Agustus 31, 2008

Me-Mo-Ri-Al


Jika Aku menginginkan-Nya

Merindukan dan menyanyangi-Nya

Dalam setitik kepalsuan dan dusta

Aku pendosa


Jika…

Mata hati dan jiwaku

Dalam kepalsuan dan kebohongan

Aku sengaja dalam ketidaktahuan


Terlambat…

Semua telah akhir

Aku kalah dam kemunafikan



Agustus 31, 2008

Pra Ha Ra

Parah

Dalam diam dan gelap aku masih bisa berkata

Dalam sepi aku pun bisa memaki


Mennagis dan selalu menjerit

memaki dan berteriak


Aku pengkhianat

Aku pendosa

Aku pembunuh

Aku pendusta


Dalam cahaya bulan

Dalam keheningan sunyi


Aku tertipu…




Mei 8, 2008

SAYANG

Berbayang sendu wajah pucatmu

Berkhias lembut nan anggun.

Suci seputih kapas

Kembali aku teringat akan sosok yang telah lama menghilang

Di balik lentera fatamorgana, ibu?

Kau tersenyum melihatku

Lalu matamu yang bening bercahaya

Menyilau sendu dalam kemayaan

Aroma tubuhmu yang sudah lupa aku namanya

Berbaur dalam waktu yang singkat.

Sayang aku tak sempat mengecup keningmu

Hanya kepribadian yang abadi melekat di sanubari

Tuhan…

Dentuman senjata yang dulu mengelegar di dunia

Tak membuatku kecut sedikitpun.

Tapi ketika lantunan ayat cintaMu kuperdengarkan

Buat jasad yang terbaring lemah

Pucat pasih wajahnya

Sungguh terenyah hatiku.

Pecah asaku.

Sayang. Beban yang ia pikul selama hidupnya,

Tak pernah aku hiraukan katika jasad ber-ruh

Rintihan kesedihannya tak pernah aku dengar dari pilinnya

Mengapa suguhan senyum selalu ada buatku?

Aku tak percaya semua ini.

Tolong!

Tolong buyarkan lamunanku

Hujamkan mata hatiku ke dalam lubang yang dalam

Aku ingin tenang mengenangnya dalam serpihan hidup

Puing-puing kebencian

sudah aku lenyapkan dalam penyesalan.

Buncahan air mata membuku di jemariku

Tuhan……

Senandung kasihnya masih terngiang di pelupuk mata

Masih ku hapal lagu kesukaannya.

Dia benar-benar ummi ku yang aku cinta

Benar-benar aku sayang.

Ketika serpihan cinta kembali membekas dalam relung

Aku tak mengerti akan titah Tuhan.

Tiba-tiba Riuh suara fals

menggelergar dalam suasana

Harapan hancur seketika.

Nona gila itu kembali bringas.

Membabat kasih sayang di hati

Dengki yang ia tanam pada kami

Tuhan…..

Akankah itu takdir kami

Anak-anak yang rindu kasih sayang ummi.

Seperti mati di telan waktu

suara kami

30 April 2008, kualasimpang

Bye Yusra

Mei 8, 2008

DERUKU

Tuhan…

Kau pasti lebih tau

Kala hati yang risau menggerutu

Yang telah mencabik manfaat kesabaran.

Telah lupa hati ini

Kau pasti lebih tau Tuhan

Akan kaca yang tersungkur di rambu merah

Menggeliat lekat menjilat hidupku.

Sekarang bolehkah aku berkata?

Bahwa aku mungkin sudah tau

Akan goresan alam semesta

Bernyanyi siang dan malam

Tanpa dirisaukan judulnya.

Tuhan….

Bolehkah hati ini mensyukuri nikmat

Akan karunia cinta dariMu?

Akankah aku berdekap emas di batu ketam seram?

Atau aku boleh meminta bulatnya bulan?

Tuk kuberikan kepada bidadara impian?

Di alam fana ini,

Aku berkutik selangkah tanpa alas

Berpunggung sayap merpati yang terluka

Seribu abad lamanya berucap rindu

Kata lama terngiang di kilau pelangi pantulan

Tertumpah ruah membasahi jiwa musafir ini.

Di mana ya Tuhanku?

Tempat teduh yang terdongeng buatku?

