Melemas Otot di Tangan Tuna Netra

Standard

Beberapa pemuda duduk. Di tangan meraka masing-masing memegang sebuah handphone seluler berbagai merek seperti Nokia dan Samsung. Namun masih kelas low end. Jari-jari mereka sibuk meraba-raba dan memencet tombol numerik, menekannya hingga tersambung. Ntah siapa yang mereka telepon.

Aksi mereka seketika berhenti saat seorang laki-laki berpakaian kantoran masuk. Salah seorang dari pemuda itu menanyakan tujuan laki-laki tadi. “Silakan ke dalam Pak,” ujar pemuda itu. Nama pemuda itu Khairil.

Khairil ikut masuk kedalam kamar dan mempersilahkan sang tamu untuk membuka baju. Sang tamu tanpa sungkan langsung membuka baju dan hanya mengenakan celana pendek, lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang telah disediakan.

“Inilah pekerjaan saya, bang. Setiap hari mencari uang dengan menjadi tukang pijat,” kata Khairil kepada saya, saat ditemui dikontrakannya sekaligus tempatnya bekerja sebagai tukang pijat tuna netra, di sekitaran Kuta Alam Banda Aceh, pekan lalu.

Khairil bercerita, jika dirinya telah menjadi tukang pijat selama dua tahun. Bersama teman-teman yang juga buta, Khairil mengaku bahagia bisa bekerja dan mencari uang sendiri. Tanpa harus menyusahkan keluarga apalagi harus menjadi tukang minta-minta (sedekah, red) di tengah jalan.

Khairil, pemuda 25 tahun asal Aceh Selatan ini mengaku, ilmu pijat yang dimilikinya bukanlah datang begitu saja. Namun harus belajar sebagaimana sekolah-sekolah lainnya. Sebelum menekuni tukang pijat tuna netra, Khairil, atas dukungan orang tua dan dorongan keluarga, akhirnya menempuh pendidikan di Universitas Jabbal Ghafur, Pidie. “Di sana orang-orang buta seperti saya, dilatih bagaimana menjadi seorang tukang pijat. Mulai pijatan yang sederhana hingga pijatan serius untuk orang-orang sakit. Namun tergantung pilihan kami,” sebut Khairil.

Nah, status tuna netra sebagai tukang pijat itu akan menjadi sahih saat ijazah kelulusan dikeluarkan. Jabbal Ghafur selaku pengelola akan mengeluarkan ijazah bagi para tuna netra ini apabila telah menyelesaikan pendidikan lebih kurang 2 tahun lamanya. “Tapi saya belum sempat mengambil ijazah saya, bang,” ujar Khairil tersenyum kepada saya.

Sebenarnya, sebagaimana dikatakan Khairil dan teman-temannya, di Ladong Aceh Besar juga terdapat sekolah pijat untuk para tuna netra. Dan cara belajarnya juga sama dengan yang di Jabbal Ghafur.

Apa bedanya memijat di rumah langganan atau tempat pijat sendiri, tanya saya. Menurut Khairil, siapa saja yang meminta kami untuk memijat dirumah kami terima. Akan tetapi dengan syarat kami dijemput dan diantar pulang kembali. Dan biayanya juga berbeda. Yaitu Rp 50 ribu, sedangkan di sini hanya Rp 30 ribu rupiah, tambahnya.

Fenomena Tukang Pijat Tuna Netra di Banda Aceh memang sedang booming. Saya pribadi melihat, hampir di setiap sudut kota Banda Aceh terdapat pamflet-pamflet yang menawarkan jasa pijat tua netra. Dan semua usaha ini, ternyata memiliki hubungan yang erat satu sama lainnya. “Mereka juga teman-teman kami. Terkadang kami sering kumpul-kumpul untuk sekedar bercerita dan saling tukar pikiran sesama tuna netra,” kata Khairil kepada saya.

Namun begitu, bukan berarti hidup Khairil tidak mengalami masa-masa sulit. Khairil mengaku pernah beberapa kali pelanggannya laki-laki itu meminta yang aneh-aneh. Gerah juga seandainya ada pelanggan yang tidak jelas. Khairil menyebutkan, ada juga beberapa pelanggan yang iseng menyuruhnya untuk memijat, maaf (kemaluan). Khairil tentu menolak. Saya hanya bertugas sebagai tukang pijat dan bukan untuk hal-hal yang lainnya. Padahal itu berdosa, ungkap Khairil kesal.

Selain itu, Khairil sering menanyakan kepada teman-temannya, kapan mereka bias mendapatkan bantuan dari pemerintah. Karena, sebagaiaman yang diketahuinya, ada alokasi khusus dari pemerintah bagi orang-orang cacat seperti dirinya. Namun hingga kini ia tidak tahu harus berbuat apa untuk bisa mendapatkan bantuan itu.

Akan tetapi, Khairil dan teman-temannya mengaku bersyukur. Karena masih bias bekerja normal dan tidak harus bertumpu pada keluarga dan orang tua. Kemandirian ini, sebut Khairil, telah menjadikan dirinya kuat terutama bila melihat para tuna netra lainnya yang lebih memilih menjadi pengemis dan meminta-minta dipinggir jalan atau di pasar-pasar.

Bila waktu senggang, para tuna netra ini, akan saling bersilaturahmi sesama tuna netra. Terkadang jalan-jalan ke laut walau hanya untuk menikmati semilir angina. Radio, adalah sarana yang paling mereka nikmati. Mulai acara berita, musik hingga kuis mereka dengar. Selain itu, kemajuan tekhnologi juga telah dapat mereka nikmati dengan uang halal hasil jerih payah sebagai tukang pijat. “Kami sudah bis membeli handphone sendiri. Bisa untuk nelpon keluarga, eman-teman termasuk pacar,” kata Khairil tersipu-sipu.

Lelaki hitam manis ini mengaku, kini dirinya tengah menjalin asmara dengan salah seorang wanita yang sepertinya (tuna netra, red). Dari penghasilan memijat, Khairil selalu menyisihkan pendapatannya untuk ditabung demi membeli mahar untuk sang kekasih. “Saya berharap, kami bisa menjalani hidup normal. Jangan lagi memandang sinis akan kekurangan kami. Apalagi dengan pekerjaan kami yang sering dibilang tidak benar.,” harap Khairil menutup pembicaraan.

3 thoughts on “Melemas Otot di Tangan Tuna Netra

  1. Mereka bisa bekerja mencari nafkah dengan cara halal. Sungguh perjuangan yang gak mudah dengan “keistimewaan” yang mereka miliki.

    Semoga bisa memberi inspirasi bagi tuna netra lainnya bahwa mencari nafkah tidak harus mengemis

  2. mereka aja ingin punya kehidupan normal, nah kita yang normal malah pengen yan abnormal…. bang Martha sang abeh pijat2 ya

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s