Me-Mo-Ri-Al
Jika Aku menginginkan-Nya
Merindukan dan menyanyangi-Nya
Dalam setitik kepalsuan dan dusta
Aku pendosa
Jika…
Mata hati dan jiwaku
Dalam kepalsuan dan kebohongan
Aku sengaja dalam ketidaktahuan
Terlambat…
Semua telah akhir
Aku kalah dam kemunafikan
Pra Ha Ra
Parah
Dalam diam dan gelap aku masih bisa berkata
Dalam sepi aku pun bisa memaki
Mennagis dan selalu menjerit
memaki dan berteriak
Aku pengkhianat
Aku pendosa
Aku pembunuh
Aku pendusta
Dalam cahaya bulan
Dalam keheningan sunyi
Aku tertipu…
SAYANG
Berbayang sendu wajah pucatmu
Berkhias lembut nan anggun.
Suci seputih kapas
Kembali aku teringat akan sosok yang telah lama menghilang
Di balik lentera fatamorgana, ibu?
Kau tersenyum melihatku
Lalu matamu yang bening bercahaya
Menyilau sendu dalam kemayaan
Aroma tubuhmu yang sudah lupa aku namanya
Berbaur dalam waktu yang singkat.
Sayang aku tak sempat mengecup keningmu
Hanya kepribadian yang abadi melekat di sanubari
Tuhan…
Dentuman senjata yang dulu mengelegar di dunia
Tak membuatku kecut sedikitpun.
Tapi ketika lantunan ayat cintaMu kuperdengarkan
Buat jasad yang terbaring lemah
Pucat pasih wajahnya
Sungguh terenyah hatiku.
Pecah asaku.
Sayang. Beban yang ia pikul selama hidupnya,
Tak pernah aku hiraukan katika jasad ber-ruh
Rintihan kesedihannya tak pernah aku dengar dari pilinnya
Mengapa suguhan senyum selalu ada buatku?
Aku tak percaya semua ini.
Tolong!
Tolong buyarkan lamunanku
Hujamkan mata hatiku ke dalam lubang yang dalam
Aku ingin tenang mengenangnya dalam serpihan hidup
Puing-puing kebencian
sudah aku lenyapkan dalam penyesalan.
Buncahan air mata membuku di jemariku
Tuhan……
Senandung kasihnya masih terngiang di pelupuk mata
Masih ku hapal lagu kesukaannya.
Dia benar-benar ummi ku yang aku cinta
Benar-benar aku sayang.
Ketika serpihan cinta kembali membekas dalam relung
Aku tak mengerti akan titah Tuhan.
Tiba-tiba Riuh suara fals
menggelergar dalam suasana
Harapan hancur seketika.
Nona gila itu kembali bringas.
Membabat kasih sayang di hati
Dengki yang ia tanam pada kami
Tuhan…..
Akankah itu takdir kami
Anak-anak yang rindu kasih sayang ummi.
Seperti mati di telan waktu
suara kami
30 April 2008, kualasimpang
Bye Yusra
DERUKU
Tuhan…
Kau pasti lebih tau
Kala hati yang risau menggerutu
Yang telah mencabik manfaat kesabaran.
Telah lupa hati ini
Kau pasti lebih tau Tuhan
Akan kaca yang tersungkur di rambu merah
Menggeliat lekat menjilat hidupku.
Sekarang bolehkah aku berkata?
Bahwa aku mungkin sudah tau
Akan goresan alam semesta
Bernyanyi siang dan malam
Tanpa dirisaukan judulnya.
Tuhan….
Bolehkah hati ini mensyukuri nikmat
Akan karunia cinta dariMu?
Akankah aku berdekap emas di batu ketam seram?
Atau aku boleh meminta bulatnya bulan?
Tuk kuberikan kepada bidadara impian?
Di alam fana ini,
Aku berkutik selangkah tanpa alas
Berpunggung sayap merpati yang terluka
Seribu abad lamanya berucap rindu
Kata lama terngiang di kilau pelangi pantulan
Tertumpah ruah membasahi jiwa musafir ini.
Di mana ya Tuhanku?
Tempat teduh yang terdongeng buatku?
