Antara Aceh dan Yogya

Standard

Permasalahan ke-istimewa-an Yogyakarta yang “diributkan” oleh pemerintah Indonesia memang telah memancing emosi sebagian besar masyarakat disana.

Keistimewaan Yogya, merupakan sebuah keistimewaan yang telah lama diberikan. Namun ntah mengapa sekarang baru “diributkan”, khususnya dalam hal status pimpinan utama daerah atau gubernur.

Nah, ternyata, reaksi ini juga muncul di Aceh. Berbagai pendapat terlontar dari berbagai pojok.

Sayangnya, di Aceh, yang saya lihat justru masih menilai sejauh mana perbedaan keistimewaan Aceh dibanding Yogya.

Sangat aneh memang, bagaimana sebuah keistimewaan dinilai dan dibanding-bandingkan. Tulisan ini sendiri muncul dari sebuah opini berjudul Modal Indonesia..? YOGYA atau ACEH..!

Euforia yang berlebihan tentang keistimewaan Aceh masih saja diungkit-ungkit, khususnya dalam hal sejarah.

Untuk saat ini, saya justru melihat posisi Yogya jauh diatas Aceh dalam hal budaya, pengembangan dan naturalisasi budaya dalam berbagai bidang.

Lihat saja, bagaimana pemerintah setempat membuat sebuah program dalam hal pengembangan budaya. Hasilnya, kita bisa lihat,  berapa banyak warga negara asing yang belajar di sana.

Bule-bule itu sengaja datang untuk mengenal sejarah dan budaya Yogya lebih dalam. mereka belajar menggunakan alat musik tradisional jawa,  belajar bahasa (bukan hanya bahasa, akan tetapi juga sastra jawa), sehingga bule-bule tersebut bukan hanya mampu berbahasa jawa secara fasih, tapi dapat menulis dan membaca dalam bahasa jawa. Dan jangan heran, tidak sedikit bule disana yang bisa nembang (padahal nembang itu salah satu seni yg sulit) dan menjadi Dalang dalam sebuah pertunjukan wayang.

Selain itu, mereka juga mempelajari seni tari, makanan bahkan belajar bagaimana membuat batik secara tradisional.

Dan melihat “keaslian” culture yang masih terjaga itu, tidak sedikit pula universitas-universitas besar di dunia mengirimkan staf pengajarnya untuk mengikuti pendidikan tentang kebudayaan jawa dan beberapa daerah lainnya di Yogya.

Mari kita bandingkan dengan Aceh. Dimana kita bisa mencari sebuah lokasi yang masih “suci” culture budayanya sebagaimana Yogyakarta, sehingga orang asing mau berduyun-duyun belajar budaya dan bahasa Aceh?

Dimana kita bisa melihat kehidupan real kebudayaan yang masih ada di Aceh?

Nyaris tidak ada!

Bahkan, di Yogya, aktifitas hari besar disana (kegiatan ritual keraton dan lainnya), kini telah dijadikan sebagai ajang promosi wisata yang mendatangkan jutaan dollar.

Bagaimana dengan promosi wisata Aceh? adakah “menjual” sebagaimana yang dijual Yogya?

Mari kita bandingkan dua gambar di bawah ini. Antara Candi Prambanan dan Benteng Indra Patra.

Suana Candi Prambanan dalam sebuah acara pengenalan pariwisata. Candi ini merupakan salah satu produk yang dipromosikan dalam memperkenalkan kebudayaan Yogya sekaligus sebagai pemasukan daerah.

Germerlap : Suana Candi Prambanan dalam sebuah acara pengenalan pariwisata. Candi ini merupakan salah satu produk yang dipromosikan dalam memperkenalkan kebudayaan Yogya sekaligus sebagai pemasukan daerah. (Sumber foto http://ambulan.0fees.net)

 

 

Tak Terurus : Salah satu peninggalan sejarah Aceh, Benteng Indra Patra, kondisinya sangat memprihatinkan. Kerusakan yang tak pernah selesai diperbaiki, sampah yang berserakan, pamflet yang berkarat hingga kotoran ternak menjadi pemandangan umum.

 

Untuk saat ini, dalam hal pengembangan dan pelestarian sejarah dan budaya, saya melihat, Aceh kalah jauh.

Selain Yogya, masih ada Bali, Tanah Toraja dan Papua. Di Sumatera Utara, sastra Batak juga sudah menjadi sebuah program studi (Di Aceh?).

Dalam suatu kesempatan, bagaimana Discovery Channel menayangkan tentang suku batak yang masih menjaga adat istiadatnya secara baik. Baik dalam hal pakaian, rumah, ritual dan lainnya.

Bahkan, kopi di Simalungung, iklannya sudah bergentayangan di berbagai negara. Bandingkan saja dengan kopi Aceh? justru kopi Gayo dijadikan hak paten secara sepihak oleh salah satu negara.

Kita harus fair, melihat Aceh saat ini, pakaian kita, rumah kita, nyaris hilang ke-Acehannya. Jika pun ada, hanyaah warisan yang tak terurus.

Ada juga beberapa personal yang secara suka rela menjaga dan mengumpulkan, namun tak pernah mendapat perhatian. Bahkan, apa yang dikumpulkan itu sempat hilang karena di curi.

Karena itu, sebuah keistimewaan memang tidak bisa dinilai dengan angka. Kesitimewaan itu sangatlah unik. Kita tidak bisa mengklaim kita lebih istimewa dari yang lainnya.

Semuanya ada jasa, semuanya ada perjuangan dan pengorbanan. Perbedaan pengorbanan itulah yang membuat karakter (istimewa).

Pada masa Rasulullah saw, seluruh Sahabat ra.hum berjuang dan berkorban. Mereka juga beribadah dan berkhidmat kepada Rasul. Akan tetapi, karakter para sahabat yang berbeda, pengorbanan yang berbeda-beda, menjadikan para sahabat mulia.

Perbedaan karakter itulah mereka menjadi istimewa dibanding manusia lainnya. Semuanya mendapat pujian dari Rasulullah saw.

Satu saat, Rasulullah memuji sahabat yang satu, lain kala Rasulullah memuji sahabat yang lainnya lagi dan begitu seterusnya. Rasulullah mencintai dan menghargai seluruh pengorban para sahabatnya. Begitupun kita di Indonesia, kita memiliki pengorbanan yang sama untuk Indonesia.

