Mengemis Bukan Keinginanku

Standard

Ramlah (45), tidak mampu menahan air matanya saat menceritakan perjalanan pahitnya menjadi pengemis di Banda Aceh. 

Menjadi pengemis bukanlah tujuan hidup saya, apalagi bila menjadi sebuah cita-cita. Walau mungkin orang lain memandang diri saya sebagai wanita hina, pemalas yang tidak mau bekerja. Tapi jujur, saya sangat tersiksa dengan pekerjaan ini. Meminta-minta di pinggir jalan. Berpanas-panas di bawah matahari dan berbasah-basah disaat hujan.

Saya datang dari Lhokseumawe, ke Banda Aceh enam bulan setelah tsunami menerjang Aceh. Saat itu, saya sudah bercerai, karena bang lem (suami Ramlah) telah menikah dengan wanita lain.

Sempat terpuruk dalam hidup, selain karena ditinggal suami, saya juga menyadari bahwa saya orang miskin yang bodoh. Tidak bisa berbuat apa-apa selain mengurus keluarga dan anak. Di Lhokseumawe saya menyewa rumah. Namun rumah tersebut juga hilang ditelan tsunami. Sehingga saya benar-benar menjadi manusia miskin. Tidak ada rumah dan tempat b+erlindung lagi.

Sadar diri saya orang kampung yang tidak berpendidikan, apalagi banyak kerabat yang memancing saya untuk ke Banda Aceh karena mereka bilang banyak pekerjaaan dengan gaji besar, maka naluri hidup saya kembali muncul setelah sempat menghilang karena dicerai. Apalagi kedua anak saya lebih memilih tinggal bersama bapaknya dari pada tinggal bersama saya sebagai ibunya.

Hari pertama di Banda Aceh, saya tidur di bekas-bekas reruntuhan penjara Keudah. Karena saya tidak tahu harus tidur dan menginap dimana. Siang harinya saya menawarkan diri dan mencari pekerjaan kepada orang-orang. Pekerjaan apapun saya mau asalkan bisa hidup.

Alhamdulillah, saya diterima bekerja di salah satu kantor UNDP. Sebagai tukang bersih-bersih. Dari gaji tersebut, saya menyewa sebuah kamar di daerah Peuniti dengan harga 250 ribu rupiah per bulan.

Namun, setelah satu tahun setengah, saya diberhentikan dengan alasan yang saya sendiri tidak tahu. Namun saya pasrah. Saya mencari pekerjaan di tempat lainnya untuk membiayai hidup dan membayar sewa kamar setiap bulannya.

Sehari, seminggu, bahkan berbulan-bulan saya menawarkan diri untuk diterima bekerja ternyata tidak berhasil. Dalam masa-masa tersebut saya hanya bisa menangis di rumah. Apalagi uang yang saya kumpul selama bekerja semakin hari semakin berkurang.

Rasa bingung, takut dan was-was sering menghantui saya. Bagaimana tidak, saya orang bodoh, tidak sekolah, bagaimana mungkin bisa memperoleh pekerjaan. Saya menjadi panik. Lalu saya bermunajat kepada Allah agar memberikan kemudahan langkah dan rezeki untuk saya. Karena saya takut salah langkah.

Suatu hari seusai berbelanja di pasar Aceh, saya duduk di teras mesjid Raya Baiturrahman. Tanpa sengaja saya melihat beberapa pengemis yang berjejer di pintu masuk Mesjid Baiturrahman.

Entah mengapa, hati saya bergetar. Ada apa gerangan saya tidak tahu. Saya segera pulang, seperti ada yang menyuruh saya untuk menyiapkan pakaian. Walau hati ini terus menerus dag dig dug, namun saya tidak bisa berhenti.

Besoknya, saya resmi menjadi pengemis di Banda Aceh. Hari pertama saya sempat menangis, merenungi nasib yang harus saya jalani. Mengapa menjadi seperti ini. Saya ingat kembali masa-masa indah bersama suami dan anak-anak. Rasanya tidak mungkin saya menjadi pengemis.

Namun, karena ini semua sebuah keterpaksaan yang harus dijalani, saya mulai bisa menikmati. Walau terkadang rasa sedih kembali memuncak dan menitikkan airmata. Apalagi bila berjumpa dengan orang-orang yang yang pernah saya kenal.

Saat itu saya hanya berharap agar mereka mau memberikan sebuah pekerjaan, walau hanya sebagai seorang pembantu, atau apalah, yang penting saya bisa hidup dan mendapatkan uang halal. Namun ternyata mereka tetap tidak peduli. Membiarkan saya duduk di bawah lampu merah di Simpang Lima.

Saya tidak ingin terus menerus menjadi pengemis, karena itu tidak mungkin. Itu tekad, saya ingin mengumpulkan uang. Tapi sepertinya semua keinginan dan cita-cita ini tidak mungkin lagi. Karena sekarang sudah banyak tulisan yang melarang memberi sedekah untuk pengemis.

Saya bingung dan frustasi. Bagaimana hidup saya nanti, saya tidak tahu. Hanya Allah yang mengetahui segalanya. Saya ingin hidup, bukan untuk menjadi pengemis.

Pada tahun 2008 lalu, Ramlah hanya bisa menangis, saat Banda Aceh mengeluarkan peraturan tentang larangan beraktifitas bagi para pengemis. kemanakah ia harus mengadu?????

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s