A’aboud

Standard

A’aboud, hari menjelang senja. Matahari pun seolah enggan segera masuk kedunia lain diseberang sana. Sambil duduk memegang sebuah Mushaf kecil, aku memperhatikan mereka dari jendela kamarku.

Aida (12), Hanif (10), Harist (9) dan Chairul (6), adalah anak Paman Hasbi tetanggaku. Menjelang sore mereka memang sering bermain dan berlari-lari. Seperti sore ini. Mereka berlari-lari riang diselingi canda tawa diantara reruntuhan dan puing-puing bangunan yang hancur diterjang rudal Israel.A’aboud, adalah desa sepi sejak Israel membabi buta menyerang Ramallah beberapa tahun lalu. A’aboud yang berjarak 17 kilometer di barat laut Ramallah ini juga tidak luput dari terjangan mortal dan peluru-peluru kendali kaum zionis.

Kota-kota di Tepi Barat lainnya juga dengan enteng saja diluluhlantakkan oleh tank-tank Israel. Keindahan kota Ramallah, kini tinggal jadi kenangan di tengah keganasan pasukan Israel yang membabi buta mencari orang-orang yang dicurigainya sebagai teroris.Aku menghela nafas. Kembali tersenyum melihat keempat anak Paman Hasbi yang masih tertawa dan berlari-lari.“Ukhti, kita kesana saja,” suara Harist menghentikan langkah dan tawa ke tiga bocah lainnya.

Aida, gadis kurus yang dipanggil ukhti tersebut terlihat berpikir sejenak. Sambil memandangi tempat yang ditunjuk Harist. Tangan kurusnya melipat-lipat ujung baju kusamnya yang tidak lagi pernah terkena air dan sabun.

Sementara itu, ketiga prajurit-prajurit mungil didepan Aida memandanginya. Hening. Seperti menunggu perintah.

Ukhti Aida adalah kakak tertua mereka bertiga, sehingga setiap rencana keputusan harus melalui persetujuannya. Aku terkadang tersenyum bila melihat mereka mengangkat kepala prajurit. Hanif juga sering diangkat kepala prajurit selain Aida.

“Kan, ini perang-perangan. Jadi harus ada pemimpin,” ujar Harist tiba-tiba.

Hemm.., aku menarik nafas. prajurit-prajurit kecil itu akan bermain perang-perangan lagi, gumanku.

Desa A’aboud memang cocok untuk tempat bermain. Karena ada beberapa mortar bekas yang berkarat, tank-tank yang terbakar menghiasi hampir sebagian wilayah di desa A’aboud.

Perang-perangan menjadi aktifitas favorit bagi anak-anak di Ramallah. Karena, selain sebagai napak tilas perjuangan orang tua mereka yang gugur juga menjadi ajang latihan mini terhadap perang yang sesungguhnya. Yaitu melawan kaum khufar Yahudi.

“Bagaimana ukhti, Boyeh, kan,” tanya Chairul. Bocal paling kecil diantara mereka. Suara cedalnya belum bisa hilang.

“Ayolah ukhti,” pinta Chairul lagi.

“Hmmm…., nggak usah deh. Ntar dimarahi ummi,” Hanif menyeletuk.

“Ah, akhi Hanif kok pengecut sih. Katanya mau Syahid,” sergah Harist jengkel. Mukanya terlihat masam.

Aku tersenyum. Anak-anak Paman Hasbi memang luar biasa. Aku teringat bagaimana paman Hasbi melawan beberapa tentara Israel saat menyerbu A’aboud. Paman Hasbi harus merelakan sebelah tangan dan kaki kirinya digergaji besi oleh tentara Israel hanya karena mencoba menolong seorang wanita yang hendak mereka perkosa.

Saat itu, Ramallah benar-benar merah membara. Api dan jeritan manusia silih berganti memenuhi langit. Ah…, aku seperti lelah untuk kembali mengingat kejadian itu.

Mataku kembali kearah prajurit-prajurit mungil itu.

“Mana tahu kita bisa cahid benelan lho. Kan enak masuk sulga,” celetuk Chairul lagi.

“Ok, kita kesana!” Suara Aida mengejutkan ketiga bocah cilik tersebut.

“Horee..!!! horee….!!” sontak Haris dan Chairul kegirangan. Tanpa sadar keempat bocah tersebut kembali berlari.

