Martha Say’s

Standard

 ...kekalutannya pada awal pagi kemarin telah pula menyadarkan akan makna semua mimpi-mimpiku selama ini,

” saat kutanyakan padanya benar semua itu?
” SubhanaAllah Ameera , namun ia hanya terdiam dan tak bergegas untuk
menjawab semua tanyaku..tapi aku telah puas dapat tau gejolak dalam hatinya ‘bahwa dia mencintaiku dalam hatinya ….

Martha say’s :Amiin …

dia mengeluhkan ingin bertemu denganku tapi ia tak mau menagih rinduku..

hmmmm aku mencintainya ..
Martha Say’s
dia masih malu, karena dia seorang pemalu yang sifatnya harus dipancing terlebih dahulu…dia mengatakan betapa malu ingin mendaki ku, dan kujawab aku aku tak terlalu tinggi setinggi pohon kelapa, jadi tak susahlah untuk didaki,

Martha Say’s
hatinya dipenuhi warna warni bunga, dan dia ingin menyerahkan semuanya untukmu,tp dia belum tahu,bunga apa dan warna apa yang dirimu suka… seandainya dia tahu,pasti dia akan cari jalan…,karena itu, bukalah jalan itu, dan berilah tanda warna dan bunga yang dirimu suka kepadanya…

yaa Martha ….
dia menyukai bunga mawar berwarna warna biru ..
begitu juga aku..
namun sayang sekali sangat susah untuk mencari musim mawar berwarna biru ..
^_^ sehingga sua pun harus penuh sabar dii ujung waktu…” Aku dan dia ” 

Martha Say’s
Yah, bersabar adalah jawabannya. agar kalian bisa melepas semua kerinduan yang indah itu menjadi sempurna saat berjumpa kelak, disebuah taman yang dipenuhi bunga berwarna biru, dibawah langit cerah dan birunya air laut……

 betapa haru yaa perjumpaan itu… 
 aku pun sangat merindu …

sebuah episode dari Kemino Ayane

 

 

 

 

 

Mari kita Bunuh Para Pengemis!

Standard

Masyarakat Jakarta dihimbau untuk tidak memberikan lagi bantuan, uang misalnya, kepada pengemis di jalanan. Hal ini dilakukan agar Jakarta bisa bebas dari PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial). [sumber]

Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Bogor menghimbau warga kota Bogor untuk tidak memberikan sedekah kepada pengemis, anak jalanan dan gelandangan. [sumber]

Nah di Aceh, masih ingat kan berapa banyak gepeng yang ditangkap? alasannya merusak keindahan dan pemandangan kota.

Jadi, alasan ini pula (bisa jadi), para anak punk juga ditangkap karena merusak pemandangan.

Harus diakui, dimana-mana, setiap sudut kota besar di negeri ini, nyaris tidak ada yang luput dari para pengemis. Baik para pengemis dadakan maupun para pengemis yang sudah menetap selama bertahun-tahun sebagai lahan “kerja”. Menariknya, para pengemis ini pun, sudah tidak malu lagi menjelajahi daerah yang lebih sempit, seperti di level kecamatan bahkan desa, sekalipun.

Banyak yang prihatin dan mengelus dada, tidak sedikit pula mengumpat dan memaki. “Dasar pemalas!”

hebatnya juga, Pemerintah kita, baik tingkat nasional, provinsi bahkan kota/kabupaten, seperti berlomba-lomba membuat peraturan daerah (perda) atau sejenisnya untuk “membunuh” para pengemis. Alasannya pun unik-unik, seunik bentuk para pengemis. Dari alasan merusak pemandangan, merusak suasana, merusak tata kota, bahkan alasan-alasan lainnya yang  sangat “tak masuk akal”.

Setelah itu, berlomba-lomba melontarkan pendapat di media massa. Berjibaku antar sesamanya dalam bentuk retorika, setelah itu habis. Mereka makan di warung mewah, naik mobil mewah, dan pengemis masih seperti dulu. Menahan teriknya matahari, derasnya air hujan, hingga harus pintar menjaga diri dari kemungkinan-kemungkinan lain, seperti preman dan pembunuh.

Mereka terus berjuang walau dicaci maki, menahan malu dipinggir jalan. Tak peduli, dalam benak mereka, bagaimana mereka bisa makan dan membiayai kehidupan keluarga di rumah.

