Mentari Dibalik jeruji

Standard

Sebuah kisah yang dihimpun dari berbagai sumber..

Matahari mulai menghangati bumi. Pancaran sinarnya tak hanya menyinari permukaan tanah, tetapi juga mencoba menembus jeruji-jeruji besi yang setia menemani kami. Seolah-olah berusaha untuk membuang pengap yang menyengat. Bau pesing manusia, bau keringat, bau mulut dan bau ketiak semuanya bersatu dan bertebaran menghiasi ruangan kecil seukuran tiga kali lima ini. Deburan ombak nun jauh jauh disana terdengar bergemuruh. Dipendengaranku ia lebih mirip sebuah alunan lagu keputusasaan.

Pemerintah memang sangat cerdik dalam membangun bangsal penahanan. Dengan meletakkan bagunan ditengah pulau yang jauh dari pulau-pulau lainnya akan menjamin para tawanan tidak akan ada yang berani kabur. Bila berani kabur juga, jika bukan senjata polisi pulau maka ikan-ikan buas yang akan menjadi ancaman serius yang lebih mematikan.

Aku membalikkan badan, lelah dan bosan. Ntah mengapa hari ini sipir belum juga membuka kunci jeruji yang memasung ini.

Seseorang beranjak malas, dari tempat tidur yang hanya beralaskan tikar lusuh. Dengan langkah gontai ia mendekati pintu. “Dreukkk… drekkk…. drukkk..!!!”. Tangan kekarnya menggoyang-goyangkan jeruji besi yang menghalangi kami dari dunia luar, seolah-olah akan merebohkannya. Mungkin maksud hati agar sang sipir segera membuka kunci jeruji ini. Mulutnya mengeram kesal. Ia membalikkan tubuhnya, kembali keperaduannya.

Kami memandangnya. Dengan keras ia merebahkan tubuhnya keatas dipan yang tidak layak digunakan lagi. Kami memandangnya, lelaki itu beranjak bangun kembali. Memandangi kami satu persatu. Semuanya diam. Sudah tahu apa yang dinginkan dan apa yang akan dilakukannya.

Lelaki yang kami kenal sebagai tuan besar, alias boss dibangsal kami ini mulai melepaskan satu persatu helaian kain yang melekat ditubuhnya. Bugil. Bau dekil yang sudah memenuhi ruangan pengap ini serasa semakin menganga. Bau yang keluar dari ketiak, selangkangan, lipatan kulit dan bulu-bulu yang bergelantungan ditubuhnya. Bau itu terasa menusuk-nusuk hidung kami yang berada disekitarnya.

Ia mendekati seorang pemuda yang baru seminggu bergabung bersama kami. Pemuda itu pun sudah faham akan tugas yang harus dilakoninya. Pemuda itu melepaskan seluruh pakaiannya. Aku memalingkan pandangan kearah lain. Mencoba menghirup udara segar sinar matahari yang masuk dari celah-celah jeruji. Beberapa diantara kami menutup kuping. karena suara desahan dua insan yang sedang menikmati surga dunia itu dapat membangkitkan syahwat terlarang. Syahwat yang mampu merubah otot dan syaraf manusia normal menjadi manusia yang aneh. Aneh karena keterpaksaan dan ketidakberdayaan…………..

Seorang sipir datang, tangannya menggenggam ratusan kunci. Ia memandang satu persatu wajah kami. Wajahnya tersenyum saat melihat dua orang lelaki dibelakang kami sedang bergumul bugil. Erangan-erangan mereka begitu jelas terdengar, seolah saling berkerjaran dengan debur ombak yang selalu menghiasi pendengaran kami. Sipir tersebut tidak mempedulikannya. Ia segera membuka pintu jeruji yang menyiksa kami, lalu berlalu. Membuka jeruji-jeruji lainnya yang berdampingan dengan kamar kami.

