Jeritan Sang Supir Labi-labi

Standard


Ramli menyeka keringatnya. Teriknya matahari tidak mengendurkan niatnya memanggil calon penumpang, untuk menaiki labi-labi yang dikemudikannya.

Siang itu, Rabu (20/05), antara sabar dan putus asa, Ramli terus memanggil remaja-remaja berbaju putih biru yang sedang menunggu labi-labi di terminal Keudah, Banda Aceh.

Peluh terus membasahi tubuhnya yang terbakar panas matahari. “Tenang, mungkin belum rezeki,” kata Ramli dalam hati. Menyemangati diri.

Sejak beberapa tahun belakangan ini, pendapatan para supir dan pemilik labi-labi dalam kondisi yang memprihatinkan. Hal ini sangat dirasakan Ramli. Lelaki 38 tahun ini mengaku, pekerjaannya sebagai supir labi-labi tidak lagi mampu mencukupi kehidupan keluarganya.

“Bila tahun 2005 kami masih bisa mendapat pendapatan bersih Rp 70 ribu rupiah per hari. Kini, jangankan 50 ribu, untuk menutup biaya minyak dan uang harian ke pemilik saja terkadang tidak mencukupi,” ujar supir labi-labi jurusan Ulee Kareng – Pasar Aceh ini.

Selain dikejar permasalahan kebutuhan ekonomi yang semakin hari kian melambung, kehadiran sepeda motor dengan sistem kredit murah secara tidak langsung memang telah menggerogoti pendapatan Ramli sebagai supir labi-labi.

Namun begitu, Ramli tidak mau menyalahkan perusahaan sepeda motor, karena tekhnologi dan kebutuhan manusia memang semakin berubah sesuai zamannya.

Kondisi ini juga di alami supir labi-labi lainnya dengan jurusan berbeda. Ramli, bukanlah satu-satunya supir labi-labi yang mencoba bertahan diantara kebutuhan ekonomi keluarga dan susahnya mencari rezeki.

Tidak sedikit para pemilik labi-labi yang beralih profesi dengan menjual labi-labi yang selama ini tempat menggantung hidup. Supir dan kernet mau tidak mau mendapat imbas dari kebijakan pemilik labi-labi.

Sebut saja Ali. Pria berkulit hitam asal Ulee Kareng yang pernah menjadi kernet supir labi-labi ini kini menjadi sebagai tukang cuci piring di salah satu rumah makan di bilangan Simpang BPKP, Banda Aceh.

“Saya tidak ada lagi pekerjaan sejak pendapatan labi-labi menurun drastis. Sebagian besar supir atau pemilik labi-labi tidak lagi membutuhkan kernet demi menghemat pengeluaran,” ujar Ali.

Selain Ali, ada Khairul. Pemuda yang pernah menjadi supir labi-labi jurusan Lambaro Angan – Pasar Aceh ini juga banting setir menjadi penarik becak. Menurut Khairul, menarik becak sama keringnya dengan menjadi supir labi-labi. Akan tetapi, tambah Khairul, hasil menarik becak masih bisa ditabung sedikit.

Fenomena ini, memang terlalu sepele untuk menjadi perhatian pemerintah. Padahal, kondisi yang sama juga terjadi hampir diseluruh kabaputen/kota di Aceh.

Kehidupan supir labi-labi memang sangat dilematis. Sangat jauh berbeda dengan supir bus antar kota antar provinsi atau supir-supir moven seperti jenis L-300. Supir labi-labi sangatlah sulit dan rentan.

Sayangnya, jeritan ini hampir tidak pernah didengar oleh Pemerintah Aceh. Coba lihat yang pernah dilakukan para supir labi-labi jurusan Darusalam – Pasar Aceh. Jalur basah labi-labi ini pernah di protes oleh supir labi-labi jurusan tersebut dengan aksi mogok. Namun Pemerintah tidak mampu berbuat lebih. Jalur basah itu semakin dipersempit oleh kehadiran bus-bus mahasiswa yang disediakan oleh pemerintah dan universitas beberapa waktu lalu.

Kehidupan supir labi-labi benar-benar dalam himpitan berat. Kebutuhan ekonomi keluarga, biaya pendidikan anak, biaya kesehatan dan biaya-biaya tak terduga lainnya memang bukan lagi sebuah angan-angan. Supir labi-labi hanya berharap ada penghasilan lebih untuk bisa dibawa pulang, setelah dipotong untuk pemilik labi-labi ataupun yang lainnya. Supir labi-labi tak berharap lebih.

Dimanakah pemerintah saat ini yang memiliki dana triliunan rupiah itu. Kemanakah dana-dana itu mengalir. Adalah masyarakat khususnya supir labi-labi pernah memperoleh setitik harapan dari dana-dana itu? Akankah fenomena kemiskinan terselubung ini akan menghiasi kehidupan para supir labi-labi dan keluarganya.

Akankah mereka mendapatkan perhatian, hususnya oleh Pemerintah kita sendiri, Aceh?.

Ket :

Labi-labi : Sejenis angkot / minibus /sudaco

3 thoughts on “Jeritan Sang Supir Labi-labi

  1. kodok

    betul. ga cuma di aceh kok. di semua tempat para pakerja angkutan umum mengeluh. harga minyak naik, penumpang makin dikit, belum lagi pungutan macem2. terus tajamkan pena akhy akhyar

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s