Jamie Morgan dan Aceh

Standard

Black & White Coffee. Minggu, 9 Januari 2011. Seorang wanita cantik duduk manis mengamati catatan-catatan yang dibuatnya. Mungkin, catatan-catatan dalam bahasa Indonesia yang belum ia mengerti.

Dari janji semula, pukul 16.00 wib, saya molor waktu 10 menit. Maklum, bukannya jam karet, tapi karena memang waktu kita untuk ibadah dulu (ceille……).

Setelah berbasa basi sedikit, kami pun memulai diskusi. Tapi memang agak bingung juga, Jamie Morgan, mengira saya, Martha Andival, adalah seorang wanita. Sedangkan saya, mengira Jamie Morgan itu laki-laki. Ternyata saya laki-laki, dia wanita. Perkenalan awal yang membuat kami berdua terbahak-bahak.

Satu lagi, dia sih mintanya menggunakan bahasa Inggris. Tapi saya menolak menggunakan bahasa Inggris. Diskusi harus menggunakan bahasa Indonesia. Selain memang saya tidak bisa bahasa Inggris, ya sekali-kali beliau dong yang pake bahasa Indonesia. (Alasan saya saja nih.. hehehe).

Kita pun memulai diskusi. Khususnya tentang Aceh. Apalagi, selain informasi, beliau juga mengkritisi beberapa tulisan di blog ini. Seperti “Antara Aceh dan Yogya”, “Pembantaian Syariat Islam di Aceh”, dan “Jangan Panggil aku Lonte”.

“Saya sudah baca banyak tulisan kamu di blog Negeri Makian,” katanya tersenyum.

“Loh.., kok bisa?” tanya saya.

“Search di Google tentang siapa Martha Andival,” katanya tersipu.

Dari situlah, diskusi pun bergerak. Mulai tentang penerapan syariat Islam di Aceh, konflik Aceh, komunitas hingga lembaga-lembaga non pemerintah. Untuk masalah budaya, memang saya menjelaskan sesuai apa yang saya tulis di blog ini, “Antara Aceh dan Jojya”. Begitupun masalah syariat Islam, saya jelaskan sesuai dalam tulisan saya di “Pembantaian Syariat Islam di Aceh”. Tidak ada yang perlu ditutup-tutupi.

Selain itu, Jamie juga bertanya tentang lapangan kerja di Aceh untuk kedepannya. Karena, seperti informasi yang dia peroleh, kondisi lapangan kerja di Aceh, pada masa mendatang agak sulit.

“Sangat relatif,’ jawab saya.

Mengapa, semua memang tergantung posisi dan kondisi Aceh. Investor juga akan mikir-mikir ke Aceh dengan keadaan Aceh saat ini. Saya rasa bukan hanya Aceh, daerah-daerah lain di Indonesia juga dalam kondisi yang sama. Untuk Aceh, lihat saja, berapa sudah MoU kerja sama dilakukan, tapi realisasinya?

“Lalu bagaimana dengan penerapan syariat Islam di Aceh,” tanyanya.

Terus terang saya katakan kembali, ya seperti dalam tulisan saya, Pembantaian Syariat Islam di Aceh. Seperti itulah kondisinya saat ini. Tidak lebih tidak kurang. Jamie angguk-angguk kepala.

Intinya, Jamie menanyakan banyak hal tentang Aceh. Dan dia, ingin ke beberapa daerah di Aceh. Seperti Lhokseumawe dan Takengon. Apalagi setelah tahu saya dari Aceh Timur, dia pun menggebu-gebu untuk datang ke Aceh Timur.

Tapi ada satu pertanyaan Jamie yang membuat saya bingung dan blingsatan. “Dulu, saat Aceh tidak senang dengan pusat, Aceh menggunakan cara perang. Saat ini, saya masih mendengar ada kekecewaan setelah damai, kok bisa?” tanya Jamie, penasaran.

“Lah gimana toh.  Kan masih banyak tuh isi-isi MoU Helsinki yang belum dilaksanakan. Apalagi, banyak klausul perjanjian yang sudah berubah di dalam Undang-Undang Pemerintah Aceh (UUPA). Kita rakyat Aceh masih kecewa,” jawab saya.

Disaat-saat diskusi itu, Jamie sedikit panik, karena ada satu kosa kata bahasa Indonesia yang dia lupa. Dia pun membolak-balik catatannya. (sial.. saat ini saya pun malah lupa kata yang Jamie lupa itu hehe..).

Oh iya, dia juga menanyakan perihal pelaksanaan blogshop pada Mini Pesta Blogger Aceh beberapa waktu lalu. Lagi-lagi saya sampaikan apa adanya. Jika bagus ya bagus, jika jelek ya jelek. Cuma satu hal yang saya minta, jika kedepan diadakan blogshop lagi, serahkan saja pemateri itu pada panitia lokal. Apalagi, dari pada mengeluarkan uang untuk membawa panitia pusat yang banyak menghabiskan uang, mending pemateri dari lokal, selain lebih maksimal, dana sisa bisa dibuat untuk kegiatan lainnya.

Benar-benar tidak terasa, waktu terasa singkat sekali. Tepat pukul 17.00 wib Jamie mohon ijin, pamit. Karena dia harus segera pulang ke penginapan.

Satu yang saya ingat, saat mengantarnya ke tepi jalan (menunggu becak motor), “Ardhan, kenapa sih wanita muslim itu harus pakai jilbab,” tanya Jamie.

Jujur bingung mau jawab apa. Waktu yang sangat singkat (dipinggir jalan- kebetulan becak motor telah dipanggil) bukanlah saat yang tepat untuk menjelaskannya. “Coba deh sekali-kali Jamie memakai jilbab lalu berdiri didepan cermin. Kamu pasti akan terlihat cantik dan anggun,” kata saya.

