METAMORFOSA

Standard


“Eh, mau kemana kamu, seng!. Cepat balik!!. Bantuin emak.’

“Asenggg……….dasar anak anjingg…!!!!!”

Aku terus berjalan, dibelakangku suara emak semakin meninggi. Aku capek. Tiap hari diomelin melulu. Gini salah. Gitu salah. Nggak pernah ada benernya. Semua salah. Mentang-mentang jadi emak, emang bisa seenaknya ngatur-ngatur anaknya. Busyet!!enak benar dong jadi orang tua.

Aku lelah. bosan.

Aku mau lari. Cari bapak, menurut cerita mak onah tetanggaku, bapakku pergi meninggalkan rumah ketika aku berusia satu tahun. Kasihan dia. Dulu sebelum minggat, tiap hari diomelin melulu sama emak, seperti aku sekarang. Dapat setoran ojek sedikit diomelin. Setoran banyak dibilang kurang dan jika nggak ada setoran? jangan tanya. Piring didapur pada beterbangan, anjing dan babi berhamburan keluar dari mulut emak. Udah nyari duit susah, ee….piring malah dibanting-banting. Kata mak onah lagi untung bapak pinter silat sehingga bisa mengelak dan menangkis setiap serangan emak (duh… mak onah, kayak di senetron aja sih…). “Dasar emakmu itu gila, seng!” mak onah ikut-ikutan ngatain emakku gila.

Lagian digituin tiap hari siapa tahan. Bapak pergi ntah kemana. Mungkin saja merantau ke seberang pulau dan bisa jadi kawin lagi, atau jangan-jangan …….nggak taulah. Asal jangan mati saja!. Aku nggak mau kehilangan bapak. Lebih baik kehilangan emak. Biar mampus sekalian tuh mak lampir cerewet. Kualat? Masa bodo!! Emang gue pikirin.

Semenjak bapak pergi ibu mulai banting tulang, tapi itu cuma sebentar, karena setelah aku bisa bicara dan berjalan aku malah harus menggantikan peran bapak alias jadi budak. Cari uang, ngemis plus nyopet dan jambret jadi pekerjaan wajib jika aku masih ingin pulang kerumah. Kerjaan pun semakin bertambah ketika muncul tuyul-tuyul dirumahku, si ani dan si mena. Aku harus mengurus mereka berdua. Ngerjain PR sekolah, nyuciin baju, ngasih jajan mereka. Busyet!! Emang aku apa? Baby sister? Sudah aku nggak disekolahin. Malah jadi budak!. Dasar mak lampir. Bisanya keluyuran mulu. Alasannya nyari duitlah, nyari makanlah, berdaganglah, nyari itu inilah. Dasar pembohong! Paling-paling jual diri. Jadi “wanita pemuas”. Puehh!! Wanita pemuas, dasar emak lampir. Lonte busuk!!.

Kasihan si anik, si mena. Tuh anak moncrot kebumi nggak ada bapaknya, anak haram!. Pernah si anik nanya “ mak, bapak tok ndak puyang-puyang. Kemana cih. Kita cali yuk, mak?”. Langsung dijawab emak “ bapak,bapak,bapak. bapak taikmu. Jangan tanya-tanya bapak bajinganmu itu. Dia udah mampus, tau!”. Si anik terdiam. Mena menagis sejadi-jadinya karena dia sedikit ngerti apa kata emak. Melihat mena menangis emak langsung menarik kupingnya. “heh….loe ngapain nangis-nangis segala. Diaamm…..!!!!”. suara lolongan emak memekakan telingaku. Aku hanya terdiam melihat-detik-detik kehidupan kami yang penuh tangisa, jeritan, makian dan amarah

Dasar emak haram jadah! Udah buat anak nggak tanggung jawab. Kasihan bapak. pasti dia sangat menderita bathin dapat istri kayak hantu bela-u gitu.

Aku mau pergi. Lari sejauh-jauhnya. Menjauh dari mak lampir brengsek!. Aku mau cari bapak. aku rindu. Si anik dan Mena? Bukan urusan gue. Lagian mereka bukan adik gue. Anak haram!

*****

“Puehh!!”

Hidup dijakarta ternyata susah banget. Cari makan sulit, mau tidur sulit, cari kerja malah lebih sulit lagi. Semua harus pake duit. Bayangin, bisa-bisanya beol saja harus bayar. Orang untuk makan saja susahnya amit-amit, eee…….waktu mau dikeluarin malah harus bayar juga, akayak nggak ada kerjaan. Mau nyari istri?, jangan tanya, harganya bisa selangit. Gilee……gile……., hidup pada mahal semua. Dunia edan.

Untung ada mang udin, tetanggaku yang ikut membantu dan menyukseskan aksi minggatku tempo lalu. Ia juga baik. Mau ngasih aku kerja. Walau untuk sementara aku menjadi pesuruhnya. Nggak penting. Pokoknya aku dapat duit dan bisa makan. Lagian bapak pun ntah kemana. Capek nyari. Ngabisin duit saja. Udah sebulan dicari-cari kok nggak jumpa juga.

Kata mang udin, pekerjaan yang aku geluti mudah, ngasih barang lalu ambil duit. Selesai. Eh ternyata benar, kerja mudah dan hasilnya ? jangan tanya. Aku bisa makan enak setiap hari. Tidur juga nyenyak.

