Aku Hina Dimata Empat Anakku

Standard

Mungkin bila orang melihat diriku mereka tidak akan percaya bila usiaku masih 49 tahun. Terkadang seseorang mengira diriku ini seorang nenek yang sudah bercucu, karena penampilanku yang terlihat sangat tua. Begitu pula dengan keadaan suamiku. Penampilan kami seperti sepasang kakek dan nenek. Apalagi kami semakin sering sakit-sakitan.

Semula aku dan suamiku hidup bahagia. Bahkan sangat bahagia dengan tingkat ekonomi yang lumayan. Kami dikaruniai 4 orang anak yang semuanya laki-laki. Untuk menghidupi keluarga, suamiku berjualan ikan dipasar Penayong. Sedangkan aku berjualan sayur, juga di Peunayong.

Satu persatu anak-anak kami besar. Kami menyekolahkannya ditempat yang terbaik menurut kami. Bahkan anak pertama, kusekolahkan di salah satu Pesantren terkenal di Aceh yaitu Bustanul Ulum Langsa. Anak laki-laki kami yang kedua sekolah di Banda Aceh, juga disekolah favorit. Hidup kami berjalan normal dan sangat bahagia hingga kami bisa membeli sebuah mobil bekas. Aku dan suami juga membuat rumah kost untuk disewakan kepada para mahasiswa.

Namun kebahagian itu entah mengapa sedikit demi sedikit terkikis dari kehidupanku. Saat satu persatu anak-anakku tumbuh remaja, perubahan hidup dan pergaulan mereka sangat mengkhawatirkan. Kebahagiaan yang selama ini kami pupuk, ternyata tidak mampu aku selamatkan. Semua ini tidak lain karena ulah keempat anak-anakku itu.

Saat liburan dari Pesantren di Langsa, anak pertamaku ternyata telah menghamili anak gadis orang, menyebabkan dia dikeluarkan dari pesantren. hatiku sakit sekali, padahal anak pertamaku tersebut sebagai harapan keluarga dalam membmbing hidup kami. Aku begitu malu, belum lagi masalah biaya jutaan rupiah yang terbuang sia-sia selama dia dipesantren.

Akhirnya anak pertamaku terpaksa menikah diusia muda, 18 tahun. Untuk menghidupi istri dan anaknya aku terpaksa banting tulang bersama suamiku. Karena dia belum ada kerja.

Sebulan setelah pernikahan mendadak anak pertamaku, mobil yang kami miliki terpaksa dijual. Mobil yang sangat aku sayangi tersebut terpaksa dijual untuk biaya ganti rugi keluarga korban, karena anak laki-laki keduaku menabrak seorang mahasiswa yang sedang naik sepeda motor. Kami terpaksa mengganti sepeda motor korban dan biaya ganti rugi karena korban meninggal dunia.

Walau terasa kesal, namun bagaimanapun aku harus tetap melindungi anakku dari penjara, lebih baik aku kehilangan mobil dari pada anakku dipenjara, apalagi dia sudah kelas dua SMU. Setelah itu kehidupan kami mulai normal kembali, walau aku dan suamiku merasa kehidupan kami seperti digerogoti oleh keempat anakku.

Karena, baru beberapa hari kami hidup tenang, anak keduaku tersebut kembali bermasalah. Dia ditangkap polisi karena membawa ganja. Rasa malu sudah tidak mampu kutahan, aku tidak berani lagi keluar rumah untuk bersilaturahmi. Pagi-pagi buta aku dan suamiku cepat-cepat kepasar, agar tidak berjumpa langsung dengan orang ditempat aku tinggal, walau kami sadar, bagaimanapun lama-kalaman aib anak-anakku pasti akan terbongkar juga.

Kehidupanku semakin parah, anak ketigaku berhenti sekolah karena memaki-maki gurunya. Sedang anak kempatku juga tidak mau sekolah karena aku sudah tidak mampu lagi membeli playstation permintaannya. Semua anak-anakku mengancam bila tidak dibelikan apa yang mereka minta.

Akhirnya aku dan suamiku jatuh sakit. Bahkan terlalu sering. Aku tidak sanggup lagi berjualan, suamiku masih tetap berjualan untuk makan sehari-hari. Sedang keempat anakku semakin menjadi-jadi. Bahkan mereka sering mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas untuk kami berdua sebagi orang tuanya. Suamiku pernah dimaki anak-anak karena miskin dan tidak bisa mencari uang. Bahkan aku pernah dibilang anjing oleh anak ketigaku.

Sakit sekali, terkadang didepan anak-anak kost, anak-anakku tidak segan memarah-marahiku. Uang yang kusimpang selalu hilang, bahkan emas yang kusimpang semuanya hilang satu persatu dicuri anakku. Kehidupanku semakin hancur lebur saat anak keduaku keluar dari penjara. Cukup sudah penderitaan aku dan suamiku.

Satu persatu anak kost dirumah kami mulai pindah, karena mereka juga terlibat pertengkaran dengan anak-anakku. Kini semua anak-anakku sebagai pemakai obat-obatan. Yang paling kecil (SMP) sudah berani menghisap ganja didepan diriku, sedang yang lain sudah biasa dengan shabu-shabu. entah darimana mereka dapat uang.

Aku merasa seorang ibu yang paling malang di dunia, selain keempat anak-anakku gagal melanjutkan sekolah, kini harga diriku pun sudah tidak ada lagi didepan anak-anakku.

Aku seperti tidak sanggup berkata dan berbuat, aku terlalu lemah begitu juga dengan suamiku. Mungkin inilah kesalahanku, begitu juga dengan suamiku. Kami terlalu lemah dalam mendidik anak-anak kami. Mungkin inilah kesalahan kami paling fatal, gagal mendidik anak-anak kami menjadi manusia.

Semuanya aku serahkan kepada tuhan. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku dan suamiku telah menjadi bulan-bulanan keegoisan dan ketidakmengertian keempat anak-anak kami. Aku berharap semoga anak-anakku dapat kembali menjadi anak-anak yang berbakti. Terkadang aku menangis dan cemburur melihat anak-anak tetangga yang begitu patuh dan menghargai kedua orangtuanya.***

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s