Perjuangan setiap daerah itu berbeda dalam hal jenis dan bentuknya, semangatnya dan lain-lain.

Kita semua satu untuk satu, tapi perbedaan pengorbanananlah yang membuat satu wilayah atau seseorang itu menjadi istimewa.

Jadi, jika ditanya daerah mana paling berjasa dan memberi kekayaan Indonesia? Semuanya sama. Semua wilayah Indonesia memiliki karakteristik yang luar biasa.  Kekayaan alam, kekayaan bahasa, kekayaan adat istiadat, tidak ada yang lebih baik satu sama lainnya.

Jika ada yang lebih baik? SIAPA YANG MENILAI? APA INDIKATORNYA?, karena, sebuah perbedaan itu tidak dapat dinilai dengan standarisasi POIN yang sama.

– Daerah Khusus Memang Harus Berbeda

137 thoughts on “Antara Aceh dan Yogya

  1. Tulisan bagus, Mar. Sepakat dan sepadan dengan apa yang kupikirkan. Dengan pertimbangan seperti postinganmu inilah aku mendukung rekan-rekan di Jogja untuk mempertahankan nilai-nilai keistimewaan mereka.

    Kasus Aceh, adalah kasus penggerusan nilai dan budaya dengan cuma ie ludah puteh sebagai janji. Dengan bacritan “Daerah Istimewa” yang omong kosong. Jogja, dalam hal lain, karena memiliki keraton dan budaya yang kuat, bertahan dari nasionalisasi ala Jakarta. Jogja, adalah cerminan terbaik saat ini bagaimana kearifan lokal, tradisi dan adat masih dijunjung tinggi, selain dari beberapa suku bangsa di Indonesia yang identitas lokalnya masih kental.

    Temanku dari Ambon berkata, nasionalisme berpangkal dari nasionalisme lokal. Maka adalah susah menerima jika Jakarta (pemerintah pusat) hendak menyeragamkan semua atas nama demokrasi dan apapun itu. Seperti menggali lubang kuburan sendiri untuk membunuh satu persatu identitas anak-anak bangsa.

    Again: tulisanmu bagus. Sebaiknya kau kirim ke Opini Serambi, biar ngeh orang-orang Aceh kita bahwa kita saat ini seperti mengagungkan masa lalu dengan kekosongan identitas belaka.

  2. Keistimewaan memang menjadi ciri khas yogya. Selain budaya dan adat, alam yang indah ditata dengan sangat baik sehingga mendatangkan pemasukan daerah.

    Sebenarnya Aceh sama istimewanya, akan tetapi belum digarap secara maksimal.

  3. Berkat tulisan ini, jadi sedikit terbukalah pemikiran Denuzz…
    Memang pas jika Yogya di bilang daerah Istimewa…
    Namun Aceh? Yang jadi pertanyaan Denuzz, kenapa dahulu Aceh diberi ‘cap’ itu?…
    Kenapa tidak daerah lain yang masih punya ciri khas kuat…
    ehm, mungkin karena dulu banyak pahlawan dari aceh dan aceh dahulunya menjadi pusat perdagangan strategis bagi nusantara…

    Salam BURUNG HANTU… Cuit… Cuit… Cuit…

  4. Kita terkadang tidak sombong, namun terlalu berlebihan akan masa lalu dan lupa dengan kondisi saat ini. padahal kondisi saat ini berantakan tapi tak pernah menjadi prioritas kecuali hanya secuil obral janji sana-sini

  5. Amin jika akhirnya Burhan alias burung hantu jadi terbuka pemikirannya…

    Yogya memang sangat istimewa sekali dan kita tidak bisa memungkiri hal itu.

    Aceh diberi itu karena Islam yang menamcap pertama sekali di Indonesia adalah Aceh. Jika karena pahlawan itu relatif, semua ada pahlawan, dan semuanya heroik …

    Kenapa daerah lain tak diberi, itulah pemerintah, padahal semuanya sangat istimewa ya… bahkan jakarta (betawi) sekalian

  6. terkadang kita lelah (jengkel) dengan euforia yang berlebihan ini. selalu mengagungkan masa lalu tapi lali dan sangat sembrono untuk melihat realnya yang terjadi sekarang.

    Kita terlena pada sejarah dan akhirnya terkebur karena terlena, pada akhirnya kita sendirilah yang mengubur kedigdayaan sejarah itu.

    memang sangat jauh sekali dibanding yogya.

    Sangat setuju dgn pendapat temanmu di Ambon, “nasionalisme berpangkal dari nasionalisme lokal. Maka adalah susah menerima jika Jakarta (pemerintah pusat) hendak menyeragamkan semua atas nama demokrasi dan apapun itu. Seperti menggali lubang kuburan sendiri untuk membunuh satu persatu identitas anak-anak bangsa.”

    Kita bangsa Aceh harus mengakui, bahwa kita lalai dan gagal melestarikan sejarah!

  7. atjehjaya

    Aceh tidak seburuk yg anda kira. tulisan diatas tidak seharunya anda katakan aceh seperti itu. aceh itu memiliki sejarah emas yang tidak bisa dipungkiri dan disaingi oleh siapapun.

    Aceh akan kembali berjaya

  8. atjehjaya

    daerah istimewa di aceh tidak gratis. na perjuangan ureung chik geutanyoe disinan. jadi, tidak ada omong kosong dgn keistimewaan naggroe aceh. Aceh memang istimewa!!

  9. coba baca buku “Mengapa Aceh Bergolak”, walaupun itu tulisan pribadi Hasan Saleh dari buku itu kita bisa belajar banyak tentang Aceh pra-merdeka dan pascamerdeka, tentu masih banyak cerita lainnya tentang Aceh dan Keisitmewaannya (diluar kontek pengkaitan dengan Jogja)🙂

    ~http://books.google.com/books?id=Q90gAAAAIAAJ&source=gbs_book_other_versions

  10. Saleum….

    Jujur saya paling ‘susah’ membaca tulisan seperti ini, berlatarbelakang orang biasa, kadang mengenai sejarah saya harus memutarbalik buku, membuka begitu banyak halaman internet dan kadang menelusuri ke berbagai kawasan yg ada tentang sejarah (karena saya sering pelupa akan sejarah).

    mungkin bagi saya sejarah itu pasti sulit untuk diingat, kecuali kita mencoba mengetahui sebagai wawasan dan warisan yang bisa kita ‘hadiahkan’ untuk generasi selanjutnya.

