Jalang

Standard

 

”Sudah emak bilang, jangan dekati dia. Dia itu bajingan, keparat, maunya enak sendiri.”

Mimin tersenyum.Kata-kata emak tempo hari masih terngiang-ngiang.

Apa yang salah dengan dia. Bukankah dia orang baik, ganteng, bodi tegap, punya mobil, orang kantoran, banyak duit. Ah emak. norak amat. Nggak tahu jika wanita zaman sekarang begitu susahnya mendapat jodoh.

“Coba lihat tu gadis-gadis yang sudah berumur. pada antri semua untuk menjadi perawan tua. Emak, emak, bodoh amat sih. Aku kan wanita, susah nyari calon suami kaya dia,” Suara hati mimin membela diri.

Dibandingkan jono, “Puih!!” pemuda kampungan itu, jika ingat dia rasa-rasanya aku mau muntah!. Miskin, tidak berpendidikan, jelek!.., nggak ah. Mending aku bunuh diri dari pada harus menjadi istri jono.

”Min, emak cuma bilang, jangan mudah percaya dengan yang namanya lelaki. Mereka itu semuanya sama. Mau enaknya saja. Mereka itu bajingan.”

Ah emak, lagi-lagi bajingan-bajingan, emang semua laki-laki di dunia ini apa bajingan?. Jika begitu bapak dulu bajingan keparat juga dong, nggak kan.

Emang mimin pikirin. Lagian mas ifan udah janji mau menikahi mimin. Jika sudah nikah tentu emak juga yang senang. Derajat kita akan naik, mak. Banyak harta, rumah bertingkat, perhiasan, teve, kulkas, makanan enak, semuanya ada. Kemana-mana naik mobil, nggak usah lagi naik angkot yang bikin mimin pusing,sesak nafas.

Ah emak, mentang-mentang ditinggal pergi bapak bukan berarti semua laki-laki itu bajingan.

Andaikan emak tahu, bagaimana mas ifan mampu membuatku jatuh cinta, tetapi semuanya terlalu indah untuk diungkapkan dengan kata-kata. Terlalu indah dan terlalu nikmat.

Tapi emak, lagi-lagi bilang jika mas ifan itu yang menurutku merupakan pria yang paling hebat yang pernah kujumpai walaupun usianya sudah memasuki empat puluh lima tahun namun tetap gagah, adalah lelaki yang kurang ajar. Ah emak. Mimin semakin pusing dibuatnya.

***

Dua hari lalu mas ifan mampir kerumah. Penampilan necis ala anak muda, setelan kaos oblong putih yang dipadu dengan jins biru seakan menambah kegagahan mas ifan. Mimin menjadi bergetar. Mas ifan mengajaknya jalan-jalan. Malam minggu.

Emak sempat memakinya didalam kamar. “Dasar anak kurang ajar, haram jadah, kau mau pergi dengan lelaki bajingan itu, hah!!”

”Dasar emak gila!!, jika memang tidak senang sama mas ifan hadapi dia dong, langsung jumpai mas ifan dan bilang bahwa mas ifan itu lelaki keparat, lelaki bajingan seperti yang selama ini emak katakan, jangan bisanya marah ama mimin doang.”

“Min, emak Cuma ingin mengingatkan bahwa kamu itu masih anak-anak. Masih tujuh belas tahun. Belom dewasa untuk urusan seperti ini. Apa nggak malu kamu dilihatin orang-orang, anak gadis kok berjalan berduaan dengan lelaki dewasa seperti dia. “Min, mau dikemanain muka emak, emak malu Min.”

”Bodo!!” Mimin langsung cabut.meninggalkan emak yang menurutnya terlalu ikut campur.

Seperti kemarin-keamarin, dengan mobil bagusnya, mas ifan mengajaknya jalan-jalan, ke mall, belanja baju, make up, minyak wangi, nggak ketinggalan makan makanan enak, kentucky. lalu istirahat dihotel.

Pertama sih mimin masih malu-malu dan rada takut menghadapi mas ifan, tapi lama-lama udah terbiasa. mimin siap menghadapi mas ifan yang selalu ingin melampiaskan rasa cintanya kepada mimin dengan letupan-letupan birahinya yang masih saja membara.

“Aku jatuh cinta pada lelaki yang selalu emak maki, lelaki bajingan.” Mimin tersenyum.

***

Mimin hamil. Ya, hamil. Benih mas Ifan telah bersarang di dalam rongga tubuh yang paling dicintainya. Benih cinta mas ifan telah menyatu dalam tubuhnya, membentuk segumpal darah yang emak kata adalah darah bajingan.

“Bajingan!!”

“Bajingan!!”

“Dasar wanita kotor!!”

Emak menamparnya berkali-kali, menjambak rambut panjangnya. Memaki-maki. “Dasar anak anjing keparat, anak tidak tahu diuntung, anak bajingan. Mau-maunya engkau bersetubuh dengan laki-laki bajingan keparat itu. Dasar anak bodoh!!

Mimin diam. “Mas ifan udah janji akan menikahiku, sehingga aku rela tubuh mas ifan terus-menerus menelanku, menelanjangiku dengan cintanya. Menyuntikkan benih birahinya kedalam rahimku. Aku jatuh cinta.” suara hati mimin yakin.

Aku mencintai mas Ifan. Dada bidangnya, senyum manisnya, kumis tipisnya, kenakalannya, uangnya, mobilnya, semua aku cinta. “Hanya emak yang memakinya, bajingan keparat. Bajingan-bajingan, emang semua laki-laki di dunia ini bajingan. Jika begitu bapak dulu bajingan keparat juga dong, nggak kan”, bentak mimin kesal.

