Wanita Durjana dan Lelaki Keparat *

Standard

Wanita berkerudung besar itu hanya diam. Sambil membetulkan ujung jilbabnya, kedua bola matanya liar mengamati sekelilingnya. Hilir mudik pemuda-pemuda tampan membuatnya betah bertahan. Sudah hampir tiga jam lebih.

Pukul 21.00 wib. Malam mulai menanjak, dinginnya udara malam tidak membuat wanita berkerudung itu bergeming.

Hamni, nama wanita itu, masih tetap bertahan. Tatapannya sesekali kosong, sesekali berbinar disaat pemuda-pemuda tampan menatapnya. Hatinya berbunga-bunga, seolah ada sebuah harapan dari tatapannya.

Seperti malam-malam kemarin, ini malam ke tujuh Hamni berdiri disudut warung, tempat yang biasa disinggahi oleh mahasiswa dan mahasiswi yang nge-kost di sekitarnya.

Hamni, dalam tujuh hari ini, sedikit berani dan nekat. Pun kebetulan, saat ini, perkuliahan belum terlalu aktif, masih di bulan-bulan awal. Apalagi, sebagian besar mahasiswa juga masih berada di kampung untuk menikmati masa liburan.

Tepat pukul 22.00 wib.

“Loh, kok masih disitu Hamni,” Tanya Bu Ani, sang pemilik warung. Saat itu, Bu Ani akan menutup warungnya.

“Iya, bu. Ini  masih menunggu teman. Tadi kendaraannya mogok,” jawab Hamni. Apa yang dikatakannya barusan, sebenarnya hanyalah sebuah alasan palsu agar sang pemilik warung tidak curiga.

Lima menit berselang, Hamni mulai was-was, pemuda-pemuda yang ditunggunya sedari tadi tidak lagi muncul. Padahal, malam semakin menanjak, bahkan bulan pun sudah terlihat bersembunyi di balik awan.

Namun, hasrat yang begitu menggebu untuk melihat pemuda-pemuda tampan itu, Hamni tetap bertahan. Tidak peduli tetesan embun yang berjatuhan membasahi kerudungnya, tak peduli nyamuk yang terus menggigitnya hingga bercak darah membekas di kulit tangannya yang putih.

**

Malam semakin menanjak, Hamni, sang wanita berkerudung besar itupun larut dalam canda nakal dan saling menggoda. Tak peduli puluhan pasang mata melihat mereka. Sesekali, Hamni mengeluarkan kata-kata sedikit memancing agar sang pemuda tampan itu tersenyum dan tentunya, membalas dengan kata-kata yang juga sedikit nakal.

Lagi-lagi, mereka berdua lupa, berjuta pasang mata melihat aksi mereka.

Pukul 03.00 wib. Semakin nakal, semakin binal dan semakin menjadi-jadi.

*Tentatif dan masih sementara

*Masih prolog loh

One thought on “Wanita Durjana dan Lelaki Keparat *

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s