PLN (Tulisan 1)

Standard

Listrik Masih Hidup-Mati

PLN Terus Berjanji dan Hanya Bisa Omong Besar

Pengantar:

Pembaca budiman. Pemadaman listrik di hampir seluruh Aceh, menuai banyak kritik dan tanggapan dari berbagai elemen masyarakat. Mayoritas konsumen, mencela sistem dan manajemen PT PLN yang masih amburadul dan tidak peka terhadap pelanggan. Semua itu, tentu saja berawal dari rusaknya berbagai pelaratan elektronik rumah tangga hingga peristiwa kebakaran di sejumlah daerah.

Ironisnya, ditengah kegelapan itu, General Manejer PT PLN Wilayah Aceh, Wahyu Sulaeman, justeru ”membela diri”. Dengan optimis dia memastikan krisis listrik di Aceh akan tuntas akhir tahun ini. Benarkah? Tentu hanya waktu yang bisa menjawabnya. Begitupun, pelanggan tetap berharap, ucapan tersebut tak hanya sebatas janji dan omong kosong.

Seperti apa sebenarnya kondisi penyediaan arus listrik saat ini di Aceh?

Jika tak elok disebut marah, T Badlisyah atau akrab disapa Ampon Badli, mengaku gerah. Betapa tidak, gara-gara aliran listrik yang sudah berbudaya hidup-mati di Aceh, hampir sebagian barang elektronik milik warga Pusong Lama, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe ini, terbakar. Lebih fatal lagi, hampir saja rumahnya dilalap api. Sebab, lilin yang dia gunakan, menyambar sehelai kain.

Kalau sudah begini, yang muncul sumpah serapah. Maklumlah, pihak PT PLN, biasanya lepas tangan. Yang salah tetap saja pelanggan. ”Ini sungguh perbuatan zalim. Kalau masyarakat terlambat membayar rekening, langsung dipotong. Tapi kalau listrik mati berbulan-bulan, kita hanya bisa urut dada,” kata tokoh masyarakat Kota Lhokseumawe itu.

Entah karena terlalu kesal. Ampon Badli sempat mengirim pendapatnya ke media ini melalui pesan singkat. Katanya begini. ”63 tahun Indonesia merdeka. Padamlah negeriku, padamlah jiwaku, untukmu Indonesia Raya”.

Tentu bukan hanya Ampon Badli yang merasakan gelapnya kota dan rumah mereka. Masih ada ratusan ribu rakyat di Aceh, yang mengalami nasib serupa. Kalau sudah begini, berbagai dalihpun muncul dari pihak PLN. ”Ya, kalau tiang tumbang, kita masih bisa maklum, sebab itu masuk dalam bencana. Tapi kalau karena alasan tidak cukup daya atau arus, ini yang tidak masuk akal. PLN hanya mau untungnya saja,” kecam Ampon Badli.

Ironisnya, kendati mayoritas warga di Aceh mencerca PT PLN Wilayah Aceh, yang ditohok malah biasa-biasa saja alias seperti tak berdosa. “Krisis listrik di Aceh akan segera teratasi, bahkan kawasan Aceh Barat dan Sabang sudah bebas dari pemadaman. Untuk Banda Aceh, mulai bulan Agustus tahun ini akan terbebas dari pemadaman,” begitu kata General Manajer (GM) PLN Wilayah Aceh, Wahyu Sulaeman, Rabu, 21 Mei 2008 lalu. Bahkan, Wahyu memastikan krisis listrik di Aceh akan bisa dituntaskan akhir tahun ini.

Benarkah komitmen PLN itu menjadi titik cerah bagi masyarakat untuk terbebas dari gelap? Nanti dulu. Kiprah PLN beberapa bulan terakhir, justru seperti tong kosong nyaring bunyinya. Lihat saja, dua hari setelah pernyataan Wahyu, justru 200 kepala keluarga (KK) di Dusun Blang Jawa, Desa Buket Kuta, Kecamatan Peudawa, Aceh Timar, selama sepekan mengalami gelap sejak Jumat (23/5). Tragisnya, pihak PLN tetap saja beralasan. Semua itu karena adanya pencurian kabel lstrik di Aceh Timur. Sedikitnya 28 meter kabel listrik lenyap dari tiangnya.

