Dituduh Dukun, Aku Diceraikan

Standard

Awalnya, sebagai guru aku mengajar di Kota Sabang. Tapi karena ikut Bang Din (samaran-red) suamiku, maka aku pindah ke Banda Aceh. Tahun pertama pernikahan, kami menumpang tinggal di rumah orang tua Bang Din.

Alhamdulillah dari sedikit tabungan dan penghasilan Bang Din sebagai karyawan salah satu perusahaan nasional di Banda Aceh, kami kemudian membeli sepetak tahah. Dengan uang kredit dari bank kami membangun rumah di tanah tersebut.

Di rumah itu hidup kami sangat bahagia sampai kami dikaruniai tiga orang anak. Kebahagiaan itu semakin lengkap saja, karena ekonomi keluarga kami pun terus membaik. Bang Din pun kemudian membuka usaha yang juga berkembang pesat.

Tapi ternyata kebahagiaan itu tidak selamanya milikku. Saat tsunami menerjang Aceh pada 26 Desember 2004, semua usaha Bang Din ludes. Ketiga anak kami juga hilang dalam ganasnya tsunami. Setelah musibah itu saban hari aku hanya bisa menangis meratapi ketiga buah hatiku.

Aku benar-benar tidak bisa melupakan mereka. Sebulan lebih aku murung memikirkan ketiga anakku itu. Apalagi Afdal yang saat musibah itu baru berumur satu tahun. Terkadang aku menyalahkan diriku sendiri mengapa pada saat gempa aku menitipkan anak-anakku di rumah orang tua Bang Din, padahal rumah itu sangat dekat dengan laut.

Aku benar-benar menyesal karena hari itu anakku tidak mau tinggal di rumah neneknya, tapi aku tetap menitip mereka disana setelah gempa, sehingga saat tsunami tiba mereka jadi korban. Seandainya aku membawa mereka serta bersamaku mungkin akan lain ceritanya.

Setelah tsunami aku hanya tinggal berdua bersama Bang Din, kami tinggal di barak bersama para pengungsi lainnya. Meski rumah kami masih ada, tapi kami tidak pulang ke rumah, aku benar-benar trauma. Apalagi rumah itu akan sangat sepi tanpa anak-anak. Aku sangat sedih bila kembali ke rumah itu.

Namun, dibaraklah petaka itu hadir. Sedikit demi sedikit sikap Bang Din berubah. Ia sering pulang malam, bahkan menjelang pagi. Jika kutanya selalau dijawab pulang kongko-kongko bersama teman-temannya karena bosan di rumah tidak ada anak-anak. Namun firasatku berkata Bang Din mulai melirik wanita lain.

Menghadapi sikap Bang Din aku tetap bersabar. Apalagi saat itu aku sedang hamil. Mungkin nanti dengan kelahiran anak kami dia akan berubah. Aku pun akhirnya melahirkan anak perempuan yang kami namai Rina. Tapi meski sudah ada buah hati di rumah, Bang Din tidak juga berubah.

Ia malah tidak pernah lagi menyentuhku sebagai istrinya, padahal sebagai seorang istri aku masih sangat mengharapkan belai kasih sayang dan sentuhan dari suami. Bukan hanya itu setiap makanan yang kuhidangkan juga tidak dimakan.

Seminggu setelah melahirkan, aku mendengar kabar dari sepupuku bahwa ibu mertuaku juga mulai memusuhiku tanpa sebab. Yang menyakitkan dan aku sedihkan, ibu mertuaku memaksa Bang Din untuk menceraikanku. Aku menangis. Apa salahku selama ini hingga ibu mertuaku berkata seperti itu. Padahal selama ini aku selalu berbuat baik dan mendengarkan setiap kata-kata beliau.

Demi membesarkan Rian, aku masih tetap berpikir positif. Aku harus tetap menjadi istri Bang Din. Biarlah suamiku itu tidak mau mendekatiku, tidak mau bermesraan denganku dan tidak mau memakan apa yang aku masak, yang terpenting aku harus membesarkan Rian. Karena bagaimanapun Rian membutuhkan seorang ayah.

Batinku benar-benar tersiksa, hidup di rumah bagai hidup di belantara. Apalagi setelah agu digosipi sebagai dukun yang memiliki ilmu santet untuk mempengaruhi orang, termasuk menjampi-jampi suamiku.

Tak tahan dengan keadaan seperti itu, aku meminta penjelasan dari Bang Din atas sikapnya itu. Namun bukan jawaban yang kuterima melainkan tamparan. Saat itulah aku diceraikan suamiku dengan tuduhan aku dukun yang main pelet.

Dengan perasaan yang sangat tidak menentu, aku tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya kami resmi bercerai di Mahkamah Syariah Banda Aceh. Aku pun mencoba untuk menerima dengan ihklas perceraian ini. Biarlah aku membersarkan Rina sendirian dengan penghasilanku sebagai guru SD.

Aku tidak mengharapkan apa-apa lagi dari Bang Din, mantan suamiku yang kini sibuk dengan istri mudanya. Biar ini jadi pelajaran berharga bagiku. Pasti semua ini ada hikmahnya.***

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s