Beberapa pemuda duduk. Di tangan meraka masing-masing memegang sebuah handphone seluler berbagai merek seperti Nokia dan Samsung. Namun masih kelas low end. Jari-jari mereka sibuk meraba-raba dan memencet tombol numerik, menekannya hingga tersambung. Ntah siapa yang mereka telepon.

Aksi mereka seketika berhenti saat seorang laki-laki berpakaian kantoran masuk. Salah seorang dari pemuda itu menanyakan tujuan laki-laki tadi. “Silakan ke dalam Pak,” ujar pemuda itu. Nama pemuda itu Khairil.

Khairil ikut masuk kedalam kamar dan mempersilahkan sang tamu untuk membuka baju. Sang tamu tanpa sungkan langsung membuka baju dan hanya mengenakan celana pendek, lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang telah disediakan.

“Inilah pekerjaan saya, bang. Setiap hari mencari uang dengan menjadi tukang pijat,” kata Khairil kepada saya, saat ditemui dikontrakannya sekaligus tempatnya bekerja sebagai tukang pijat tuna netra, di sekitaran Kuta Alam Banda Aceh, pekan lalu.

Khairil bercerita, jika dirinya telah menjadi tukang pijat selama dua tahun. Bersama teman-teman yang juga buta, Khairil mengaku bahagia bisa bekerja dan mencari uang sendiri. Tanpa harus menyusahkan keluarga apalagi harus menjadi tukang minta-minta (sedekah, red) di tengah jalan.

Khairil, pemuda 25 tahun asal Aceh Selatan ini mengaku, ilmu pijat yang dimilikinya bukanlah datang begitu saja. Namun harus belajar sebagaimana sekolah-sekolah lainnya. Sebelum menekuni tukang pijat tuna netra, Khairil, atas dukungan orang tua dan dorongan keluarga, akhirnya menempuh pendidikan di Universitas Jabbal Ghafur, Pidie. “Di sana orang-orang buta seperti saya, dilatih bagaimana menjadi seorang tukang pijat. Mulai pijatan yang sederhana hingga pijatan serius untuk orang-orang sakit. Namun tergantung pilihan kami,” sebut Khairil.

Nah, status tuna netra sebagai tukang pijat itu akan menjadi sahih saat ijazah kelulusan dikeluarkan. Jabbal Ghafur selaku pengelola akan mengeluarkan ijazah bagi para tuna netra ini apabila telah menyelesaikan pendidikan lebih kurang 2 tahun lamanya. “Tapi saya belum sempat mengambil ijazah saya, bang,” ujar Khairil tersenyum kepada saya.

Sebenarnya, sebagaimana dikatakan Khairil dan teman-temannya, di Ladong Aceh Besar juga terdapat sekolah pijat untuk para tuna netra. Dan cara belajarnya juga sama dengan yang di Jabbal Ghafur.

Apa bedanya memijat di rumah langganan atau tempat pijat sendiri, tanya saya. Menurut Khairil, siapa saja yang meminta kami untuk memijat dirumah kami terima. Akan tetapi dengan syarat kami dijemput dan diantar pulang kembali. Dan biayanya juga berbeda. Yaitu Rp 50 ribu, sedangkan di sini hanya Rp 30 ribu rupiah, tambahnya.

Fenomena Tukang Pijat Tuna Netra di Banda Aceh memang sedang booming. Saya pribadi melihat, hampir di setiap sudut kota Banda Aceh terdapat pamflet-pamflet yang menawarkan jasa pijat tua netra. Dan semua usaha ini, ternyata memiliki hubungan yang erat satu sama lainnya. “Mereka juga teman-teman kami. Terkadang kami sering kumpul-kumpul untuk sekedar bercerita dan saling tukar pikiran sesama tuna netra,” kata Khairil kepada saya.

Namun begitu, bukan berarti hidup Khairil tidak mengalami masa-masa sulit. Khairil mengaku pernah beberapa kali pelanggannya laki-laki itu meminta yang aneh-aneh. Gerah juga seandainya ada pelanggan yang tidak jelas. Khairil menyebutkan, ada juga beberapa pelanggan yang iseng menyuruhnya untuk memijat, maaf (kemaluan). Khairil tentu menolak. Saya hanya bertugas sebagai tukang pijat dan bukan untuk hal-hal yang lainnya. Padahal itu berdosa, ungkap Khairil kesal.

Selain itu, Khairil sering menanyakan kepada teman-temannya, kapan mereka bias mendapatkan bantuan dari pemerintah. Karena, sebagaiaman yang diketahuinya, ada alokasi khusus dari pemerintah bagi orang-orang cacat seperti dirinya. Namun hingga kini ia tidak tahu harus berbuat apa untuk bisa mendapatkan bantuan itu.

Akan tetapi, Khairil dan teman-temannya mengaku bersyukur. Karena masih bias bekerja normal dan tidak harus bertumpu pada keluarga dan orang tua. Kemandirian ini, sebut Khairil, telah menjadikan dirinya kuat terutama bila melihat para tuna netra lainnya yang lebih memilih menjadi pengemis dan meminta-minta dipinggir jalan atau di pasar-pasar.

Bila waktu senggang, para tuna netra ini, akan saling bersilaturahmi sesama tuna netra. Terkadang jalan-jalan ke laut walau hanya untuk menikmati semilir angina. Radio, adalah sarana yang paling mereka nikmati. Mulai acara berita, musik hingga kuis mereka dengar. Selain itu, kemajuan tekhnologi juga telah dapat mereka nikmati dengan uang halal hasil jerih payah sebagai tukang pijat. “Kami sudah bis membeli handphone sendiri. Bisa untuk nelpon keluarga, eman-teman termasuk pacar,” kata Khairil tersipu-sipu.

Lelaki hitam manis ini mengaku, kini dirinya tengah menjalin asmara dengan salah seorang wanita yang sepertinya (tuna netra, red). Dari penghasilan memijat, Khairil selalu menyisihkan pendapatannya untuk ditabung demi membeli mahar untuk sang kekasih. “Saya berharap, kami bisa menjalani hidup normal. Jangan lagi memandang sinis akan kekurangan kami. Apalagi dengan pekerjaan kami yang sering dibilang tidak benar.,” harap Khairil menutup pembicaraan.

Jeritan Sang Supir Labi-labi

November 20, 2009


Ramli menyeka keringatnya. Teriknya matahari tidak mengendurkan niatnya memanggil calon penumpang, untuk menaiki labi-labi yang dikemudikannya.

Siang itu, Rabu (20/05), antara sabar dan putus asa, Ramli terus memanggil remaja-remaja berbaju putih biru yang sedang menunggu labi-labi di terminal Keudah, Banda Aceh.

