MEBUNUH CINTA

Standard

Terlalu sakit, bahkan sangat menyakitkan. Dia yang selama ini tempat aku berharap, dia yang selama ini sebagai sumber inspirasi yang memberikan sugesti. Ternyata semua berakhir penuh rasa sakit yang menyakitkan”.

Kupandangi wajah tirus didepanku. Wajah tirusnya seolah menutup semua kehebatan super yang selama ini ia miliki. Wajah tampan, cerdas, kaya, empaty, dari keluarga baik-baik dan ia juga pemuda yang baik (huh!!!, untuk yang satu ini belum bisa kuterima). Memang terkesan sempurna, tapi itu dalam kacamata kalian. Bukan kacamataku.

“Bagaimanapun aku masih sangat mencintainya, walaupun aku sadar kalian tidak mengharapkan kehadiran diriku. Namun aku benar-benar mengharapkannya. Mengharapkannya, Dina”, eramnya memandangku.

Pria didepanku menyeruput kopi panas yang dihidangkan pelayan. Matanya terlihat sembab. “ Ah, cowok ini”. Pikiranku mulai bergentayangan, mengingat kembali masa-masa suram keluargaku saat ia masuk dalam kehidupan kami secara illegal. “Illegal!!”. Yah, begitulah dalam penafsiranku. Kehadirannya telah memporak-porandakan hatiku, bahkan keluargaku.

“Dina….”, suaranya nyaris hilang oleh alunan gemerisik musik yang mendayu-dayu.

Aku menatapnya karena ia juga menatapku. Aku mencoba meraba-raba sebesar apa cinta yang merasukinya sehingga ia seperti ini. Dalam hati aku tersenyum, “Rasakan tuh cinta. Makanya, jika mau bercinta harus siap-siap menerima petaka cinta”.

“Dina, dimanakah dia sekarang. Aku sangat merindukannya, aku tidak bisa hidup tanpa dirinya. Please…..”, harap pemuda didepanku. Memohon.

Aku diam. Mencoba menikmati sisa-sisa ketampanan yang masih tersisa diwajahnya. Ah.., bayangan itu kembali hadir, sangat menyakitkanku. Mungkin tubuh mungilku masih mampu menahan sakit itu, tapi hati, jiwa dan perasaanku, apakah dia tahu.

“Dina”, suaranya terputus.

“Tolong aku…, aku yakin kamu tahu mengetahui dimana dia sekarang”, pinta pemuda didepanku, memelas.

Ia meraih tanganku dan menggengamnya erat. Aku diam. Pikiranku masih melayang-layang mencari yang hilang dalam kehidupan keluargaku. Antara dunia nyata dan halusinasi. Inilah petaka dan marabahaya cinta. Membuat manusia gila!.

Aku melepaskan genggaman tangannya. Pura-pura memperbaiki kerudung hitamku. Padahal hatiku dongkol luar biasa.

Alunan musik slow mengalun lembut, bahkan lembut sekali. Beberapa tamu silih berganti menggantikan tempat duduk yang tersedia. Para pelayan café tak bosan-bosannya berjalan kesana kemari membawa daftar menu untuk pelanggan.

Satu jam setengah aku dan pemuda didepanku duduk disini. Membicarakan tragedi cinta, kemunafikan dan prahara cinta.

“Peuh!!”, aku kesal.

Aku memandangnya ntah untuk yang kesekian kalinya. Hening. Lampu temaram yang menerangi ruangan café kelas VIP di daerah Ulee Kareng Banda Aceh ini memang khusus diperuntukkan bagi para pecinta berat. Buktinya para tamu yang hadir semuanya dalam bentuk pasangan lelaki dan wanita. Termasuk aku dan pemuda didepanku.

Tapi kami berbeda. Jika para tamu lainnya hadir dalam ungkapan dan kebahagiaan cinta, justru aku dan pemuda ini datang untuk mencari serpihan cinta yang berdiaspora. Memuakkan.

Aku kembali masuk dalam labirin keluargaku. Andaikan pemuda didepanku ini tidak pernah dalam kehidupan keluargaku, bisa jadi aku akan terpengaruh dengan kesedihannya ini, terpengaruh dengan ketampanannya. Lalu…ehhem… cinta lokasi deh.

“Dina…, aku tahu dan sadar jika kamu membenciku, marah, kesal dan muak melihatku”.

“Memang iya!!, baru sadar toh. Melihat mukamu saja aku ingin muntah!!”, kataku dalam hati, kesal mendengar perkataannya.