    Apalagi terkait Aceh, dari awal mulai berada, sampai saat sekarang ini bahkan sering disinggung tentang “Istimewa”, “Otsus”, “Syariat Islam” dsb, wallahu’alam saya tentang politik.

    Bukan karena sejarah Aceh kita terninabobokkan, terlamun asmara indahnya Sang Peukasa Alam Iskandar Muda, fanatiknya sang militeristik Tgk Daud Beureueh, dll
    tapi itu semua sudah dilewatkan masa. Saya yakin, jika 3 atau 5 pemuda yang hanya tahu sejarah Aceh, niscaya Aceh jadi kenangan.

    Cukup panjang jika mau merawi Aceh ini secara lengkap, walaupun kadang kita ‘dicuri’ sejarah oleh #kaphe Belanda dulu dan dibawa pergi jauh ke negerinya. Bertebaran di negeri Eropa, tersimpan di negeri Melayu sana dan masih banyak lagi.

    Komentar ini mungkin jauh dari harapan, untuk menggambarkan Aceh itu yg sebenarnya adalah dari kita generasi sekarang yang ada (tua, muda, laki, wanita) semua bisa mengetahui sejarah bangsanya.

    Jogja, Yogya, Ngayogjakarta, dan istilah lainnya adalah hak mereka dengan segala keistimewaan yang mereka punya. Tidak ada kata perbandingan, jika kita adalah bangsa merdeka.

    “Jangan selalu terbawa nafsu fanatik sibak rukok teuk”, cukup sakit orang dulu mempertahankan nanggroe Aceh itu, darah dan nyawa, harta dan tahta dipertaruhkan. Lalu, refleksikan diri kita sekarang ini. Apa yang sudah kita buat untuk Aceh, jangan terus menyitir dengan kata-kata fanatisme dan egois, seakan-akan Aceh adalah milik mereka sekelompok orang, atau siapa lah itu.

    Coba menulis, “karena itu mungkin selemahnya iman” untuk mencintai Aceh. Jangan bisa mengkritik dan kritik, poh cakra, peh tem, dsb. Semoga ditahun baru Islam ini, makin banyak generasi Aceh yang sadar akan agama yang dilahirkan dari perut ibunya, makin sadar akan Aceh yang sebenarnya, makin sadar bahwa sudah saatnya sekarang berbuat sekecil apa pun untuk Aceh, dan masih banyak yg makin harus kita sadari…

    berhentilah mengupat diri, kalau pun harus bernafsi-nafsi untuk Aceh demi yang lebih baik, kenapa tidak (karena sekarang banyak orang bernafsi-nafsi)

    Marilah menulis tentang Aceh, cintailah Aceh mu itu sebagaimana kamu mencitai darah di dalam tubuh mu. Jika tubuh tertusuk duri, maka akan sakit. Maka jangan sakiti lagi Aceh.

    tulisan komentar ini hanyalah ‘bualan’ pikiran yg kadang mengendap terus diluapkan, tentu saja pemilik blog akan butuh waktu untuk membaca tulisan ini, semoga diperkenankan dengan hormat untuk mendarat disini

    Wassalam
    #iloveaceh

  11. apa yang beben bilang itu adalah pencitraan yang membuat buruk negeri sendiri, dan itu sekarang banyak terjadi terlebih di kota-kota yg notabene banyak pendatang yg berasimilasi

  12. sidroeagam

    secara pribadi memberi apresiasi untuk tulisan ini. Agak berat menerima apa yang tertulis diatas. semalam ingin langsung komentar.

    stlh membaca ulang, seperti ada duri dalam aceh. sejarah kita memang sangat luar biasa dan fantastis dan untuk hal ini sy tetap merasa haqul yakin, Aceh bagian terbaik di Indonesia tercinta ini.

    Aceh dibesarkan oleh sejarah yang heroik, INI HARUS KITA AKUI. tidak semua provinsi di indonesia bisa melakukannya seperti aceh.

    Memang benar apa dikatakan penulis, sebagian besar kita terlena. Tapi, saat ini kita berbicara keistimewaan, nah keistimewaan inilah yang membuai. sedang sejarah, masih terbaik jika pun ada didaerah lain, tapi tidak bisa melebihi Aceh paling pada tarap yg sama.

    thanks tengku martha.

  13. sidroeagam

    pahlawan aceh sangat luar biasa dan disegani oleh semua musuhnya. para pahlawan aceh memiliki keistimewaan.

    tapi tidak setuju dgn kalimat anda yang bertanya kenapa aceh diberi cap istimewa, kenapa tidak wilayah lain? semua karena aceh sudah sangat istimewa. dan apa dikatakan tengku martha, pertama sekali masuknya islam ke indonesia adlh di aceh. dan ini tidak bisa ditutup-tutupi.

  14. DIY tetaplah sebuah provinsi biasa. dengan terlalu mengagungkan keberadaan DIY berarti kita telah alpa dengan jasa provinsi lain yang tidak sedikit. bukankah semua kita berjasa sama dan sama-sama berjasa. kenapa harus mengungkit jasa yang dilakukan oleh leluhur kita, bukan jasa kita. bangsa ini memang mudah di provokasi.

    daripada DKI/DISTA/DIY.. bukanlah lebih baik DI/TII.

  15. Martha Andival

    Tulisan ini sebenarnya bukan mengagungkan DIY. Tulisan ini sebagai gambaran kondisi saat ini. Coba lihat awal2 paragraf, bagaimana tulisan ini lahir.
    Kita org aceh tidak bisa melupakan sejarah dan perjuangan endatu kita dahulu.

  16. Martha Andival

    Saya tidak menulis keburukan Aceh. coba dilihat kembali bang, tulisan ini hanya sebuah gambaran realita dari apa yang sering terjadi bahwa kita terlalu bereuforia tapi lupa menjaganya.