Kekesalan juga melanda warga Kota Lhokseumawe. Ribuan pelanggan mengeluh terhadap pemadaman yang dilakukan pihak PLN secara menyeluruh. Parahnya, pemadaman terjadi sejak pagi pukul 09.00 WIB, 28 Juni lalu hingga keesokan harinya. Pihak PLN tidak pernah memberikan pengumuman akan terjadi pemadaman. “Ulah PLN itu jelas membuat masalah. Jalur lalu lintas menjadi semraut karena lampu rambu lalu lintas tidak menyala,” ujar salah seorang warga di kota itu.

Kepala Rayon PT PLN Lhokseumawe, Ali Basyah mengatakan. Pemadaman arus listrik, dilakukan akibat adanya pemeliharan Gardu Induk (GI) di Kecamatan Syamatalira Bayu, Aceh Utara. Bahkan, pemadaman total itu direncanakan selama dua hari, Sabtu dan Minggu.

Bukan hanya itu. Warga Desa Lawe Loning Aman dan sejumlah desa lainnya dalam Kecamatan Lawe Sigala-gala dan kecamatan lainya di Kabupaten Aceh Tenggara, juga mengalami hal yang sama. Gelap gulita karena jaringan listrik milik PLN padam total.

Parahnya lagi, pemadaman itu terjadi selama tiga hari. Akibatnya warga terpaksa memakai lampu teplok dengan menggunakan minyak tanah dan genset. “Gangguan listrik seperti ini bukan sekali dua kali terjadi di Agara, sangat sering sekali. Tapi lagi-lagi pihak PLN Cabang Langsa Ranting Kutacane tidak pernah memberitahukan kepada kami,” ujar salah seorang penduduk, kesal.

Bobroknya pelayanan PT PLN, ternyata bukan hanya sebatas penyediaan arus listrik. Bahkan lebih dari itu, terutama soal pencatatan meteran pelanggan. Hampir sebagian besar, para pelanggan komplain dengan tagihan bayaran, pada setiap bulannya. “Saya aneh saja, bulan Mei lalu, rumah saya kok hanya Rp 150 ribu. Begitu masuk Juni, melonjak hingga Rp 1,5 juta. Gila, meteran seperti apa itu. Begitu saya protes, ternyata terjadi salah pencatatan,” papar seorang ibu di Banda Aceh.

Sebut saja Sulaiman, salah seorang pedagang kelontong di Banda Aceh sempat naik darah saat penagihan iuran listriknya. Dia harus membayar Rp 4,5 juta rupiah. Padahal, selama ini Sulaiman hanya membayar tidak lebih dari Rp 200 ribu rupiah per bulan. “PLN tidak professional. Jika memang tidak ada tenaga kerja untuk apa bicara. Lagian mengapa tidak merekrut tenaga kerja? Apa takut gaji mereka yang besar itu dipotong,” ujar warga Cadek, Aceh Besar, ini.

Parahnya, pihak PLN beralasan tidak tercatatnya tagihan biaya pemakaian, disebabkan pihaknya tidak mempunyai petugas lapangan yang mencatat meteran. Selama ini, PLN mengontrakkan pekerjaan pencatatan meteran kepada pihak ketiga. ”Akibatnya ya seperti itu, petugas meteran hanya menebak-nebak saja. Mungkin, sambil tidur di rumah, dia catat meteran,” ujar Sulaiman.

Beberapa waktu lalu, Adin, seorang penyewa rumah toko (ruko) di kawasan Kampung Pineung, dan Maisara, ibu rumah tangga di Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, juga mengalami hal serupa.
Dari beberapa kejadian tadi, mensahihkan kalau PT PLN Wilayah Aceh, bekerja secara semerawutan dan tidak profesional. “Mereka mengaku kekurangan petugas pencatat meteran di lapangan. Mereka juga mengaku tidak sanggup. Selain itu, mereka mengakui ada kesalahan pencatatan sehingga setelah dikoreksi, dari Rp 4,1 juta diturunkan menjadi Rp 3,6 juta. Karena menganggap ini kesalahan di pihak PLN, pemilik toko meminta biaya itu diturunkan, sehingga diberikan kompensasi dan disepakati angka Rp 2 juta,” urai Adin.

Menariknya, atas berbagai kesalahan ini, pihak PLN terkesan tidak pernah mau mengakui bersalah. Itu terlihat dari enggannya PT PLN memberi kompensasi kerugian terhadap warga. Sebaliknya, jika ada warga atau konsumen yang terlambat membayar, PLN langsung main potong saja. Dimana hak pelanggan?