Dan kita, duduk manis dirumah, menikmati tontonan luar negeri, makan-makanan enak, tidur nyenyak. Jika datang pengemis, maka kita buru-buru berkataMaaf, yah“. jika pun tidak, maka buru-buru mencari recehan di lantai untuk diserahkan kepada pengemis.

Terus, saat heboh pengemis, kita pun latah memaki pemerintah dan pengemis. Luar biasa kehidupan kita.

**Sebenarnya, bukan hanya pemerintah yang lalai, kita sebagai manusia -yang katanya makhluk sosial- sebenarnya juga lalai. kita sering disibukkan pada diri sendiri, jarang sekali mengetuk hati untuk melihat sekeliling.

Di kampung kita, teman, kerabat, jika bersatu tentu bisa membantu mengatasi masalah ini, hanya saja, karena ego ke-aku-an, telah membuat kita “masa bodo” dan berkata bukan urusan kita. Kita umumnya, hanya bisa menyalahkan, memberi pendapat tanpa bisa memberi jalan keluar.

Tangan pun terkadang tak mampu kita gerakkan untuk mengangkat mereka dan memindahkan kepada kehidupan yang lebih baik.

Untuk tahap awal, masih banyak “tempat” untuk memberi mereka ruang bekerja (memutus tali ke pinggir jalan untuk minta-minta). Tapi yang ini pun tak pernah “mau” kita lakukan.

Saat ini, jangan dulu kita salahkan para pengemis, coba kita intropeksi diri, sejauh mana kita melihat mereka?? MELIHAT mereka!!!! Jangan jangan salahkan saat banyak orang yang sehat (jasmani dan rohani) ikut terjun menjadi pengemis. Bahkan, tidak sedikit pula, mereka lebih kaya dari kita.

Karena ada pengemis dadakan yang terbentuk karena lingkungan yang tidak “sehat”. ini yang harus kita camkan dan seharusnya menjadi intropeksi kita semagai makhluk sosial (katanya).

Untuk pemerintah, kita harus mahfum, dunia koruptik, koluktif, nepotistik, sudah berakar, dan apakah kita menunggu para pengemis terus lahir karena kita menunggu pemerintah.

Siapakah yang membentuk pengemis di muka bumi ini? kitalah yang membentuknya, keegoan kita, kesombongan dan ketamakan kita, sehingga mereka lahir. saat mereka lahir, kita pun memaki mereka seolah-olah kita manusia suci. Kitalah yang tidak beradab, tidak memliki empati, dan tidak suka berbuat adil.

sumber :
Tulisan awal
foto 

Mari Kita Bubarkan Negara Ini!

Standard

Tak elok dan sangat memprovokasi, demikian kesan tersirat dari judul diatas. Lalu bagaimana dengan sikap negeri ini, saat dengan mudahnya ingin melupakan atau (lebih parah) menghilangkan Pancasila dari negeri ini.

Tapi itulah kenyataannya. Kita tak perlu terkejut dan bingung dengan pemberitaan tentang status Pancasila yang berada di ujung tanduk. Karena memang demikianlah negeri ini (para petinggi dan pengambil kebijkan).

Saat ini masanya keegoisan, masa memikirkan diri sendiri. Masanya elo-elo, gue-gue. Urusan orang lain, piker sendiri. Yang penting aku sudah enak dan nyaman. Karena itu, ga perlu lagi kebersamaan, toleransi, musyawarah dan mufakat, tak perlu lagi ada keadilan sosial, hidup tak perlu lagi harus beradab, tak perlu lagi kehidupan dengan pemimpin yang bijaksana, pokoknya, aku sudah senang dan untuk apa mikirkan orang lain. Karena itu, hapuskan Pancasila.

Mari kita lihat perjalanan negeri ini. Sepertinya, memang kehidupan yang indah dalam sebuah kebersamaan, toleransi  dengan konsep Bhinneka Tunggal Ika sudah tidak ada lagi. Pancasila pun hanya sebuah symbol yang ditempel di dinding.

Adakah di dunia ini sebuah Negara yang memiliki keragaman yang luar biasa lengkap dan unik. Keragaman bahasa, adat istiadat dan agama yang begitu lengkap. Ditambah bentuk wilayah yang berpulau-pulau yang jumlahnya ribuan, kekayaan alam yang beranekaragam, hutan, laut, gunung hingga dartana semuanya kita miliki. Baik yang diatas bumi maupun didalam bumi. Indonesia memiliki semunya.