Peluh terus membasahi tubuhnya yang terbakar panas matahari. “Tenang, mungkin belum rezeki,” kata Ramli dalam hati. Menyemangati diri.

Sejak beberapa tahun belakangan ini, pendapatan para supir dan pemilik labi-labi dalam kondisi yang memprihatinkan. Hal ini sangat dirasakan Ramli. Lelaki 38 tahun ini mengaku, pekerjaannya sebagai supir labi-labi tidak lagi mampu mencukupi kehidupan keluarganya.

“Bila tahun 2005 kami masih bisa mendapat pendapatan bersih Rp 70 ribu rupiah per hari. Kini, jangankan 50 ribu, untuk menutup biaya minyak dan uang harian ke pemilik saja terkadang tidak mencukupi,” ujar supir labi-labi jurusan Ulee Kareng – Pasar Aceh ini.

Selain dikejar permasalahan kebutuhan ekonomi yang semakin hari kian melambung, kehadiran sepeda motor dengan sistem kredit murah secara tidak langsung memang telah menggerogoti pendapatan Ramli sebagai supir labi-labi.

Namun begitu, Ramli tidak mau menyalahkan perusahaan sepeda motor, karena tekhnologi dan kebutuhan manusia memang semakin berubah sesuai zamannya.

Kondisi ini juga di alami supir labi-labi lainnya dengan jurusan berbeda. Ramli, bukanlah satu-satunya supir labi-labi yang mencoba bertahan diantara kebutuhan ekonomi keluarga dan susahnya mencari rezeki.

Tidak sedikit para pemilik labi-labi yang beralih profesi dengan menjual labi-labi yang selama ini tempat menggantung hidup. Supir dan kernet mau tidak mau mendapat imbas dari kebijakan pemilik labi-labi.

Sebut saja Ali. Pria berkulit hitam asal Ulee Kareng yang pernah menjadi kernet supir labi-labi ini kini menjadi sebagai tukang cuci piring di salah satu rumah makan di bilangan Simpang BPKP, Banda Aceh.

“Saya tidak ada lagi pekerjaan sejak pendapatan labi-labi menurun drastis. Sebagian besar supir atau pemilik labi-labi tidak lagi membutuhkan kernet demi menghemat pengeluaran,” ujar Ali.

Selain Ali, ada Khairul. Pemuda yang pernah menjadi supir labi-labi jurusan Lambaro Angan – Pasar Aceh ini juga banting setir menjadi penarik becak. Menurut Khairul, menarik becak sama keringnya dengan menjadi supir labi-labi. Akan tetapi, tambah Khairul, hasil menarik becak masih bisa ditabung sedikit.

Fenomena ini, memang terlalu sepele untuk menjadi perhatian pemerintah. Padahal, kondisi yang sama juga terjadi hampir diseluruh kabaputen/kota di Aceh.

Kehidupan supir labi-labi memang sangat dilematis. Sangat jauh berbeda dengan supir bus antar kota antar provinsi atau supir-supir moven seperti jenis L-300. Supir labi-labi sangatlah sulit dan rentan.

Sayangnya, jeritan ini hampir tidak pernah didengar oleh Pemerintah Aceh. Coba lihat yang pernah dilakukan para supir labi-labi jurusan Darusalam – Pasar Aceh. Jalur basah labi-labi ini pernah di protes oleh supir labi-labi jurusan tersebut dengan aksi mogok. Namun Pemerintah tidak mampu berbuat lebih. Jalur basah itu semakin dipersempit oleh kehadiran bus-bus mahasiswa yang disediakan oleh pemerintah dan universitas beberapa waktu lalu.

Kehidupan supir labi-labi benar-benar dalam himpitan berat. Kebutuhan ekonomi keluarga, biaya pendidikan anak, biaya kesehatan dan biaya-biaya tak terduga lainnya memang bukan lagi sebuah angan-angan. Supir labi-labi hanya berharap ada penghasilan lebih untuk bisa dibawa pulang, setelah dipotong untuk pemilik labi-labi ataupun yang lainnya. Supir labi-labi tak berharap lebih.

Dimanakah pemerintah saat ini yang memiliki dana triliunan rupiah itu. Kemanakah dana-dana itu mengalir. Adalah masyarakat khususnya supir labi-labi pernah memperoleh setitik harapan dari dana-dana itu? Akankah fenomena kemiskinan terselubung ini akan menghiasi kehidupan para supir labi-labi dan keluarganya.

Akankah mereka mendapatkan perhatian, hususnya oleh Pemerintah kita sendiri, Aceh?.

Ket :

Labi-labi : Sejenis angkot / minibus /sudaco

Malam Panjang

November 18, 2009

Matahari mulai menyonsong, butiran-butiran embun berkilauan tersiram cahayanya. Pagi ini, aku harus segera ke sekolah, seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada nasi atau sarapan pagi lainnya diatas meja. Ayah hanya memberiku 500 rupiah untuk sarapan disekolah.

Saat itu, aku hanya bisa berjalan kaki sejauh satu setengah kilometer, menuju sekolah setiap harinya. Terbakar panas, menggigil kedinginan saat hujan turun dari langit. Namun bukan itu yang membuat aku menjerit. Kakiku masih bisa melangkah diantara teriknya matahari, tubuhku masih bisa menahan derasnya hujan.

Akan tetapi, aku telah kehilangan seorang ibu disaat aku membutuhkannya. Saat itu, usiaku masih dua belas tahun, kelas 1 SMP. Namun aku tidak merasakan kehadiran dan kasih sayang ibu. Ibuku, adalah seorang kepala sekolah yang terusir dari kami anak-anaknya.

Tahun 1989, konflik Aceh hanya sebatas di Aceh Timur, Aceh Utara dan Pidie. Setiap pukul 19.00 WIB, kami, warga pedalaman di Aceh Timur dikenakan jam malam. Tidak ada yang bisa kami lakukan, selain tidur menanti pagi.

Ah.. Mengapa aku selalu mengingat malam terakhirku bersama ibu. Malam durjana yang membuat detak jantungku sulit berhenti. Degupan keras jantungku seakan ingin melepaskan jiwa dari ragaku. Sakit.

Kulihat ibuku, duduk termenung diantara tatapan kami anak-anaknya, hening. Hanya air mata dan degup jantung kami yang berdetak.

“Sudahlah, mengapa menangis. Ibu tidak apa-apa kok. Ibu masih sehat,” kata ibu mencoba menghibur kami.

Tidak kataku! Aku tidak ingin ibu mati! Aku menangis.

Malam itu, waktu terasa lama, seolah enggan beranjak menuju pagi. Aku tak sabar, ingin malam segera berganti pagi, agar ibu bisa secepatnya keluar dari rumah dan mencari perlindungan ke rumah nenek di Takengon.

