HARIST ANAKKU

Standard

28 Desember 2004

Harist anakku…….

Dimanakah engkau kini. Ayah sudah mencarimu kemana-mana, menanyakan pada orang-orang dan pada sanak family. Semua sudah ayah datangi. Mencari ke mesjid-mesjid dan posko-posko pengungsian. Anakku…jangan tinggalkan ayah. Tidakkah harist merindukan ayah. Maafkan ayah nak, karena saat itu ayah tidak bersamamu, untuk melindungi dan menenangkan rasa takut dihatimu. Maafkan ayah, nak.

Insya Allah, Besok ayah akan mencarimu lagi sayangku….

29 Desember 2004

Harist anakku,

Hari ini ayah mendatangi rumah kita, untuk mencarimu. Tidak ada yang tersisa, semuanya hancur dan hilang ditelan air laut. Tak ada bekas yang dapat ayah kenali. Ayah berharap mungkin-mungkin ada tetangga kita yang melihatmu ataupun menyelamatkanmu saat kejadian itu, semuanya menggeleng. Diam. Mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Mencari keluarga dan mengumpulkan sisa-sisa harta benda yang masih dapat digunakan.

Anakku, ayah merasakan kegundahan hati yang sangat dalam. Ayah dirasuki perasaan bersalah kepadamu, nak. Ayah tahu engkau sangat sedih pagi itu karena tidak bisa ikut kepasar bersama ayah. Tetapi tolonglah, nak. Jangan biarkan ayah menangis. Bukankah kita pernah berjanji untuk selalu bersama dalam suka dan duka.

Ayah tak ingin yang lain. Ayah hanya ingin harist, harist satu-satunya milik ayah didunia ini. Jangan tinggalkan ayah, nak. Ayah mohon.

30 Desember 2004

Harist anakku.

Sambil terus berdo’a. ayah mendatangi posko-posko pengungsian. Berharap, bila-bila engkau disana. Ayah begitu bersemangat dan behagia bila melihat anak-anak seusiamu.akan tetapi, kesedihan dan kekecewaanlah yang ayah rasakan, ayah tidak menemukan dirimu, nak.

Harist anakku…….

Ayah merindukannmu, nak. Merindukan semua tingkah lucu dan kepolosan dirimu. Ayah sangat merindukan setiap ocehanmu ketika hendak tidur. Merindukan kejengkelanmu bila tak mampu menjawab PR sekolah. Ayah benar-benar merindukannya, nak.

Ayah akan terus mencarimu, nak.

Pagi, 31 Desember 2004

Harist sayangku…….

Ayah kembali menyusuri kampung kita, mencari tahu tentangmu. Ayah hampir putus asa, namun ayah harus tetap mencari. Mencari dan terus mencari, ayah tidak sanggup hidup tanpa dirimu anakku. Ayah tidak dapat hidup sebatang kara didunia ini.

Dan…..saat itulah Pak Ali tetangga kita mengabarkan kepada ayah, bahwa dirimu telah ditemukan. Betapa bahagianya ayahmu ini, nak. Ayah berjanji, bila bertemu harist tidak akan pernah meninggalkan dirimu sendiri lagi. Itu janji ayah anakku.

Akan tetapi anakku, ayah tidak sanggup anakku, tidak sanggup menahan hati dan jiwa ayah, tidak sanggup menahan air mata ayah. Dirimu telah berubah. Tiada lagi semyum dibibirmu, tiada lagi tawa yang selalu membuat ayah bahagia. Ayah enemukanmu, tapi engkau pergi meninggalkan ayah.

Anakku…..

Janganlah engkau marah, biarlah hari ini ayah menghabiskan hidup dengan penyesalan dan air mata. Penyesalan karena meninggalkanmu pagi itu. Biarlah ayah menangis sepuas-puasnya. Agar terbebas dari semua penyesalan itu, agar hati dan jiwa ayah mampu menerima kepergianmu.