Setiap 17 Agustus, keanekaragaman ini masih dapat terlihat memlaui karnaval daerah. Berbagai sekolah dinegeri ini dengan sukacita mengenakan pakaian daerah dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia. Mereka bergembira dan bangga walaupun, terkadang, seorang pelajar di Papua  tidak pernah ke Aceh (misalnya), tapi saat 17 Agustus mereka memakai pakaiadan adat Aceh dengan sukarela dan bangga. Saat seorang pelajar di Bali menggenakan pakaian suku Dayak, mereka tidak pernah merasa asing dan tersisih, justru sebaliknya mereka bangga akan keanekaragaman yang dimiliki negeri ini.

Tapi sadarkah dan tahukah kita, ternyata kebanggan dan mimpi Bangsa Indonesia, sekarang hanya milik kaum marginal di negeri ini. Walau mereka tidak pernah mendapatkan keadilan, namun mereka tetap senang dan bangga menjadi bagian dari negeri ini.

Saat negeri ini dilanda krisis, kaum bawah tetap setia dan terus berkorban dengan keadaannya. Kemiskinan, kelaparan, kekeringan, gagal panen, hingga keadilan yang tercerabut. Namun mereka tetap sabar. Dari ujung timur hingga ujung barat, semua bersabar dengan kondisi yang tidak pernah mereka minta.

Kini, Pancasila mulai terancam dan sekarat. Selama ini, Malaysia nyaris menjadi “musuh” bebuyutan Indonesia dalam berbagai bidang, baik olahraga, ekonomi hingga pariwisata. Sayangnya, bukan Malaysia yang menggerogoti atau ingin memenggal Pancasila. Akan tetapi, petinggi-petinggi negeri inilah yang akan “memenggal” Pancasila.

Memang, sudah terlihat sebelumnya, kondisi beberapa tahun belakangan ini, Indonesia sudah sangat berantakan. Dimulai dari hilangkan kerukunan beragama, sikap saling menghargai, hilangkan keadilan hampir disemua sendi kehidupan, merupakan sebuah gambaran nyata bahwa negeri ini sudah sangat berantakan.

Walau Negera ini mencoba memasang topeng berwarna warni. Topeng wisata, topeng kebudayaan, topeng kerukunan, topeng keramahan, namun harus kita jujur, bangsa lain sudah tahu dan sudah melihat wajah Indonesia dibalik topeng. Begitu banyak koreng yang harus disembuhkan.

Tapi anehnya, disaat topeng terbuka dan koreng terlihat, kita bukannya bahu membahu dan saling menolong untuk membersihkan koreng tersebut agar kembali terlihat indah. Tapi sebaliknya, kita ini menanggalkan symbol negara ini.

Jika kita membaca Tajuk Rencana Kompas Edisi Mei 2011, dengan judul “Pancasila di ujung Tanduk”, sungguh sangat ironis. Negeri ini benar-benar telah dihuni oleh manusia “aneh”. Bukan manusia marginal, tapi manusia “aneh”lah yang menghancurkan negeri ini.

Mamakku Seorang Pelacur

Standard

Diantara Negeri Syariat, Aceh. Mendung yang hitam pekat seolah menggambarkan pekatnya jalan hidup yang tengah dihadapi beberapa manusia di negeri ini.

Deo Armada

Erick Andri

Farah Mutia

Angga Tria

Inggrid Mutia

Aku terdiam. Mencoba mencari apa yang sedang ia pikirkan. Deo seperti tidak mempedulikan kehadiranku, padahal aku duduk tepat disamping kirinya. memandangnya.

“Kamu ngapain duduk sendiri disini?” aku mencoba memancingnya untuk berbicara.

Deo tetap diam. Kedua bola matanya menatap kedepan, hampa. Sesekali ia memainkan kedua kakinya, melipat-lipat tak beraturan. Sesekali ia meluruskannya kedepan, lalu menekuk kedua lututnya.

Aku tetap menatapnya, mencoba menerka apa yang tengah ia pikirkan. Namun gagal. Deo benar-benar menikmatinya kondisinya yang sepi, dan menganggap aku tidak ada disampingnya.

Setelah tiga puluh menit tidak membuahkan hasil, aku pun bergegas meninggalkannya.

Deo tetap tanpa suara. Ia hanya sekali menatapku saat aku berkata, “Jangan kemana-mana, sebentar lagi saya kembali”.

