Gagal PNS, Bunuh Diri!

Standard

poskota.co.id

Pegawai Negeri Sipil (PNS) memang menjadi idaman semua orang di Indonesia ini. Jika tdak jadi PNS, seolah-olah hidup hanya sebagai pengangguran. Jika jadi PNS, hidup akan sukses, strata sosial naik, dan mudah untuk menjalani hidup.

Setiap tahunnya, ribuan sarjana berlomba-lomba untuk menjadi PNS. Rela antri berjam-jam dibawah terik matahari, rela berbasah-basah dibawah hujan, berdesak-desakan diantara ribuan pelamar lainnya hingga pingsan. Semua untuk menjadi PNS.

Saat pengumuman, tidak lulus! Stress, malu, sedih, kesal, mengumpat pemerintah setempat yang pilih kasih, mengumpat peserta yang lulus karena main sogok, famili panitia dan lain sebagainya. Tak kuat menahan stress bunuh diri. Hahaha…

Luar biasa. Tapi inilah realita yang terjadi. Masyarakat kita terlalu picik dan sempit dalam berpikir. Seolah-olah kehidupan hanya bisa berjalan jika menjadi PNS.

Sebenarnya untuk apa kuliah dan meraih gelar sarjana? Untuk jadi PNS? Jika benar demikian, tewaslah peran mahasiswa (saat kuliah dulu) sebagai agent of change.

Sayang memang. Semua ilmu yang dicari saat duduk di bangku kuliah harus tergadai oleh “status” PNS. Semua ilmu yang diperoleh terbuang dengan percuma. Karena, tidak sedikit sarjana yang menjadi PNS, nyaris ilmu yang diperoleh tidak terpakai dan terbuang sia-sia. Sayang sekali masyarakat kita, berharap pada mahasiswa intelek yang mampu membawa perubahan dan control social semuanya tergadai oleh PNS. Hahahaha…

Hidup harus menjadi PNS jika ingin Sukses! (hahahaha..) Dunia sepertinya semakin sempit saja. Sempit dalam bergerak, sempit dalam berkarya dan sempit dalam berpikir. Dari ketiga hal itu, sempit berpikir yang paling sering terjadi.

Contoh, di Kabupaten Aceh Timur, pelamar CPNS mencapai 20.000 orang, tahun depan berapa, lima tahun mendatang menjadi berapa? Lalu kita gabungkan seluruh kabupaten di Aceh, dan seluruh Indonesia? Angka yang sangat luar biasa?

Seandainya para sarjana itu berkumpul dari bidang yang sama (misalkan sarjana bahasa Inggris), padahal mereka bias membuka lapangan kerja sendiri. Peluangnya justru lebih besar untuk menjadi berkembang. Apalagi, saat ini, untuk wilayah kabupaten, kecamatan, sangat dibutuhkan lembaga-lembaga bahasa Inggris. Tapi ini tidak dipikirkan.

Alasan klasik selalu sama. “Ga ada Modal”. Hahahahahahaha… jawaban konyol. Untuk uang rokok ada, untuk jalan-jalan ada, untuk beli handphone baru ada.

Jika kerja sendiri tentu saja tidak ada modal, karena itu, seandainya berkelompok dari bidang yang sama bukankah lebih ringan. Ada 10 orang sarjana bahasa Inggris membuka pelatihan bahasa inggris secara continue, bukan hanya menghasilkan uang akan tetapi juga membuka lapangan kerja dan mencerdaskan masyarakat. Jika mampu mengembangkannya, bukan hal yang mustahil untuk menjadi besar.

Begitu juga sarjana-sarjana lainnya. Mengapa harus terpaku pada PNS dan menjadi honorer nekat tanpa digaji. Ini namanya sarjana apa? Apakah seorang intelektual? Agen of Change?

Terkadang banyak alasan keluar : “Tidak ada lapangan kerja dan modal”.

Didunia ini, semua ada keseimbangan. Ada sebab akibat. Keberhasilan akan diraih dengan perjuangan dan pengorbanan (dan juga sabar). Bagaimana mau berhasil jika tidak mau berkoran dan berjuang.

Coba lihat bagaimana orang-orang sukses meraih kejayaan. Semua penuh pengorbanan. Mulai menjual benda kesayangan dirumah, puasa senin kamis untuk menghemat pengeluaran. Tidak ada keberhasilan tanpa pengorbanan.

Jika tidak mau berkorban, ya sudahlah (seperti lagu Bondan Prakoso), jadi saja Honorer Nekat tanpa dibayar, atau menunggu jadi PNS tahun depan dan antri bersama puluhan ribu pelamar lainnya. ITUPUN kalo LULUS!