Sudah menjadi rahasia umum di Aceh. Sebut saja PT PLN di Takengon. Perusahaan negara itu mengancam akan melakukan pemutusan total langsung (PTL) kepada setiap pelangganan yang menunggak membayar tagihan rekening lisrik selama dua bulan berturut-turut, pada pertengahan Juni 2008 lalu.

Kepala Ranting PT PLN (Persero) Takengon, Kamanddin, mengatakan. Pemutusan jaringan listrik bagi para pelanggan yang menunggak tagihan selama dua bulan tidak ada tolerasi lagi. Sebab, pemutusan itu adalah hasil kesepakatan PT PLN (Persero) Ranting Takengon.


Tindakan ini membuat warga Aceh Tengah kesal.
“Bagimana tidak. Bila PLN sering mati, mereka tidak mau bertanggungjawab. Jika kami telat bayar kami bayar denda. Sekarang, dua bulan belum bayar mau diputus langsung. Ini tidak adil. Padahal mereka sering salah mencatat meteran yang merugikan kami,” kata Sumardin, warga Aceh Tengah yang terancam mengalami pemutusan aliran listrik.

Kekesalan Sumardin semakin bertambah, bila melihat keadaan PLN selama ini. Mulai dari pemadaman listrik tanpa pemberitahuan, kasalahan pencatatan meteran. Belum lagi selisih bayaran yang tidak pernah dikembalikan pihak PLN. “Coba Anda hitung, berapa keuntungan PLN dari selisih harga yang kami bayar. PLN kan tidak pernah mengembalikan selisih yang berjumlah Rp 49 rupiah,” jelas Sumardin, kesal.

Apa yang dikatakan Sumardin ada benarnya. Selama ini, pihak PLN memang tidak pernah mengembalikan dana selisih pembayaran pelanggan. Jika dihitung-hitung, tentu bukan angka sedikit bila dikalikan seluruh pelanggan di Aceh. Padahal, untuk tahun ini, PT. PLN mendapatkan kredit sebesar Rp 10 triliun dari 4 bank dalam negeri yakni BNI, BRI, Bank Mega dan Bukopin. Penandatanganan kredit digelar di Gedung Depkeu.

Keuangan PLN ini belum termasuk prediksi subsidi listrik untuk tahun 2008 yang bertambah Rp 26,8 triliun secara nasional.

Profesionalisme PLN memang perlu dipertanyakan. Bukan hanya PLN di Aceh, bahkan untuk tingkat nasional. Buktinya, PLN memperoleh surat peringatan ketiga dari Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait masalah keterlambatan penyampaian laporan keuangan auditan 2007, pada Mei 2008 lalu.

Padahal, saat ini jumlah unit pembangkit listrik milik PLN yang ada di seluruh Aceh mencapai 221 unit. Dari jumlah itu, daya terpasang yang dimiliki mencapai 144 megawatt (MW). Sedangkan yang mampu dikeluarkan sebanyak 100 MW.

Deputy Manager Komunikasi PLN Wilayah Aceh, Muchtar mengatakan. Dari 100 MW yang dikeluarkan itu, kalau sebanyak 63 MW masuk ke jaringan interkoneksi, maka selebihnya menjadi kebutuhan daerah setempat.


Dari 221 mesin pembangkit listrik itu meliputi Banda Aceh sebanyak 33 unit, Sigli 12 unit, Lhokseumawe 39 unit, Langsa 38 unit, Meulaboh 52 unit, dan Subulussalam 47 unit. Kecuali dua unit mesin di PLTD Apung, serta beberapa mesih yang rusak yang tidak beroperasi lagi.

Dari kasus pemutusan listrik, pemadaman sementara hingga pemadaman total tanpa pemberitahuan. Ditambah dengan layanan PLN yang seadanya dan seenaknya mengukur meteran pelanggan. Jelas PLN tidak professional dan jangan hanya bisa janji dan omong besar.***


TULISAN 2

Kisah Lama tak Pernah Usai

Marsurdin asyik duduk santai mencari angin di luar rumahnya. Dia menyalakan lilin di atas meja, karena listrik padam sejak sore. Malang baginya, Senin (21/7) sekira pukul 18.15 WIB, tanpa disadari lilin tersebut meleleh hingga membakar meja. Rumah kayu di Gampong Baroh, Kecamatan Grong-Grong Pidie itu pun habis terbakar.