Matanya terbelalak, lalu tersenyum. ***

*Jamie Morgan, peneliti asal Amerika Serikat.

49 thoughts on “Jamie Morgan dan Aceh

  1. maskur

    Dhan, masih ingat gue kan, kita sama-sama di jakarta dulu. masih rajin nulis ente ya, salut. tetap bertahan bro..

  2. Martha Andival

    thanks bang… saya pribadi juga tidak menyangka saja. karena si Jamie (nama aslinya Jamie R Morgan) menghubungi saya (sms) untuk jumpa…..

    tapi novel apa yah, benar-benar saya tidak tahu ataupun lupa neh bang

  3. Martha Andival

    jangan salah kang ian, saya harus jujur, tulisan saya masih berantakan dan ga teratur, jauh beberda dengan tulisan teman-teman blogger lainnya yang sudah saya lihat. Tulisan kang ian salah satunya, kang Achoey, Muda Bentara, Aulia, miftah, Sir Adankovic, kopral cepot, n’Basis, Itempoeti, orange float, sugeng, Adverthya.. dll, justru lebih bagus..bukannya memuji tapi memang ini kenyataannya..

    yang beda hanya tema atau isu tulisannya saja, jika tulisan saya harus mengakui saya masih berantakan. ini salah satu buktinya : Wisata Aceh dan Ancaman

  4. Martha Andival

    Semua kita harus berdedikasi, apakah terhadap diri sendiri, pekerjaan, keluarga, daerah maupun negara ini… kita semua sama dek…

  5. Martha Andival

    salam kenal juga, terimakasih banyak sudah mampir..

    sebenarnya ini bukan novel dan memang bukan. Ini kisah pertemuan saya dengan Jamie kemarin sore, di Banda Aceh..

    maaf ya

  6. Martha Andival

    Aduh maaf bang..tulisan ini bukan sebuah novel. Ini kisah pertemuan saya dengan Jamie kemarin sore, di Banda Aceh..

    maaf ya

    salam kenal juga, terimakasih banyak sudah mampir..

  7. Martha Andival

    jiah, bang komuter, bagaimana pula, saya kan kalo kerumah abang pake Ardhan, kok masih terpikir cewe hahaha

  8. Martha Andival

    Maskur,,, tentu masih ingat. bagaimana keadaan kamu dan keluarga? sehat kan? ke YM saja ya.. saya tunggu…

  9. Martha Andival

    RohAceh, ini bukan novel, bukan cuplikan novel atau yang berkaitan dengan novel hehehe

    ini ya tulisan hasil pertemuan kemarin sore dengan Jamie Morgan di Black & White coffe

  10. rosa

    salam kenal mas. makasih infonya.. Jamie ternyata seorang peneliti masalah konflik di berbagai negara. cuma apa hubungannya dgn anda hingga diajak diskusi

  11. Jamie bisa berbahasa Aceh juga ya bang? jangan lupa sesekali Jamie disugukan dengan buku sejarah Aceh, jangan pertanyakan Jilbab, tapi suruh maknai tentang apa sih “istimewanya” Islam di Aceh dari jaman 674 H sampai 1432 H saat ini🙂

  12. Martha Andival

    kebetulan beliau ga bisa bahasa Aceh, krn baru beberapa bulan di Indonesia dan di Aceh baru 3 hari🙂

    benar,,,, mudah2an saya bisa ngasih buku itu (copiannya).. krn sebelum balik ke jakarta mungkin akan jumpa lagi

  13. owh, jadi bercakap2 dalam bahasa Inggris🙂 hebat deh si abang ini🙂

    siapa tahu dari buku itu banyak yang bisa diilhaminya tentang Aceh, saya buku Denys Lombard aja belum habis baca😀 panjang minta ampun😉

  14. Martha Andival

    ini dia bang, seharusnya kita malu dengan kondisi ini.. mudah2an menjadi kita semakin cinta akan budaya kita khususnya islam

  15. Martha Andival

    bang Aulia… wajib baca dari awal nih, pasti ada yang terlewat satu paragraf… hayoo dicari pargraf yg kelupaan itu hehehe

  16. Martha Andival

    sebenarnya dia banyak nanya tentang Islam, seperti Qanun-qanun dan banyak, cuma tidak bisa saya publis disini.. maaf ya

  17. Jamie

    Wassalam alaikum teman-teman,

    Saya menikmati baca semua koment-koment ini, juga kalau saya tidak tau abang akan tulis tentang percakapan kami! Tapi saya hanya ingin untuk klarifikasi satu hal karena saya gak mau orang pikir semua orang asing gak tau tentang Islam. Saya tanya abang tentang jilbab karena saya mau tau interpretasi dia – banyak orang saya bertemu punya alasan beda, dan ada menarik untuk saya. saya sudah belajar di pesantren di pesantren di Solo selama 3 bulan, jadi sudah tau surah-surah, tetapi saya ingin tau di budaya Aceh dan Islam di Aceh, karena kata orang-orang, Aceh, ada beda.🙂

    Saya juga senang jika orang-orang yang baca blog ini mau menghubungi informasi/interpretasi/idea lain dengan saya – saya sebenarnya ke Black and White coffee besok kira2 dari jam 2 – jam 3, jadi kalau bisa ke sana saya senang untuk bicara! Sudah suka budaya nongkrong di Aceh🙂

  18. Ty Jamie udah masuk… .

    Oh iya, nanti siang, teman-teman Aceh Blogger (termasuk ketuanya) akan datang ikut berdiskusi… ty sekali lagi atas kritikannya

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s