“Belalti kita main peyangnya cepelti sungguhan dong. Kan ada ludalnya,” ujar Chairul bersemangat sambil menunjuk kedepan, rongsokan rudal pejuang Palestina yang sudah tidak dipakai lagi.

Aku kembali tersenyum. Semangat Chairul paling menonjol diantara keempatnya.

Bisa jadi, semangat Chairul yang menggebu-gebu tersebut karena terobsesi cerita Paman Hasbi, abinya saat menjelang tidur. Aku sering mendengar celoteh Chairul saat menjelang tidur bersama abinya.

Terkadang aku elihat Paman hasbi bersama Chairul bermaja berdua diteras rumahnya. Seperti dua hari lalu. Kulihat Chairul menarik-narik jenggot putih Paman hasbi.

“Jika kita masuk surga, enakkk… sekali. Ada makanan yang enak-enak. Tempat tidurnya empuk, tempatnya bersih dan tidak ada perang-perangan lagi. Chairul mau ga masuk surga?” tanya abinya menggoda.

“Mau dong. Tapi cama abi. Ilul nggak mau cendili. Macuk culganya ama abi,” ucap Chairul manja sambil menarik-narik jenggot putih sang abi. Abinya tidak bisa menyembunyikan senyum mendengar celoteh bungsunya yang cedal.

***
“Allahu Akball …..,” pekikan Chairul membahana.

Aku terkejut. Pekikan Chairul membuyarkan lamunanku. Kulihat Harist, Hanif dan Aida yang berlari didepannya ikut terkejut. Namun mereka terus berlari menuju rongsokan rudal yang berjarak 100 meter dari rumahku.

“Allahu Akbar….”
“Allahu Akbar…”

Keempat bocah ini mengepalkan tangan kelangit. Seolah meminta restu langit agar mereka mencapai syahid. Sedangkan angin Palestina menerpa tubuh-tubuh kurus mereka yang kelaparan. Dalam sehari belum tentu keempat prajurit-prajurit mungil itu bisa mendapatkan roti yang bisa dimakan.

Aku memperhatikan angin yang mempermain-mainkan baju lusuh keempat anak Paman Hasbi tersebut.

Limapuluh meter lagi. Keempat bocah ini semakin bersemangat sambil bertasbih.

Didepan mereka, seperangkat bangkai peluncur roket telah menanti. Para pejuang Hamas meninggalkan bangkai ini begitu saja. Mungkin sebagai pelajaran untuk penerus mereka atau sebagai gambaran bahwa perjuangan ini tidak akan berakhir.

Aku menutup mata. Mencoba mengingat-ingat kapan dan bagaimana rongsokan rudal itu bisa teronggok disitu. Ah, aku tidak ingat. Konsentrasiku pecah.

“Ukhti tunggu….!!” Tiba-tiba suara Chairul kecil menghentikan lari ketiga bocah didepannya.

Aida, Hanif dan Harist berhenti. Membalikkan tubuh. Ketiga wajah mereka melihat kebelakang, Chairul jauh tertinggal. Ia terengah-engah kelelahan.

“Uhkti, Ilul capek….,” jeritnya.

“Ukh….., anak manja. Bagaimana mau masuk surga jika kamu cepat menyerah. Ayo semangat! Cepat!,” suara keras Harist mengejutkan Aida dan Hanif yang berada disampingnya.

“Emang kita apa benal-benal akan cahid, ukhti”, tanya Chairul dengan langkah sempoyongan. Keringat membasahi badannya.

Aida mendekati Chairul, menyapu keringat didahi adiknya dengan ujung baju yang dikenakannya. Lalu mencium kening Chairul.

“Mungkin saja,” kata Aida ragu.

“Bagaimana sih ukhti..,” protes Harist.

“Pasti dong syahidnya. Jika tidak untuk apa kita berperang. Tuh musuh udah dekat,” lanjut Harist sambil menunjuk bangkai roket peluncur didepan mereka.

Suasana tiba-tiba hening. Aku merasakan hawa aneh. Mataku seperti melihat bayangan api dan jeritan. Jeritan dan Merah itu… Ramallah….

Hatiku dag dig dug. memperhatikan keempat anak Paman Hasbi. Seperti ada yang lain di lingkungan A’aboud.

“Ayo dong, jadi nggak kita syahidnya. Ntar keburu habis waktu, nih,” tiba-tiba Hanif nyeletuk. Tumben Hanif jadi bersemangat. Padahal sedari tadi diam selalu dan sedikit penakut.

