Mari Berbagi

Standard

Kebahagiaan, kesedihan, air mata, senyum mengembang, adalah sebuah dinamika hidup yang selalu terjadi.

Dimanapun, kapanpun dan siapapun dia, pernah merasakan hal diatas.

Sebuah dinamika, terkadang dibawah, terkadang diatas, terkadang tersenyum, terkadang menangis. Sebuah dinamika yang tak bisa dihindari. Mau tidak mau, setiap kita akan mengalaminya.

Detik berputar, menit berlalu, hari berganti hingga tahun pun berubah. Begitulah kehidupan.

Namun, kehidupan kini tidaklah menghadapi dinamika yang alami sebagaimana pada masa Rasulullah dahulu. Kini , kehidupan penuh tipu daya dan jauh dari keadilan. Yang kaya  hidup dalam kemewahan dan kemegahan dunia, sedangkan yang miskin, harus berjuang sendiri dalam kehidupannya. Tidak ada yang peduli, jika pun ada, hanya segelintir manusia yang terkadang berharap pamrih.

Dunia bukan lagi milik mereka. Mereka telah termarjinalkan oleh hidup. Oleh keangkuhan dan kesombongan hidup. Mereka harus bertaruh nyawa untuk mendapatkan kesehatan, mereka harus memeras keringat ditubuh mereka agar bisa mendapatkan pendidikan, mereka harus menangis untuk mendapatkan kebahagiaan.

Dinamika hidup yang penuh diskriminasi ini telah melahirkan korban. Korban yang tidak bersalah dan tidak berdosa, korban yang belum mengerti sepenuhnya akan makna kehidupan. Mereka hanya berpikir untuk tersenyum dan bermain didalam lingkungannya. Mereka tidak peduli akan perbedaan yang terlihat.

Merekalah anak-anak yang selahttp://www.bloggaul.comlu berharap, menanti, dan terus menanti.

Anak-anak yang selalu tersenyum dalam “alamiahnya” hidup. Anak-anak yang menangis dalam dinamika kehidupan. Mereka semua butuh cinta, dan harapan.

Uluran tangan dan kasih sayang kita, menjadi secercah cahaya ditengah tandusnya cita-cita  mereka.

Kini mereka menunggu kita, berharap pada kita, untuk mengulurkan seberkah cinta yang ada pada diri kita. Kini mereka hanya tersenyum dalam langkah-langkah kecil  dilorong panti asuhan, di gubuk reot rumahnya,diantara kerumunanan manusia dipenampungan dan pengungsian, hingga anak-anak yang slalu berdiri di emperan toko dan persimpangan jalan raya.

Mereka selalu melihat kita. Dalam hati mereka slalu berharap, “Seandainya… oh seandainya….”.

Tanpa terasa, detik berputar, menit berlalu, hari berganti hingga tahun pun berubah. Aceh Blogger Community (ABC) tlah berusia tiga tahun, tepatnya pada 1 November 2010. Walau masih terlalu muda, namun diusia inilah seluruh pembelajaran dimulai. Sebagaimana seorang bayi berusia tiga tahun.

Pembelajaran untuk mengetahui dunia yang sesungguhnya. Dunia yang penuh cinta dan kasih sayang terhadap sesama. “1 Blogger 1 Buku untuk Aceh”. Segera!

 

 

37 thoughts on “Mari Berbagi

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s