujur, ayah tidak tahu apa yang terjadi terhadapmu, anakku. Ada apa anakku. Katakan pada ayah. Jika ayah salah, ma’afkan ayah. Bangunlah, nak. Bicaralah kepada ayah.
Dan malam itu, ayah melihat dirimu dalam keragu-raguan. Ketika ayah tidak mempedulikanmu, tiba-tiba engkau berlari meghambur memeluk tubuh ayah kuat-kuat, lalu mencium bibir ayah. lalu kembali berlari menuju kamarmu tanpa melihat ayah.
Anakku….
Ketika itulah ayah merasakan goncangan jiwa yang begitu berat. Tangan mungilmu memeluk tubuh ayah dengan kelembutan, halus nafasmu ketika mencium bibir ayah seakan-akan telah membuka tabir hatimu yang sesungguhnya. Kesucian hatimu telah mengikis habis kelalaian dan kebodohan serta terhadap ketidakdewasaan ayah. Apakah semua ini adalah tanda yang engkau berikan bahwa kita akan berpisah. Berpisah untuk selama-lamanya.
Sayangku……
Tiba-tiba ayah cemas sekali dan merasa takut.
Malam ini hanya dirimu yang ayah fikirkan, nak. Ayah akan berada disisimu dalam sunyi. Ayah akan menjaga tidurmu, menatap wajahmu, merasakan desah nafasmu yang telah hilang hingga fajar menyingsing.
Harist anakku………
Ayah berjanji, besok akan sungguh-sungguh menjadi ayah, ayah untuk harist. Ayah akan menjadi hatimu,nak.
Ayah akan menderita bila engkau mederita
Ayah akan tertawa bila engkau tertawa
Ayah akan menangis bila engkau menangis
Jika engkau berbuat salah, ayah akan menahan lidah dan hati ayah dari kemarahan. Ayah akan menegurmu dengan cinta dan kasih sayang.
Kini, ketika ayah memandang wajahmu yang meringkuk kaku dalam lelah dibalik selimut berlumpur, ayah tersadar, ternyata engkau masih anak-anak. Rasanya baru kemarin engkau digendong ibumu. Bermanja dan bermain dalam kasih sayangnya.
Untuk itulah ayah merangkulmu, melihat wajah putihmu, mendengar nafas halusmu yang telah hilang dan menghirup aroma tubuhmu. Ayah begitu rindu. Tetaplah bersama ayah, anakku. Bukankah katanya dirimu akan selalu bersama ayah. Menjaga dan melindungi ayah kelak. Janganlah diam seribu bahasa anakku. Bangunlah nak, agar ayah dapat kembali berdongeng untukmu. Seperti malam-malam kemarin.
Bangunlah sayang….ayah menunggumu besok pagi. Ayah ingin melihat tawamu. Ayah rindu akan tangisanmu agar ayah dapat menghapus air mata dipipimu. Ayah ingin merasakan pelukan hangatmu. Ayah ingin merasakan ciuman hangat bibir mungilmu.
Harist sayangku……
Bangunlah untuk ayah besok. Lihatlah ayah akan memberikan cinta untukmu, nak. Agar engkau dapat merasakan kehangatan dan kedamaian. Agar engkau dapat berlari, tertawa dan bernyanyi.
Harist anakku…….
Memories 2004

