Mentari di Balik Jeruji (sambungan)

Standard

Mentari di Balik Jeruji (sambungan)

Kisah ini diambil dari berbagai sumber kisah nyata diberbagai penjara di dunia, termasuk Indonesia (penjara anak di jakrta)

Dengan tangan terborgol aku dipaksa duduk dalam ruangan yang sangat gelap…., hanya samar-samar lampu luar yang sedikit menembus celah-celah lubang diruangan tersebut.

Bau anyir darah langsung menusuk indera penciumanku. Aku menutup mata. Kami semua sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku mulai mendapat umpatan dan makian sipir yang memekakkan. Ia menjerit dan memaki-maki tepat ditelingaku. Aku tetap menutup mata. Boss kamarku mulai menghadiahiku dengan tamparan. Air ludahnya menempel diwajahku.

“Aku lapar sekali,” kataku dengan mata terpejam, ketika sipir tersebut berkali-kali menanyaiku dengan sebutan babi keparat, anjing kurap.
Sedangkan hantaman dan tendangan bossku sudah tidak dapat kuhitung lagi. Pandanganku benar-benar gelap.

“Byurrrrrrr……,”

Aku membuka mata, tersentak. Semburan air hangat membasahi wajah dan mengalir keseluruh tubuh. Baunya sangat kukenal, bau yang sangat menyengat. Aku hampir muntah menahannya. Mual!!

***
Kami pernah mendengar bahwa wajah yang dikencingi adalah hukuman paling ringan diruang interogasi. Yang paling naas adalah mati.
Aku berharap cukup disini. Toh aku hanya menyalip antrian, tidak sampai mencuri. Aku menutup kembali mata, berharap semuanya segera berakhir. Dan berharap agar segera berjumpa kembali dengan manusia yang memandangiku dan cinta dan kasih sayang tadi.

Tapi aku salah, karena mereka berdua, sipir dan boss kamarku, kini berdiri dihadapanku dengan gagah perkasa. Tiada sehelai benang yang menutupi tubuh mereka. Aku menggigil ketakutan. Aku benar-benar mengalami rasa takut yang memuncak. Akal sehatku tak mampu membayangkan apa yang akan terjadi. Seketika semuanya gelap. Hanya deburan ombak yang menghantam karang ditepi pantai yang masuk ke kupingku. Aku tertidur dalam nyeri yang berkepanjangan…….. menjerit bersama langit yang terdiam.

***

Aku membuka mata. Tetesan air terasa membasahi pipiku. Sebuah wajah yang kucintai tersenyum memandangku. Lelaki yang tadi memandangku dengan cintanya. Aku memandangi garis-garis diwajahnya. Ketampanannya tak luput dimakan usia, walau kini usianya telah hampir memasuki kepala lima.

“Kamu harus mandi, Ris?” suara lembutnya nyaris tidak terdengar.

Bau anyir sperma dapat kurasakan disekujur tubuhku. Aku mengangguk pelan. Lelaki itu memapahku menuju kamar mandi kecil di bagian belakang sel. Teman-teman satu sel hanya memandangi kami tanpa ekspresi. Mereka disibukkan dengan pikiran mereka masing-masing. Aku dan lelaki yang memapahku melewati satu persatu tempat tidur bertingkat yang berjumlah delapan buah. Sebelum memasuki kamar mandi yang hanya muat untuk satu orang tersebut aku sempat melihat pemuda yang tadi pagi digagahi boss kini sedang bersetubuh dengan seorang lelaki separuh baya. Suara derit tempat tidur tidak dapat diam karena gerakan mereka merdua.

Lalu, lelaki dengan rasa cinta diwajah itu membantuku membuka baju. Matanya mengamati secara seksama goresan-goresan yang menghiasi tubuhku. Darah –darah kering masih melekat. Ia membuka celana yang kukenakan. Mengamati setiap luka yang membekas dipahaku. Ia meletakkan dua jari tangan kirinya kebagian ****ku. Ia menatapku. Menangis sejadi-jadinya. Darah segar menempel pada telapak tangan kirinya.

“Harist anakku, maafkan ayah, nak. Ayah telah menghancurkan hidupmu.”

Aku segera memeluknya, erat. Air mataku jatuh membasahi pundaknya. Mencoba menenangkan hati dan jiwanya.

“Mungkin ini sudah nasib yang harus kita jalani,” aku menenangkannya. Aku menutup mata. Darah yang mengalir dari lubang belakangku masih terasa.

Bersambung…………………

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s