  17. Martha Andival

    Anda benar, memang tidak bisa dibandingkan. sayangnya, “kita” masih terlalu sering membanding-bandingkannya…. bahwa kita lebih “power” dalam segala hal

  18. bmw

    ketawa sajalah…….
    mgkin aq harus bljar dlu tntang budaya & sjarah. sbg org awam ku pikir suatu hil yg mustahal mmbandingkan satu budaya dgn budaya lain@. sbab budaya lahir dpengaruhi oleh bnyak faktor. maka@ saya kurang stuju dgn prbandingan budaya bhwa jogja lbih dari aceh. klau dari segi plesterian@ mgkin saya spakat.

    mgkin uga saya harus bljar lge ttg jawanisasi yg dlksanakan oleh soeharto, dmna pada saat itu smua daerah di indonesia dseragam dgn budaya jawa, maka saya brpikir pantaslah budaya rekan2 saya djawa tetap brtahan karena ia mnjadi anak emas (ini hanya analisis bodoh saya).

  19. Dalam menilai itu kita tidak bisa hanya menilai berdasarkan apa yang tampak pada hari ini saja, tapi peran sejarah sama sekali tidak bisa kita abaikan dalam menilai apa yang terjadi di kekinian.

    Jogja bisa demikian karena mereka memilih jalan aman, waktu belanda datang, mereka tidak melawan. mereka memilih berkawan, saat Belanda membutuhkan mereka menyuplai tenaga kerja dan pasukan. Saat Aceh berperang dengan Belanda, Yogya dengan suka cita memberikan bantuan, lihatlah wajah-wajah pasukan marsose, ada berapa wajah belanda di sana?

    Saat angin berbalik ketika ide-ide nasionalisme keindonesiaan berkembang, euforia kemerdekaan merebak dimana-mana, Hamengkubuwono IX dengan cerdas membaca situasi, dia dengan cermat melihat keadaan, bahwa melawan arus euforia kemerdekaan adalah BUNUH DIRI, sehingga dia pun menggabungkan diri dengan euforia itu dan menjadi penyokong Indonesia, yang berujung diberikannya status Istimewa kepada Jogja.

    Bandingkan dengan Solo yang tidak mampu membaca situasi yang berkembang pasca perang dunia II, saat euforia kemerdekaan merebak di Nusantara, mereka tetap dalam hidup dalam mimpi, merasa kalau yang paling nikmat itu adalah berteman dengan tuan Belanda. Hasilnya seperti apa?…kita saksikan sendiri mereka akhirnya menjadi pecundang, Solo cuma menjadi satu wilayah di dala, provinsi Jawa Tengah. Oleh Indonesia kewenangan keraton dipreteli, harta mereka disita, sehingga keraton jatuh miskin, jangankan untuk berkuasa, bahkan untuk merawat keraton yang luas itupun mereka tak cukup memiliki dana.

    Sementara Jogja yang pintar tetap hidup tentram sampai sekarang, diberi status istimewa dan tetap dengan tenang bisa mengembangkan kultur budayanya.

    Sedangkan Aceh, kita tahu sendiri tak pernah kenal yang namanya kompromi, Belanda datang dihantam, saat belanda pergi, Aceh dengan senang hati bergabung dengan Indonesia, saat merasa tertipu Aceh berkonflik lagi.

    Begitu terus, kapan Aceh punya waktu mengembangkan budaya seperti Jogja?

    Jadi….kalau Aceh dan Jogja diperbandingkan seperti ini, saya pikir ini tidak pada tempatnya, karena ini sama saja dengan membandingkan bekicot dengan buah mangga.

  20. salah satu tabiat penghuni negara ini adalah begitu mudah melupakan sejarah, dan teramat gampang u acuh tak acuh thdp kebudayaan sendiri, jangankan budaya lihatsaja contoh tsunami, giliran peringatan tahun pertama aja y tobat2 nasuha ngumpul dimesjid pokoknya damai ah, nahgiliran tahun kedua seolah2 tsunami cem banjir numpang lewat aja, distulah letak kunci bahwa musibah seperti hobi datang ke negeri ini, istilahnya adalah klu kita lagi ujian, soal tahun kemaren y udah di copi oleh abang leting trus dah berpindah tangan dari satu mahaiswa ke mahasiswa lain, tapi saat ujian tetep aja ga bisa jawab..selain itu coba tengok bnk sekali situs2 sejarah y ada di aceh istilahnya meusipreuk, ada dimana2 tapi lenyap oleh waktu paling tumbuh ilalang, contoh kecil saja, tuch bangunan2 tua dipeunayong, menara ditaman sari, dan bangunan2 tua di SMU 1, atau perahu y terdampar dilamnyong y sekaranga kan dibangun rumah makan ayam lepas, padahal klu dibuat situs sejarah itu sangat luarbiasa, ini ga yg ada si alu yg sering pake kainhanduk y lalu lalang disitu…satu lagi kita ga bisa salahin atau jadi iri dgn propinsi lain, krn padakenyataannya propinsi kita tercinta ini paling pinter buat proposal tuch contoh tower PDAM y di taman sari kankurang kerjaan di bom abisin milyaran rupiah nah siap hancur lebur saket kepala lah dia ga tau mau dibawa kemana, ujung2nya proposal lagi buat buang reruntuhan tembok, kan kurang kerjaan namanya…

  21. oya ada satu hal lagi, jangankan aceh, ingat ga ttg presiden indonesia dimasa darurat y PDRI kan ada tu presiden yang memerinta selama 8 bulan y justru menyelamatkan bangsa ini, sejarah terlegram y tidak pernah sampai ke beliau, banyak sebenarnya sejarah2 y dilupakan

  22. aku mau angkat bicara jugalah. yg aku liat, sebenarnya indonesia biasa2 saja ke daerah apalagi aceh jika bicara masalah sejarah. krn itu urusan aceh sendiri bukan mereka.

    tulisan diatas bisa saja benar bila dari sisi kekinian. Aceh memang kalah jauh dibanding daerah lain dalam melestarikan sejarah.

