Pra – Ha – Ra

Standard


“Masih seperti dulu!!”

“kabut tebal yang menutupi lereng-lereng bukit, jalan setapak, kebun-kebun singkong, tanah-tanah tandus, gubuk-gubuk reok, nyaris tidak ada yang berubah. Masih seperti dulu”. Bathinku bergemuruh.

Hatiku semakin miris ketika melihat petak-petak sawah yang merekah akibat kekeringan. Rumput-rumput yang merangas kepanasan dan kehausan.

“Masih seperti dulu”.

Tidak terasa tiga tahun aku meninggalkan tempat ini. Sebuah keterpaksan yang membuatku meninggalkan tempat ini. Pun sebuah keterpaksaan pulalah yang menyebabkan aku menginjakkan kaki kembali kesini. Sungguh sesuatu yang sangat tidak kuharapkan.

Kami terus berjalan. Kurasakan udara yang mulai menghangat, aku yakin matahari telah sepenggalah diatas kami. Matahari yang mengikis kabut diatas lereng, aku dapat merasakan panas itu. Terik!!

Kupandangi wajah-wajah disekelilingku. Wajah-wajah lelah. Tangan-tangan kekar mereka silih berganti memegangiku. Dua belas manusia plus diriku. Beberapa dari mereka begitu kukenal, namun lebih banyak yang tidak kukenal.

Kami berjalan mengikuti jalur setapak yang sempit. Jalan yang sudah sangat kukenal. Jalan setapak yang penuh semak belukar disetiap sisinya. Sudah lima tahun. Mengapa masih seperti ini. Hatiku begitu sesak. Masih seperti dulu, tidak ada yang berubah. Bukankah seharusnya tempat ini sudah lebih baik daripada lima tahun lalu.

Aku memandang langit. Putih. Kabut diatas lereng mulai menghilang. Gumpalan-gumpalan awan berlari dan menari. Seperti mengajakku bernyanyi. Aku tersenyum. Jiwaku beku. Aku tidak dapat bernyanyi lagi. Suaraku hanya tinggal puing-puing yang dihempaskan angin. Hilang.

Aku rindu. Rindu akan gersangnya ladang tempat diriku berkebun. Rindu pada teriknya matahari disiang hari yang membakar kulit-kulit kami. Rindu akan sungai-sungai yang senantiasa tidak berair bila kemarau tiba, tetapi berlimpah ruah bila hujan datang. Aku rindu. Rindu akan bongkahan-bongkahan tanah yang merekah karena kekeringan. Ah….aku merindukan semuanya. Guratan-guratan kejadian itu seperti sebuah memori yang terputar kembali dihadapanku. Aku dapat melihatnya. Kini diriku seperti manusia asing. Asing ditempat yang tidak asing dalam hidupku.

Sudah dekat…..

Kami terus berjalan bersama matahari yang kian meninggi, bersama kabut-kabut yang telah menghilang termakan angin. Keringat mulai membasahi tubuh kami. Lelah, haus, gerah, semuanya melebur menjadi satu. Hatiku bergetar, kasihan mereka. Kini aku tidak merasakan semua itu. Jiwaku kering. Perasaanku telah musnah, hancur berkeping-keping ditelan kebuasan manusia.

Ah….biarlah, semuanya telah berlalu.

Sudah semakin dekat. Aku tidak sabar untuk segera beristirahat. Jiwa ini sudah terlalu lelah. Teman-temanku yang sedari tadi memegangiku pun sudah semakin lelah, namun mereka harus tetap bersabar dan bergantian memegangi tubuhku.

“ Ayoo…..Cepatlah berjalan” aku menyemangati teman-temanku

Aku ingin tahu, apakah keluargaku masih seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Seperti sungai-sungai yang mengering. Seperti bongkahan-bongkahan tanah yang merekah kehausan. Ya Allah….aku ingin tahu.

Beberapa anak kecil berlari melewati kami. Mereka memandangku sesaat, lalu kembali berlari sambil tertawa. Tanpa alas kaki, bertelanjang dada. Anak-anak itu masih seperti dulu. Seperti diriku sewaktu kecil, berlari-lari main perang-perangan. Cepatlah berjalan! Aku ingin melihat semuanya.