Aku menuju sebuah warung untuk membeli makanan ringan dan dua botoh minuman.

Dengan menenteng sebungkus makanan ringan aku pun kembali ke tempat Deo.

Aku semakin bingung, Deo masih duduk ditempatnya. Bahkan, saat aku duduk disampingnya, ia pun tidak peduli.

Aku sodorkan makanan dan minuman yang kubeli tadi, seketika wajahnya berubah. Gembira.

“Saya minta satu, ya,” katanya, sedikit tersenyum.

Aku mengangguk.

Akhirnya aku dan Deo menyantap sampai habis makanan dan minuman di dalam plastik. Masih seperti semula. Tanpa ada kata yang keluar dari bibirnya. Kami tetap membisu. Hanya suara kerupuk yang berhancuran dari dalam mulut yang terdengar.

Tiba-tiba, beberapa suara nyaring terdengar memanggil.

“Bang Deo….!!!!!”

“Bang Deo….!!!!!”

Deo membalikkan tubuhnya kearah belakang. Aku ikut membalikkan tubuhku.

Dari kejauhan kulihat dua anak kecil sambil berlari kecil memanggil Deo. Umurnya kira-kira berusia empat tahun dan enam tahun.

Aku menatap Deo. Diam.

Benar-benar pemandangan yang sangat sulit untuk ku cerna. Tanpa ekspresi, Deo berdiri, lalu mendekati kedua anak kecil yang memanggilnya tadi.

“Buk.. buk…!”

Aku terperanjat. Benar-benar diluar perkiraanku. Kulihat dengan mata kepalaku, Deo menampar kedua anak kecil itu.

Kulihat kedua wajah anak yang barusan ditampar Deo meringis kesakitan. Namun mereka diam tanpa berani melawan.

“Bang Deo dipanggil mamak,” kata salah seorang anak itu, lalu berlari meninggalkan Deo.

Aku benar-benar panik, tidak tahu harus berbuat apa. Melihat kondisi Deo, melihat wajah kedua anak kecil (Ternyata adik Deo) yang meringis kesakitan tanpa bisa melawan. Aku benar-benar bingung tidak tahu harus berkata apa dan apa yang harus kulakukan, karena semuanya sangat cepat dan tiba-tiba.

Namun yang membuatku bingung, bagaimana mungkin Deo memukul kedua adiknya yang tidak melakukan kesalahan, tanpa ekspresi dan begitu dingin. Lalu, saat melihat kedua wajah adiknya yang menerima pasrah tamparan Deo. Atau minimal, anak kecil seusia mereka, akan menangis. Karena, sejujurnya, tamparan yang dilakukan Deo sangat keras dan kuat untuk seukurannya.

Deo mendekatiku. “Bang terimakasih kuenya,” katanya singkat. Hanya itu yang Deo katakan kepadaku, dan akupun berniat pergi meninggalkan tempat aku duduk bersama tadi.

Tapi, aku benar-benar terperanjat saat hendak menggerakkan kaki, Deo tiba-tiba mengomel sendiri. “DASAR MAMAK PELACUR PUKIMAK!”.

* Sebuah kondisi yang tanpa disengaja saya bertemu Deo, seorang pelajar SMP kelas 2. Setelah bertanya sedikit tentang Deo kepada masyarakat sekitar, saya pun hanya bisa menitikkan airmata.

Pray From Aceh

Standard

Musibah bencana alam silih berganti terjadi di muka bumi ini. Pada 11 Maret 2011 lalu, gempa dahsyat yang disusul dengan tsunami, telah memporakporandakan Jepang. Berbagai bentuk keprihatinan dan solidaritas terhadap para korban pun mengalir dari berbagai penjuru dunia.

Aceh secara khusus, memiliki hubungan yang erat dengan Jepang. Dimana, saat tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 lalu, telah mempertemukan sukarelawan muda dari Jepang dan Aceh untuk saling bahu membahu membangun kembali Aceh dari keterpurukan dan luka yang dirasakan para korban tsunami.

Para sukarelawan ini menjadi jembatan penghubung antara masyarakat Jepang dan Aceh terutama dimasa-masa sulit saat itu. Hingga kini, hubungan erat tersebut masih terjalin walau proses rehab rekontruksi di Aceh telah berakhir. Bencana tsunami di Aceh dan Jepang,  telah melahirkan solidaritas dan semangat kebersamaan.

