Rumahku Rumahmu

Standard

Kebiasaan emak dan almarhum bapak yang sangat dikenal adalah memberi makan. Kepada siapa saja dan kapan saja, rumah emak ibarat warung bagi siapapun. Bagi saudara, teman, anak-anak emak, teman bapak dan para tetangga. Semuanya makan apa yang kami makan di rumah. Tidak ada perbedaan antara anak tetangga ataupun anak sendiri.

Selepas menjalani pendidikan, aku dan beberapa temanku di tugaskan di Sumater Utara.  Mereka tidur dan makan sebagaimana yang aku lakukan. Tanpa ada perbedaan. Begitu pula yang emak lakukan terhadap teman-temanku. Jika teman-teman sakit dan membutuhkan bantuan, emak akan ada disamping kami.

Beberapa temanku seperti Willy, Anthony, Syahril, Razali, Arif Darmawan, Iskandar, dan Necson, menginap di rumah Emak.

Emak tahu, teman-temanku itu belum memiliki gaji dan belum ditempatkan di kesatuan. Hari-hari yang kami lalui pun hanya sekedar melapor ke kantor, setiap paginya. Begitupun pada sore harinya. Kami masih menunggu untuk di tempatkan.

“Mereka makan dan tinggal disini lama sekali, tapi emak tak pernah mempersoalakannya. Setiap pagi emak pergi ke pasar, belanja dan mamasak untuk mereka. Tetapi emak tidak pernah meminta sepeserpun uang dari mereka. Emak ikhlas, dan mereka semua sudah emak anggak seperti anak sendiri,” kata emak.

“Emak yang beri makan mereka sebelum mereka dapat gaji,” tambah emak, mengenang teman-temanku.

Pernah suatu hari, emak membeli beras satu karung untuk kebutuhan di rumah. Setiap memasak, sudah pasti emak mengambil beras tersebut. Dan beras itulah yang di makan Willy dan teman-teman lainnya. Tetapi, alangkah terkejutnya emak, beras itu tidak pernah habis meskipun di masak setiap hari. Padahal, di rumah sangat banyak orang.

Saat itu, emak merasa bingung. Setiap emak ingin memasak, kenapa beras tidak habis-habis. Padahal sudah lama sekali emak tidak beli beras. Berbulan-bulan emak tidak beli beras. Hal ini seperti keajaiban, karena sangat mustahil setiap hari di masak, tapi berasnya tidak pernah habis.

Hal itu selalu menjadi pertanyaan dalam benak emak. Tapi emak tidak pernah menceritakan kejadian aneh itu kepada siapapun dirumah. Emak mencoba menanyakan hal tersebut kepada salah seorang saudara yang kebetulan memiliki pemahaman agama. Perihal beras itu emak ceritakan.

Mendapat pertanyaan tersebut, saudara emak tadi pun terkejut dan berkata ; “Aduh Makcik, itu namanya berkah. Jangan di sebut-sebut, nanti nggak berkah lagi. Makcik berbuat baik kepada orang, memberi makan orang lain, itu yang buat beras di rumah Makcik nggak habis-habis”.

“Oo.. begitu ya, aku ngak tau,” jawab emak polos.

Ternyata apa yang dikatakan saudara emak benar adanya. Keesokan harinya, saat emak ingin memasak nasi. Seperti biasa, emak hendak mengambil beras yang di simpan di belakang pintu, emak sangat terkejut, beras hanya tinggal untuk sekali masak, padahal kemarin beras itu masih banyak. Emak teringat pada perkataan saudaranya kemarin.

“Mungkin karena emak cerita hal itu kepada orang, beras itu jadi habis. Gak berkah lagi,” gumam emak dalam hati.

Semenjak saat itu, emak tidak pernah menceritakan hal itu kepada siapapun. Namun, bulan-bulan selanjutnya, beras di rumah rasanya cepat sekali habis. Emak harus membelinya setiap bulan.

Pengalaman yang emak alami itu telah memberi pelajaran berharga bagi emak, bahwa kebaikan tidak perlu disampaikan kepada orang lain. Karena kebaikan itu Allah yang membalasnya, bukan manusia.

Walau pun begitu, apa yang telah emak lakukan selama ini, tetap emak lanjutkan. Memberi makan kepada siapa saja. Tanpa membedakan makanan untuk anak kandung maupun anak-anak tetangga.

Beberapa teman kecilku masih mengingat bagaimana emak dan bapak melayani mereka. Anak-anak di sekitar rumah emak undang untuk makan beramai-ramai. Emak dan bapak tetap duduk sambil mengamati anak-anak yang sedang makan dengan lahapnya.

Emak dan bapak tidak akan beranjak sampai semuanya selesai. “Bapak akan duduk bersama anak-anak. Jika ada anak-anak yang ingin tambah, bapak dan emak langsung memberi. Bapak dan emak khawatir, jika kami ingin minta tambah tapi tidak berani. Karena itu mereka duduk disamping kami dan menawarkan apa yang kami inginkan,” kata temanku Aman, mengenang masa kecil dulu.

Kebiasaan itu terjadi sudah dihafal oleh anak-anak di sekitar rumah. Bila emak dan bapak memanggil anak-anak untuk makan, maka anak-anak pun segera datang. Bahkan tidak sedikit yang membawa piring sendiri dari rumahnya.

“Beberapa anak-anak terkadang membawa piring sendiri dari rumah,” sambung Aman.

Kenangan itu tetap membekas di hati Aman hingga kini. Bahkan, sikap memberi makan yang dilakukan emak tidak pernah berhenti hingga saat ini. Siapa saja yang datang kerumah, maka mereka sudah seperti keluarga sendiri. Makan, tidur, dapat dilakukan dirumah. Sudah dianggap anak sendiri.

Pun demikian saat memasak gulai. Emak tidak lupa untuk memberi kepada para tetangga untuk mencicipinya.

Kata emak, semua itu dilakukan karena Allah. “Memberi makanan kepada orang lain adalah tuntunan agama kita.”

* Ibu Nelly ini masih hidup dan sekarang menetap di Medan. Terakhir jumpa, bagaimana ia memaksa salah seorang anaknya untuk mendatangi sebuah keluarga. Ibu Nelly meminta anaknya membiaya anak-anak dari sebuah keluarga yang tidak sekolah karena miskin.

11 thoughts on “Rumahku Rumahmu

  1. Martha Andival

    Saya pribadi salut ama ibu Nelly….. tulisan ini merupakan cuplikan dari sebuah buku (kebetulan saya salah satu team)

  2. Martha Andival

    Almarhum sang suami, bahkan hanya meninggalkan 4 pakaiannya.

    bukan hanya makanan, sang suami sering memberi bajunya untuk siapa saja yang datang..

    Jika sepulang dari berjualan, maka sang suami akan membagi-bagikan sisa dagangan kepada semua tetangganya…

  3. Terima Kasih sudah berkenan berkunjung di blog baru saya,dan jika berkenan untuk bertukar link, Link Negeri Makian sudah saya masukkan di blogroll saya Terima Kasih sebelumnya

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s