Aku tidur bersama ibuku, menatapnya, mendoakannya setiap detik nafasku. Mencoba menjaganya dari segala kejahatan tangan manusia.

Aku tidak ingin ibuku mati seperti mereka yang mati dengan tembakan. Aku tidak ingin ibuku dicampakkan seperti mayat-mayat yang sering kulihat dipinggir jalan. Seperti tubuh-tubuh kaku yang kulihat dibawah jembatan. Aku tidak mau!

Ayahku, walau mencoba tegar namun aku tahu Ia sedang kalut. Kulihat ayahku mondar mandir sepanjang  ruang tamu. Sesekali mengintip situasi diluar rumah melalui celah jendela. Kulihat ibuku terpekur dalam sujud yang panjang. Dapat kudengar dengan jelas untaian do’a diantara isakan tangisnya, “Jangan pisahkan aku dengan anak-anakku saat ini.”

Malam terasa semakin panjang. Entah kapan berakhir. Ibu memanggilku, agar membantunya untuk masuk ke bawah kolong tempat tidur. Aku membantunya dan memberinya sebuah bantal. Dengan mendekap Qur’an, ibuku istirahat dibawah tempat tidur. Aku terduduk. Air mataku berurai menyaksikan kondisi ibu yang pucat pasi.

Ya Allah, mengapa malam begitu lambat bergerak. Sampai kapankah pagi akan menjemput. Jangan biarkan aku menyaksikan detik-detik yang menyakitkan ini.

Saat ibuku sedikit tenang dalam tidurnya, aku mencoba melihat kondisi adik-adikku. Kutinggalkan Ibu sebentar di bawah tempat tidur. Di ruang tamu, kulihat ayahku diam seribu bahasa. Terpaku diatas kursi. Tidak ada kata yang dapat kuucapkan untuk menenangkannya. Aku bergegas menuju kamar dimana adik-adikku tidur. Lilis, Putra, heri, ketiga adik-adikku duduk termenung. Tanpa suara. Ya Allah, mengapa malam begitu lambat berjalan….

September 23, 2008

Halimah, Janda Mantan Komandan GAM

Berjuang Demi Pendidikan Anak

Tanpa terasa, Ramadhan hanya sepekan lagi. Tapi kebingungan dan kegalauan itu justru menghantui Halimah. Apa yang harus dilakukannya?

Malam semakin gelap dan sepi. Tapi, Halimah (40) tak mampu memejamkan mata. Ia menatap keempat buah hatinya yang tengah tertidur pulas di ruangan kayu berukuran 3 x 4. Air matanya mengalir.

Halimah mengaku bingung. Seminggu lagi bulan Ramadhan tiba. Tapi, ia tidak tahu apa yang harus direncanakan di bulan suci ini. Maklum, sejak suaminya, Abdul Rasyid meninggal dunia, Halimah hanya mampu berjualan penganan ringan di depan sebuah sekolah dasar (SD) di desanya.

Hasil dari jerih payah berjualan itu, Halimah mencoba mengumpulkan sebagiannya untuk membiayai pendidikan keempat anaknya. Halimah mencoba menutupi kebutuhan hidup dan membiayai pendidikan keempat anaknya dengan penghematan yang luar biasa.

Anak pertama Halimah, kini tengah duduk di Semester III, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Zawiyah, Cot Kala Langsa. Anak kedua dan ketiga Halimah duduk di bangku SMU dan SMP. Sedang anak bungsunya, Muhammad Nazar, masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).

Hingga kini, Halimah dan keempat anaknya masih menumpang di rumah abangnya, di Desa Seneubok Baroe, Kecamatan Ranto Peureulak Aceh Timur. Karena, rumah yang pernah dihuninya bersama almarhum suami hangus terbakar semasa konflik. Suami Halimah adalah seorang komandan GAM Operasi Sagoe Nurul A’la.

Keadaan inilah yang sedang dipikirkan Halimah. Saat bulan suci Ramadhan, tentu sekolah tempat biasa Halimah menggelar dagangannya akan tutup. Jadi, ia sedikit bingung bagaimana mengumpulkan uang untuk biaya pendidikan anak pertamanya di Langsa. Apalagi harus kost.

Belum lagi ongkos dan biaya kedua anaknya yang duduk di SMU dan SMP. Pengakuan Halimah. Keempat anak-anaknya belum memperoleh beasiswa dari sekolah mereka. Bahkan anak sulungnya yang kuliah juga tidak memperoleh bantuan beasiswa. Baik dari sekolah maupun dari Pemda Aceh Timur.

Ia terkadang tak mampu membendung air mata bila melihat salah satu dari keempat buah hatinya itu meminta sesuatu yang mereka inginkan. ”Saya hanya bilang, sabar nak. Nanti, jika sudah ada uang akan ibu belikan,” ucap Halimah getir.

Sedangkan rumah yang telah terbakar memang tengah dibangun oleh Badan Reintegrasi Aceh (BRA), namun pengamatan media ini, pembangunan rumah tersebut masih terkendala. Belum selesai juga walaupun sudah lama di bangun.

Namun begitu, Halimah tetap yakin, Allah pasti masih mmberikan rezeki apabila ia mau berusaha. Untuk itu, Halimah tengah berpikir untuk berjualan makanan di bulan Ramadhan. Namun, lagi-lagi Halimah kebingungan. Karena dirinya benar-benar tidak memiliki dana untuk modal berjualan.

Halimah mengaku pernah menerima dana diyat sebesar Rp 3 Juta tahun lalu. Dan dana itu dia pergunakan untuk pendidikan dan modal berjualan penganan anak-anak di samping sekolah di desanya. ”Entahlah dek. Saya hanya berharap anak-anak saya tidak putus sekolah. Walau semuanya tidak dapat beasiswa. Saya akan tetap bekerja apa saja demi pendidikan anak-anak saya,” kata Halimah kepada media ini sambil menitikkan airmata. Adakah yang peduli dan terketuk hatinya dengan nasib Halimah?***

Januari 3, 2008

AKU KEHILANGAN KETIGA ANAKKU

Nama saya Rusmiati. Diusia yang 55 tahun ini, rasanya menimang cucu adalah harapan semua orang. Begitupun saya, rasa itu begitu menggebu-gebu. Apalagi bila melihat teman-teman seusia saya yang sudah menimang cucu, rasa sedih di hati tidak mampu saya sembunyikan.

Suami saya, Abah, (58 tahun), merupakan tempat saya mencurahkan kesedihan ini sepanjang hari. Sepinya rumah tanpa jerit tangis anak kecil kembali mengingatkan saya pada ketiga anak saya yang telah tiada.

Anak pertama saya, Saiful Ilham, meninggal saat berusia dua tahun. Kepergian anak pertama saya ini mungkin tidak terlalu menyesakkan hati, karena dua anakku masih ada, yaitu Muhammad Ilham dan Rahmat Ilham.