  23. atjehjaya

    nyan keh awak indonesia, pengorbanan bangsa aceh tak pernah mereka liat. pesawat saja bisa dijadikan bukti saheh

  24. Miswar thanks, tapi jangan banyak ketawa ya hehe

    jika jumpa orang sejarah memang susah hehe

    disini sebenarnya saya tidak membanding antara keistimewaan aceh dan yogya, tapi hanya refleksi dari kondisi yang terjadi saat ini. karena, seperti paragraf akhir tulisan diatas, memang tidak bisa dibandingkan..

    masalah jawanisasi pada masa soeharto memang sering menjadi perdebatan. saya rasa disitulah pangkal segalanya menjadi runyam tentang kedaerahan dan nasionalisme

  25. menurut saya itu bukan pencitraan memburukkan negeri sendiri bang. Justru sebuah harapan akan adanya perubahan. karena sudah terlalu lama menunggu akhirnya komentar-komentar seperti itu tanpa sadar meluncur

  26. saya jadi teringat Zainab AR, anggota DPRA periode 2004-2009), bagaimana dia mengelus dada melihat kondisi Aceh setelah 2 tahun tsunami saat itu. Semuanya lupa akan dahsyatnya tsunami, lupa air mata dan ratusan ribu korban jiwa, justru sebut Zainab AR, kemaksiatanlah yang kini terlihat

  27. benar bang, saya sependapat. namun, tulisan saya ini bukanlah membandingkan sejarah satu sama lainnya. tulisan ini merupakan protes saya terhadap euforia kita yang berlebihan hingga menulis yang “aneh-aneh”. nah, dari tulisan aneh-aneh itulah lahir tulisan ini (Pargraf 5).

    Karena itu, saya menjelaskan sedetailnya, bahwa aceh jogya tidak dapat dibanding2kan krn memang tidak bisa (dua paragraf akhir).

    Tulisan diatas merupakan sebuah refleksi agar kita tidak lagi bereuforia yang berlebihan tapi lalai, sdgkan daerah lain biasa saja tapi tidak lalai untuk menjaga dan melestarikan sejarah dan budayanya.

  28. tidak bisa dibandingkan mengenai keistimewaan daerah satu dg daerah lain,masing2 punyai karakteristik sendiri..hanya satu yg sy tdk setuju dg tulisan anda,bahwa jogja pd tahun 1949,tdk pernah diam sedikitpun dr kedatangan belanda ke jogja.perlawanan pejuang sedikit kesulitan krn waktu itu jogja sdh terkekepung dr segala penjuru.krn sdh terkepung,pejuang pun bersembunyi ke dalam kraton,termasuk jendral sudirman.krn jogja dan Indonesia sdh dikuasai belanda.dan di saat dlm kraton itu,atas ide Sultan HB IX utk melakukan perlawanan serangan fajar (1 maret),utk merebut kembali jogja.dan hanya serangan 6 jam itulah,pejuang berhasil merebut kembali jogja,dan membuktikan kepada PBB/dunia bahwa pergerakan rakyat indonesia dan negara indonesia msh ada.jadi begitulah sejarah knp yogya dinyatakan istimewa,krn dr jogja lah,nama indonesia bisa diangkat kembali ke pemberitaan dunia (krn sebelumnya belanda berbohong kpd publik dunia atas kematian indonesia).

  29. thathia

    betul tu bang
    tati pernah ke beberapa tempat
    dan disana di jaga betul
    waktu ke makasar tati ada ke benteng rotendam
    tempat itu lagi di rehap
    dan di jadikan musium
    ya begitulah di aceh bang…..

    lama lama semua pada punah dah generasi mendatang akan mengira bahwa yang ada disini hanya dongeng atau nggak legenda. karena peninggalan sudah punah mengikuti kisasnya yang sudah punah duluan…

  30. Martha Andival

    itu yg kita takutkan dek, semuanya hanya tinggal kenangan dan jadi dongeng dari mulut ke mulut. Kita berharap itu tidak akan terjadi

  31. mungkin saya lupa menambahkan kata di atas, bahwa apa yg beben bilang itu adalah benar, namun banyak orang kadang membuat pencitraan yang memburukkan negeri sendiri.

    maksudnya disini adalah betapa banyak orang kadang mencitrakan diri tdk baik, terlalu sibuk ‘menyindir’ syariat, menuduh, bahkan menfitnah, kenapa tidak disibukkan dengan membuat pencitraan yang baik, seperti kata bung Martha, perubahan yg datang dari setiap pribadi dan ditularkan untuk orang disekitar dengan cara apa pun dan tentu itu positif untuk negeri sendiri.🙂

    CMIIW

  32. sepertinya disini penulis hanya merefleksikan kegaulaun untuk generasi Aceh yang ‘buta’ sejarah dan sikap skeptis (buat apa saya harus tahu sejarah).

    dalam tulisan ini juga terlihat bahwa, ada peran pemerintah dan seluruh elemen. peran orang2 budaya, adat dan agama dalam membentuk Aceh yang lebih mandiri, tentu untuk martabat bangsa. (tapi sayang sekarang pada sibuk urusan politik)

    tapi tulisan ini mencoba merefleksi kembali, siapa tahu mereka bisa ikut berbagi asa untuk Aceh ke depan yang lebih baik

  33. mulai dari sekarang, ajarlah kepada anak/cucu kita bahwa kita dulu punya raja/sultan, punya kakek yang kuat dan tegas atas perjuangan melawan kaphe, jangan cuma mereka tahu pahlawan/pejuang, dsb hanya lewat nama jalan, nama gedung atau cuma dalam tulisan yg mereka cari di internet (itu pun kalau mereka mau mencari), identitas diri harus sedini mungkin dibangkitkan dari generasi yang ada.

    ~dan salah satunya tulisan ini telah mencoba membangkitkan itu (belajar dari sejarah)

  34. sidroeagam

    nyan kesalahan persoal masyarakat, hana hubungan ke pemerintah aceh. sifet manusia adalah lale.

    pendapat nana hana hubungan keu sejarah aceh.

    masalah proposal pun personal, hana hubungan keu pemerintah aceh

  35. tentunya agam, bung martha, saya, dan semua orang yang mengatasnamakan Aceh harus menjaga “keistimewaan” itu walaupun tidak ada nama provinsi Daerah Istimewa Aceh (yg bek lale manteng)

  36. Kakak, setelah Denuzz baca lebih dalam lagi tulisan referensinya di forum itu, ada benarnya juga. Memang wajar bila Aceh mendapatkan gelar D.I. Tapi yang jadi permasalahan, gelar itu cocok untuk masa itu saja a.k.a. sekarang sudah tidak relevan lagi.

