Azan Maghrib dan secangkir Kopi Bag II

Standard

Dengan langkah terburu-buru, Ikhwan (18) menghampiri salah satu meja disudut ruangan berwarna putih itu. Tangan kanannya sibuk mencatat pesanan dua orang pemuda yang sudah menjadi pelanggan tetapnya.

Itulah salah satu potret kesibukan Ikhwan, salah satu pelayan di kedai kopi De Helsinki, Jalan Teuku Nyak Arief,Simpang Lima Banda Aceh. Jum’at (22/05).

Belakangan ini, kemunculan kedai kopi di Banda Aceh tumbuh bak jamur dimusim hujan. Hampir disetiap sudut kota Banda Aceh. Alasan klise, banyak penggemar kopi di Aceh.

Kedai kopi De Helsinki tempat Ikhwan bekerja memang termasuk salah satu kedai kopi yang paling banyak didatangi penikmat kopi di Banda Aceh. Coba lihat saja, banyak event dan kerjasama yang dilakukan De Hels (Begitu Kedai kopi ini disebut) dengan berbagai pihak.termasuk salah satu produsen rokok nasional.

Namun begitu, untuk urusan maghrib, De Hels tidak jauh berbeda dengan kedai kopi lainnya yang ada di Banda Aceh.

Bila maghrib datang, para pelayan di kedai-kedai kopi ini tetap duduk dengan santainya.Yang mengerjaan sholat tetap ada. Dan mereka terkadang antri untuk bisa sholat di mushala yang disediakn.

”Tapi, kita tentu tidak mungkin menyuruh mereka sholat. Serba salah,” ungkap Ikhwan saat ditanya perilaku pengunjung di kedai kopinya, De Hels.

Memang kondisi seperti ini sulit dikendalikan. Karena itu, sebut Ikhwan, De Hels sudah memberi aba-aba secaratidak langsung dengan mematikan lampu dan musik saat azan berkumandang hingga maghrib selesai.

Pihak Wilayatul Hisbah (WH) sepertinya tidak pernah mengamati fenomena ini. Buktinya, pihak WH tidak pernah melakukan razia pada kedai kopi yang dipenuhi pengunjung saat maghrib.

Adi, salah satu pengunjung tetap De Hels mengatakan, walau setiap maghrib pengunjung ramai duduk diluar, namun WH tidak pernah datang melihat. ”Saya tidaktahu,apakah pihak WH tidak pernah melihat atau memang tidak peduli.,” tambah mahasiswa Unsyiah ini.

Tidak sedikit warga mencibir perilaku pecinta kopi di banda Aceh ini. Sekali-kali cobalah naik labi-labi yang melewati kedai kopi seperti De Hels, B & W Khupi, Chek Yuke dan lainnya. Maka akan terlontar cibiran dari para penumpang labi-labi.

Inilah fenomena lain dari ramainya kedai kopi di Banda Aceh. Adakah yang salah dengan semua ini?


WH Hanya Sebatas Himbauan

Kritik masyarakat terhadap fenomena kedai kopi saat maghrib tiba ternyata tidak dapat ditindaklanjuti secara serius. Masih sebatas himbauan dan seruan.

”Masalah ini hanya sebatas himbauan,”kata Wakil Komandan Operasi (Wadan Ops) Satpol PP/WH Provinsi Aceh, Tgk Adin saat dimintai pendapatnya terhadap fenomena kedai kopi di Banda Aceh menjelang maghrib, Jum’at (22/5).

Menurut Adin, untuk masalah ramainya masyarakat yang tetap santai di kedai kopi, pihannya hanya memberikan seruan dan himbauan kepada para pemilik kedai kopi.

Namun begitu, untuk melarang masyarakat yang duduk di warung kopi khususnya saat maghrib tentu sesuatu yang tidak mungkin dilakukan WH.

“Kita tidak mungkin menangkapi mereka,” jelas Adin.

Ketika ditanya seruan atau himbauan bagaimana yang telah dilakukan WH. Untuk hal ini, menurut Adin, pihaknya telah datang dan memberi tahu hal itu. Termasuk dengan cara menempel brosur-brosur di kedai kopi yang ramai dikunjungi masyarakat.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s