Hidup kami begitu bahagia, walau kami orang miskin, saya sebagai pembuat kerupuk emping dan suami sebagai penjahit baju namun kami masih dapat menyekolahkan kedua anak kami hingga kuliah.

Namun semuanya ditangan Allah. Hidup dan mati Dia yang mengatur. Muhammad, anak kedua saya meninggal diterjang peluru saat komplik mendera Aceh. Saat itu Muhammad merantau Ke Aceh Timur. Saya tidak tahu kesalahan Muhammad sehingga ia dihabisi aparat. Padahal dia seorang petani. Muhammad juga ramah dan lembut, jadi mustahil rasanya dia punya musuh.

Rasa sedih dan sakit dihati saya tidak hilang hingga hari ini. Padahal tidak lama lagi ia akan menikah. Seminggu lebih saya ngurung diri didalam kamar. Memandangi foto Muhammad.

Setelah itu tinggallah saya dengan suami dan Rahmat. Karena rasa takut yang berlebihan akan kehilangan anak lagi, saya terkadang mengekang rahmat untuk pergi jauh-jauh dari rumah. Saat itu ia masih kuliah PGSD di Banda Aceh.

Bila sore Rahmat belum pulang saya selalu khawatir dan was-was. Saya meninggalkan pekerjaan saya yang sedang membuat emping melinjo, menyuruh Abah suami saya untuk segera mencari dan menjemputnya. Walau terkadang Rahmat terlihat kesal karena setiap gerak langkahnya seolah-olah kami awasi. Tapi jujur, saya mengawasi bukannya ingin membatasi aktifitas Rahmat, tapi saya masih trauma dengan kepergian Muhammad anak kedua saya yang meninggal karena dibunuh.

Apalagi Rahmad tinggal satu-satunya anak saya. Memang saya terkesan bodoh, bahgkan tetangga saya mengatakan saya kejam dan tidak manusiawi, tetapi mereka tidak tahu keadaan saya. Mereka tidak merasakan kehilangan anak.

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Saat kuliah Rahmad memasuki Semester akhir, tanpa diduga tsunami menerjang Aceh. Pagi itu, seperti biasa Rahmat membantu temannya berjualan di pantai Lhoknga. Saya tidak merasakan firasat sedikitpun, kecuali Abah suami saya. Setelah gempa dasyat, Ia begitu gelisah, mondar mandir didalam rumah. “Rahmat mana,” katanya berkalai-kali.

Tiba-tiba ada suara gemuruh besar dari arah pantai, saya dan para tetangga mengira itu suara pesawat atau apa, karena begitu besarnya suara itu, ternyata air laut. Saya berlari tanpa arah mencoba menjauhi air laut yang meninggi. Lari sekencang-kencangnnya sambil bertakbir. Saya lupa dengan suami dirumah dah Rahmat di Pantai.

Satu jam berlalu, saat air laut surut, aku kembali kerumah. Ternyata suami saya masih hidup. Saat itulah saya tersentak. Tanpa sadar saya menjerit sekeras-kerasnya Rahmat!!, Rahmat anakku. Aku kembali berlari menyusuri sisa-sisa tsunami, mencari anak saya sambil menangis. “Rahmat, anakku. Dimana kamu nak?” tangisku saat itu.

Setelah seharian mencari bersama suami yang telah renta, akhirnya kami bertemu dengan Rahmat. Air mata ini jatuh luar biasa melihat jasad Anak saya yang sudah kaku. Rahmad telah meninggal. Semua anak saya meninggal. Aku menangis tak sadarkan diri. Terbayang wajah Saiful, Muhammad dan rahmat yang semuany telah kembali kepada Allah.

Kini, hari-hari saya lalui dengan suami tanpa anak. Saya dan suami sepakat untuk menyimpan semua foto-foto anak kami, karena tidak menimbulkan sedih yang berkepanjangan. Saya tidak sanggup. Apalagi kami sudah tua.

Saya masih membuat emping untuk membiayai kehidupan kami, dan sebagiannya ditabung. Sebagai pegangan bila kami sakit. Karena kami tidak tahu harus minta tolong pada siapa dengan kondisi kami seperti ini

Seperti kejadian sebulan yang lalu, suami saya sakit parah, untunglah ada tetangga dan family yang mau membantu membawa kerumah sakit. Ah, andaikan saja anak-anak kami masih ada….

Dalam Ramadhan kali ini, kesepian itu kembali menyergap saya. Kerinduan dan kesedihan selalu menyulut emosi dihati saya. Namun semuanya saya kembalikan kepada Allah, karena sudah ditakdirkan demikian. Mudah-mudahan ini menjadi kekuatan saya dan suami untuk lebih dekat kepada-Nya.

Januari 3, 2008

Aku Hina Dimata Empat Anakku

Mungkin bila orang melihat diriku mereka tidak akan percaya bila usiaku masih 49 tahun. Terkadang seseorang mengira diriku ini seorang nenek yang sudah bercucu, karena penampilanku yang terlihat sangat tua. Begitu pula dengan keadaan suamiku. Penampilan kami seperti sepasang kakek dan nenek. Apalagi kami semakin sering sakit-sakitan.

Semula aku dan suamiku hidup bahagia. Bahkan sangat bahagia dengan tingkat ekonomi yang lumayan. Kami dikaruniai 4 orang anak yang semuanya laki-laki. Untuk menghidupi keluarga, suamiku berjualan ikan dipasar Penayong. Sedangkan aku berjualan sayur, juga di Peunayong.

Satu persatu anak-anak kami besar. Kami menyekolahkannya ditempat yang terbaik menurut kami. Bahkan anak pertama, kusekolahkan di salah satu Pesantren terkenal di Aceh yaitu Bustanul Ulum Langsa. Anak laki-laki kami yang kedua sekolah di Banda Aceh, juga disekolah favorit. Hidup kami berjalan normal dan sangat bahagia hingga kami bisa membeli sebuah mobil bekas. Aku dan suami juga membuat rumah kost untuk disewakan kepada para mahasiswa.

Namun kebahagian itu entah mengapa sedikit demi sedikit terkikis dari kehidupanku. Saat satu persatu anak-anakku tumbuh remaja, perubahan hidup dan pergaulan mereka sangat mengkhawatirkan. Kebahagiaan yang selama ini kami pupuk, ternyata tidak mampu aku selamatkan. Semua ini tidak lain karena ulah keempat anak-anakku itu.

Saat liburan dari Pesantren di Langsa, anak pertamaku ternyata telah menghamili anak gadis orang, menyebabkan dia dikeluarkan dari pesantren. hatiku sakit sekali, padahal anak pertamaku tersebut sebagai harapan keluarga dalam membmbing hidup kami. Aku begitu malu, belum lagi masalah biaya jutaan rupiah yang terbuang sia-sia selama dia dipesantren.