Aku dan teman-teman bangsal berhamburan keluar. Mencoba membuang rasa mual, penat, bau anyir dan amis yang telah menyelimuti kami sejak kemarin sore. Beberapa penghuni dari kamar lainnya ikut berhamburan memenuhi lapangan rumput yang berada tepat di depan setiap kamar mereka. Lapangan mungil seolah dipaksakan untuk menampung puluhan manusia.

Tidak lama kemudian, pemuda yang telah digagahi tuan besar tadi keluar dengan keringat yang membasahi wajah dan tubuhnya. Rambutnya acak-acakkan. Bagian depan celana kumalnya terlihat basah, mungkin bekas lelehan air mani yang tidak sempat mereka bersihkan. Dibelakang pemuda tersebut menyusul boss kami. Penampilannya tidak jauh berbeda dengan apa yang kami lihat pada pemuda berusia sembilan belas tahunan tadi. Bahkan lebih parah. Bahkan ia sepertinya lupa untuk mengancing celana lea yang dikenakannya. Karena bulu-bulu halus menyembul keluar dari celah reslitingnya.

“ teng……!!! teng…..”

Suara lonceng membuyarkan pandangan dan pikiran kami. Bergegas kami menuju ruang antrian yang sangat memuakkan. Hanya demi semangkuk bubur –lebih layak disebut makanan bebek- kami harus antri berjam-jam. Namun apa boleh buat. Karena makan siang pun tidak bisa diharap untuk dapat mengenyangkan rasa lapar yang selalu mendera kami.

Penjara memang sebuah kesialan. Manusia tidak lebih baik dari seekor anjing bila telah berada didalam jeruji besi. Karena jeruji besi belum tentu menjadikan manusia menjadi lebih baik. Malah bisa sebaliknya. Karena hukum rimba berlaku di dalamnya. Hak asazi manusia diabaikan. Semua hukum manusia dapat hilang seketika, bahkan hukum Tuhan sekalipun. Nyawa manusia dalam jeruji benar-benar tidka berharga.

Bila sebelum masuk seseorang tidak pernah merasakan ganja kering, minuman keras, sabu-sabu dan semua jenis obat-obatan terlarang. Justru dipenjara seseorang bisa menikmati itu semua. Bila semula ia hanya merasakan desah nafas seorang wanita, maka jangan heran bila keadaan itu akan berubah. Seorang-laki-laki akan jatuh cinta dengan laki-laki lain hanya untuk menyalurkan hasrat seksualnya. Parahnya, perbuatan laknat itu terkadang akan terus dibawa hingga ia keluar dari dalam jeruji.

________
Aku tersentak. Seorang sipir yang bertugas membagikan jatah bubur pagi ini memakiku dengan sebutan babi. Hanya karena ia melihatku menyalip seseorang antri antri makanan. Aku sudah berusaha untuk tidak terlihat, namun lapar diperukku sudah tidak dapat kutahan lagi.

Seorang sipir menyeretku, boss kamarku ikut memegangiku. Mereka berdua membawaku dalam ruangan interogasi yang paling ditakutkan oleh seluruh penghuni jeruji besi ini. Teman-teman sekamar denganku menatapku tanpa ekspresi. Hanya seseorang yang memeperhatikanku, menatapku dengan rasa iba. Hatiku bergemuruh. Kulihat air matanya jatuh membasahi kedua pipinya. Aku benar-benar merasakan rasa itu.

Kemarin aku melihat dirinya digagahi oleh seorang pemuda. Ia sempat menjerit panjang menahan sakit yang amat sangat. Tapi jeritan itu seketika dihentikannya, saat aku memandang matanya yang penuh luka dan duka. Aku memalingkan wajahku, karena aku bisa merasakan sakit yang tengah dirasakannya.

Dengan tangan terborgol aku dipaksa duduk dalam ruangan yang………. Bersambung…...

2 thoughts on “Mentari Dibalik jeruji

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s