Ingatkah engkau anakku, ketika engkau menjerit memanggil “Ibu! Ibuuu……….” Tetapi ibumu tidak mendengar jeritanmu. Lalu engkau berbalik, berlari memeluk tubuh ayahmu ini. Air matamu berjatuhan laksana salju yang mencair terkena matahari. Membasahi jiwa dan hati ayah. Tahukah engkau anakku, betapa sedihnya hati ayah, ketika melihat dirimu berlari-lari dan menangis memanggil ibumu.

Hatimu hancur berkeping-keping dengan kejadian itu. Jiwamu rapuh seperti ranting-ranting pohon yang mengering. Anakku, ayah berjanji akan terus berusaha dan selalu melindungi hati dan jiwamu. Ayah akan berikan cinta ayah hanya untuk harist. Selama-lamanya. Akan tetapi, siapakah yang akan melindungi hati dan jiwa ayah, ketika semuanya rapuh, anakku.

Malam, 31 Desember 2004

Harist anakku..

Bangunlah, nak. Tataplah wajah ayah. Ayah ingin melihatnya. Apakah selama ini ayah telah melukai hatimu, nak.

Bangunlah, nak.

Ayah ingin mendengarkan semua cerita-cerita lucumu. Seperti kemarin-kemarin. Ayah ingin mendengarnya kembali.

Harist anakku…….

Ingatkah harist sabtu pagi kemarin sebelum gempa, sewaktu haris berangkat mengaji dan ayah akan berangkat ke pasar. Engkau sudah berjalan beberapa meter, namun segera berbalik menghadap ayah. Melambaikan tangan dan berseru “ayah….., hati-hati, ya!. I love you, ayah”. Ayah terkejut, lalu tersenyum. Kata-kata I love you mu membuat ayah bersemangat, setelah berjualan ayah cepat-cepat pulang agar dapat membalas I love you mu, anakku.

Tetapi apa yang ayah dapat siang harinya, engkau malah terpingkal-pingkal mendengar ucapan I love you dari ayah. Ayah malu. Langsung saja ayah raih dan rangkul tubuh mungilmu dan memciummu habis-habisan. Apakah engkau mengingat.

Tapi, setelah itu ayah melihat dirimu seperti dalam ketakutan, wajahmu seolah-olah terluka dan perasaanmu hancur, pijar bola matamu meredup. Seolah-olah cahaya matamu telah pudar. Ayah melihat tetesan air matamu terjatuh. Jujur, ayah tidak tahu apa yang terjadi terhadapmu, anakku. Ada apa anakku. Katakan pada ayah. Jika ayah salah, ma’afkan ayah. Bangunlah, nak. Bicaralah kepada ayah.

Dan malam itu, ayah melihat dirimu dalam keragu-raguan. Ketika ayah tidak mempedulikanmu, tiba-tiba engkau berlari meghambur memeluk tubuh ayah kuat-kuat, lalu mencium bibir ayah. lalu kembali berlari menuju kamarmu tanpa melihat ayah.

Anakku….

Ketika itulah ayah merasakan goncangan jiwa yang begitu berat. Tangan mungilmu memeluk tubuh ayah dengan kelembutan, halus nafasmu ketika mencium bibir ayah seakan-akan telah membuka tabir hatimu yang sesungguhnya. Kesucian hatimu telah mengikis habis kelalaian dan kebodohan serta terhadap ketidakdewasaan ayah. Apakah semua ini adalah tanda yang engkau berikan bahwa kita akan berpisah. Berpisah untuk selama-lamanya.

Sayangku……

Tiba-tiba ayah cemas sekali dan merasa takut.

Malam ini hanya dirimu yang ayah fikirkan, nak. Ayah akan berada disisimu dalam sunyi. Ayah akan menjaga tidurmu, menatap wajahmu, merasakan desah nafasmu yang telah hilang hingga fajar menyingsing.