Pemuda didepanku menatap wajahku, ntah apa yang dilihat, mungkin kerundung hitamku atau mungkin perasaannku yang berusaha diselaminya. Aku menatap matanya, mencari cinta itu. Apakah murni seperti yang ia rasakan dan katakan saat ini. Aku mencoba ingin mencari cinta dimatanya itu, cinta yang telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan keluargaku.

Sayang, aku bukan pecinta sejati, sehingga sulit untuk merabanya, walau dengan perasanku sendiri.

“Pemuda ini memang tampan. Walau luka dipelipisnya masih terlihat membiru, kening sebelah kirinya masih dibalut perban. Namun justru ketampanannya semakin terlihat”, sifat kewanitaanku tergoda. “andaikan saja dia pacarku….., ah…gila!!”.

“Beliaulah cinta pertama dan terkahirku, Din. Kasihanilah aku, Din”, suara pemuda didepanku semakin melemah.

Aku kembali memperbaiki kerudung hitamku. Hanya pura-pura. Padahal, kesalnya hatiku luar biasa parah.

Aku kembali teringat, dua hari lalu, kakak tertuaku mendatangi pemuda ini dikantornya (salah seorang staff badan PBB dibilangan Neusu). Aku tidak tahu persis apa yang terjadi, namun aku tahu pasti apa yang akan dilakukan kakakku, yaitu main gebuk alias pukul-pukulan. Babak belur.

Kakakku tidak bisa menerima apa yang telah dibuat pemuda ini terhadap keluargaku. “Anjing biadab!!”, maki kakakku.

Aku mengamati pelipisnya yang membiru. Inilah pengorbanan cinta itu. Babak belur! Cinta harus berkorban, bahkan kita harus rela mengorbankan diri demi cinta. Cinta memang penuh pengorbanan.

***

“Dina, terima kasih atas kebaikanmu,”

Aku diam. Air mataku mengalir oleh perasaan sedih, benci, kecewa, marah dan bahagia. Air mataku jatuh karena desakan cinta yang ada pada pemuda didepanku ini. Biarlah aku berdosa dan durhaka. Karena aku tidak bisa membiarkan cinta dibunuh untuk orang-orang yang aku cintai.

Pemuda didepanku menyalamiku sebagai ungkapan terimakasih. Semangat hidupnya kemabali hadir setelah aku memberi peluang untuk cintanya.

Aku sesegukan. Sendirian, dalam temaran cahaya lampu dan alunan musik yang mengalun lembut. Air mataku semakin deras mengingat kakak, adik dan ibu dirumah yang menjadi korban cinta.

Aldo Tristan (30 tahun) pemuda didepanku tadi, mencintai Alif Akbar (50 tahun), yaitu ayahku sendiri.

Keluargaku tersakiti oleh sakit yang menyakitkan. Keluargaku disakiti oleh cinta. Cinta illegal pemuda itu dan ayahku.

Wahai…..

Hati-hatilah dengan cinta, tempatkanlah ia ditempat yang benar. Sehingga hati, jiwa dan perasaan akan tetap hidup dalam jalan yang benar.

Memories 2006

For my mum, I love you, I love you and I love you.

6 thoughts on “MEBUNUH CINTA

  1. wuihhh.. bner bner deh.. tadi saya nebak nya aneh2,, jangan2 ibunya sempet pisah sama ayahnya yang selingkuh, sekarang ayahnya nyesel.. tapi kok pemuda,, jadi mikir lagi,, pemuda yang jatuh cinta sama ibunya kah?? ternyata.. sama ayahnya..

    hebat mas.. padahal saya selama ini sering bisa nebak akhir cerita loh.. TOP dah!!!

    *salaman*

    salam knall,,

  2. Martha Andival

    Waduh…, terimakasih banget. sebenarnya blog ini baru dibuat. yah, masih alakadarnya.

    Penulisan cerita ini saya kejar semalam. maklum, niatnya untuk ikut lomba. Tapi nyatanya, saya ketingganlan dead line. ga jadi dikirim deh.

    o iya. saya mau minta komentarnya tentang cerpen “prahara wanita” di adult cerpen. penting banget untuk saya.

    sekali lagi terima kasih banyak. salam kenal juga.

  3. hahahahahaha..martha
    salahsatu kecenderungan cinta yang salah tempat menurut kepercayaan dan keyakinan ‘kepala bawah kita’.hahahha….haibat cara berceritanya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s