Akhirnya anak pertamaku terpaksa menikah diusia muda, 18 tahun. Untuk menghidupi istri dan anaknya aku terpaksa banting tulang bersama suamiku. Karena dia belum ada kerja.

Sebulan setelah pernikahan mendadak anak pertamaku, mobil yang kami miliki terpaksa dijual. Mobil yang sangat aku sayangi tersebut terpaksa dijual untuk biaya ganti rugi keluarga korban, karena anak laki-laki keduaku menabrak seorang mahasiswa yang sedang naik sepeda motor. Kami terpaksa mengganti sepeda motor korban dan biaya ganti rugi karena korban meninggal dunia.

Walau terasa kesal, namun bagaimanapun aku harus tetap melindungi anakku dari penjara, lebih baik aku kehilangan mobil dari pada anakku dipenjara, apalagi dia sudah kelas dua SMU. Setelah itu kehidupan kami mulai normal kembali, walau aku dan suamiku merasa kehidupan kami seperti digerogoti oleh keempat anakku.

Karena, baru beberapa hari kami hidup tenang, anak keduaku tersebut kembali bermasalah. Dia ditangkap polisi karena membawa ganja. Rasa malu sudah tidak mampu kutahan, aku tidak berani lagi keluar rumah untuk bersilaturahmi. Pagi-pagi buta aku dan suamiku cepat-cepat kepasar, agar tidak berjumpa langsung dengan orang ditempat aku tinggal, walau kami sadar, bagaimanapun lama-kalaman aib anak-anakku pasti akan terbongkar juga.

Kehidupanku semakin parah, anak ketigaku berhenti sekolah karena memaki-maki gurunya. Sedang anak kempatku juga tidak mau sekolah karena aku sudah tidak mampu lagi membeli playstation permintaannya. Semua anak-anakku mengancam bila tidak dibelikan apa yang mereka minta.

Akhirnya aku dan suamiku jatuh sakit. Bahkan terlalu sering. Aku tidak sanggup lagi berjualan, suamiku masih tetap berjualan untuk makan sehari-hari. Sedang keempat anakku semakin menjadi-jadi. Bahkan mereka sering mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas untuk kami berdua sebagi orang tuanya. Suamiku pernah dimaki anak-anak karena miskin dan tidak bisa mencari uang. Bahkan aku pernah dibilang anjing oleh anak ketigaku.

Sakit sekali, terkadang didepan anak-anak kost, anak-anakku tidak segan memarah-marahiku. Uang yang kusimpang selalu hilang, bahkan emas yang kusimpang semuanya hilang satu persatu dicuri anakku. Kehidupanku semakin hancur lebur saat anak keduaku keluar dari penjara. Cukup sudah penderitaan aku dan suamiku.

Satu persatu anak kost dirumah kami mulai pindah, karena mereka juga terlibat pertengkaran dengan anak-anakku. Kini semua anak-anakku sebagai pemakai obat-obatan. Yang paling kecil (SMP) sudah berani menghisap ganja didepan diriku, sedang yang lain sudah biasa dengan shabu-shabu. entah darimana mereka dapat uang.

Aku merasa seorang ibu yang paling malang di dunia, selain keempat anak-anakku gagal melanjutkan sekolah, kini harga diriku pun sudah tidak ada lagi didepan anak-anakku.

Aku seperti tidak sanggup berkata dan berbuat, aku terlalu lemah begitu juga dengan suamiku. Mungkin inilah kesalahanku, begitu juga dengan suamiku. Kami terlalu lemah dalam mendidik anak-anak kami. Mungkin inilah kesalahan kami paling fatal, gagal mendidik anak-anak kami menjadi manusia.

Semuanya aku serahkan kepada tuhan. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku dan suamiku telah menjadi bulan-bulanan keegoisan dan ketidakmengertian keempat anak-anak kami. Aku berharap semoga anak-anakku dapat kembali menjadi anak-anak yang berbakti. Terkadang aku menangis dan cemburur melihat anak-anak tetangga yang begitu patuh dan menghargai kedua orangtuanya.***

Januari 3, 2008

Anakku Binal, Cucuku Ditelantar

Saya adalah seorang ibu enam anak. Suami meninggal dunia lima tahun lalu karena penyakit kangker akut yang dideritanya. Sejak saat itu praktis saya harus mendidik anak-anak saya yang dua diantaranya masih duduk dibangku SMU.

Kini kedua anak saya itu telah duduk di bangku kuliah. Anak pertama saya perempuan. Ah, bila mengingatnya terkadang seperti membuka luka lama dihati saya yang belum dapat saya hilangkan. Rasa sedih, kecewa dan sakit akan kelakuan dan perbuatannya telah mencoreng saya sebagai seorang guru.

Akibat perbuatan dan ulah anak pertama saya inilah membuat saya harus mengurus dan mendidik serta membesarkan kedua cucu saya yang masih kecil-kecil karena ditelantarkan oleh ibunya, yaitu anak saya sendiri.

Setelah menjanda sejak tahun 2002, beban mendidik anak dan membiayai kuliah dua orang anak sendirian ditambah dua orang cucu seakan membuat garis penderitaan saya tidak pernah berhenti. Anak sulungnya sebut saja Rani, yang sering berbuat ulah dan berkelakuan menambah beban saya, yaitu meninggalkan dua orang anak-anak yang masih kecil pada saya, karena ia menikah dengan pria lain.

Sebagai seorang nenek, tentu saya tidak tega melihat cucu sendiri menderita, walau sedih dan sakit itu ada, namun saya harus tetap sabar. Bisa jadi ini cobaan dari Allah untuk saya. Namun, bagaimanapun saya toh harus tetap menjalani hidup ini.

Karena gaji seorang guru sangat kecil dan tidak mencukupi. Apalagi saya harus membiayai kedua anak saya yang masih kuliah di Banda Aceh, serta ditambah dua orang cucu yang masih membutuhkan biaya banyak. Terkadang untuk mencukupi isi dapur, saya harus bangun pagi cepat-cepat. Membuat penganan untuk dijual disekolah. Setelah selesai membuat penganan, saya mengurus kedua cucu. Setelah itu barulah saya berangkat mengajar dengan sekantung plastik besar penganan anak-anak sekolah.

Terkadang rasa sedih itu timbul, rasanya tidak ada seorang guru yang harus pontang panting mencukupi hidup seperti saya, selain harus mengurus cucu juga harus mencari penghasilan lain untuk mencukupi hidup. Beban itu semakin bertambah jika banyak masalah yang tidak terselesaikan disekolah.

