Final AFF, Nasionalisme atau Uang?

Standard

kompas.com

kompas.com

Tanpa terasa, hanya dalam hitungan hari, Final leg kedua antara Indonesia versus Malaysia berlangsung. Sayang, belum lagi final berlangsung, puluhan ribu supporter Indonesia telah “disiksa” oleh kepentingan sepihak para penguasa negeri.

Bukan Malaysia atau Filipina yang menyiksa supporter Indonesia, tapi bangsa ini sendiri yang telah menyiksa dan menzalimi, khususnya PSSI.

Saat ini, kata-kata nasionalisme harus kembali dipertanyakan khususnya kepada para petinggi negeri ini.

Puluhan ribu masyarakat berbondong-bondong ke Jakarta untuk menyaksikan team kesayangannya berlaga melawan saudara sekaligus “musuh bebuyutan” Malaysia.  Rasa nasionalisme, solidaritas dan kecintaan pada negeri ini, mereka rela melepaskan segalanya. meninggalkan keluarga, meninggalkan pekerjaan, semata-mata untuk mendukung penuh kesebelasan Indonesia di Final Piala AFF.

Tidak peduli panas, hujan, berdesak-desakkan, bahkan kelaparan dan kehausan tidak lagi dihiraukan, untuk antri membeli tiket pertandingan. Semua itu untuk Bangsa Indonesia.

Sayangnya, profesionalisme memang menjadi barang langka di negeri ini, apatah lagi keadilan, jelas-jelas brang yang sulit untuk diperoleh.

Betapa tidak, ntah mengapa, dengan semena-mena Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dibawah kepemimpinan Nurdin Halid, menaikkan harga tiket final dan menjualnya dengan harga selangit. Harga tiket yang dijual itu nyaris sama untuk harga tiket pertandingan sepak bola international.

Sebagai gambaran, dibawah ini ada rincian harga tiketnya:

Tiket kategori I, sebanyak 24.000 lembar seharga Rp 200.000. Tiket kategori II (di belakang gawang) sebanyak 16.000 lembar dijual seharga Rp 150.000.

Lalu, ada 30.000 lembar tiket kategori III seharga Rp 75.000 (tribune atas).

Adapun untuk tiket VIP barat (2.700 lembar) dipatok seharga Rp. 500.000, VIP timur (3.500 lembar) seharga Rp. 350.000, dan VVIP (671 lembar) dijual  Rp 1 juta.

Bukan masalah harga, akan tetapi, disini sangat jelas nasionalisme terpinggirkan hanya keuntungan fulus. Saat ini, kita harus jujur, Bangsa Indonesia nyaris tidak pernah merasakan aura nasionalisme yang begitu luar biasa dibanding saat ini. Nyaris 10 tahun ini, tidak ada nasionalisme yang bergelora sebagaimana Final AFF.

Sayangnya, disaat bangsa ini diterpa berbagai “kebohongan” dan “pembusukan” terhadap rakyatnya sendiri, tetap saja masyarakat dijadikan lahan empuk untuk mengeruk keuntungan.

Coba bandingkan dengan harga tiket yang di jual di Malaysia saat leg pertama Final Indonesia versus Malaysia?

Harga tiket di grandstand hanya dijual 50 ringgit (sekitar Rp144.500). Adapun tiket teras 30 ringgit (sekitar Rp 86.700). Tiket untuk anak-anak berumur 12 tahun ke bawah hanya 5 ringgit (sekitar Rp 14.400).

Jika melihat fasilitas dan kemegahan gedung, Gelora Bung Karno masih kalah dibanding Stadion Bukit Jalil (disini bukan bicara nasionalisme, tapi yang dibicarakan tentang “kejahatan” terhadap masyarakat).

satu hal lagi, tabiat aneh ini dilakukan oleh petinggi negara ini. Gelora Bung Karno dapat memuat 88.000 ribu lebih penonton. Tapi tiket yang dicetak hanya 76871. lah sisanya kemana?

