Standard

DERUKU

Tuhan…

Kau pasti lebih tau

Kala hati yang risau menggerutu

Yang telah mencabik manfaat kesabaran.

Telah lupa hati ini

Kau pasti lebih tau Tuhan

Akan kaca yang tersungkur di rambu merah

Menggeliat lekat menjilat hidupku.

Sekarang bolehkah aku berkata?

Bahwa aku mungkin sudah tau

Akan goresan alam semesta

Bernyanyi siang dan malam

Tanpa dirisaukan judulnya.

Tuhan….

Bolehkah hati ini mensyukuri nikmat

Akan karunia cinta dariMu?

Akankah aku berdekap emas di batu ketam seram?

Atau aku boleh meminta bulatnya bulan?

Tuk kuberikan kepada bidadara impian?

Di alam fana ini,

Aku berkutik selangkah tanpa alas

Berpunggung sayap merpati yang terluka

Seribu abad lamanya berucap rindu

Kata lama terngiang di kilau pelangi pantulan

Tertumpah ruah membasahi jiwa musafir ini.

Di mana ya Tuhanku?

Tempat teduh yang terdongeng buatku?

Di dalamnya aku tak berduri,

Di dalamnya aku tak menggigil,

Di dalamnya aku tak menghujat,

Di dalamnya aku tak bermimpi mini.

Bila tabir serambi mengundangku,

Bak menanti setitis penantian maya.

Kuning mukanya berair kemanjaan

Cokelat matanya berkaca keramahan,

Ikal rambutnya bersisir keistimewaan,

Suara lembutnya berdesir kepastian,

Pandangannya berisi kerinduan.

Apakah kau teruntuk buat diri hina ini?

Danau mana yang ia janjikan buatku?

Kalau benar tak mungkin pungguk menjerit tertatih.

Keraguan sudah lama tenggelam

Di antara dua mata angin dunia.

Deritanya tak putus berkoma

Berkabut kegelapan suram

Membahana dalam kepiluan biru

Asa yang kuukir di relung malam kelam,

Agar terderu suara sampai ke tiang hatinya

Aku berharap balasan cahayanya ya Tuhan.

Sempilu berdetak dalam aliran cintaku,

Tika aku balik berhujam dalam

Akankah desah nafas menjadi mata air hakiki?

Atau menjadi darah amis membusuki diri?.

Aku tau sudah banyak yang berpaling,

Menganggap aku seperti kecoa tengik

Mengais tong sampah busuk di malam sunyi.

Mustahil aku bermetamorfosis kupu-kupu!

Mustahil bagi mereka!

Ya..

Karena kecoa sampai kapanpun akan tetap manjadi seekor kecoa bodoh,

Menjadi kecoa sialan

Tetap Kecoa kurang ajar

Memang Kecoa hitam dekil, bau

Ya! Kecoa tak tau diri

Kuulangi lagi! Kecoa dungu

Dasar! Kecoa munafik, pembohong, penjahat.

Mungkin seribu kali kebenaran membela mereka,

Yang tak mengerti gambaran rasa hati.

Seribu kali kebenaran buat mereka

Karena terbukti aku selalu terjatuh dalam tawa api.

Ya ….

Aku kecoa yang tak butuh kasih sayang dari siapapun

Sialan bagi mereka yang percaya pada bisik angin

Aku tak tahu mengapa.

Maafkan aku wahai jiwa….

Aku tak sanggup menyatat elegi cinta dalam agenda,

Karena aku tahu huruf di hatimu

Dan juga mereka yang tak percaya padaku,

Maafkan aku bidadara duniaku……

20 November 2007, Kualasimpang

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s