Beruntung bagi Marsurdin, anak sulungnya yang terbaring sakit masih sempat diselamatkan. Jika tidak, penderitaan Marsurdin akan menambah daftar kelam pelanggan PLN di Aceh khususnya dan Indonesia umumnya.

Nasib Marsurdin, sama menggenaskan dengan warga di 12 kabupaten/kota di Aceh lainnya. Secara bersamaan, mati lampu serentak terjadi, saat menjelang magrib. Senin (21/7) lalu, misalnya. Mulai pantai timur-utara Aceh hingga Banda Aceh dan wilayah tengah, juga mengalami gelap gulita!

Inilah suasana yang dirasakan warga saat dua tower jaringan transmisi 150 kilovolt (KV) milik PLN di kawasan Desa Sekrak, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, tumbang diterjang puting beliung.

Buruknya cuaca di wilayah timur beberapa pekan lalu menjadi alasan penyebab robohnya dua tower transmisi PLN (tower 139 dan 140) di Aceh Tamiang. “Tower itu tumbang karena dihantam angin puting beliung,” kata Baharuddin, Manajer PLN Cabang Langsa, saat itu.

Untuk menguatkan kondisi cuaca buruk itu, PLN mengerahkan 70 Pekerja
guna memperbaiki dua tower yang porak poranda di kawasan Desa Sekrak Kiri, Kecamatan Sekrak, Kabupaten Aceh Tamiang. Pihak PLN terpaksa menggunakan tower darurat.

Seperti dijelaskan Asisten Manajer Operasi PT PLN (Persero) UPT Aceh, Hermansyah. Karena masih menggunakan tower darurat, pihak PLN hanya bisa memasang satu line dari dua line yang digunakan selama ini. Konsekwensinya, sebut Hermansyah, distribusi arus belum bisa maksimal sehingga pemadaman bergilir masih harus dilakukan, terutama pada beban puncak antara pukul 18.00 sampai 22.00 WIB.

Manajer PT PLN (Persero) Unit Pengaturan Beban (UPB) Sumbagut, Heru Cahyadi melalui Asisten Manajer Operasi, Junaidi mengatakan. Terganggunya jaringan transmisi tidak ada unsur sabotase. Menurut Junaidi, gangguan terjadi pada saluran udara tegangan tinggi (sutet) 150 KV persisnya di Desa Sekrak, Kabupaten Aceh Tamiang atau sekitar 15 kilometer dari Kota Kuala Simpang.

Separah inikah kondisi listrik di Aceh? Bukan hanya masyarakat yang menderita, bahkan dunia perekonomian juga mengalami kerugian yang tidak bisa diukur dengan uang. Bayangkan, hampir sepekan masyarakat 12 kabupaten/kota di Aceh, mengalami kegelapan.

Kepala PT PLN (Persero) Cabang Banda Aceh, Ir Asrizal kepada media mengungkapkan. Konsekwensi terganggunya jaringan transmisi 150 KV di kawasan Tamiang, pihaknya harus melakukan pemadaman bergilir untuk kawasan Kota Banda Aceh dan Aceh Besar. Pemadaman bergilir itu, kata Asrizal, karena PLTD Luengbata hanya mampu menghasilkan daya (include) 15-18 megawatt (MW). Sedangkan kebutuhan (beban puncak) untuk Banda Aceh dan Aceh Besar mencapai 54 MW.


Menariknya, diketahui kemudian bahwa kemampuan PLTD Luengbata yang disebut-sebut mencapai 50 MW, laiknya tidak perlu melakukan pemadaman bergilir. Nyatanya, kondisi dilapangan justru berkata lain, bukan dua hingga empat jam jam per hari, tapi delapan jam perhari.

Namun Asrizal membantahnya. Menurut Asrizal, daya sebesar itu tak mungkin dapat dihasilkan dalam keadaan darurat seperti sekarang. “Daya sebesar itu merupakan daya asupan secara keseluruhan. Dalam keadaan sekarang, mesin tidak dapat dipaksa, sebab tidak semua mesin dalam keadaan prima,” kata Asrizal lagi.