Oleh karena itu, disaat Jepang dilanda tsunami, sudah selayaknya kita member dukungan semangat bagi para korban untuk kembali bangkit dan tetap semangat menjalani kehidupan ini. Kami, tergabung dalam project Pray from Aceh, mencoba menyatukan kembali semangat kebersamaan ini. Antara Jepang dan Aceh.

Pray From Aceh, merupakan sebuah wadah bersama sekelompok anak muda di Aceh untuk mendukung masyarakat Jepang yang sedang tertimpa musibah, khususnya dalam bentuk dukungan dan simpati yang mendalam. Berbagai bentuk simpati ini dapat dilihat langsung di http://prayfromaceh.jp dan lampiran.

 Setidaknya, kehadiran Pray From Aceh, dapat menunjukkan rasa solidaritas dan keprihatinan yang mendalam masyarakat Aceh kepada para korban gempa dan tsunami Jepang. “Bukan hanya bentuk materi yang diperlukan, tapi dorongan semangat untuk bangkit.

Karena itu, dukungan teman-teman dari berbagai perkumpulan, komunitas dan lembaga-lembaga pemuda lainnya, sangat kami harapkan demi suksesnya kegiatan ini.

Kita Semua Bisa Menjadi Pahlawan!

Standard

Siapa yang tidak mengenal Cut Nyak Dhien, Panglima Diponegoro, Pattimura dan para pahlawan lainnya di negeri ini. Mereka adalah para pahlawan yang berjuang mempertahankan negeri ini. Para pahlawan yang siap mengorbankan seluruh hidupnya. Tidak peduli darah habis di tubuhnya, tak peduli rasa lapar dan haus, mereka tetap bertahan dengan kekuatan mereka. Tidak hanya menggunakan senjata, juga menggunakan pikiran dan tenaga.

Dan sadarkah kita, saat ini, banyak pahlawan yang berada disekitar kita. Mereka terus berjuang dan bertahan dengan kemampuan mereka, mereka bertahan dengan darah dan air mata.

Lihatlah, bagaimana seorang kuli bangunan, tak peduli terik matahari membakar tubuhnya, tak peduli air hujan yang membasahi tubuh, tak peduli tidur diatas kayu atau lantai yang dingin. Mereka terus bertahan. Semua mereka lakukan demi keluarga, membiayai anak-anaknya bisa melanjutkan pendidikan, menjaga keluarganya dari hal-hal negative karena kondisi ekonomi yang morat marit.

Lihatlah bagaimana seorang Office Boy (OB), disaat orang-orang berdasi melewatinya, disaat pejabat-pejabat menyuruhnya untuk berbagai urusan sepele, namun dia tidak gentar dan malu menjadi seorang OB. Karena, di rumahnya, seorang wanita tuda selalu menunggunya membawa rezeki.

Lihatlah seorang nelayan, walau hidup pas-pasan karena banyaknya rentenir, mereka akan terus berusaha dan terus berusaha, tetap bertahan agar bias member senyum kepada keluarganya.

Lihatlah para pembantu rumah tangga, walau sering mendapat penghinaan, dan terkadang siksaaan, mereka tetap bertahan dengan kekuatan mereka. Mereka berjuang dengan hati dan kekuatan yang ada. Semua dilakukan hanya untuk keluarganya di kampung.

Jutaan pahlawan ada disekitar kita.

Lalu bagaimana dengan kita?

Pernahkan kita terpikir untuk menjadi pahlawan, walau bukan sebagai pahlawan sesungguhnya di medan peperangan, tapi, adakah kita berusaha menjadi seseorang yang bermanfaat bagi orang lain, manusia yang bisa memberi harapan hidup bagi orang lain?

Tanyakan pada diri kita.

Sudah berapa banyak keluh kesah yang kita keluarkan, sudah berapa banyak protes yang kita keluarkan dari mulut, sudah berapa umpatan yang kita ucapkan, sudah berapa banyak ketidakpedulian kita kepada lingkungan, sudha berapa banyak… sudah berapa banyak….. sudah berapa banyak hal-hal lain yang telah kita buang…. Waktu, usia dan kesempatan.

Lihatlah, berapa banyak manusia yang gagal namun mereka tetap bertahan dan kembali bangkit. Lihatlah perjalanan hidup mereka, mereka bangkit bukan hanya untuk memikirkan diri sendiri, akan tetapi bangkit untuk bisa memberi manfaat bagi orang-orang yang berada disekililingnya.

