Anakku Binal, Cucuku Ditelantar

Standard

Saya adalah seorang ibu enam anak. Suami meninggal dunia lima tahun lalu karena penyakit kangker akut yang dideritanya. Sejak saat itu praktis saya harus mendidik anak-anak saya yang dua diantaranya masih duduk dibangku SMU.

Kini kedua anak saya itu telah duduk di bangku kuliah. Anak pertama saya perempuan. Ah, bila mengingatnya terkadang seperti membuka luka lama dihati saya yang belum dapat saya hilangkan. Rasa sedih, kecewa dan sakit akan kelakuan dan perbuatannya telah mencoreng saya sebagai seorang guru.

Akibat perbuatan dan ulah anak pertama saya inilah membuat saya harus mengurus dan mendidik serta membesarkan kedua cucu saya yang masih kecil-kecil karena ditelantarkan oleh ibunya, yaitu anak saya sendiri.

Setelah menjanda sejak tahun 2002, beban mendidik anak dan membiayai kuliah dua orang anak sendirian ditambah dua orang cucu seakan membuat garis penderitaan saya tidak pernah berhenti. Anak sulungnya sebut saja Rani, yang sering berbuat ulah dan berkelakuan menambah beban saya, yaitu meninggalkan dua orang anak-anak yang masih kecil pada saya, karena ia menikah dengan pria lain.

Sebagai seorang nenek, tentu saya tidak tega melihat cucu sendiri menderita, walau sedih dan sakit itu ada, namun saya harus tetap sabar. Bisa jadi ini cobaan dari Allah untuk saya. Namun, bagaimanapun saya toh harus tetap menjalani hidup ini.

Karena gaji seorang guru sangat kecil dan tidak mencukupi. Apalagi saya harus membiayai kedua anak saya yang masih kuliah di Banda Aceh, serta ditambah dua orang cucu yang masih membutuhkan biaya banyak. Terkadang untuk mencukupi isi dapur, saya harus bangun pagi cepat-cepat. Membuat penganan untuk dijual disekolah. Setelah selesai membuat penganan, saya mengurus kedua cucu. Setelah itu barulah saya berangkat mengajar dengan sekantung plastik besar penganan anak-anak sekolah.

Terkadang rasa sedih itu timbul, rasanya tidak ada seorang guru yang harus pontang panting mencukupi hidup seperti saya, selain harus mengurus cucu juga harus mencari penghasilan lain untuk mencukupi hidup. Beban itu semakin bertambah jika banyak masalah yang tidak terselesaikan disekolah.

Anak sulung saya, Rina, meninggalkan dua cucu tersebut telah menikah dengan seorang pemuda (suami pertama diceraikan tanpa sebab jelas) dan tinggal dirumah keluarga pemuda tersebut. Pihak keluarga suami barunya tidak menerima kehadiran ketiga bocah yang tidak bersalah ini. Sehingga mau tidak mau saya mengurusnya.

Entah bagaimana nasib mereka (cucu-red) jika saya tua nanti ataupun saya sudah dipanggil oleh Allah swt, karena mereka masih kecil-kecil. Saya tidak tahu bilang, hanya Tuhanlah yang tahu. Hanya doa yang selalu saya panjatkan, semoga Rina dapat sadar akan kesalahannya karena menelantarkan anaknya sendiri.

Rina memang tidak pernah perduli dengan keadaan dan perkembangan anaknya sendiri. Ia hanya mengurus diri sendiri, mempercantik diri dan jalan-jalan yang tidak ada manfaat dan menghambur-hamburkan uang. Imej Rina sebagai wanita nakal sangat menyakitkan saya yang berprofesi sebagai seorang pendidik. Seolah-olah saya gagal dan tidak mampu mendidik anak sendiri, padahal semua anak saya telah saya tanamkan agama dan pemahaman hidup sejak kecil.

Saya tidak tahu, mengapa Rina menjadi liar seperti itu. Setiap berita yang masuk ketelinga saya selalu mengatkan bahwa Rina pengrusak rumah tangga orang lain. Main laki-laki. Gonta-ganti pacar walau sudah punya anak dan suami. Mungkin inilah yang menyebabkan Rina dicerai oleh dua suaminya terdahulu.

Saya tidak yakin apakah suaminya yang sekarang bisa bertahan dengan Rina. Karena Rina terkenal kasar, judes dan mulutnya kotor. Suka main maki. Entahlah, saya tidak ssanggup lagi memikirkannya.

Parahnya, Rina bukan hanya meninggalkan dua orang anak yang tidak jelas statusnya itu, tetapi juga banyak meninggalkan hutang yang harus saya bayar. Sudah banyak tingkah Rina yang mencoreng keluarga di depan umum. Terkadang Hanif dan Rizal (adik Rina), tidak mau pulang bila liburan kuliah tiba. Paling hanya lebaran puasa. Mereka malu dengan tingkah kakaknya yang binal.

Namun Alhamdulillah, para tetangga dan orang-orang yang mengenal saya tidak pernah menyalahkan saya, justru mereka turut prihatin dengan nasib saya yang selalu ditimpa maalah dari ulah Rina.

Satu yang patut saya disyukuri, walau banyak masalah yang mendera, saya masih dapat membedakan masalah kerja dan keluarga. Saya harus tetap professional dalam mengajar. Buktinya baru-baru ini saya kembali dikirim oleh Dinas Pendidikan NAD untuk mengikuti Simposium Guru Berprestasi dan Teladan untuk Tingkat Nasional.

Saya berharap, semoga Rina dapat insaf dan mau mengurus kedua anak yang ditelantarkannya itu. Bagaimanapun saya sudah tua dan sebentar lagi akan pensiun. Saya tidak sanggup lagi mengurus cucu dengan segala tetek bengeknya. Dari yang berantem, menangis, minta jajan, tidak mau makan, sakit, semuanya terkadang membuat saya jatuh sakit dalam beberapa hari. Sebagai seorang ibu, saya selalu berdoa semoga Rina cepat sadar dan kembali ke rumah untuk mengurus anak-anaknya.***

One thought on “Anakku Binal, Cucuku Ditelantar

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s