Sehari, dua hari, minggu, bulan, akhirnya aku jadi terkenal. Terkenal sebagai bandar narkoba remaja. Sabu-sabu, heroin, ekstasi dan segala macam yang berhubungan dengan nenek kakeknya narkoba aku sudah pernah jual bahkan ngerasain juga sering, he..he

Namaku sudah terkenal dibilangan beberapa jalan dijakarta. Tinggal sebut nama aseng cobra, maka semua orang akan tahu. Bahkan polisi juga banyak yang tahu, karena mereka sebagian besar juga pelangganku. Lumayanlah dapat bekingan aparat.

Sekarang jelas aku bangga karena kini aku menjadi orang kaya. Tidak lagi susah-susah ngemis untuk cari uang lagi, yang penting kan usaha, dari pada ngemis-ngemis nggak ada harga diri.

Enaknya lagi, sekali-kali mang udin ngasih bonus. Aku Diajarin untuk menjadi manusia dewasa. Aku dikasih lonte..bo!! he..he..he.. lumayanlah buat pengalaman.

******

Dasar apes. Sial. Dasar mang udin keparat. Laki-laki tengik! Bandot busuk! Aku ditipu. Tega-teganya mang udin, ternyata mang udin memanfaatin aku. Dasar keparat!. Kribo dekil!!

Aku kesal. Mak lampir keparat, ini semua gara-gara emak. Gara-gara dia aku nggak bisa sekolah dan belajar. Coba, jika aku tidak dipingit dan menjadi budaknya? Tentu aku tidak akan luntang lantung di jakarta sampai menjadi bandar narkoba. Jika saja emak menyekolahkanku, tentu aku tidak akan kemalangan seperti ini. Dasar apes!.

Aku tertangkap polisi. Masuk penjara. Itu pun masih untung leherku nggak di penggal. Coba kalau jadi dipenggal? bisa berabe. Nyawa kan cuma satu. Lagian dosa yang pada bejibun mau dikemanin, pada nunggak semua belum dilunasin. Apa nggak ngeri kalau masuk kubur dengan dosa bertumpuk gitu?. Aduhhh…mang udin, kok tega-teganya sih. Jika aku jadi dipenggal, mending bunuh diri sekalian. Biar terkenal. Masuk koran, masuk tivi.

Sekali lagi aku masih beruntung. Katanya sih aku masih dibawah umur. Jadi banyak pertimbangan-pertimbangan. Aku mendapat discont kurungan. Lumayan. Yang penting aku nggak usah lagi capek-capek kerja. Makan udah pasti dapet tiap hari. Gratis. Tidur nggak kehujanan kayak gembel-gembel. Mandi nggak bayar. Apalagi beol. Semua gratis boo!!

****

Aku bebas. Nggak terasa udah 7 tahun berlalu, kini umurku sudah 20 tahun, aku mau pulang. Rindu sama anik, mena, dan sama…. mak lampir. Ups!, salah. Bukan mak lampir. Tapi emak. Aku mau minta maaf. Tobat! Mang udin? Biar saja, aku nggak akan balas dendam, yang penting aku bebas. Bebas. Sekali lagi bebas!!

Aku sudah terlalu lelah dengan hidup seperti ini, kapok masuk penjara, aku dikerjain “habis-habisan” dengan senior-senior dipenjara, mereka merampas jiwa lelalkiku yang sesungguhnya, mereka merusak jiwa dan perasaanku sebagai manusia.

Aku ingin menghirup udara kebebasan, bebas dari segala rasa takut dan benci, ebas dari rasa demdan amarah. Aku nggak tau apakah suatu saat nanti pintu tersebut akan kembali terbuka bagiku.

“Ardhan….”

Aku terkejut. Sebuah suara berat dari belakang terasa dekat ditelingaku. Suara itu seperti tidak asing bagiku. Tetapi….aku tidak ingat. Ardhan?, dan rasa-rasanya aku juga tidak asing dengan nama itu. Bukankah namaku……”ASENG”.

Aku berbalik. Empat orang manusia. Seorang lelaki berjenggot dengan tiga wanita berjilbab jumbo. Anggun. Aku terkesima. Wajah mereka penuh keteduhan dan kedamaian. Begitu bersahaja dengan pakaian sederhana yang mereka kenakan.

Sepertinya aku pernah melihat mereka semua. Dimana? aku tidak tahu. Tetapi pria itu, bukankah ia….serr…tiba-tiba darahku naik. Kukepalkan kedua tanganku, karena dialah sehingga aku menikmati masa-masa kehancuran jiwaku di dalam sel. Tetapi, tiba-tiba pandanganku tertuju pada tiga wanita disampingnya. Bukankah wanita-wanita itu…, sepertinya, ah…, mudah-mudahan bukan. Semoga aku tidak bermimpi.?, dan bukankah wanita-wanita itu…sepertinya..ah…, mudah-mudahan bukan.

“Ardhan….” suara lelaki itu terdengar serak.

Aku menoleh kekanan kekiri mungkin ada orang lain yang dipanggilnya. Tidak ada. Aku semakin terkejut. Laki-laki berjenggot tersebut memelukku.

“Ardhan, ini bapak, nak”

“Bapak??” yang benar saja akh, apa aku benar-benar bermimpi. Nggak percaya. Aku tidak percaya!. Jika dia ayahku, lalu siapa ketiga wanita ini.

“Mereka adalah emakmu, ani dan mena. Adik-adikmu”.

Aku tidak percaya. Sekali lagi aku tidak percaya. Tidak percayaa…..!!!!

Ya Allah……

Mengapa mang udin yang menjerumuskan diriku itu adalah ayahku…..

Mang udin ayahku……

Ya Allah……

Aku kapok….

Memories 1994

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s