Berjuang Demi Pendidikan Anak

Standard

Halimah, Janda Mantan Komandan GAM

Tanpa terasa, Ramadhan hanya sepekan lagi. Tapi kebingungan dan kegalauan itu justru menghantui Halimah. Apa yang harus dilakukannya?

Malam semakin gelap dan sepi. Tapi, Halimah (40) tak mampu memejamkan mata. Ia menatap keempat buah hatinya yang tengah tertidur pulas di ruangan kayu berukuran 3 x 4. Air matanya mengalir.

Halimah mengaku bingung. Seminggu lagi bulan Ramadhan tiba. Tapi, ia tidak tahu apa yang harus direncanakan di bulan suci ini. Maklum, sejak suaminya, Abdul Rasyid meninggal dunia, Halimah hanya mampu berjualan penganan ringan di depan sebuah sekolah dasar (SD) di desanya.

Hasil dari jerih payah berjualan itu, Halimah mencoba mengumpulkan sebagiannya untuk membiayai pendidikan keempat anaknya. Halimah mencoba menutupi kebutuhan hidup dan membiayai pendidikan keempat anaknya dengan penghematan yang luar biasa.

Anak pertama Halimah, kini tengah duduk di Semester III, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Zawiyah, Cot Kala Langsa. Anak kedua dan ketiga Halimah duduk di bangku SMU dan SMP. Sedang anak bungsunya, Muhammad Nazar, masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).

Hingga kini, Halimah dan keempat anaknya masih menumpang di rumah abangnya, di Desa Seneubok Baroe, Kecamatan Ranto Peureulak Aceh Timur. Karena, rumah yang pernah dihuninya bersama almarhum suami hangus terbakar semasa konflik. Suami Halimah adalah seorang komandan GAM Operasi Sagoe Nurul A’la.

Keadaan inilah yang sedang dipikirkan Halimah. Saat bulan suci Ramadhan, tentu sekolah tempat biasa Halimah menggelar dagangannya akan tutup. Jadi, ia sedikit bingung bagaimana mengumpulkan uang untuk biaya pendidikan anak pertamanya di Langsa. Apalagi harus kost.

Belum lagi ongkos dan biaya kedua anaknya yang duduk di SMU dan SMP. Pengakuan Halimah. Keempat anak-anaknya belum memperoleh beasiswa dari sekolah mereka. Bahkan anak sulungnya yang kuliah juga tidak memperoleh bantuan beasiswa. Baik dari sekolah maupun dari Pemda Aceh Timur.

Ia terkadang tak mampu membendung air mata bila melihat salah satu dari keempat buah hatinya itu meminta sesuatu yang mereka inginkan. ”Saya hanya bilang, sabar nak. Nanti, jika sudah ada uang akan ibu belikan,” ucap Halimah getir.

Sedangkan rumah yang telah terbakar memang tengah dibangun oleh Badan Reintegrasi Aceh (BRA), namun pengamatan media ini, pembangunan rumah tersebut masih terkendala. Belum selesai juga walaupun sudah lama di bangun.

Namun begitu, Halimah tetap yakin, Allah pasti masih mmberikan rezeki apabila ia mau berusaha. Untuk itu, Halimah tengah berpikir untuk berjualan makanan di bulan Ramadhan. Namun, lagi-lagi Halimah kebingungan. Karena dirinya benar-benar tidak memiliki dana untuk modal berjualan.

Halimah mengaku pernah menerima dana diyat sebesar Rp 3 Juta tahun lalu. Dan dana itu dia pergunakan untuk pendidikan dan modal berjualan penganan anak-anak di samping sekolah di desanya. ”Entahlah dek. Saya hanya berharap anak-anak saya tidak putus sekolah. Walau semuanya tidak dapat beasiswa. Saya akan tetap bekerja apa saja demi pendidikan anak-anak saya,” kata Halimah kepada media ini sambil menitikkan airmata. Adakah yang peduli dan terketuk hatinya dengan nasib Halimah?***

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s