Azan Maghrib dan Secangkir Kopi

Standard

Suara Azan baru saja berhenti berkumandang. Seduhan kopi dari dalam gelas-gelas diatas meja masih mengepul dan menebarkan aroma khasnya kopi Aceh. Percakapan dibarengi gelak tawa masih tetap membahana. Namun, hanya satu dua langkah yang bergerak menuju kebelakang. Sholat!

Gambaran inilah yang saya lihat saat duduk di kedai kopi Chek Yuke, Jalan Tepi Kali, Banda Aceh, Kamis sore (21/5).

Para pecinta kopi itu seolah tak mendengar kerasnya suara Azan yang dipancarkan dari Mesjid Raya Baiturrahman. Suara tawa, kepulan asap rokok, tak juga berhenti. Para pecinta kopi yang sebagian besar didominasi oleh kaum adam itu tetap pada tempat duduknya. Menikmati segelas kopi dan indahnya pemandangan Krueng Aceh yang tepat berada di depan Chek Yuke.

Kondisi yang sama ternyata tidak jauh berbeda dengan kedai kopi – kedai kopi lainnya di Banda Aceh. Seperti kedai kopi Helsinki di Simpang Lima dan kedai kopi Black and White (B & W) di Jalan Teuku Umar, Setui Banda Aceh.

Kedai kopi, sebagaimana yang terlihat, bila azan maghrib berkumandang telah memberi aba-aba bagi pengunjung dengan berbagai cara. Di kedai kopi Helsinki misalnya. Para karyawan disana secara teratur mematikan suara musik dan seluruh lampu utama.

Fenomena berkumpul dan minum kopi di kedai kopi, bagi orang Aceh memang sudah menjadi kebiasaan sejak dulu. Namun, fenomena baru justru hadir bersamaan banyaknya kedai kopi yang menghiasi kota Banda Aceh.

Sekali-kali waktu, cobalah anda datang dan melihat langsung fenomena para pecinta kopi di Banda Aceh ini saat Azan maghrib datang. Tunggu dan lihatlah, sebagian besar pengunjung tetap duduk dikursinya. hanya satu dua pengunjung yang melangkah untuk menunaikan sholat.

Padahal, ketiga kedai kopi diatas telah menyediakan mushala kecil bagi para pengunjung. Sehingga, bagi yang ingin menunaikan sholat maghrib tidak harus bersusah payah mencari tempat sholat lagi.

Inilah fenomena baru itu. Fenomena yang sangat menarik namun sangat menyedihkan. Disaat Syariat Islam diagung-agungkan dan berusaha untuk dijalankan dengan baik, namun, yang tampak didepan mata justru berbeda.

Padahal, sebagian besar kedai kopi itu berada di pinggir jalan utama kota Banda Aceh. Sehingga akan dapat dilihat langsung bagaimana keadaan sesungguhnya di saat maghrib datang.

Perlukah menyalahkan pihak pengelola warkop atau pemerintah yang lemah dalam menjalankan syariat islam itu sendiri.

Mengapa fenomena miris seperti ini hampir tidak mendapat perhatian serius pemerintah yang selalu mengangung-agungkan Syariat Islam. Dimanakah para anggota Wilayatul Hisbah (WH). Bukankah ini menjadi tanggung jawab mereka, tanggung jawab kita bersama?

Euphoria kehadiran kedai kopi di Banda Aceh diakui menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi, bila dikelola secara professional, maka akan dikejar para pecinta kopi. Baik tua maupun muda, tak terkecuali kaum perempuan.

Fenomena membludaknya para pengunjung saat azan maghrib berkumandang tentu sangat disayangkan. Apalagi, tidak sedikit dari pengunjung bercengkrama dengan gelak tawa yang terbahak-bahak. Siapakah yang harus disalahkan, Pemerintah, Pengusaha kedai kopi, Pengunjung, Atau menyalahkan orang-orang yang melihat kondisi miris ini saat maghrib datang?

Saya tidak dapat berbuat apa-apa. Saat kaki ini melangkah keluar dari Chek Yuke, saya masih melihat seduhan kopi dari dalam gelas-gelas yang dihidangkan pelayan. Masih mengepul dan menebarkan aroma khasnya kopi Aceh. Gelak tawa dan asap rokok terus mengepul. Entah sampai kapan?

6 thoughts on “Azan Maghrib dan Secangkir Kopi

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s