Anak sulung saya, Rina, meninggalkan dua cucu tersebut telah menikah dengan seorang pemuda (suami pertama diceraikan tanpa sebab jelas) dan tinggal dirumah keluarga pemuda tersebut. Pihak keluarga suami barunya tidak menerima kehadiran ketiga bocah yang tidak bersalah ini. Sehingga mau tidak mau saya mengurusnya.

Entah bagaimana nasib mereka (cucu-red) jika saya tua nanti ataupun saya sudah dipanggil oleh Allah swt, karena mereka masih kecil-kecil. Saya tidak tahu bilang, hanya Tuhanlah yang tahu. Hanya doa yang selalu saya panjatkan, semoga Rina dapat sadar akan kesalahannya karena menelantarkan anaknya sendiri.

Rina memang tidak pernah perduli dengan keadaan dan perkembangan anaknya sendiri. Ia hanya mengurus diri sendiri, mempercantik diri dan jalan-jalan yang tidak ada manfaat dan menghambur-hamburkan uang. Imej Rina sebagai wanita nakal sangat menyakitkan saya yang berprofesi sebagai seorang pendidik. Seolah-olah saya gagal dan tidak mampu mendidik anak sendiri, padahal semua anak saya telah saya tanamkan agama dan pemahaman hidup sejak kecil.

Saya tidak tahu, mengapa Rina menjadi liar seperti itu. Setiap berita yang masuk ketelinga saya selalu mengatkan bahwa Rina pengrusak rumah tangga orang lain. Main laki-laki. Gonta-ganti pacar walau sudah punya anak dan suami. Mungkin inilah yang menyebabkan Rina dicerai oleh dua suaminya terdahulu.

Saya tidak yakin apakah suaminya yang sekarang bisa bertahan dengan Rina. Karena Rina terkenal kasar, judes dan mulutnya kotor. Suka main maki. Entahlah, saya tidak ssanggup lagi memikirkannya.

Parahnya, Rina bukan hanya meninggalkan dua orang anak yang tidak jelas statusnya itu, tetapi juga banyak meninggalkan hutang yang harus saya bayar. Sudah banyak tingkah Rina yang mencoreng keluarga di depan umum. Terkadang Hanif dan Rizal (adik Rina), tidak mau pulang bila liburan kuliah tiba. Paling hanya lebaran puasa. Mereka malu dengan tingkah kakaknya yang binal.

Namun Alhamdulillah, para tetangga dan orang-orang yang mengenal saya tidak pernah menyalahkan saya, justru mereka turut prihatin dengan nasib saya yang selalu ditimpa maalah dari ulah Rina.

Satu yang patut saya disyukuri, walau banyak masalah yang mendera, saya masih dapat membedakan masalah kerja dan keluarga. Saya harus tetap professional dalam mengajar. Buktinya baru-baru ini saya kembali dikirim oleh Dinas Pendidikan NAD untuk mengikuti Simposium Guru Berprestasi dan Teladan untuk Tingkat Nasional.

Saya berharap, semoga Rina dapat insaf dan mau mengurus kedua anak yang ditelantarkannya itu. Bagaimanapun saya sudah tua dan sebentar lagi akan pensiun. Saya tidak sanggup lagi mengurus cucu dengan segala tetek bengeknya. Dari yang berantem, menangis, minta jajan, tidak mau makan, sakit, semuanya terkadang membuat saya jatuh sakit dalam beberapa hari. Sebagai seorang ibu, saya selalu berdoa semoga Rina cepat sadar dan kembali ke rumah untuk mengurus anak-anaknya.***

Januari 3, 2008

Dituduh Dukun, Aku Diceraikan

Awalnya, sebagai guru aku mengajar di Kota Sabang. Tapi karena ikut Bang Din (samaran-red) suamiku, maka aku pindah ke Banda Aceh. Tahun pertama pernikahan, kami menumpang tinggal di rumah orang tua Bang Din.

Alhamdulillah dari sedikit tabungan dan penghasilan Bang Din sebagai karyawan salah satu perusahaan nasional di Banda Aceh, kami kemudian membeli sepetak tahah. Dengan uang kredit dari bank kami membangun rumah di tanah tersebut.

Di rumah itu hidup kami sangat bahagia sampai kami dikaruniai tiga orang anak. Kebahagiaan itu semakin lengkap saja, karena ekonomi keluarga kami pun terus membaik. Bang Din pun kemudian membuka usaha yang juga berkembang pesat.

Tapi ternyata kebahagiaan itu tidak selamanya milikku. Saat tsunami menerjang Aceh pada 26 Desember 2004, semua usaha Bang Din ludes. Ketiga anak kami juga hilang dalam ganasnya tsunami. Setelah musibah itu saban hari aku hanya bisa menangis meratapi ketiga buah hatiku.

Aku benar-benar tidak bisa melupakan mereka. Sebulan lebih aku murung memikirkan ketiga anakku itu. Apalagi Afdal yang saat musibah itu baru berumur satu tahun. Terkadang aku menyalahkan diriku sendiri mengapa pada saat gempa aku menitipkan anak-anakku di rumah orang tua Bang Din, padahal rumah itu sangat dekat dengan laut.

Aku benar-benar menyesal karena hari itu anakku tidak mau tinggal di rumah neneknya, tapi aku tetap menitip mereka disana setelah gempa, sehingga saat tsunami tiba mereka jadi korban. Seandainya aku membawa mereka serta bersamaku mungkin akan lain ceritanya.

Setelah tsunami aku hanya tinggal berdua bersama Bang Din, kami tinggal di barak bersama para pengungsi lainnya. Meski rumah kami masih ada, tapi kami tidak pulang ke rumah, aku benar-benar trauma. Apalagi rumah itu akan sangat sepi tanpa anak-anak. Aku sangat sedih bila kembali ke rumah itu.

Namun, dibaraklah petaka itu hadir. Sedikit demi sedikit sikap Bang Din berubah. Ia sering pulang malam, bahkan menjelang pagi. Jika kutanya selalau dijawab pulang kongko-kongko bersama teman-temannya karena bosan di rumah tidak ada anak-anak. Namun firasatku berkata Bang Din mulai melirik wanita lain.

Menghadapi sikap Bang Din aku tetap bersabar. Apalagi saat itu aku sedang hamil. Mungkin nanti dengan kelahiran anak kami dia akan berubah. Aku pun akhirnya melahirkan anak perempuan yang kami namai Rina. Tapi meski sudah ada buah hati di rumah, Bang Din tidak juga berubah.

Ia malah tidak pernah lagi menyentuhku sebagai istrinya, padahal sebagai seorang istri aku masih sangat mengharapkan belai kasih sayang dan sentuhan dari suami. Bukan hanya itu setiap makanan yang kuhidangkan juga tidak dimakan.

