Standard

NEGERI SYARIAT BERBALUT SYARIAT

Tsunami tiga tahun tlah berlalu. Adakah perubahan yang menambah kesadaran, bahwa tsunami merupakan peringatan. Melihat kondisi dilapangan, benarkah tsunami tiga tahun lalu justru ikut menyeret perubahan kultur yang seharusnya tidak mesti terjadi.

Bak buah simalakama, diikuti terlena, didiamkan merana. Ujung-ujungnya cemburu, lalu demo sana demo sini, protes sana protes sini. Ujung-ujungnya lagi-lagi, saling menyalahkan. Inilah gambaran real masyarakat Aceh saat ini.

Ironis memang! Belum lagi kriminalitas yang semakin menjadi-jadi, tempat maksiat yang berdiaspora bak cendawan dimusim hujan, semua perubahan tersebut seperti mengiyakan bahwa Aceh pasca tsunami telah merubah kehidupan. Bantuan asing menyerbu. Untung disatu sisi sial satu sisinya, itulah kondisi Aceh pasca tsunami, masyarakat dan pemerintah terlena.

Dasyatnya tsunami tiga tahun lalu seperti hanya mimpi. Semua tinggal kenangan. Hanya mereka-mereka yang kehilangan anak istri dan keluarga yang menangis tiap tahunnya. Sedangkan yang lain, seolah-olah tsunami tidak ada apa-apanya. Benar tidaknya Wallahu’alam.

Inilah yang digambarkan anggota dewan DPR Aceh dari Fraksi PPP, Zainab AR. Menurutnya, telah terjadi pergeseran hidup yang sangat besar dalam kehidupan bermasyarakat rakyat Aceh pasca stunami. Seperti ada sebuah air bah atau tsunami baru yang merubah kehidupan hidup ini.

“Satu sisi, kita patut mengucapkan selamat dan berterimakasih kepada pemerintah. Banyak kerja berat yang sudah mampu ditangani pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah Aceh dalam menangani permasalahan yang terjadi pasca gempa dan tsunami,” Ujar Zainab AR.

Namun satu sisi lainnya, tambah Zainab, “kita seperti tertidur dan terlena oleh gelimang dana bantuan. Parahnya, bantuan tersebut lebih banyak dinikmati oleh orang-orang yang tidak mengalami dan merasakan tsunami. Sedangkan masyarakat korban sendiri masih manyak yang terlantar. Bahkan tidak sedikit yang harus tetap tinggal dibarak-barak pengungsian.”

Apa yang dikatakan Zainab AR bisa jadi benar. 26 Desember 2007 lalu, guna memperingati tiga tahun tsunami, pemerintah Aceh mengadakan upacara peringatan tiga tahun tsunami di Calang, Kabupaten Aceh Jaya. Acara yang juga di hadiri oleh Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, Ketua BRR, Kuntoro serta seluruh kepala jajaran Dinas Provinsi Aceh tersebut seperti sebuah seremonial belaka.

Satu contoh, saat peringatan puncak tsunami di Calang tersebut, Zainab menceritakan, setelah acara seremonial tersebut selesai, saat sholat dhuhur tiba, justru yang ikut shalat berjamaah hanya beberapa orang saja. Sangat menyedihkan ujar Zainab.

“Apakah bencana yang merenggut ratusan ribu rakyat Aceh tersebut belum mampu membuka mata kita. Belum mampu merubah kesadaran kita,” ujar Zainab sedih.

Prihatin, bisa jadi. Sedih, bisa jadi. Kecewa, juga bisa jadi kecewa. Namun kemanakah semua rasa ini dibawa dan dilaporkan. Toh pemerintah sendiri juga terlena dengan kesibukan-kesibukannya sendiri.

Sedihnya, masyarakat kita juga terlena dengan kehidupannya sendiri. Maksiat bukan lagi hal yang tabu terjadi. Perzinahan, judi, kriminalitas, korupsi, illegal logging, psikotropika, semuanya seperti berlomba-lomba untuk dilakukan. Menyedihkan tentu.

Anggota dewan dari Komisi F ini hanya bisa mengerut dada. Menurut Zainab AR, pergeseran hidup yang sangat besar dalam kehidupan bermasyarakat rakyat Aceh ini karena kurangnya control keluarga dan orang tua. Menurut Zainab, “memang tsunami telah membawa perubahan status sosial sebagian besar masyarakat, namun untuk kehidupan agama dan akhlak, telah terjadi pergeseran yang sangat jauh.”

Bisa jadi bukan hanya masyarakat yang terlena. Justru pemerintah sendir yang terlena, sehingga lupa mengcover masyarakatnya. “Nah, inilah yang dilupakan pemerintah kita. Masyarakat tidak dicover oleh pemerintah. Coba lihat berita-berita yang ada di Koran-koran hari ini, sangat memalukan dan menyedihkan. Untuk orang Aceh yang terkenal dan sangat kental dengan budaya malu ternyata seperti ini,” kata Zainab AR.

Sekarang, daya malu inilah yang sudah terkikis dari diri kita, tambah Zainab AR. Anggota dewan yang juga anggota dari Fraksi PPP ini mencontohkan, bagaimana dengan mudahnya seorang pejabat tidak kena hukum cambuk. Padahal beliau sudah terbukti bersalah. Ini adalah gambaran hilangnya rasa malu, apakah itu dari pihak pengadilan, jaksa dan menangani kasus tersebut.

Untuk itu, Zainab berharap, momen tiga tahun tsunami menjadi renungan serius pemerintah untuk menjaga kultur Aceh yang islami. Jangan sampai kultur ini terus terkikis dalam kehidupan masyarakat. Pemerintah harus mempu mengcover. “apakah kita kita tidak malu, negeri syariat tapi penuh maksiat!”, jadinya, “tsunami hanya tinggal cerita.” Tutup Zainab.

Advertisements

2 thoughts on “

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s