    Dengan kata lain, Aceh tidak bisa menjaga ciri khas nama itu…

  37. admin detak🙂
    bukan meremehkan.
    fakta y trejdi memang demikian kan.

    contoh, saat bencana d mentawai dan merapi. mengapa yg lbh banyak d sorot gmpa d merapi. padhal jmlah korban yg lbh besar d mentawai. d merapi lembu yg mati pun d ganti. kalau d menntawai ?????

  38. Martha Andival

    Thansk sekali. apa yang aulia katakan memang itulah intinya. agar kita bisa kembali membangun dan “bangun” dari tidur panjang ini. Agar kita, setiap pribadi memiliki rasa dan cinta akan Aceh. Bukan untuk membanding-banding secara frontal antara Aceh dan Yogya (karena memang tidak bisa dibanding-bandingkan).

    Semua ini agar kita tidak lagi terlena dengan euforia yang berlebihan akan masa lalu sedangkan kita tak pernah berusaha menjaga ke”suci”an masa lalu itu.

  39. kodok ngorek

    dari jauh sih aceh udah bagus. tari Saman selalu tampil di mana2. Syariat Islam juga di tegakkan. Nah yg fisik2 itu sebaiknya sgera di usulkan perawatannya ke pemda biar gak keburu lumutan.

    Nice posting, sentilan buat kita semua nih.

  40. aceh-jogja beda jauh……..
    mereka jawa kita sumatera.
    ada diskriminasi tolol di sana. setidaknya dalam tuntutan referendum… kita dihajar tentara habis2an dulu. tak peduli ank sekolah atau nenek. tapi jogja? …hahahaha…tentu saja bukan ingin juga jogja dihajar tentra.

  41. atjehjaya

    betoi2 paleh awaknyan. seharus jih, jika ureung jogja menolak pemerintah RI serang jogja, kenyataannya tidak. aceh spt dibilang idrus, akan langsung turun pai’2 dan serang penduduk. legee nyan istimewa !

  42. sungguh sebuah tulisan dan diskusi yang luar biasa … berat tapi bisa nyatai😉 …
    Tentang keistimewaan Aceh memang beda dengan Yogya, Jakarta dan Papua bukan hanya beda latar sejarah tetapi juga maksud yg berbeda, boleh dibilang ke-istimewa-an Aceh hampir sama dengan Papua sarat dengan muatan politis .. itulah kenapa sy masih belum mengerti knp D.I Aceh berubah nama menjadi “Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)” apakah “keistimewaan-nya” berubah?

    Menarik pula bandingan dua gambar dalam tulisan Bang Martha …. yang satu ada “nur” yang satu seolah “dzulumat”😉 .. minadzulumat ilannur atau minannuur iladzulumat dalam pandangan al-qur’an itu bergantung pada kepemimpinan. Yang satu digelapkan dan yang lain diterangkan adalah citra dari sebuah sistem kepemimpinan. Budaya Aceh adalah budaya perjuangan yang dalam rentang panjang sejarah tertoreh darah para pejuang dan benteng adalah simbol sejarah yang menjadi bukti walau tak terawat lagi. Membangunkan budaya Aceh sama saja dengan menyulut spirit perjuangan dan siapa yang mau menyulutnya??? maka menurut saya budaya Aceh bukan untuk dipertontonkan atau diperjual belikan tapi budaya Aceh untuk digenggam meski panas seperti bara api…. hikayat para pujangga lama telah tersisih oleh lantunan mendayu pujangga baru, sukma nagara saatnya digali untuk menjadi para penghulu bumi … dan Aceh adalah serambi.

    Hatur tararengkyu atas pencerahannya di rumah ‘Darussalam’ ini😉

  43. Mungkin kita perlu mengusulkan kepada pemerintah Aceh, agar dana triliunan yang selama ini harus dikembalikan ke pusat, bisa digunakan untuk membangun Islamic Center yang lebih komplit daripada makasar, bisa membebaskan biaya kuliah bagi mhs di Aceh, bisa membangun bale-bale pengajian. Yang konkrit2 aj………hehehehehe……salut dech buat bung Martha……..

  44. so. apa yang mau diributkan disini. nostalgialis yang hanya mengenang masa lalu? fatalis. (tetapi saya suka klu reboot, fresh).

    pointnya adalah. kenapa aceh tidak dianggap/diremehkan pusat? itu karena orang aceh manusia gampangan. beda dengan orang aceh dulu. setelah kanda Snouck berhasil menjalankan politik devide et impera dan politik belah bambunya, meracuni segala sendi kehidupan orang aceh dengan teknik infiltrasi ala ninja. aceh kini bukan apa2. walaupun ada anak aceh yang menjadi menteri itu hanya pemanis belaka, pelengkap bumbu masakan.

    teuman di gata aceh pakon laloe ngon cover tuwoe ngon asoe. sebuah tulisan ini bukan memancing emosi saya pikir. tulisan ini meledakkan motivasi untuk membuktikan suku kita bukan suku pesakitan di utara pulau andalas. bacalah yang tersirat tidak cuma membaca yang tersurat. letakkan semua embel2 anda bila ingin berfikir objektif. kalau tidak, anda sama seperti sumur2 dangkal yang tidak bisa mengeluarkan minyak/gas.

    kenapa kita tidak membangun opini positif (misalnya wacana aceh pasca gas). kenapa berkutat dengan masalah jogja yang gak penting itu. owh.. bit that bangai. khomon bro, what zab.. kiban cara? yang penteng chit cara.

  45. wah.. ada yang sedang hot disini. meskipun saya blasteran aceh/padang saya mau komen lha.

    sejarah itu perlu. sejarah adalah titik pijak untuk masa depan. sejarah perlu dikaji agar dimasa depan kita bisa melakukan perbaikan tanpa mengulang kesalahan yang sama. nampaknya orang kita aceh belum memahami sejarah, sehingga terus mengulang kesalahan masa lalu.

    kita yang muda hendaknya bisa memperbaiki. karena kita2 nanti yang akan memimpin bangsa ini. sekian. semoga berkenan.