”Min..mimin, emak sudah bosan, capek. Kamu itu anak tidak punya otak. Bodoh!!. Otakmu itu seperti otak binatang. Pikirkan!!,” jeritan emak semakin meninggi. air mata emak terjatuh.

Mimin tersentak, ketakutan. emak menagis.

“Kasihan emak, ia telah melahirkanku, merawatku seorang diri tanpa kehadiran seorang suami. tetapi mak, aku terlanjur cinta.”

***

Mimin membetulkan kerudung lusuh dikepalanya, sebuah kerudung pemberian teman wanita sekamarnya, yang sangat setia memberinya pelajaran-pelajaran hidup.

Alhamdulillah. Bibir mungilnya terus bertasbih. Langkah kakinya masih kuat, seperti 10 tahun lalu.

Seorang wanita tua berkerudung telah menantinya sedari pagi, menanti dalam penantian kesabaran dan cinta. Wanita tua itu tidak sendiri, seorang gadis cilik mengapit erat tangan kirinya, wajahnya menyiratkan sebuah kerinduan yang tiada tara. Kerudung mungilnya terombang-ambing tertiup angin yang masuk dari celah-celah jendela.

Air mata mimin terjatuh. Gadis cilik itu adalah anak dari buah birahinya dengan mas ifan, sepuluh tahun yang lalu.

Ia terbayang akan kejadian itu. yang telah membawa perubahan dalam hidupnya, dari seorang gadis remaja menjadi seorang wanita yang sesungguhnya.

”Min, lelaki itu,” suara emak tertahan..

“Lelaki yang sangat kau cintai dan engkau bangga-banggakan selama ini, lelaki yang selalu menyebabkan emak memarahimu dan engkau balas memaki emakmu ini, adalah lelaki yang darahnya, cintanya pernah ada didalam tubuh emak. Dia adalah lelaki yang pernah emak peluk mesra dengan ciuman dan kecupan-kecupan nakal, lelaki yang selalu memasuki tubuh emak dengan darah-darah birahinya, darah yang membentuk segumpal daging, daging yang membentuk sebuah orok manusia yaitu engkau, min. dia ayah kandungmu!

Mimin pusing. ternyata emak menyimpan sebuah kisah yang tak mampu ditahannya. mimin menganggap dirinya sebagai korban, korban emak dan korban bapaknya.

Perut mimin semakin membesar. Mas ifan masih terus menyuntikkan benih cintanya ketubuh mimin. Tetapi malam itu mimin begitu buas. Wajah emak terbayang-bayang di matanya. Setiap himpitan tubuh mas Ifan yang semakin kuat menindih tubuhnya, sekuat itu pula bayangan wajah emak menjerit di pelupuk mata. Peluh membasahi tubuh mereka, merangkulnya, desahan-desahan nafas mas Ifan semakin jelas menggambarkan wajah emak.

Mimin semakin buas. menciumi dan menjilati seluruh lekuk-lekuk tubuh lelaki itu, menikmati segalanya. Hingga sampai pada sebuah gundukan daging keras, menjilatnya, lalu.. lalu.. dan lalu menggigitnya dengan sekuat tenaga yang telah disimpan beberapa hari.

Putus!!. Mas Ifan yang dicintainya menjerit dan memaki sekeras-kerasnya, “Dasar wanita setan, anjing, lonte busuk!!.”

Semua terlambat. Pisau ditangan mimin telah bersarang di tubuhnya. Menghemburkan darah segar. Darah yang telah menyatu dengan darahnya. Darah yang kata emak adalah darah bajingan, darah keparat.

Air mata mimin kembali membuncah.

”Emak….”

Mimin berlari. Menghampiri emak. Mencium kedua kakinya. Mohon ampun.

‘Mak, Sepuluh tahun sudah aku di lembaga permasyaraktan ini. apakah emak sudi menerimaku menjadi seorang wanita seperti emak.”

”Sudahlah, Min. Tidak ada yang perlu disesali. Hidup akan terus berjalan. Tegarkan hatimu, seperti karang tengah lautan. Teguhkan langkahmu, seperti gunung yang selalu tegak teguh. Berbuatlah kebaikan, seperti matahari yng selalu bersinar demi manusia, tidak perduli manusia itu jahat ataupun baik.”

“Emak, engkau dan anakmu ini, harus tetap berjalan. Lagi dan lagi, sampai kita tiada lagi, min.

“Emak…maafkan aku. Engkau adalah wanita yang terbuang oleh nasib. Terasing oleh keluarga. Terpasung oleh lingkungan. Namun engkau tetap berjalan merawatku, membesarkanku dengan cinta, mendidikku menjadi wanita yang sesungguhnya.”

61 thoughts on “Jalang

  1. How are you, This blog is very informative and easy to read. I am a huge follower of the things talked about. I also love reading the comments, but I notice that alot of people must keep on topic to try and give more to the original blog post. I would also recommend everyone to bookmark this website to your most used service to help let more people know. Thanks…

  2. Its really a great post. I am sure that anyone would like to visit it again and again. After reading this post I got some very unique information which are really very helpful for anyone. This is a post having some crucial information. I wish that in future such posting should go on.

  3. i’m almost always bumping throughout the internet nearly all of the week therefore I have a tendency to peruse a good deal, which is not commonly a beneficial factor as most of the web sites I look at are made up of unnecessary crap copied from similar internet sites a zillion times, nonetheless I have to give you credit this website is in fact not bad at all and contains a lot of unique material, therefore cheers for breaking the pattern of just replicating other people’s blogs 🙂

  4. This can be frequently a fantastic blog site. I have already been back again various occasions inside the last 7 days and wish to sign up for your rss generating use of Google but cannot find out how to complete it highly nicely. Do you recognize of any form of directions?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s