Seminggu setelah melahirkan, aku mendengar kabar dari sepupuku bahwa ibu mertuaku juga mulai memusuhiku tanpa sebab. Yang menyakitkan dan aku sedihkan, ibu mertuaku memaksa Bang Din untuk menceraikanku. Aku menangis. Apa salahku selama ini hingga ibu mertuaku berkata seperti itu. Padahal selama ini aku selalu berbuat baik dan mendengarkan setiap kata-kata beliau.

Demi membesarkan Rian, aku masih tetap berpikir positif. Aku harus tetap menjadi istri Bang Din. Biarlah suamiku itu tidak mau mendekatiku, tidak mau bermesraan denganku dan tidak mau memakan apa yang aku masak, yang terpenting aku harus membesarkan Rian. Karena bagaimanapun Rian membutuhkan seorang ayah.

Batinku benar-benar tersiksa, hidup di rumah bagai hidup di belantara. Apalagi setelah agu digosipi sebagai dukun yang memiliki ilmu santet untuk mempengaruhi orang, termasuk menjampi-jampi suamiku.

Tak tahan dengan keadaan seperti itu, aku meminta penjelasan dari Bang Din atas sikapnya itu. Namun bukan jawaban yang kuterima melainkan tamparan. Saat itulah aku diceraikan suamiku dengan tuduhan aku dukun yang main pelet.

Dengan perasaan yang sangat tidak menentu, aku tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya kami resmi bercerai di Mahkamah Syariah Banda Aceh. Aku pun mencoba untuk menerima dengan ihklas perceraian ini. Biarlah aku membersarkan Rina sendirian dengan penghasilanku sebagai guru SD.

Aku tidak mengharapkan apa-apa lagi dari Bang Din, mantan suamiku yang kini sibuk dengan istri mudanya. Biar ini jadi pelajaran berharga bagiku. Pasti semua ini ada hikmahnya.***

Januari 3, 2008

Mengemis Bukan Keinginanku

Ramlah (45), tidak mampu menahan air matanya saat menceritakan perjalanan pahitnya menjadi pengemis di Banda Aceh. semua unek-unek tersebut dia tumpahkan dihadapan Farida Zuraini, selaku kasubdin Litbang dan Program anak Dinas Sosial pada acara temu pengemis di ruang konferensi Pers BRR NAD, Banda Aceh 18 Desember 2007 lalu.***

Menjadi pengemis bukanlah tujuan hidup saya, apalagi bila menjadi sebuah cita-cita. Walau mungkin orang lain memandang diri saya sebagai wanita hina, pemalas yang tidak mau bekerja. Tapi jujur, saya sangat tersiksa dengan pekerjaan ini. Meminta-minta di pinggir jalan. Berpanas-panas di bawah matahari dan berbasah-basah disaat hujan.

Saya datang dari Lhokseumawe, ke Banda Aceh enam bulan setelah tsunami menerjang Aceh. Saat itu, saya sudah bercerai, karena bang lem (suami Ramlah) telah menikah dengan wanita lain.

Sempat terpuruk dalam hidup, selain karena ditinggal suami, saya juga menyadari bahwa saya orang miskin yang bodoh. Tidak bisa berbuat apa-apa selain mengurus keluarga dan anak. Di Lhokseumawe saya menyewa rumah. Namun rumah tersebut juga hilang ditelan tsunami. Sehingga saya benar-benar menjadi manusia miskin. Tidak ada rumah dan tempat b+erlindung lagi.

Sadar diri saya orang kampung yang tidak berpendidikan, apalagi banyak kerabat yang memancing saya untuk ke Banda Aceh karena mereka bilang banyak pekerjaaan dengan gaji besar, maka naluri hidup saya kembali muncul setelah sempat menghilang karena dicerai. Apalagi kedua anak saya lebih memilih tinggal bersama bapaknya dari pada tinggal bersama saya sebagai ibunya.

Hari pertama di Banda Aceh, saya tidur di bekas-bekas reruntuhan penjara Kedah. Karena saya tidak tahu harus tidur dan menginap dimana. Siang harinya saya menawarkan diri dan mencari pekerjaan kepada orang-orang. Pekerjaan apapun saya mau asalkan bisa hidup.

Alhamdulillah, saya diterima bekerja di salah satu kantor UNDP. Sebagai tukang bersih-bersih. Dari gaji tersebut, saya menyewa sebuah kamar di daerah Peuniti dengan harga 250 ribu rupiah per bulan.

Namun, setelah satu tahun setengah, saya diberhentikan dengan alasan yang saya sendiri tidak tahu. Namun saya pasrah. Saya mencari pekerjaan di tempat lainnya untuk membiayai hidup dan membayar sewa kamar setiap bulannya.

Sehari, seminggu, bahkan berbulan-bulan saya menawarkan diri untuk diterima bekerja ternyata tidak berhasil. Dalam masa-masa tersebut saya hanya bisa menangis di rumah. Apalagi uang yang saya kumpul selama bekerja semakin hari semakin berkurang.

Rasa bingung, takut dan was-was sering menghantui saya. Bagaimana tidak, saya orang bodoh, tidak sekolah, bagaimana mungkin bisa memperoleh pekerjaan. Saya menjadi panik. Lalu saya bermunajat kepada Allah agar memberikan kemudahan langkah dan rezeki untuk saya. Karena saya takut salah langkah.

Suatu hari seusai berbelanja di pasar Aceh, saya duduk di teras mesjid Raya Baiturrahman. Tanpa sengaja saya melihat beberapa pengemis yang berjejer di pintu masuk Mesjid Baiturrahman.

Entah mengapa, hati saya bergetar. Ada apa gerangan saya tidak tahu. Saya segera pulang, seperti ada yang menyuruh saya untuk menyiapkan pakaian. Walau hati ini terus menerus dag dig dug, namun saya tidak bisa berhenti.

Besoknya, saya resmi menjadi pengemis di Banda Aceh. Hari pertama saya sempat menangis, merenungi nasib yang harus saya jalani. Mengapa menjadi seperti ini. Saya ingat kembali masa-masa indah bersama suami dan anak-anak. Rasanya tidak mungkin saya menjadi pengemis.

Namun, karena ini semua sebuah keterpaksaan yang harus dijalani, saya mulai bisa menikmati. Walau terkadang rasa sedih kembali memuncak dan menitikkan airmata. Apalagi bila berjumpa dengan orang-orang yang yang pernah saya kenal.

Saat itu saya hanya berharap agar mereka mau memberikan sebuah pekerjaan, walau hanya sebagai seorang pembantu, atau apalah, yang penting saya bisa hidup dan mendapatkan uang halal. Namun ternyata mereka tetap tidak peduli. Membiarkan saya duduk di bawah lampu merah di Simpang Lima.