“Oke, kita baca Bismillah dan lari sekencang-kencangnya. Siapa yang pertama mencapai rudal, dialah yang akan syahid pertama.” Hanif mencoba mengambil alih komando.

Ketiga bocah tersebut saling berpandangan. Kecuali Chairul yang masih naik turun nafasnya. Bajunya mulai kering oleh angin Ramallah.

Akhirnya mereka setuju.

“Ayo kita berbaris,” Aida memberi aba-aba.

Mereka berempat berbaris sejajar. Aida, Hanif, Harist dan Chairul. Berdiri tegak. Menatap kedepan diantara reruntuhan bangunan. Angin memain-mainkan baju dan rambut mereka, seolah memberi kabar mereka akan syahid.

“Jangan lupa Bismillah,” suara Aida mengingatkan.

“Harus Takbir!,” tambah Hanif.

“Shalawat Nabi juga,” tegas Harist dengan membusungkan dada. Berdirinya tegap sekali. Siap.

“Abi dan Ummi,”

Suara Chairul membuat mata Haris mendelik. “Apa-apaan sih nih, anak,” pikirnya.

Aida dan Hanif mengernyitkan dahinya. Tapi ucapan Chairul tadi tak digubris ketiga bocah yang sudah semangat berdiri.

“Ok, kita mulai…..,” Harist memberi aba-aba.

Satu…., angin Palestina menderu kencang.
Dua…., keempat bocah menundukkan badan, siap.
Tigaaaa………..

Harist melangkah duluan, sekencang-kencangnya. Angin menampar-nampar wajahnya, lembut. Aida menyusul dibelakangnya, lalu Hanif dan Chairul.

Aku tiba-tiba menjadi semangat. Aku berharap Chairul bisa menang walau mustahil. Putra bungsu Paman Hasbi ini memang luar biasa unik. Aku menyukainya.

Ntah mengapa, hati ini terus berdoa untuk Chairul. Moga-moga Chairul menang. Tapi… Aku terkejut…

Sambil berlari, Chairul teringat kata-kata abinya. “Jika kita masuk surga, enakkk… sekali. Ada makanan yang enak-enak. Tempat tidurnya empuk, tempatnya bersih dan tidak ada perang lagi. Chairul mau ga masuk surga?”.

“Elul mau masuk surga. Tapi sama abi. Elul nggak mau sendili, Bi”.

Pekikan Tabkbir dan Tasbih membahana dari mulut Hanif. Salawat Nabi terus dikumandangkan Harist. Aida tak henti-hentinya berzikir dengan suara keras. Berlari sekencang-kencangnya. Tinggal 45 meter lagi.

Tapi tiba-tiba….., suara pekik Chairul mengejutkanku. Tidak terkecuali Aida, Hanif dan Harist.

“Allah…., Ilul masuk culga. Ilul syahid Abi.., Abi…, Ilul syahid Abi….”.

Aku, Aida, Hanif dan Harist terpaku melihat pemandangan itu. Tidak tahu apa yang terjadi. Chairul tergeletak bersimbah darah. Mulutnya berkomat kamit Syahid…syahid…

Sejurus kemudian Aida tumbang, tangannya mencoba menutup dadanya yang mengeluarkan darah…

”Harist…., kita……syah…..,” Aida tidak mampu meneruskan ucapannya. “Allahuakbar!”.

Seketika Haris dan dan Hanif bertakbir Allahu Akbar…..melihat saudara-saudaranya bergelimpangan dengan darah.

Tidak lama kemudian, mereka berdua juga bersimbah darah. Syahid. Darah segar mengucur dari kening Harist. Sedang Hanif dadanya bolong ditembus rudal sungguhan.

Nafas mereka hilang bersama angin Ramallah. Menuju langit ketujuh, bersama para syuhada-syuhada yang telah menumpahkan darahnya untuk Islam.

Aku terdiam. Mataku terpejam.

Epilog:
Keempat bocah tidak berdosa ini tidak mengira jika saat itu disekitar Areal rudal tersebut terdapat beberapa anggota militer Yahudi yang memang sedang mengawasi daerah tersebut. Merekalah yang menembak dan menghantar keempat bocah ini menjadi syahid. Yahudi kuffar. (Maret 2008).

Negeri Makian…………

__________________

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s