Sorotan terhadap aliran listrik yang terus menerus mengalami defisit ini seharusnya menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi PLN. Bukan hanya itu, listrik kini menjadi barang mahal bagi masyarakat. Hal ini dibenarkan Menkeu Sri Mulyani. Menurut Sri Mulyani, “PLN lamban merespons kebutuhan listrik daerah padahal permintaan listrik saat ini terus meningkat dan listrik sekarang sudah jadi barang mahal,” kata Menkeu. Sri Mulyani meminta PLN lebih responsif dalam menjawab kebutuhan listrik terutama di daerah-daerah.

Sebaliknya, General Manager (GM) PLN Wilayah Aceh, Wahyu Sulaeman, memang gemar bermain logika. Dia mengatakan. Suplai listrik untuk Banda Aceh telah normal seluruhnya dan pemadaman bergilir tidak akan terjadi lagi. Karena telah teratasi sejak terputusnya pasokan listrik ke Aceh akibat tumbangnya tower di kawasan Aceh Tamiang, sejak Rabu petang 23 Juli 2008 lalu.

Nyatanya, keadaan yang terjadi dilapangan justru berbeda. Pemadaman bergilir masih saja terjadi. Masyarakat Kota Banda Aceh dan Aceh Besar, dua hari setelah pembenahan tower yang rusak, justru mengalami gelap kembali.

Indikasi ini bisa dilihat, saat suatu kawasan menyala, beberapa saat kemudian mati di kawasan yang berbeda. “Apa mungkin gangguan bisa terjadi berpindah-pindah dan sangat sistematis seperti itu?,” kata seorang pedagang di kawasan Lambhuk, Banda Aceh. Tidak lama kemudian, justru daerah Ulee Kareng yang mengalami pemdaman.

Bukti pemadaman bergilir ini semakin sahih dengan padamnya lampu di kawasan Blower dan Punge. Sudah menyala, masuk lagi laporan dari warga Kecamatan Ulee Kareng, seperti dari Desa Ceurih, Lamgapang, dan Lamglumpang. Menurut warga, mereka sedang bergelap-gelapan karena listrik padam. Bahkan untuk kawasan Aceh Besar, seperti kawasan Leupung, Ingin Jaya, dan Barona Jaya listrik mati dari siang hingga malam. Begitu juga dengan Kecamatan Montasik.


Lalu mana janji PLN yang mengatakan tidak ada lagi pemadaman bergilir? Ir Mawardi Ali, salah seorang unsur pimpinan DPRK Aceh Besar mengatakan. Pernyataan pihak PLN sebagai bentuk pembohongan publik. “Karena, PLN sudah mengatakan tidak akan ada pemadaman bergilir. Namun kenyataannya justru masih terjadi,” ungkap Mawardi Ali. Lagi-lagi omong kosong.***

sumber : http://www.modusaceh.com

4 thoughts on “PLN (Tulisan 1)

  1. kalau sudah ada kenyataan baru bisa ngomong.apalagi masyarakat sudah bosan menuggu janji-janjinya,jangan dibodoh-bodohkan masyarakat ,masyarakat sekarang sudah pandai apalagi warnet sudah betabur didaerah-daerah.

  2. Martha Andival

    sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak kepada Pak rabu karena sudah memberi komentarnya.

    Kesalahn yang saya tulis ini, apakah bisa bapak beri gambaran ulang. Agar saya bisa memperbaikinya. agar saya tidak sembarangan melemparkan pendapat.

    saya juga bingung, apakah yang Pak Rabu maksud, saya atau pihak dari PLN? mohon maaf pak.

    terimaksih banyak.

  3. yg paling mudah dalam hidup ini memang menyalahi kerja orang tanpa mau mendalami pesoalan yg sebenarnya dari sumber yg aslinya. saya yakin malah haqul yakin kalau insan pln itu tidak mau listrik mati. makanya setiap listrik padam mereka segerea mencari penyebabnya dan memperbaikinya. kenapa tidak ada yg bilang terimakasih ke pln waktu listrik padam kemudian hidup lagi? bukankah hidup kembali karena ada insan pln yg bekerja. tanyakan kepada org2 yg telah menghujat pln, sudahkah mereka membayar rekening listrik tepat waktu. Apa lambak dikampung saya, kalau listrik mati segera memaki insan pln tapi begitu tidak bayar di putus marah2 dan mengancam petugas. peunyoe ureung yg gekhen umat nabi? bek jet keepolan tek, pajohna rugoe bek.kalau memang pln tidak bisa melayani karena kondisinya memang belum bagus, ya beli aja mesin listrik sendiri dan hidupkanb sendiri… kalau mati makilah diri sendiri he2

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s