Ingat, umur akan terus bertambah, haruskah terus menerus bergantung menjadi PNS. Manfaatkan semua kemampuan yang ada, gali kemampuan dalam diri. Karena, semua kita ada kemampuan yang luar biasa, hanya saja perlu digali. Sayangnya ini yang tidak pernah dipikirkan.

Karena itu, untuk meminimalisir keadaan seperti saat ini, saat kuliah, manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya untuk meraih kesuksesan dalam berkarir (Duillee…dah kaya’ psikologi saja).

Saat kuliah, carilah keterampilan ataupun pekerjaan sambilan. Karena itu sebagai kredit poin saat kita lulus dan menjadi sarjana. Dengan kredit poin itulah, kita tidak lagi berpangku tangan pada PNS. Jika lulus Alhamdulillah, jika pun tidak lulus tidak masalah, karena kita sudah ada kemampuan lain yang bias memberi kehidupan (bahka bias lebih dari PNS).

Saat ini, kita tidak bisa lagi terus menerus berharap kepada pemerintah. Apalagi kondisi keuangan yang sedang “morat-marit”. (Satu hal, banyaknya lowongan PNS di Indonesia, adalah sebuah gambaran bahwa Indonesia telah menggali kuburannya sendiri. Keuangan akan tergerus, sedangkan PNS melebihi quota).

Jika bukan kita, siapa lagi yang akan merubah diri kita, ekonomi kita, ekonomi masyarakat. Ingat, membuka lapangan kerja akan memberi banyak kebaikan, tentunya pahala. Akhirnya, dunia dapat, akhirat pun kita dapatkan.

Nah, mau pilih mana? Semua pilihan ada ditangan kita. Pastinya, jangan sampai BUNUH DIRI jika gagal PNS, ya!! Hahahahah….

26 thoughts on “Gagal PNS, Bunuh Diri!

  1. izin pertamax dulu, Setuju, cobalah mencari peluang kerja atau menjadi wirausaha yg mandiri. Jika semua sarjana berlomba- lomba MENCARI KERJA ( baca : menjadi PNS ), siapakah yang akan yang AKAN MENCIPTAKAN LAPANGAN KERJA? Salam persahabatan🙂

  2. RohAceh

    bener tuh gan. nape ya para sarjana ga buka lapangan kerja dgn kemampuan mrk. syg juge tuh ilmunye..

    gagal pertamax gan!

  3. diizinkan pertamaxnya😀

    itu dia masalahnya, semua berlomba jadi PNS. bahkan, hampir semua mahasiswa bercita-cita untuk menjadi PNS. Ini kan sudah aneh..

    Mahasiswa pertanian (jurusan tehnologi hasil pertanian), luar biasa tuh ilmu yang didapat untuk membuka lapangan kerja, tapi apa lacur semua sudah ebrcita-cita jadi pns.

  4. Ada pemandangan aneh memang. Jadi PNS, surat pengangkatan bisa digadaikan ke Bank untuk ambil kredit hehehe (padahal dalam fatwa haram makan bunga).

    Dengan gaji yang alakadarnya, mau tidak mau seorang PNS harus memikirkan bagaimana cara mengolahnya😀

    Akhirnya, berapa banyak kasus korupsi disana😀

    Yang lebih menarik, saat jam kerja, apa yg dilakukan PNS, ya main game, FB-an, ke warkop sambil “cekiki-kikikan” lol

    yg disayangkan, semua ilmunya saat kuliah itu loh, hilang ntah kemana…

    Harus diakui, memang tetap ada PNS yang berjalan “lurus”😀

  5. PNS? profesi yang menjadi pilihan terakhir Denuzz… Selagi ada profesi lain, takkan Denuzz berniat sikitpun menjadi PNS. Miris sebenarnya melihat doktrin yang sudah ditanamkan dalam masyarakat kita bahwa jika ingin hidup terjamin, jadilah PNS. Sebuah pemikiran yang kerdil.
    Denuzz pribadi, lebih menganggap mulia pekerjaan sebagai pedagang daripada PNS.
    Jika masyrakat mau berpikir lebih jernih, lebih menguntungkan menjadi seorang pengusaha (meski kecil-kecilan) ketimbang jadi PNS…

    Terkait pemerintah? Ah, gak usah diharapkan.