Ber-praduga tak bersalah boleh saja, bukan demikian? Kebiasaan bangsa ini, KKN memang menjadi darah daging yang tidak bisa hilangkan. Apakah keluarga, seperti anak, istri, keponakan, cucu, dan sejenisnya, adalah orang yang harus didahulukan. Lalu, teman kerja, partner, kolega, pejabat negara, pejabat daerah (yang tentunya dengan seluruh keluarganya), teman seperjuangan (parpol) dan lagi-lagi dengan keluarganya, akan menjadi utama dibanding masyarakat yang mengantri kepanasan diluar sana.

Parahnya, para “keluarga” negara diatas itu, memberoleh tiket dengan gratis dan tidak bayar sepeserpun. Mereka akan datang dengan kendaraan mewah, dikawal ajudan, semuanya serba wah.

Tumbalnya, tentu masyarakat yang antri dengan membawa kobaran nasionalisme. Masyarakat kelas bawah inilah yang harus menangung semuanya. Caranya, tentu saja dengan menaikkan harga tiket. Masyarakat harus membayar mahal dari tiket sebesar 15000 lebih yang tidak dicetak.

Lagi-lagi masyarakat yang mencintai bangsa ini yang menjadi korban (belum tentu petinggi negara itu memiliki nasionalisme terhadap bangsa ini. Lihat saja, berapa banyak kasus yang terjadi, mereka melarikan diri keluar negeri saat boroknya diusut). Tapi, tetap saja mereka mendapat fasilitas gratis dengan menghisap keringat masyarakat.

Dunia memang sudha terbalik di negeri ini. Orang-orang kaya dan pejabat-pejabat yang sudah makmur memperoleh tiket gratis!. Apakah ini tidak terbalik dan penzaliman? Walaupun KPK meminta pejabat melaporkan saat menerima tiket gratis, apa gunanya bagi masyarakat? Adakah manfaatnya?

Seharusnya kita malu dengan negara lain. Disaat nasionalisme bangkit, justru harus “terbantai” oleh kejahatan yang terencana yang dilakukan oleh petinggi-petinggi negeri ini. Apakah mereka (pejabat) itu tidak malu menerima tiket gratis? Sedangkan masyarakat harus bersusah payah mengumpulkan uang, biaya transport (dari luar Jakarta, luar jawa).

Dari Panitia Lokal Final AFF, mengatakan bahwa, pendapatan dari harga tiket akan mencapai sekitar 10 miliar lebih.Kalau sold out, bisa mencapai angka tersebut. Bagi saya, ini tren yang membaik,” ungkap Joko Driyono, selaku ketua Panitia lokal dengan bangga.

Luar biasa memang. Mereka bangga dengan keuntungan 10 miliar lebih.

Untuk apa pendapatn 10 miliar lebih jika menzalimi bangsa sendiri. Masyarakat yang berbondong-bondong datang untuk memberi semangat harus menjadi korban. Sedangkan para pejabat menerima tiket gratis dan rakyat kecil yang harus menanggung biayanya!

Benar-benar sangat memalukan dan menyedihkan. PSSI oh PSSI, kau telah menzalimi bangsamu sendiri!

41 thoughts on “Final AFF, Nasionalisme atau Uang?

  1. abuabatat

    ada pepatah lama seperti ini” kalo bisa di jual mahal kenapa harus murah” seng penteng untunnnnnnnnng toh…masalah masyarakat mampu tdk mampu terserah yg mau nonton katanya…..weleh…weleh…

  2. Martha Andival

    penyakit sangat banyak dek, skrg kita harus mencari obatnya. karena sudah terlalu banyak korban yang berjatuhan dari “penyakit” akut ini.

  3. korupsi sih korupsi, tapi saat ini nasionalisme bukankah nomor 1. coba lihat girah masyarakat kita terhadap timnas, haruskah dikorban untuk “yang lain”

  4. Benar-benar menyedihkan ya mas, sekecil apapun kesempatannya, pasti dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan. begitulah wajah pejabat kita, sungguh terlalu..!!!

