Aku Kehilangan Seluruh Anakku

Standard

Nama saya Rusmiati. Diusia yang 55 tahun ini, rasanya menimang cucu adalah harapan semua orang. Begitupun saya, rasa itu begitu menggebu-gebu. Apalagi bila melihat teman-teman seusia saya yang sudah menimang cucu, rasa sedih di hati tidak mampu saya sembunyikan.

Suami saya, Abah, (58 tahun), merupakan tempat saya mencurahkan kesedihan ini sepanjang hari. Sepinya rumah tanpa jerit tangis anak kecil kembali mengingatkan saya pada ketiga anak saya yang telah tiada.

Anak pertama saya, Saiful Ilham, meninggal saat berusia dua tahun. Kepergian anak pertama saya ini mungkin tidak terlalu menyesakkan hati, karena dua anakku masih ada, yaitu Muhammad Ilham dan Rahmat Ilham.

Hidup kami begitu bahagia, walau kami orang miskin, saya sebagai pembuat kerupuk emping dan suami sebagai penjahit baju namun kami masih dapat menyekolahkan kedua anak kami hingga kuliah.

Namun semuanya ditangan Allah. Hidup dan mati Dia yang mengatur. Muhammad, anak kedua saya meninggal diterjang peluru saat komplik mendera Aceh. Saat itu Muhammad merantau Ke Aceh Timur. Saya tidak tahu kesalahan Muhammad sehingga ia dihabisi aparat. Padahal dia seorang petani. Muhammad juga ramah dan lembut, jadi mustahil rasanya dia punya musuh.

Rasa sedih dan sakit dihati saya tidak hilang hingga hari ini. Padahal tidak lama lagi ia akan menikah. Seminggu lebih saya ngurung diri didalam kamar. Memandangi foto Muhammad.

Setelah itu tinggallah saya dengan suami dan Rahmat. Karena rasa takut yang berlebihan akan kehilangan anak lagi, saya terkadang mengekang rahmat untuk pergi jauh-jauh dari rumah. Saat itu ia masih kuliah PGSD di Banda Aceh.

Bila sore Rahmat belum pulang saya selalu khawatir dan was-was. Saya meninggalkan pekerjaan saya yang sedang membuat emping melinjo, menyuruh Abah suami saya untuk segera mencari dan menjemputnya. Walau terkadang Rahmat terlihat kesal karena setiap gerak langkahnya seolah-olah kami awasi. Tapi jujur, saya mengawasi bukannya ingin membatasi aktifitas Rahmat, tapi saya masih trauma dengan kepergian Muhammad anak kedua saya yang meninggal karena dibunuh.

Apalagi Rahmad tinggal satu-satunya anak saya. Memang saya terkesan bodoh, bahgkan tetangga saya mengatakan saya kejam dan tidak manusiawi, tetapi mereka tidak tahu keadaan saya. Mereka tidak merasakan kehilangan anak.

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Saat kuliah Rahmad memasuki Semester akhir, tanpa diduga tsunami menerjang Aceh. Pagi itu, seperti biasa Rahmat membantu temannya berjualan di pantai Lhoknga. Saya tidak merasakan firasat sedikitpun, kecuali Abah suami saya. Setelah gempa dasyat, Ia begitu gelisah, mondar mandir didalam rumah. “Rahmat mana,” katanya berkalai-kali.

Tiba-tiba ada suara gemuruh besar dari arah pantai, saya dan para tetangga mengira itu suara pesawat atau apa, karena begitu besarnya suara itu, ternyata air laut. Saya berlari tanpa arah mencoba menjauhi air laut yang meninggi. Lari sekencang-kencangnnya sambil bertakbir. Saya lupa dengan suami dirumah dah Rahmat di Pantai.

Satu jam berlalu, saat air laut surut, aku kembali kerumah. Ternyata suami saya masih hidup. Saat itulah saya tersentak. Tanpa sadar saya menjerit sekeras-kerasnya Rahmat!!, Rahmat anakku. Aku kembali berlari menyusuri sisa-sisa tsunami, mencari anak saya sambil menangis. “Rahmat, anakku. Dimana kamu nak?” tangisku saat itu.

Setelah seharian mencari bersama suami yang telah renta, akhirnya kami bertemu dengan Rahmat. Air mata ini jatuh luar biasa melihat jasad Anak saya yang sudah kaku. Rahmad telah meninggal. Semua anak saya meninggal. Aku menangis tak sadarkan diri. Terbayang wajah Saiful, Muhammad dan rahmat yang semuany telah kembali kepada Allah.

Kini, hari-hari saya lalui dengan suami tanpa anak. Saya dan suami sepakat untuk menyimpan semua foto-foto anak kami, karena tidak menimbulkan sedih yang berkepanjangan. Saya tidak sanggup. Apalagi kami sudah tua.

Saya masih membuat emping untuk membiayai kehidupan kami, dan sebagiannya ditabung. Sebagai pegangan bila kami sakit. Karena kami tidak tahu harus minta tolong pada siapa dengan kondisi kami seperti ini

Seperti kejadian sebulan yang lalu, suami saya sakit parah, untunglah ada tetangga dan family yang mau membantu membawa kerumah sakit. Ah, andaikan saja anak-anak kami masih ada….

Dalam Ramadhan kali ini, kesepian itu kembali menyergap saya. Kerinduan dan kesedihan selalu menyulut emosi dihati saya. Namun semuanya saya kembalikan kepada Allah, karena sudah ditakdirkan demikian. Mudah-mudahan ini menjadi kekuatan saya dan suami untuk lebih dekat kepada-Nya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s