Harist anakku………

Ayah berjanji, besok akan sungguh-sungguh menjadi ayah, ayah untuk harist. Ayah akan menjadi hatimu,nak.

Ayah akan menderita bila engkau mederita

Ayah akan tertawa bila engkau tertawa

Ayah akan menangis bila engkau menangis

Jika engkau berbuat salah, ayah akan menahan lidah dan hati ayah dari kemarahan. Ayah akan menegurmu dengan cinta dan kasih sayang.

Kini, ketika ayah memandang wajahmu yang meringkuk kaku dalam lelah dibalik selimut berlumpur, ayah tersadar, ternyata engkau masih anak-anak. Rasanya baru kemarin engkau digendong ibumu. Bermanja dan bermain dalam kasih sayangnya.

Untuk itulah ayah merangkulmu, melihat wajah putihmu, mendengar nafas halusmu yang telah hilang dan menghirup aroma tubuhmu. Ayah begitu rindu. Tetaplah bersama ayah, anakku. Bukankah katanya dirimu akan selalu bersama ayah. Menjaga dan melindungi ayah kelak. Janganlah diam seribu bahasa anakku. Bangunlah nak, agar ayah dapat kembali berdongeng untukmu. Seperti malam-malam kemarin.

Bangunlah sayang….ayah menunggumu besok pagi. Ayah ingin melihat tawamu. Ayah rindu akan tangisanmu agar ayah dapat menghapus air mata dipipimu. Ayah ingin merasakan pelukan hangatmu. Ayah ingin merasakan ciuman hangat bibir mungilmu.

Harist sayangku……

Bangunlah untuk ayah besok. Lihatlah ayah akan memberikan cinta untukmu, nak. Agar engkau dapat merasakan kehangatan dan kedamaian. Agar engkau dapat berlari, tertawa dan bernyanyi.

Harist anakku…….

Memories 2004

8 thoughts on “HARIST ANAKKU

  1. cane

    salam budaya……
    keren keren……
    lam kenal .
    aq yang chat di room semarang…
    good luck laksamana

  2. LImAWaTT

    merinding aku membacanya pul… turut merasakan kesediahan yang akmu rasakan.. salam dari semarang

  3. Anonymous

    Sungguh menyentuh……
    coba dech baca novel hapalan surat Delisah karya Tere liye…

    Tsunami telah meninggalkan banyak cerita, duka, dan tangisan.

  4. Kamso Bin Beben

    Pul…ada 2 yg dirasa teramat berat oleh Rasul kita Muhammad Saw, ketika beliau kehilangan orang² yg dicintainya pergi (ke-2 orang tua), dan umatnya yg akan ditinggalkan selepas beliau meninggalkan dunia ini. Tak ada yg abadi didunia ini broder, dunia ini hanya pesinggahan sementara buat menuju yg hakiki.
    Tatkala ada segelintir orang didunia ini yg menginginkan kematian menjemput, ada orang yg mensyukuri kehidupan dunia ini Subahanallah. Pul…my broder, ketulusan seorang ibu n bapak tak ada yg dpt menggantikan didunia ini…
    Semoga Allah SWT memberikan tempat yg layak bagi Harrist n Ibu. Hidup masih menghampiri Syaiful, itu Allah SWT masih sayang ama broder…:).
    Waktu terasa cepat yaa broder tatkala apa² yg ada disekitar kita hilang dlm penglihatan, musnah dlm rasa tak lekang oleh waktu hidup terus Harrist dlm benak Syaiful My Broder.
    Be strongest my broder…!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    Kamco kek ustadz yaa pul hehehe :))
    Salutttt from anak bandung Kamso….beben…kamco…ban[zai]…co`cool^ok…japati…aa`bandung…nick2 aku hehehe

  5. Martha Andival

    Thanks banyak bro……

    Semua ada hikmahnya…….

    sekali lagi thanks….

    ga nyangka jumpa ustadz di bandung😀

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s