Tanyakan pada diri kita.

Sebanyak apa dan sejauh mana cobaan dan kegagalan yang kita hadapi, seberapa banyak kesulitan yang kita temui…. Tanyakan pada diri kita… tanyakan…

Kita bisa dan kita mampu. Jangan takut pada angin yang berhembus, jangan takut pada batu yang ada ditengah jalan.

Marilah kita mencoba, buanglah rasa takut dan keragua-raguan yang datang. Jangan takut akan halangan yang semua itu belum tentu kita hadapi, jangan takut pada kegagalan yang belum tentu terjadi. Yakinlah dan berpikir positif, kita bisa dan kita mampu!

Kita semua sama dan kita semua mampu!

Sudah berapa banyak manusia yang berjuang, terjatuh, lalu bangun, terjatuh, kembali berdiri, terjatuh, bangun dan berdiri sambil terus bertahan, terjatuh,,, dan lihatlah… kini mereka tersenyum. Nikmat.

Lihatlah, berapa banyak manusia yang ada disekeliling kita. Mereka semua menanti kita, menunggu dan terus menunggu. Akankah kita berdiam diri? Akankah kita hanya termangu dalam waktu yang terus berjalan, akankah kita hanya menghabiskan waktu dengan senda gurau? Akankah… akankah… kita diam?

Kita semua mampu, dan kita semua bisa!

Wanita Durjana dan Lelaki Keparat *

Standard

Wanita berkerudung besar itu hanya diam. Sambil membetulkan ujung jilbabnya, kedua bola matanya liar mengamati sekelilingnya. Hilir mudik pemuda-pemuda tampan membuatnya betah bertahan. Sudah hampir tiga jam lebih.

Pukul 21.00 wib. Malam mulai menanjak, dinginnya udara malam tidak membuat wanita berkerudung itu bergeming.

Hamni, nama wanita itu, masih tetap bertahan. Tatapannya sesekali kosong, sesekali berbinar disaat pemuda-pemuda tampan menatapnya. Hatinya berbunga-bunga, seolah ada sebuah harapan dari tatapannya.

Seperti malam-malam kemarin, ini malam ke tujuh Hamni berdiri disudut warung, tempat yang biasa disinggahi oleh mahasiswa dan mahasiswi yang nge-kost di sekitarnya.

Hamni, dalam tujuh hari ini, sedikit berani dan nekat. Pun kebetulan, saat ini, perkuliahan belum terlalu aktif, masih di bulan-bulan awal. Apalagi, sebagian besar mahasiswa juga masih berada di kampung untuk menikmati masa liburan.

Tepat pukul 22.00 wib.

“Loh, kok masih disitu Hamni,” Tanya Bu Ani, sang pemilik warung. Saat itu, Bu Ani akan menutup warungnya.

“Iya, bu. Ini  masih menunggu teman. Tadi kendaraannya mogok,” jawab Hamni. Apa yang dikatakannya barusan, sebenarnya hanyalah sebuah alasan palsu agar sang pemilik warung tidak curiga.

Lima menit berselang, Hamni mulai was-was, pemuda-pemuda yang ditunggunya sedari tadi tidak lagi muncul. Padahal, malam semakin menanjak, bahkan bulan pun sudah terlihat bersembunyi di balik awan.

Namun, hasrat yang begitu menggebu untuk melihat pemuda-pemuda tampan itu, Hamni tetap bertahan. Tidak peduli tetesan embun yang berjatuhan membasahi kerudungnya, tak peduli nyamuk yang terus menggigitnya hingga bercak darah membekas di kulit tangannya yang putih.

**

Malam semakin menanjak, Hamni, sang wanita berkerudung besar itupun larut dalam canda nakal dan saling menggoda. Tak peduli puluhan pasang mata melihat mereka. Sesekali, Hamni mengeluarkan kata-kata sedikit memancing agar sang pemuda tampan itu tersenyum dan tentunya, membalas dengan kata-kata yang juga sedikit nakal.

Lagi-lagi, mereka berdua lupa, berjuta pasang mata melihat aksi mereka.

Pukul 03.00 wib. Semakin nakal, semakin binal dan semakin menjadi-jadi.

*Tentatif dan masih sementara

*Masih prolog loh