    Orang Indonesia kebanyakan aneh. Udah jelas PNS gajinya kecil dan sangat dekat pada dosa korupsi, masih saja dikejar. Beda di negara tetangga, Singapura, dimana PNS adalah profesi idaman karena memang menjanjikan dan semuanya berjalan profesional (setidaknya menurut banyak sumber yg Denuzz dpat)…

    Menurut pengamatan Denuzz, sebagian besar pelamar PNS adalah orang-orang yang pemalas, bodoh (dalam beberapa hal), berpikir sempit, pesimis, dan sejenisnya. Hanya sebagian kecil yang melamar menjadi PNS adalah orang pintar yang ‘kepepet’. Kenapa mereka tidak terbuka pikirannya untuk mencari alternatif kehidupan yang lain? Alasan mereka karena mereka gak punya skill untuk itu, padahal mereka sendiri yang tang berusaha memiliki skill itu…😦

    Ah, kok komentar Denuzz jadi postingan sendiri…🙂

  6. Martha Andival

    Iya, yang cerdas-cerdas dan pinter-pinter jarang sekali masuk PNS… mereka akan memilih t4 lain untuk mengembangkan karir, sebuah tempat yang lebih sehat dan fair

    Padahal banyak jalan menuju Roma, tapi kok tetap saja PNS huhuhuhuhu

  7. ardhan

    Lapangan kerja banyak loh. hanya, terkadang, kita tidak melihatnya. Banyak sekali kesempatan untuk itu. Setiap kita pasti ada keahlian dna kemampuan yang bisa dikembangkan, coba kembangkan kreatifitas itu.🙂

    Tapi, dalam tulisan ini, bukan berarti kita tidak boleh ikut PNS, hanya saja, jangan terlalu memaksakan, bahwa kita wajib PNS jika tidak PNS dunia kiamat.🙂

  8. Sekedar saran
    (1) Klo gagal jadi PNS … tetaplah jadi PNS (Pegawai Negeri Seberang)🙂
    (2) Klo gagal jadi PNS … tetaplah jadi PNS (Pegawai Non Stop alias Usaha sendiri atur waktu sendiri)

    btw .. pendidikan warisan belanda emang diperutukan untuk jadi “pangreh praja” jd potret sekarang yaaa beginilah.

  9. mungkin masing. tertanam dalam pikiran bahwa pns itu kerja nyantai tp dibayar.gak ada kabar berhari hari hanya dikenai penundaan kenaikan gaji.

  10. Martha Andival

    benar pak, mindset ini yang seharusnya telah dirubah saat duduk di bangku kuliah.

    terimakasih kembali atas kunjungannya.

  11. Martha Andival

    sudah mampir kemari Alhamdulillah, minimal kita mengetahui kondisi saat ini, mengapa harus mati-matian menjadi seorang PNS🙂

  12. Martha Andival

    Sarannya diterima Kang Kopral Cepot🙂
    saya suka pilihan keduanya🙂

    Berarti ini bagian dari warisan Belanda, maksudnya, kang?

  13. Martha Andival

    tentu sangat miris. Banyak sekali masalah disini. Lapangan kerja, masyarakat dan tentunya pemerintah.

    Sarjana yg tidak memanfaatkan keahliannya, masyarakat yg terfokus pemikirannya pada PNS dan kerja enak, pemerintah yg menggali lubang kuburannya sendiri, krn setiap tahun buka low PNS padahal keuangan sedang seret. coba deh liat berita2 di koran, bgmn kondisi keuangan daerah, bahkan jumlah PNS sudah melebihi kuota, belum lagi pemerintah harus membayar jutaan honorer …

  14. Lela

    kan zaman ini mejadi PNS memang jadi pilhan mas, coba deh liat dimana lapangan kerja yang banyak buka low kecuali PNS. kalo pun ada bagi kami yg kurang pinter agak susah tembus.

  15. Lela : Coba gali apa yang ada pada diri. Pasti ada, ga mungkin ga ada. Karena, allah menciptakan manusia pasti dilengkapi dengan kemmapuan unik yang bisa dikembangkan… nah kreatifitas itu yang harus kita gali. coba dan terus mencoba, Insya Allah kita akan mengetahuinya dan mendapati mutiara dalam diri kita…

    Tidak ada pinter atau bodoh loh, semua sama, hanya bagaimana kita memanfaatkan peluang yang ada dengan kemampuan kita yang ada saat ini. tentu, ya dengan menggali kemampuan diri pada diri kita…

    maaf ya…

    salam kenal

  16. Pretty nice post. I just stumbled upon your blog and wanted to say that I have really enjoyed surfing around your blog posts. In any case I will be subscribing to your feed and I hope you write again very soon!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s