Wisata Aceh dan Ancaman

Standard

Menikmati masa liburan kerap dilakukan masyarakat dengan mengunjungi objek-objek wisata. Demikian halnya dengan Aceh. Ribuan masyarakat berbondong-bondong mendatangi daerah wisata untuk melepas lelah setelah menjalani berbagai rutinitas yang menjenuhkan.

Sebagaimana yang sempat saya lihat di objek wisata alam di desa Bate Iliek Kecamatan Samalanga dan merupakan land mark Kota Bireuen, Provinsi Aceh.

Setiap liburan, termasuk liburan lebaran, lokasi wisata pemandian alam ini selalu ramai dikunjungi wisatawan local dari seluruh Aceh. Tua muda, kaya miskin, seluruhnya tumpah ruah di area pemandian Bate Iliek.

Kini, Bate Iliek benar-benar menjadi primadona wisata alam. Selain lokasinya yang strategis, di Jalan Negara Banda Aceh-Medan, juga berada tepat diantara pertengahan. Sehingga, masyarakat baik dari arah timur, tengah maupun Banda Aceh dapat mengunjungi daerah ini. Bahkan, tidak sedikit masyarakat yang kebetulan lewat juga berhenti sejenak untuk sekedar beristirahat didaerah ini.

Sayangnya, kondisi dilapangan justru masih jauh dari nyaman. Para pedagang dan pengunjung tanpa merasa takut duduk santai beramai-ramai dibawah jembatan yang dilalui oleh kendaraan berbagai jenis. Kondisi ini tentu sangat rentan.

Jembatan diatas sungai Bate Iliek tersebut merupakan jembatan utama di jalan Banda Aceh – Medan. Setiap harinya ribuan kendaraan berat melintasi jembatan tersebut. Kondisi ini sangat rantan, karena, sewaktu-waktu dapat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Selain itu, disaat musim hujan seperti saat ini, seharusnya, masyarakat perlu waspada. Karena, kapan saja bias terjadi banjir bandang. Apalagi, sata ini, kondisi hutan Aceh dibagian hulu sebagian besar telah rusak parah. Dimana, daya tahan hutan untuk menampung air hujan sudah sangat kritis. Karena itu, hal ini seharusnya diwaspadai.

Sayangnya, melihat kondisi di lokasi, nyaris tidak ada pengelola yang memberi peringatan. Bukankah melakukan tindakan preventif lebih baik dari pada menyesal kemudian disaat korban berjatuhan.

Telah banyak contoh kasus kecelakaan alam yang terjadi di areal wisata. Mulai dari banjir bandang, tanah longsor hingga kejadian-kejadian lainnya yang telah merengut banyak jiwa.

Hal ini juga perlu dilihat oleh Pemda Bireuen. Apapun alasannya, masyarakat ingin hiburan tentu keselamatan harus diutamakan.

7 thoughts on “Wisata Aceh dan Ancaman

  1. Dadang Heryanto

    Tulisan ini bagus, hanya masih perlu koreksi dari segi keredaksian. Misal, pada akhir paragraf keempat terdapat kata ‘daerah’ dengan awalan ‘di’. Semestinya kata ‘di’ dan ‘daerah’ ditulis terpisah karena bukan merupakan kata kerja melainkan keterangan tempat.
    Begitu pula pada paragraf kelima terdapat kata ‘dilapangan’ yang juga seharusnya dipisahkan dari awalannya.
    Pada paragraf keenam kalimat ketiga juga terdapat ketidak-akuratan kata yakni kata ‘rantan’ yang seharusnya ‘rentan’. Hal yang sama juga terdapat pada paragraf ketujuh kalimat kedua, kata ‘bisa’ tapi tertulis ‘bias’.
    Kata ‘disaat’ pada paragraf delapan kalimat dua juga semestinya ditulis terpisah.

    Hal ini mengesankan penulis tak membaca dan meneliti lagi artikel ini setelah ditulis, tapi langsung mempostingnnya. Hahahahaha……

  2. Martha Andival

    hihihi… jadi malu jumpa bg redaktur hhihi..

    alah, seperti ndak tahu saja bgmn sifat saya. habis nulis langsung posting/publish.. ga mikir betul salah di tulisan…

    tapi makasih sekali koreksinya, bikin jadi semangat belajar lagi (lebih teliti)..

    Minal Aidin Wal-Faidzin ya… hehehe

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s