Kemana Mereka Mengadu!

Standard

Ramli (38) menyeka keringatnya. Teriknya matahri tidak mengundurkan hasratnya untuk terus memanggil calon penumpang untuk menanaiki labi-labi yang dikemudikannya.

Siang itu, Selasa (12/05/09), antara sabar dan putus asa, Ramli terus memanggil remaja-remaja berbaju putih biru yang sedang menunggu labi-labi di terminal Kedah Banda Aceh.

Sejak beberapa tahun ini, omset pendapatan para supir labi-lavbi dan pemilik labi-labi memang dalam kondidi yang memprihatinkan. “bayangkan, bila tahun 2005 kami masih bisa mendapat pendapatan bersih 70 ribu rupiah perhari, kini jangankan 50 ribu, untuk menutup minyak dan uang harian ke pemilik saja terkadang tidak mencukupi, ujar supir labi-labi jurusan Ulee Kareng-pasar Aceh ini.

Selain dikejar permasalahan kebutuhan ekonomi yang semakin hari kian melambung, kehadiran sepeda motor dengan sistem kredit murah secara tidak langsung telah menggerogoti pendapatan Ramli sebagai supir labi-labi.

Ramli tidak menyalahkan perusahaan sepeda motor, karena tekhnologi dan kebutuhan manusia memang semakin berubah sesuai zamannya.

Bahkan, tidak sedikit para pemilik labi-labi yang beralih profesi dengan menjual labi-labi yang selama ini tempat menggantung hidup. Supir dan kernet juga mendapat imbasnya.

Sebut saja Ali. Pria berkulit hitam asal Lhoknga yang pernah menjadi kernet supir labi-labi ini kini menjadi sebagai tukang cuci piring di salah satu rumah makan di bilangan Simpang Surabaya.

saya tidak ada lagi pekerjaan sejak pendapatan labi-labi menurun drastis. Sebagian besar supir atau pemilik labi-labi tidak lagi membutuhkan kernet demi menghemat pengeluaran,” ujar Ali.

Selain Ali, ada Maimun. Laki-laki paruh baya yang pernah menjadi supir labi-labi jurusan Lambaro Angan – Pasar Aceh ini juga banting setir menjadi penarik becak. Menurut Maimun, menarik becak sama keringnya dengan menjadi supir labi-labi. Akan tetapi, tambah Maimum, hasil menarik becak masih bisa ditabung sedikit.

Fenomena ini, memang terlalu remeh untuk menjadi perhatian pemerintah. Padahal, Aceh, sebagaimana diketahui memiliki anggran yang luar biasa “wah”. Namun sayang, dana triliunan rupiah itu lebih banyak yang menguap ntah kemana.

Inilah saalah satu fenomena kemiskinan terselubung yang jarang mendapat perhatian. Khususnya oleh Pemerintah kita sendiri, Aceh!

Lalu bagaimana dengan supir angkot di daerah lainnya? nyaris tidak jauh berbeda!!!

sumber foto

2 thoughts on “Kemana Mereka Mengadu!

  1. kalau demikian bang, bagaimana dengan kisah Pengemudi mobil L-300. maraknya kehadiran mobil rental juga mengurangi angka pendapatan mereka. memang negeri kita ini negeri makian, tepat seperti judul blog bang martha, hahaha

  2. Martha Andival

    berati kamu adalah orang keempat yang menyetujui ten tang Negeri Makian hehehehe

    Itulah yang seharusnya menjadi pemikiran orang-orang yang telah diberi tanggungjawab… huh!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s