  5. Ini lah yang membuat si nurdin gak rela meninggalkan tampuk ketua PSSI. Coba telaah lagi, berapa yang masuk ke kantong pengurusnya😕 gak salah kalau beberapa hari yang lalu di GBK terpampang spanduk yang mendukung dia agar dia bisa menjabat kembali dan melupakan sangkaan korupsi yang mengikuti nya
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  6. Lola

    Nurdin Halid memang coba balikin dananya yg udah diambil krn kasus korupsi, skrg waktunya ngumupulin harta lagi. Indonesia memang jago memelihara koruptor. PSSI dn dunia sepakbola kita rusak karna PSSI skrg tdk lebih sbg rumah koruptor

  7. Martha Andival

    sangat menyedihkan, rakyat ga dipikir, justru pejabat kita memikirkan teman2 sesama pejabat. duh Indonesia sampai kapan berubahnya

  8. Martha Andival

    Iya.. semua kesempatan akan diraih, tak peduli masyarakat menderita atau tidak. yg penting keuntungan untuk diri sendiri. Sayang sekali suporter kita yang berdesak-desakan… duh dimana nurani mereka

  9. Martha Andival

    Iyo sih, tapi mbok ya ojo ngono (tapi ya jangan begitu). kasihan masyarakat kita yg udah jauh-jauh datang tuk membela kesebelasan tercinta tapi tetap diperas juga oleh orang-orang yang berkepentingan hiks

  10. Martha Andival

    Buktinya ya lihat saja, Divisi I luar biasa berantakan kinerja wasitnya. PSSI diem saja kan hehehe

    jadi tidaklah salah jika ada pesaing lain dari PSSI dengan membuat Liga Primier😀

  11. Martha Andival

    10 miliar, yang bayar masyarakat dari 76ribu kursi, belasan ribu kursi lainnya hahaha

    salam hangat juga🙂

  12. Martha Andival

    Malangnya nasibmu .. oh, seandainya para pejuang-pejuang negeri ini masih hidup dan melihat kezaliman yang terjadi…😦

    salam sayang juga ya Denuzz🙂

  13. rizki

    ya iya si nurdin halid dijitak aja palanya biar kapok. koruptor bikin rusak PSSI. orang brengsek mana mungkin bisa bua tprestasi. kalo pu timnas menang, PSSI skrg ga ada andil dan ga ada jasa

  14. aziz

    enaknya si nurdin itu palanya tipitak. koruptor ga tau malu. rakyat susah masi saja cari untung. PSSi rusak gara-gara nih koruptor

  15. INtromusc

    ootak koruptor semuanya akan dibawa bisnis untuk perutnya sendiri. ga peduli masyarakat keadaannya yang penting untung. PSSI rusak abis di tangan si nurdin. so SBY diem wae yoo

  16. Indonesia

    negara ini memang sudh parah total. dan bakalan jadi negara gatot aka gagal total. bangsa sendiri pun dijajah. rusak pejabat gitu juga masyarakat yg udah duduk jadi pejabat. PSSI, conth kegagalan sby nangani korupsi. jual wibawa mulu

  17. secara konsep ekonomi emang bener, saat permintaan naik, maka penawaran kudu di tekan dengan kenaikan harga, supaya stock yg ada ga jadi rebutan gitu. apalagi udah jelas ini urusan duit :p

  18. Siapakah pemimpin yang adil saat ini? Kok rasanya saya kehilangan itu sekarang.. KKN udah menjadi “budaya” bagi mereka yang mendapatkan posisi uenak, jadi tidak mau “ngoyo sithik” (baca: usaha dikit) dengan cara yang benar tentunya.

  19. Martha Andival

    Yang penting “ngolahnya” dalam situasi apapun, jika bisa dimanfaatkan ya manfaatkan, walaupun masyarakat menderita!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s