Malam Panjang

Standard

Matahari mulai menyonsong, butiran-butiran embun berkilauan tersiram cahayanya. Pagi ini, aku harus segera ke sekolah, seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada nasi atau sarapan pagi lainnya diatas meja. Ayah hanya memberiku 500 rupiah untuk sarapan disekolah.

Saat itu, aku hanya bisa berjalan kaki sejauh satu setengah kilometer, menuju sekolah setiap harinya. Terbakar panas, menggigil kedinginan saat hujan turun dari langit. Namun bukan itu yang membuat aku menjerit. Kakiku masih bisa melangkah diantara teriknya matahari, tubuhku masih bisa menahan derasnya hujan.

Akan tetapi, aku telah kehilangan seorang ibu disaat aku membutuhkannya. Saat itu, usiaku masih dua belas tahun, kelas 1 SMP. Namun aku tidak merasakan kehadiran dan kasih sayang ibu. Ibuku, adalah seorang kepala sekolah yang terusir dari kami anak-anaknya.

Tahun 1989, konflik Aceh hanya sebatas di Aceh Timur, Aceh Utara dan Pidie. Setiap pukul 19.00 WIB, kami, warga pedalaman di Aceh Timur dikenakan jam malam. Tidak ada yang bisa kami lakukan, selain tidur menanti pagi.

Ah.. Mengapa aku selalu mengingat malam terakhirku bersama ibu. Malam durjana yang membuat detak jantungku sulit berhenti. Degupan keras jantungku seakan ingin melepaskan jiwa dari ragaku. Sakit.

Kulihat ibuku, duduk termenung diantara tatapan kami anak-anaknya, hening. Hanya air mata dan degup jantung kami yang berdetak.

“Sudahlah, mengapa menangis. Ibu tidak apa-apa kok. Ibu masih sehat,” kata ibu mencoba menghibur kami.

Tidak kataku! Aku tidak ingin ibu mati! Aku menangis.

Malam itu, waktu terasa lama, seolah enggan beranjak menuju pagi. Aku tak sabar, ingin malam segera berganti pagi, agar ibu bisa secepatnya keluar dari rumah dan mencari perlindungan ke rumah nenek di Takengon.

Aku tidur bersama ibuku, menatapnya, mendoakannya setiap detik nafasku. Mencoba menjaganya dari segala kejahatan tangan manusia.

Aku tidak ingin ibuku mati seperti mereka yang mati dengan tembakan. Aku tidak ingin ibuku dicampakkan seperti mayat-mayat yang sering kulihat dipinggir jalan. Seperti tubuh-tubuh kaku yang kulihat dibawah jembatan. Aku tidak mau!

Ayahku, walau mencoba tegar namun aku tahu Ia sedang kalut. Kulihat ayahku mondar mandir sepanjang  ruang tamu. Sesekali mengintip situasi diluar rumah melalui celah jendela. Kulihat ibuku terpekur dalam sujud yang panjang. Dapat kudengar dengan jelas untaian do’a diantara isakan tangisnya, “Jangan pisahkan aku dengan anak-anakku saat ini.”

Malam terasa semakin panjang. Entah kapan berakhir. Ibu memanggilku, agar membantunya untuk masuk ke bawah kolong tempat tidur. Aku membantunya dan memberinya sebuah bantal. Dengan mendekap Qur’an, ibuku istirahat dibawah tempat tidur. Aku terduduk. Air mataku berurai menyaksikan kondisi ibu yang pucat pasi.

Ya Allah, mengapa malam begitu lambat bergerak. Sampai kapankah pagi akan menjemput. Jangan biarkan aku menyaksikan detik-detik yang menyakitkan ini.

Saat ibuku sedikit tenang dalam tidurnya, aku mencoba melihat kondisi adik-adikku. Kutinggalkan Ibu sebentar di bawah tempat tidur. Di ruang tamu, kulihat ayahku diam seribu bahasa. Terpaku diatas kursi. Tidak ada kata yang dapat kuucapkan untuk menenangkannya. Aku bergegas menuju kamar dimana adik-adikku tidur. Lilis, Putra, heri, ketiga adik-adikku duduk termenung. Tanpa suara. Ya Allah, mengapa malam begitu lambat berjalan….

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s