Saya tidak ingin terus menerus menjadi pengemis, karena itu tidak mungkin. Itu tekad, saya ingin mengumpulkan uang. Tapi sepertinya semua keinginan dan cita-cita ini tidak mungkin lagi. Karena sekarang sudah banyak tulisan yang melarang memberi sedekah untuk pengemis.

Saya dengar dari teman-teman pengemis, semua larangan ini akan diterapkan pada tahun 2008. Jika memang benar, lalu bagaimana dengan nasib saya dan teman-teman yang selama ini hanya bisa mengemis?

Saya bingung dan frustasi. Bagaimana hidup saya nanti, saya tidak tahu. Hanya Allah yang mengetahui segalanya. Saya ingin hidup, bukan untuk menjadi pengemis.

Januari 3, 2008

Tragedi Bumi Flora, Merenggut Kesadaran Suamiku

Aisyah, harus banting tulang menyekolahkan kedua anaknya. Berharap pada suami tidak mungkin lagi. Sebab, sejak tragedi penembakan di PT Bumi Flora, 2001 silam. Suaminya telah hilang kesadaran. Seperti apa kisahnya? Warga Ranto Peureulak, Kabupaten Aceh Timur ini, menuturkan segala penderitaannya.

Peristiwa berdarah itu, menewaskan sedikitnya 31 warga setempat. Suami saya, hilang kesadarannya. Mungkin, inilah salah satu cara Allah SWT untuk menguji kesabaran saya. Bayangkan, saat hasil panen kebun sawit yang telah saya petik untuk dijual, selalu saja dicuri orang. Tapi, kesabaran saya belum juga hilang, walau saya harus bersusah payah untuk mencari uang, menghidupi keluarga. Kenapa? Karena saya yakin, masih ada Allah SWT yang menolong saya.

Suami saya bernama T. Rizal (53). Dia tidak mampu lagi bergerak sempurna. Jangankan untuk berdiri, berbicara saja sudah sangat sulit. Bahkan untuk makan, saya harus menyuapinya setiap hari. Bukannya saya tidak mencintainya, tapi saya masih terlalu sakit bila mengingat kembali kejadian di Bumi Flora, enam tahun silam.

Dulu Bang Rizal (sang suami), adalah seorang Kepala Gudang di PT Perkebunan Bumi Flora. Sedangkan saya membuka toko kelontong di daerah tersebut. Hitung-hitung untuk menambah penghasilan suami yang masih rendah. Apalagi anak-anak saya sudah duduk di bangku SMU. Alhamdulillah usaha kelontong tadi berjalan lancar, walau saat itu konflik kian memanas di Aceh Timur.

Kini, semuanya sirna. Usaha kelontong saya hilang tak berbekas, pekerjaan suami saya juga hilang. Bahkan, suami saya menderita penyakit kronis yang saya sendiri tidak tahu apa penyakitnya.

Saat itu Agustus 2001. Saya dan beberapa warga Bumi Flora akan berbelanja ke Kota Peureulak untuk memenuhi kebutuhan dapur selama satu bulan. Kami pergi menggunakan kendaraan perusahaan. Tepat di Afdeling IV, kendaraan yang kami tumpangi tiba-tiba dihentikan oleh pihak aparat. Kami disuruh turun, berjongkok dengan kedua tangan diletakkan dibelakang kepala.

Kaum laki-laki dipisahkan dari wanita dan anak-anak. Beberapa warga di Afdeling IV yang berada didalam rumah juga disuruh keluar rumah mereka dan dibariskan.

Kebetulan saat itu, Bang Rizal suami saya sedang berada di daerah Afdeling IV. Lalu, pihak aparat dengan senjata lengkap bertanya. “Mana yang orang Aceh dan yang orang Jawa?” Karena sebagian besar warga Bumi Flora adalah orang Aceh. Entah bagaimana, tiba-tiba saja aparat membabi buta, memuntahkan seluruh isi senjata ke arah kami. Juga ke arah suami saya dan teman-temannya yang sedang berjongkok.

Sontak suami saya berusaha menyelamatkan diri, begitu juga dengan saya. Kami berlari sekuatnya, menghindari muntahan peluru yang mengejar nyawa. Hanya Asma Allah yang terlantun dari mulut. Saya berharap keselamatan suami dan warga lainnya. Akhirnya saya bersembunyi di antara semak-semak dan pohon, menunggu hingga kondisi benar-benar aman.

Empat jam berlalu, hening dan sepi. Beberapa warga mulai keluar, melihat situasi dan keadaan. Saya tidak mampu bergerak, air mata saya membasahi bumi, menangis bersama langit. Sadar suami saya selamat, akhirnya saya berjalan ke tempat lokasi.

Setelah kejadian itu, ternyata masalah tidak berhenti sampai disitu. Kami dirundung kesusahan yang luar biasa. Kelaparan tiada bahan makanan dan tidak ada perlindungan. Rasa takut yang menjadi-jadi, membayangi seluruh warga. Mungkin rasa takut yang berlebihan inilah, yang menyebabkan suami saya trauma.

Padahal, sebelumnya suami saya adalah laki-laki yang cerdas. Beliau bisa berbahasa Inggris dengan baik. Namun, semuanya telah berlalu. Suami saya hanya bisa meringkuk duduk, tidur dan diam di atas tempat tidurnya. Tubuhnya senantiasa bergetar, untuk berjalan harus dipapah anak atau saya.

Saya merasa, dia sakit karena trauma yang berkepanjangan. Sejak kejadian berdarah itu, suami saya tidak mampu lagi bekerja. Saya harus banting tulang menghidupi keluarga, membiayai sekolah dan kuliah anak-anak. Namun, masih juga orang-orang berbuat zalim kepada kami. Kebun sawit, sering dijarah orang.

Terkadang saya membawa suami ke kebun sawit di pedalaman Ranto Peureulak. Maklum, kalau di rumah terus, siapa yang menjaganya. Jika dia makan, siapa yang akan membantu, jika dia buang air besar siapa yang memapahnya, jika dia jatuh siapa yang akan membangunkan. Karena suami saya memang sudah tidak bisa melakukan apapun lagi.

Rasanya, hingga saat ini saya belum mampu memaafkan mereka yang telah merenggut kebahagiaan dan kehidupan normal suami saya, ayah dari anak-anak saya. Kami begitu menderita akibat ulah mereka. Hanya Tuhan yang tahu, bahwa keluarga kami sangat tersakiti.

Saya berharap, suatu saat, Allah SWT akan memberikan keadilan dan kebahagian, atas semua penderitaan yang sedang kami jalani. Ya Allah, tunjukkanlah mukjizatMU kepada suamiku. Beri dia kesempurnaan seperti sediakala. Amin.***