Tragedi Bumi Flora, Merenggut Kesadaran Suamiku

Standard

Aisyah, harus banting tulang menyekolahkan kedua anaknya. Berharap pada suami tidak mungkin lagi. Sebab, sejak tragedi penembakan di PT Bumi Flora, 2001 silam. Suaminya telah hilang kesadaran. Seperti apa kisahnya? Warga Ranto Peureulak, Kabupaten Aceh Timur ini, menuturkan segala penderitaannya.

Peristiwa berdarah itu, menewaskan sedikitnya 31 warga setempat. Suami saya, hilang kesadarannya. Mungkin, inilah salah satu cara Allah SWT untuk menguji kesabaran saya. Bayangkan, saat hasil panen kebun sawit yang telah saya petik untuk dijual, selalu saja dicuri orang. Tapi, kesabaran saya belum juga hilang, walau saya harus bersusah payah untuk mencari uang, menghidupi keluarga. Kenapa? Karena saya yakin, masih ada Allah SWT yang menolong saya.

Suami saya bernama T. Rizal (53). Dia tidak mampu lagi bergerak sempurna. Jangankan untuk berdiri, berbicara saja sudah sangat sulit. Bahkan untuk makan, saya harus menyuapinya setiap hari. Bukannya saya tidak mencintainya, tapi saya masih terlalu sakit bila mengingat kembali kejadian di Bumi Flora, enam tahun silam.

Dulu Bang Rizal (sang suami), adalah seorang Kepala Gudang di PT Perkebunan Bumi Flora. Sedangkan saya membuka toko kelontong di daerah tersebut. Hitung-hitung untuk menambah penghasilan suami yang masih rendah. Apalagi anak-anak saya sudah duduk di bangku SMU. Alhamdulillah usaha kelontong tadi berjalan lancar, walau saat itu konflik kian memanas di Aceh Timur.

Kini, semuanya sirna. Usaha kelontong saya hilang tak berbekas, pekerjaan suami saya juga hilang. Bahkan, suami saya menderita penyakit kronis yang saya sendiri tidak tahu apa penyakitnya.

Saat itu Agustus 2001. Saya dan beberapa warga Bumi Flora akan berbelanja ke Kota Peureulak untuk memenuhi kebutuhan dapur selama satu bulan. Kami pergi menggunakan kendaraan perusahaan. Tepat di Afdeling IV, kendaraan yang kami tumpangi tiba-tiba dihentikan oleh pihak aparat. Kami disuruh turun, berjongkok dengan kedua tangan diletakkan dibelakang kepala.

Kaum laki-laki dipisahkan dari wanita dan anak-anak. Beberapa warga di Afdeling IV yang berada didalam rumah juga disuruh keluar rumah mereka dan dibariskan.

Kebetulan saat itu, Bang Rizal suami saya sedang berada di daerah Afdeling IV. Lalu, pihak aparat dengan senjata lengkap bertanya. “Mana yang orang Aceh dan yang orang Jawa?” Karena sebagian besar warga Bumi Flora adalah orang Aceh. Entah bagaimana, tiba-tiba saja aparat membabi buta, memuntahkan seluruh isi senjata ke arah kami. Juga ke arah suami saya dan teman-temannya yang sedang berjongkok.

Sontak suami saya berusaha menyelamatkan diri, begitu juga dengan saya. Kami berlari sekuatnya, menghindari muntahan peluru yang mengejar nyawa. Hanya Asma Allah yang terlantun dari mulut. Saya berharap keselamatan suami dan warga lainnya. Akhirnya saya bersembunyi di antara semak-semak dan pohon, menunggu hingga kondisi benar-benar aman.

Empat jam berlalu, hening dan sepi. Beberapa warga mulai keluar, melihat situasi dan keadaan. Saya tidak mampu bergerak, air mata saya membasahi bumi, menangis bersama langit. Sadar suami saya selamat, akhirnya saya berjalan ke tempat lokasi.

Setelah kejadian itu, ternyata masalah tidak berhenti sampai disitu. Kami dirundung kesusahan yang luar biasa. Kelaparan tiada bahan makanan dan tidak ada perlindungan. Rasa takut yang menjadi-jadi, membayangi seluruh warga. Mungkin rasa takut yang berlebihan inilah, yang menyebabkan suami saya trauma.

Padahal, sebelumnya suami saya adalah laki-laki yang cerdas. Beliau bisa berbahasa Inggris dengan baik. Namun, semuanya telah berlalu. Suami saya hanya bisa meringkuk duduk, tidur dan diam di atas tempat tidurnya. Tubuhnya senantiasa bergetar, untuk berjalan harus dipapah anak atau saya.

Saya merasa, dia sakit karena trauma yang berkepanjangan. Sejak kejadian berdarah itu, suami saya tidak mampu lagi bekerja. Saya harus banting tulang menghidupi keluarga, membiayai sekolah dan kuliah anak-anak. Namun, masih juga orang-orang berbuat zalim kepada kami. Kebun sawit, sering dijarah orang.

Terkadang saya membawa suami ke kebun sawit di pedalaman Ranto Peureulak. Maklum, kalau di rumah terus, siapa yang menjaganya. Jika dia makan, siapa yang akan membantu, jika dia buang air besar siapa yang memapahnya, jika dia jatuh siapa yang akan membangunkan. Karena suami saya memang sudah tidak bisa melakukan apapun lagi.

Rasanya, hingga saat ini saya belum mampu memaafkan mereka yang telah merenggut kebahagiaan dan kehidupan normal suami saya, ayah dari anak-anak saya. Kami begitu menderita akibat ulah mereka. Hanya Tuhan yang tahu, bahwa keluarga kami sangat tersakiti.

Saya berharap, suatu saat, Allah SWT akan memberikan keadilan dan kebahagian, atas semua penderitaan yang sedang kami jalani. Ya Allah, tunjukkanlah mukjizatMU kepada suamiku. Beri dia kesempurnaan seperti sediakala. Amin.***

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s