Kami berhenti. Matahari semakin sempurna diatas kami, Manusia-manusia terbelakang dan terpinggirkan berkumpul menyambut kehadiran kami, terharu!. Kini, aku kembali bersua dengan mereka, kembali bersatu dalam keringnya bumi tempat kami berpijak. Bersua dengan keluargaku yang selalu terhimpit ekonomi dan keadilan. Bersua dengan sanak famili dan tetangga yang terkungkung dalam kemiskinan dan diskriminasi. Bersua dengan teman-teman yang semakin terpinggirkan dalam kehidupan dunia yang gemerlap.

Ternyata mereka masih mengingatku. Masih seperti dulu. Ketika aku meninggalkan desa ini dengan air mata untuk sebuah niat mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri. Menjadi buruh manusia. Mencari secercah cahaya untuk keluarga dan desa.

Jiwaku tersenyum, bukan ragaku, karena aku tidak mampu lagi tersungging dengan bibir. Manusia-manusia laknat itu telah merampasnya dariku.

Disinilah kesejukan hati dapat kutemukan. Dalam cinta dan kasih manusia. Hidup dalam lindungan dan keadilan Allah swt. Aman dari kerakusan dan kebuasan manusia-manusia binatang.

Tetapi…..mungkinkah akan terjadi. Bukankah keadaanku kini telah berubah. Aku bukan lagi seorang gadis desa yang penuh dengan kelembutan. Aku bukanlah perawan yang dapat menjaga jiwa dan perasaannya sendiri. Aku sudah berubah. Duniaku sudah berubah.

Ya Allah, mungkinkah aku bersatu dengan mereka semua, dengan sawah yang mengering, dengan rumput-rumput yang merangas kehausan, dengan tangis kelaparan dan kehausan. Mungkinkah…………..

Hembusan angin semakin kencang menerpaku. Aku tersadar. Dingin.

Kulihat ayah, ibu dan adik-adikku, menangis memeluk tubuh kakuku. Ayah merangkul dan membawaku kedalam liang lahat yang telah disiapkkan untukku.

Akan tetapi aku tersenyum. Melihat matahari yang tersenyum. Awan-awan yang ramai menari diatas cakrawala biru. Teman-teman yang ikut dan memegangi tubuhku sedari tadi juga ikut tersenyum dan gembira, karena sesaat lagi tugas mereka selesai dan akan segera kembali ketempat mereka masing-masing, di atas bumi yang lebih baik dari desaku ini. Terimakasih.

Kupandangi ayah, ibu dan adik-adikku untuk yang terakhir kali. Air mata membasahi wajah mereka. Pun awan dilangit, mulai ramai berkumpul, angin semakin kencang menjerit memanggil awan-awan. Untuk ikut menyaksikan dan menangis bersama.

Aku tersenyum. Apakah masih seperti dulu. Kering membara. Hangus membakar. Tetapi hari ini, kulihat matahari ikut tersenyum sambil berlari lincah bersembunyi dibalik kumpulan awan yang mulai menghitam. Sesak.

Angin semakin kencang, seluruh awan-awan telah berkumpul dan siap menjalankan perintah Allah. Menangis bersama penduduk desa yang membutuhkan kasih sayang dan cinta.

Aku tersenyum ternyata tidak seperti dulu lagi. Titik-titik air mulai berjatuhan bersamaan dengan tidurnya diriku dalam liang lahat. Damai. Tanah mulai merapat. Tangisan manusia semakin meninggi bersatu dengan tangisan langit. Awan semakin menghitam, sedih. Tak mampu lagi menahan air mata. Air mata langit berjatuhan membasahi bumi. Deras, bersatu dengan tanah merapatkan bumi dan tubuhku.

Aku tersenyum. Ternyata tidak seperti dulu lagi. Allah maha adil.

Semuanya kan kembali…..kembali dalam dunia yang tak pernah kita lihat dengan hati, jiwa dan perasaan kita.

Memories 2001

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s