  46. poin ” tergantung pada pimpinan”, saya setuju. Memang semua ini sedikit tidaknya bergantung pada kepedulian seorang pimpinan untuk menjaga, mengembangkan dan melestarikan budaya.

    Akan tetapi, dibalik itu, selain pimpinan utama, tentu ada wakil-wakilnya yang duduk diberbagai bidang. Nah, dengan kondisi aceh yang “lumayan” berlimpah dalam keuangan, seharusnya ini bisa menjadi prioritas, namun hingga kini belum kelihatan walupun program itu sudah ada sejak dulu-dulu.

    Thanks atas masukannya

  47. jawaban idem dengan jawaban untuk kang koprol. Ide-ide kecil yg bg Tunis ungkapkan sebenarnya memang sangat mudah untuk dilaksanakan. Tapi ya itu dia… hehehe
    Kita tetap berharap akan ada perubahan yang lebih baik dengan konsep yang terfokus, untuk masa mendatang, generasi Aceh.

  48. tidak mengapa Dwi, balsteran padang atau suku lainnya juga boleh berkomentar kok😀 , karena disini bukan untuk mencari pertentangan akan sebuah perbedaan.

    Saya suka pendapat Dwi yang terbuka, Orang Aceh belum memahami sejarah. Bisa jadi demikian, sebagian besar dari kita tidak memahami sejarah tapi hanya mengenal sejarah sehingga tidak terlalu risau dengan kondisi saat ini.

    Sedangkan yang benar2 faham sejarah, mereka termarjinalkan. mereka seperti harus berjuang sendiri. Sangat ironi tentu. Namun lagi dan lagi, saya tetap berharap dan berkeyakinan, Aceh akan kembali sadar dan terbangun dari tidur panjangnya untuk kembali mengulang masa keemasan tersebut.

  49. atjehjaya

    betoi-betoi paleh.

    APA YANG DIRIBUTKAN TTG ISTIMEWA ACEH. ACEH ISTIMEWA DAN TETAP DAERAH PALENG ISTIMEWA. HANA PEURLEE PENGAKUAN RI, NEGARA-NEGARA LUA NANGGROE SUDAH MENGAKUI KEHEBATAN ACEH DAN MEREKA SEGAN KE ACEH.

    SEMUA ITU TAK CUKUP!

    ACEH ADA KEMEGAHAN DIMANA MANA. DALAM SEJARAH ACEH BANYAK MENCATATNYA. EMAS, MINYAK SAMPE PESAWAT TAPI ACEH SKRG SEMUA RUSAK KARENA MEREKA

  50. kalau sudah ribut untuk berebut jadi yang paling hebat seperti ini, yang senang dan bertepuk tangan ya kaum zionis

    mereka cuma bilang, “coba lihat GOYIM-GOYIM itu…, mereka berebut merasa paling hebat tapi kita yang menang dan berkuasa… jadi siapa sesungguhnya yang paling hebat???

  51. kalau sudah ribut untuk berebut yang paling hebat seperti ini, yang senang dan bertepuk tangan ya kaum zionis

    mereka cuma bilang, “coba lihat GOYIM-GOYIM itu…, mereka berebut merasa paling hebat tapi kita yang menang dan berkuasa… jadi siapa sesungguhnya yang paling hebat???

  52. RohAceh

    hahaha museum tsunami bisa jadi bukti ya, retak dimana-mana, jelek dan dijadikan t4 maksiat pula .. mantabs gan

  53. Adhe

    Terlalu banyak permintaan dan terlalu sedikit perbuatan, itulah kita saat ini.
    Mungkin setelah memisahkan diri dari satu komunitas (Indonesia) kita akan lebih paham tentang siapa kita.
    Jika dilihat dari turunan genetiknya, Watak orang Aceh tak pernah berubah dari zaman ke zaman. hanya kondisi dan waktu yang membuat kita terlena.
    Keistimewaan Aceh atau Jogja tak dapat disamakan atau dibeda-bedakan. masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

  54. Ini salah satu diskusi paling menarik yang pernah ada di blog anak Aceh. Isu menarik dikemas dalam tulisan sederhana yang tidak menggurui.

    Tulisan yang mencoba membuka tabir kepedulian kita terhadap sejarah dan budaya, bukan hanya Aceh tapi Indonesia secara umum.

    Bukan hanya Aceh, sebagian besar masyarakat Indonesia sekarang memang sedikit luntur oleh globalisasi, namun peran pemerintah yang pedulilah yang bisa menyelematkankannya.

    Mungkin Jogja salah satu pemerintah daerah yang paling peduli akan hal ini. Disinilah saudara Martha Andival mencoba membandingkannya. Bukan membandingkan siapa hebat siapa paling berjasa, tapi perbandingan atas sebuah ego yang sering melekat pada diri masyarakat kita.

    tidak ingin berleha-leha opini, tapi salut dengan tulisan sederhana na menggugah ini. demikian juga komentar-komentar beragam yang memberi inspirasi. Bravo.

    Memang layak menjadi salah satu Posting terbaik (WordPress top posts) kemarin dan akhirnya nyasar kemari.

  55. setuju dengan tulisannya Bang.
    jadi ingat dengan pencanangan visit Banda Aceh Year 2011 oleh Pemko Banda Aceh yang mau explorasi keunggulan wisata di Banda Aceh.
    Setelah baca tulisan ini rasanya jadi ragu ya….keunggulan wisatanya masih kabur, sementara 2011 udah didepan mata

  56. abuabatat

    yang jelas bukan orang lain yang membuat kita dikenal ataw terkenal melainkan kita sendirilah yang harus berbenah….cukup sudah euphoria masa awai…krn itu adalah kenangan, jinaw adalah tantangan dan kedepan adalah harapan. berani…ci coba…, bek sampow iri dengan kehebatan orang lain krn mereka tidak diam, …..

