Mamakku Seorang Pelacur

Standard

Diantara Negeri Syariat, Aceh. Mendung yang hitam pekat seolah menggambarkan pekatnya jalan hidup yang tengah dihadapi beberapa manusia di negeri ini.

Deo Armada

Erick Andri

Farah Mutia

Angga Tria

Inggrid Mutia

Aku terdiam. Mencoba mencari apa yang sedang ia pikirkan. Deo seperti tidak mempedulikan kehadiranku, padahal aku duduk tepat disamping kirinya. memandangnya.

“Kamu ngapain duduk sendiri disini?” aku mencoba memancingnya untuk berbicara.

Deo tetap diam. Kedua bola matanya menatap kedepan, hampa. Sesekali ia memainkan kedua kakinya, melipat-lipat tak beraturan. Sesekali ia meluruskannya kedepan, lalu menekuk kedua lututnya.

Aku tetap menatapnya, mencoba menerka apa yang tengah ia pikirkan. Namun gagal. Deo benar-benar menikmatinya kondisinya yang sepi, dan menganggap aku tidak ada disampingnya.

Setelah tiga puluh menit tidak membuahkan hasil, aku pun bergegas meninggalkannya.

Deo tetap tanpa suara. Ia hanya sekali menatapku saat aku berkata, “Jangan kemana-mana, sebentar lagi saya kembali”.

Aku menuju sebuah warung untuk membeli makanan ringan dan dua botoh minuman.

Dengan menenteng sebungkus makanan ringan aku pun kembali ke tempat Deo.

Aku semakin bingung, Deo masih duduk ditempatnya. Bahkan, saat aku duduk disampingnya, ia pun tidak peduli.

Aku sodorkan makanan dan minuman yang kubeli tadi, seketika wajahnya berubah. Gembira.

“Saya minta satu, ya,” katanya, sedikit tersenyum.

Aku mengangguk.

Akhirnya aku dan Deo menyantap sampai habis makanan dan minuman di dalam plastik. Masih seperti semula. Tanpa ada kata yang keluar dari bibirnya. Kami tetap membisu. Hanya suara kerupuk yang berhancuran dari dalam mulut yang terdengar.

Tiba-tiba, beberapa suara nyaring terdengar memanggil.

“Bang Deo….!!!!!”

“Bang Deo….!!!!!”

Deo membalikkan tubuhnya kearah belakang. Aku ikut membalikkan tubuhku.

Dari kejauhan kulihat dua anak kecil sambil berlari kecil memanggil Deo. Umurnya kira-kira berusia empat tahun dan enam tahun.

Aku menatap Deo. Diam.

Benar-benar pemandangan yang sangat sulit untuk ku cerna. Tanpa ekspresi, Deo berdiri, lalu mendekati kedua anak kecil yang memanggilnya tadi.

“Buk.. buk…!”

Aku terperanjat. Benar-benar diluar perkiraanku. Kulihat dengan mata kepalaku, Deo menampar kedua anak kecil itu.

Kulihat kedua wajah anak yang barusan ditampar Deo meringis kesakitan. Namun mereka diam tanpa berani melawan.

“Bang Deo dipanggil mamak,” kata salah seorang anak itu, lalu berlari meninggalkan Deo.

Aku benar-benar panik, tidak tahu harus berbuat apa. Melihat kondisi Deo, melihat wajah kedua anak kecil (Ternyata adik Deo) yang meringis kesakitan tanpa bisa melawan. Aku benar-benar bingung tidak tahu harus berkata apa dan apa yang harus kulakukan, karena semuanya sangat cepat dan tiba-tiba.

Namun yang membuatku bingung, bagaimana mungkin Deo memukul kedua adiknya yang tidak melakukan kesalahan, tanpa ekspresi dan begitu dingin. Lalu, saat melihat kedua wajah adiknya yang menerima pasrah tamparan Deo. Atau minimal, anak kecil seusia mereka, akan menangis. Karena, sejujurnya, tamparan yang dilakukan Deo sangat keras dan kuat untuk seukurannya.

Deo mendekatiku. “Bang terimakasih kuenya,” katanya singkat. Hanya itu yang Deo katakan kepadaku, dan akupun berniat pergi meninggalkan tempat aku duduk bersama tadi.

Tapi, aku benar-benar terperanjat saat hendak menggerakkan kaki, Deo tiba-tiba mengomel sendiri. “DASAR MAMAK PELACUR PUKIMAK!”.

* Sebuah kondisi yang tanpa disengaja saya bertemu Deo, seorang pelajar SMP kelas 2. Setelah bertanya sedikit tentang Deo kepada masyarakat sekitar, saya pun hanya bisa menitikkan airmata.

3 thoughts on “Mamakku Seorang Pelacur

  1. sikapsamin

    Membaca posting diatas, jadi ingat pernah membaca koleksi buku pakde saya, a.l. ‘Hikmah Kehidupan’, ‘Jalan Sufi’, ‘Kearifan si Pandir’, dll.
    Ada satu kalimat/ungkapan (lupa dari buku yg mana & siapa sumbernya) yang sampai saat ini tepateri baik dlm ingatan maupun hati, kira2 begini :

    “SEORANG PEMUKA AGAMA…MENDEKATI SANG PENCIPTA DENGAN DOA-DOA, SEMENTARA SEORANG PELACUR…MENDEKATI SANG PENCIPTA MELALUI DERITA KENISTAAN”

    (kpd yg lebih mengetahui, mhn koreksi)

  2. Martha Andival

    Benar bang, tidak sedikit, perbuatan itu sebenarnya tidak diinginkan. ada kata terpaksa dan dipaksakan semua demi,,,

  3. rifai

    seluk kehidupan memang banyak yang tak terlihat. kayaknya, anak-anak yang anda tulis diatas memang bagian korban keadaan ibunya yang pelacur

    sayang banget anak-anak tak bersalah yang arus jadi korban orng dewasa yang tak b’moral

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s