Politik Desas-Desus di Aceh

Standard

http://www.hinamagazine.com/wp-content/uploads/2009/04/partai-aceh.jpg”MERDEKA!” pekik Muhammad, bersemangat. Kata itu spontan dia ucapkan usai membaca hasil rekapitulasi sementara Komisi Independen Pemilu (KIP) Aceh yang dimuat salah satu harian lokal, tepat seminggu setelah pemilihan umum (Pemilu) legislatif berlangsung pada 9 April 2009.

Pekikan itu disambut gembira beberapa teman Muhammad yang berada di sampingnya, saat mereka menikmati kopi panas di sebuah kedai di Rantau Panjang, Ranto Peureulak, Aceh Timur.

Remaja 17 tahun menganggap Aceh akan merdeka tak lama lagi, karena Partai Aceh (PA) menang pemilu 2009.

Merdeka bukanlah ucapan yang asing bagi Muhammad dan teman-temannya. Mereka hidup di wilayah konflik antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka.

Entah siapa yang memulai, tapi isu tentang kemerdekaan Aceh ini merambat dari mulut ke mulut.

Isu ini pun dibahas di kampus, kedai kopi, pasar, forum diskusi, dan internet.

Forum debat terbesar di Aceh, www.acehforum.or.id, menampungnya dalam berbagai versi judul. Forum tersebut memiliki 16 ribu anggota.

Salah satu debatnya bertajuk “PA Menang, Aceh Merdeka”. Pada pembukaan debat tertera  hasil percakapan via YM (Yahoo Messenger) antara seorang anggota yang ber-ID Laksamana dengan salah satu tokoh Aceh yang menggunakan inisial samaran.

Laksamana bertanya, ”Kemanakah arah Aceh jika PA duduk di Parlemen?” Si tokoh Aceh menjawab, “Merdeka!”

Ini pulalah yang didengar Muhammad. Remaja yang mengaku pernah memegang senjata saat konflik itu merasa yakin PA akan menang dan membawa Aceh menjadi negara yang berdaulat dan lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI.

Hingga akhir Sidang Pleno KIP Aceh pada 29 April 2009 lalu, di Gedung  Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), PA memang menjadi pemenang dengan persentase suara 48 persen dan berhak memperoleh 33 kursi di DPRA untuk periode 2009-2014.

Namun begitu, persentase ini ternyata jauh meleset dengan apa yang pernah diyakini PA sebelumnya.

”Kita berani menyatakan memperoleh keseluruhan suara sebanyak 70 persen,” ujar juru bicara PA, Teungku Adnan Beuransah, pertengahan April itu di Kantor Dewan Pimpinan Pusat PA, Banda Aceh.

Walau PA gagal meraih 70 persen suara, namun orang Aceh tahu pasti PA telah memenangi Pemilu dan akan membawa perubahan bagi Aceh, apapun bentuknya.

Seorang pengamat kepolisian, Aulia Asep Ralla, menulis opininya tentang isu kemerdekaan Aceh ini di www.kabarindonesia.com pada 1 Mei 2009.

Aulia menyatakan tanda-tanda  kelompok mantan separatis GAM semakin intens untuk melakukan pemisahan diri terhadap NKRI. Dasar argumentasinya cukup lucu.

Aulia mencurigai salah satu kebijakan Pemerintah Aceh saat ini yang dianggapnya taktik menuju kemerdekaan Aceh. Dia menyebut pemerintah Aceh memperkuat sistem keamanan melalui Departeman Kehutanan sebagai salah satu kedok untuk membangun kekuatan milisi bersenjata. Mereka saat ini, tulis Aulia, telah membangun suatu kekuatan militer dengan melakukan penggemblengan terhadap polisi kehutanan provinsi Aceh dengan materi navigasi darat, kompas dan peta.

Pernyataan itu diperkuat Aulia dengan adanya keputusan pemerintah Aceh untuk membekali para polisi hutan dengan senjata laras panjang yang dibekali peluru tajam.

Kenyataannya, hutan Aceh memang rawan penjarahan. Aksi penjarahan ini tak jarang melibatkan aparat. Para pelaku penebangan kayu ilegal ada yang menggunakan senjata api dan berkelompok. Tak berlebihan bila pemerintah Aceh membekali aparatnya dengan senjata api pula untuk berjaga-jaga saat situasi memburuk.

Ulasan Aulia berlebihan. Tapi Aceh akan kembali jadi ajang konflik apabila paparannya ditanggapi serius oleh pemerintah Indonesia.

Namun, gosip di internet, pendapat Aulia dan para pendukung PA di Aceh Timur itu disangkal  Zakaria Muhammad Amin. Dia wakil panglima sagoe Nurul A’la Ranto Peureulak, Aceh Timur.

”Partai Aceh tidak berbicara masalah merdeka atau melepaskan diri dari NKRI pasca MoU silam. Walaupun PA memenangi pemilu ini, bukan berarti secara serta merta PA mengkoordinir Aceh untuk lepas dari NKRI,” katanya, tegas.

Tuduhan bahwa kemenangan PA akan membawa kemerdekaan, menurut Zakaria, adalah pendapat orang-orang yang tidak pernah membaca dan menelaah butir-butir Kesepakatan Helsinki.

Mantan gerilyawan ini menambahkan bahwa seandainya Aceh merdeka tentu hal itu tidak lagi dicapai melalui perjuangan bersenjata atau kekerasan.

Desas-desus atau gosip telah menyebar. Pencetusnya tak bisa ditelusuri lagi. Tapi desas-desus atau gosip akan sangat berbahaya bila menjadi dasar sebuah keputusan politik di masa transisi demokrasi ini.***

sumber : http://acehfeature.org

14 thoughts on “Politik Desas-Desus di Aceh

  1. Solid post, nice work. It Couldn’t be written any improved. Reading this post reminds me of my previous boss! He always kept babbling about this. I will forward this article to him. Pretty certain he will have a superb read. Thanks for sharing!

  2. I liked your posting and i will really say the fact that last post posted relating to this topic explained everything. And this also post is actually a booster. I can say how the starter on this post got searching for this information so was I, I did look for this topic, but bang you people posted regarding this. Thanks all for offering this thread and really making valuable contribution. It genuinely will assist me as well as the post starter in the process!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s