Di dalamnya aku tak berduri,

Di dalamnya aku tak menggigil,

Di dalamnya aku tak menghujat,

Di dalamnya aku tak bermimpi mini.

Bila tabir serambi mengundangku,

Bak menanti setitis penantian maya.

Kuning mukanya berair kemanjaan

Cokelat matanya berkaca keramahan,

Ikal rambutnya bersisir keistimewaan,

Suara lembutnya berdesir kepastian,

Pandangannya berisi kerinduan.

Apakah kau teruntuk buat diri hina ini?

Danau mana yang ia janjikan buatku?

Kalau benar tak mungkin pungguk menjerit tertatih.

Keraguan sudah lama tenggelam

Di antara dua mata angin dunia.

Deritanya tak putus berkoma

Berkabut kegelapan suram

Membahana dalam kepiluan biru

Asa yang kuukir di relung malam kelam,

Agar terderu suara sampai ke tiang hatinya

Aku berharap balasan cahayanya ya Tuhan.

Sempilu berdetak dalam aliran cintaku,

Tika aku balik berhujam dalam

Akankah desah nafas menjadi mata air hakiki?

Atau menjadi darah amis membusuki diri?.

Aku tau sudah banyak yang berpaling,

Menganggap aku seperti kecoa tengik

Mengais tong sampah busuk di malam sunyi.

Mustahil aku bermetamorfosis kupu-kupu!

Mustahil bagi mereka!

Ya..

Karena kecoa sampai kapanpun akan tetap manjadi seekor kecoa bodoh,

Menjadi kecoa sialan

Tetap Kecoa kurang ajar

Memang Kecoa hitam dekil, bau

Ya! Kecoa tak tau diri

Kuulangi lagi! Kecoa dungu

Dasar! Kecoa munafik, pembohong, penjahat.

Mungkin seribu kali kebenaran membela mereka,

Yang tak mengerti gambaran rasa hati.

Seribu kali kebenaran buat mereka

Karena terbukti aku selalu terjatuh dalam tawa api.

Ya ….

Aku kecoa yang tak butuh kasih sayang dari siapapun

Sialan bagi mereka yang percaya pada bisik angin

Aku tak tahu mengapa.

Maafkan aku wahai jiwa….

Aku tak sanggup menyatat elegi cinta dalam agenda,

Karena aku tahu huruf di hatimu

Dan juga mereka yang tak percaya padaku,

Maafkan aku bidadara duniaku……

20 November 2007, Kualasimpang

Mei 8, 2008


RINTIHAN HATI YANG TERCABIK

Desiran untaian azan tersirat deras

Dalam kepiluan teriknya intan

Bengar kacau tenggelam

Menggaruk mukaku yang bernanah

Penuh nista benci

Membusuk!

Berabad-abad!

Dengki membuku tebal di kamarmu

Wahai jiwa yang keparat. Maaf!

Sedikit kasar aku utarakan namamu

Yang telah menggrogot habis kesabaranku

Kau bernyanyi bersama suara jelekmu itu….

Aneh…….

Mangapa kau bangga akan dosa mu?

Sialan kau!

Jiwa apa yang kau pilih hai wanita busuk!

Kau hancurkan kebijaksanaan ayahku.

Kau kubur hati adikku dalam Lumpur ketakutan

Kau bunuh waktu buat kami bercumbu.

Batu!

Hentakan kakimu

Derap membuat hati adikku sempilu

Semakin terenyah jika kau melihat mereka bersatu.

Lalu mereka seakan bermimpi kematian

Ya berharap berlari dari gonggongan anjing.

Gonggongan mu!

Telingaku semakin perih

Kau lantunkan terus omong kosong itu

Ketika aku mencari secercah bayang ibuku

Kau! Kau hancurkan untaian itu.

Pergi!

Pergi kau dari kehidupan ayahku!.

Pergi kau dari belahan keluargaku!

Pergi kau bersama ego mu itu!

Bukankah kau bangga wahai nona?

Ya. Nona gila!

Oya…

Hampir lupa

Malam kemarin

Dimana topeng busukmu kau simpan?

Akh

Jangan-jangan sudah kau telan mentah

Ha..ha…ha…ha

Aku yang gila?

Atau kau yang gila?

Busuk!!

28 april 2008, kualasimpang