Di dalamnya aku tak berduri,
Di dalamnya aku tak menggigil,
Di dalamnya aku tak menghujat,
Di dalamnya aku tak bermimpi mini.
Bila tabir serambi mengundangku,
Bak menanti setitis penantian maya.
Kuning mukanya berair kemanjaan
Cokelat matanya berkaca keramahan,
Ikal rambutnya bersisir keistimewaan,
Suara lembutnya berdesir kepastian,
Pandangannya berisi kerinduan.
Apakah kau teruntuk buat diri hina ini?
Danau mana yang ia janjikan buatku?
Kalau benar tak mungkin pungguk menjerit tertatih.
Keraguan sudah lama tenggelam
Di antara dua mata angin dunia.
Deritanya tak putus berkoma
Berkabut kegelapan suram
Membahana dalam kepiluan biru
Asa yang kuukir di relung malam kelam,
Agar terderu suara sampai ke tiang hatinya
Aku berharap balasan cahayanya ya Tuhan.
Sempilu berdetak dalam aliran cintaku,
Tika aku balik berhujam dalam
Akankah desah nafas menjadi mata air hakiki?
Atau menjadi darah amis membusuki diri?.
Aku tau sudah banyak yang berpaling,
Menganggap aku seperti kecoa tengik
Mengais tong sampah busuk di malam sunyi.
Mustahil aku bermetamorfosis kupu-kupu!
Mustahil bagi mereka!
Ya..
Karena kecoa sampai kapanpun akan tetap manjadi seekor kecoa bodoh,
Menjadi kecoa sialan
Tetap Kecoa kurang ajar
Memang Kecoa hitam dekil, bau
Ya! Kecoa tak tau diri
Kuulangi lagi! Kecoa dungu
Dasar! Kecoa munafik, pembohong, penjahat.
Mungkin seribu kali kebenaran membela mereka,
Yang tak mengerti gambaran rasa hati.
Seribu kali kebenaran buat mereka
Karena terbukti aku selalu terjatuh dalam tawa api.
Ya ….
Aku kecoa yang tak butuh kasih sayang dari siapapun
Sialan bagi mereka yang percaya pada bisik angin
Aku tak tahu mengapa.
Maafkan aku wahai jiwa….
Aku tak sanggup menyatat elegi cinta dalam agenda,
Karena aku tahu huruf di hatimu
Dan juga mereka yang tak percaya padaku,
Maafkan aku bidadara duniaku……
20 November 2007, Kualasimpang
RINTIHAN HATI YANG TERCABIK
Desiran untaian azan tersirat deras
Dalam kepiluan teriknya intan
Bengar kacau tenggelam
Menggaruk mukaku yang bernanah
Penuh nista benci
Membusuk!
Berabad-abad!
Dengki membuku tebal di kamarmu
Wahai jiwa yang keparat. Maaf!
Sedikit kasar aku utarakan namamu
Yang telah menggrogot habis kesabaranku
Kau bernyanyi bersama suara jelekmu itu….
Aneh…….
Mangapa kau bangga akan dosa mu?
Sialan kau!
Jiwa apa yang kau pilih hai wanita busuk!
Kau hancurkan kebijaksanaan ayahku.
Kau kubur hati adikku dalam Lumpur ketakutan
Kau bunuh waktu buat kami bercumbu.
Batu!
Hentakan kakimu
Derap membuat hati adikku sempilu
Semakin terenyah jika kau melihat mereka bersatu.
Lalu mereka seakan bermimpi kematian
Ya berharap berlari dari gonggongan anjing.
Gonggongan mu!
Telingaku semakin perih
Kau lantunkan terus omong kosong itu
Ketika aku mencari secercah bayang ibuku
Kau! Kau hancurkan untaian itu.
Pergi!
Pergi kau dari kehidupan ayahku!.
Pergi kau dari belahan keluargaku!
Pergi kau bersama ego mu itu!
Bukankah kau bangga wahai nona?
Ya. Nona gila!
Oya…
Hampir lupa
Malam kemarin
Dimana topeng busukmu kau simpan?
Akh
Jangan-jangan sudah kau telan mentah
Ha..ha…ha…ha
Aku yang gila?
Atau kau yang gila?
Busuk!!
28 april 2008, kualasimpang