  57. Martha Andival

    hahahaha, belum tentu, terkadang mimpi itu bisa menjadi kenyataan, bukankah kita memang harus bermimpi gara cita-cita tercapai🙂

  58. Martha Andival

    Itu dia bang. Banyak dari kita yang “buta” dan tidak melihat semua hal ini. sangat sepele namun …….🙂 thanks dah singgah bang

  59. Martha Andival

    inti dari abang :”Terlalu banyak permintaan dan terlalu sedikit perbuatan, itulah kita saat ini”.

    sayangnya, setelah banyak permintaan dikabulkan, ternyata masih tidak berubah kondisinya. bahkan jika tidak elok dikata, lebih parah.

    makasih dah singgah bang (moga ekspedisinya sukses ya)

  60. Saya Aceh tulen, mas..kalau masalah budaya, mas harus liat sendiri betapa kayanya. Pelestarian memang masih kurang tapi saya tidak mau membandingkan Yogya dan Aceh. Jika seperti ini terus, tak akan ada solusi mas😀

    Ah ya salam kenal..

  61. Sayed Ridwan

    Aku setuju sekali dengan posting diatas..
    Memang g ada yg bisa dibantah sedikitpun ulasan diatas, tepat sekali…
    orang jawa masih bangga dengan identitas mareka, mulai dari bahasa, adat, seni, semuanya masih terjaga dan masih mudah kita bila kita mau menonton atau menyaksikan budaya jawa, hal ini berbanding terbalik apa yg terjadi di aceh…
    mudah2an pemerintah bersama dengan rakyat aceh adar akan hal itu, sebenarnya aceh juga tidak kalah akan potensi seni dan budayanya dari jogja, hanya sama perawatan dan pengelolanya serta promosinya yg sanat2 minim…

  62. @Denus, sekarang memang generasi Aceh yg akan menjaganya kembali.. walaupun terombang ambing dengan semangat yg sama, maruah Aceh akan terjaga kembali. Semoga dan Amin🙂

  63. wahyudi

    Salam,,,
    Setelah mbaca coment2 diatas, sbgai orang Aceh, juur saya merasa sedih..
    tp walau gmanapun sya tetap bangga dgn daerah saya,
    Sudah cukuplah derita yg silih berganti datang ke negeri Aceh menjadi palajaran buat qt.khususnya warga Aceh.
    Tuhan menciptkan qt bersuku2 agar sling mengenal dan menasihati dalam kebaikan n kesabaran.
    Saya menyadari masih banyak kelemahan2 di Aceh yg harus diperbaiki dan perlu perhatian ekstra dan itulah yg sedng kami usahakan dan perjuangkan.
    Sya meghargai semua coment diatas, tp janganlah diusik-usik lagi kedamaian yg sudah ada, apaligi di pancing2 dgan mbading2kan dgan daerah Lain.
    Peace for All..
    terimaksih..

  64. Donya nya… makanya pilih pemimpin yang mau membangun Aceh jangan pilih pencari kerja…mereka cuma melirik fie lebih… buat masuk kantong… kalau mas ardhan merasa orang Aceh sudah luntur ke Acehannya…main2 juga ke pinggiran kota…pasti bisa liat masyarakat yang peduli dengan budaya aceh walau tidak ada pihak berduit yang mendukung…Seperti saat sebagian masyarkat mau mengadakan acara adat atau sebuah festifal dalail khairat misalnya… mereka harus mengutip dari masyarakat…proposal yang di ajukan ke perusahaan atau ke lembaga pemerintahan langsung di tolak dengan alasan tidak tersedia dana untuk masalah yg begituan kami hanya bisa mengeluarkan dana untuk acara olah raga atau lainnya..
    terlihat bahwa dana untuk acara yang religi sangat sulit keluar , untuk acara hura2 berapapun rela di kucurkan…sedang adat istiadat Aceh tidak ada acara hura2 semuanya berbau religi…jadi jangan heran.kalau budaya di Aceh susah berkembang… Cie teuk seandai jieh budaya Aceh goyang dangdut berkembang peu han..hahahhaha …

  65. menurut juru kunci makam malikussaleh yang sempat saya tanyai katanya bahwa hampir semua walisongo itu keturunan aceh

    Dalam sejarah indonesia yang memang putra aceh asli hanya Fatahillah/Faletehan/Sunan Gunung Jati II.
    ada yang menyebutkan juga bahwa maulana malik ibrahim (sunan gunung jati I:Bapaknya para sunan) adalah orang aceh asli juga.

    jadi dulu ceritanya saat kerajaan majapahit mulai menjajah kerajaan di sumatra, ada seorang raja yang dikirim ke aceh untuk memerintah disana, nah, ternyata raja itu tertarik dengan salah seorang putri sultan yang cantik jelita, raja tersebut ingin membawa putri itu ke tanah jawa.

    tapi karena putri itu malu2 dan takut, ia meminta agar abangnya yang bernama Teuku Bungsu (kalo gak salah) ikut dalam perjalanan ke Jawa. raja pun menyetujuinya karena emang dia sayang banget ama itu putri, saat itu kerajaan aceh udah menganut Islam.

    nah, setelah di Jawa, Bungsu diberi kekuasaan didaerah Ampel, dan diberi wewenang untuk berbuat apa saja demi kemakmuran rakyat. dengan Ilmu dan misinya, Bungsu ingin mengIslamkan rakyat Demak dan sekitarnya, misi ini di amini oleh raja itu, dan dimulailah kegiatan penyebaran Islam di Jawa, dan Bungsu pun di gelar sebagai Sunan Ampel.

    Sunan Ampel akhirnya menikah dengan putri Jawa, melahirkan anak yang kemudian melahirkan beberapa Sunan dalam peranakannya

    kalo Sunan Gunung Jati, beliau adalah pria aceh yang belajar di tanah arab. sewaktu fatahillah pulang kampung, beliau mendengar bahwa Belanda sedang marak2nya menguasai jawa, akhirnya beliau memimpin pasukan ke jawa yang berlabuh di batavia, dan menyebarkan Islam disana

    kalo kita ke banten, dan org banten tau kita org aceh, mereka pasti bilang kita ini adalah sodara tua mereka, itu juga berkaitan dengan walisongo, fatahilah pertama kali dateng itu ke banten…ada 2 versi, 1 versi mengatakan fatahillah membantu menyembuhkan penyakit yg lagi merebak disana, dan versi lainnya mengatakan fatahillah dikirim bersama pasukan perang utk membantu. Kemungkin

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s