Hapuslah Air Mata Mereka

Standard

Berbagi, kata yang sangat sederhana dan sebuah kata yang bisa jadi, hanya kata yang tidak berarti dan biasa-biasa saja.

Hidup adalah anugerah. Dalam tubuh kita pun banyak anugrah yang Tuhan berikan. Bukan pada wajah yang cantik, ganteng ataupun pada bentuk tubuh yang indah. Akan tetapi ada sebuah anugerah yang terkadang kita tidak pernah memperhatikannya. Yaitu, keseimbangan.

Bukan sebuah keseimbangan dalam artifisial umum, ada tawa, ada tangis, ada sakit ataupun sehat. Melainkan sebuah keseimbangan yang akan mengatrol keseluruhan hidup. Keseimbangan jiwa, hati, perasaan dan tentunya… bagaimana dengan sebuah keseimbangan ini, kita benar-benar merasakan bagaimana “nikmatnya iman”.

Saat wajah bisa dibeli untuk terlihat cantik dan tampan, saat tubuh dapat dibeli dengan bentuk yang proposional (dalam pandangan sekarang), saat harta dapat dibeli dengan berbagai cara, saat jabatan dapat diraih dengan berbagai usaha, namun, akankah kita bisa merasakan nikmatnya iman, merasakan bagaimana lapangnya hati sebagaimana luasnya samudera.

Cobalah sekali waktu, Jika pun tidak sanggup, karena berbagai alasan, cobalah sekali waktu datang ke panti asuhan, tataplah wajah mereka, rasakan, dan pikirkan, seandainya adik kandung kita, anak kandung kita berada dalam posisi mereka.

Jika pun tidak mampu, sesekali waktu, disaat kita ke pasar, lihatlah, bagaimana kehidupan mereka, bagaimana anak-anak harus banting tulang bekerja. Mulai dari mengumpulkan sampah, mengemis, hingga, tidak sedikit dari mereka yang bekerja sebagai pencopet.

Belum lagi anak-anak cacat yang nyaris tidak memperoleh perhatian, baik keluarga maupun lingkungannya.

Belum lagi anak-anak yang harus menghabiskan masa kecilnya, masa bermainnya di penjara, mereka harus menjadi manusia “dewasa” untuk bisa bertahan hidup.

Anak-anak yang berjuang, tak peduli siang dan malam, tak peduli teriknya matahari, tak peduli derasnya hujan dari langit, mereka akan tetap terus berjalan dengan langkah kaki yang gontai, dengan perut yang kosong, dengan rasa takut yang tak dapat terucap, dengan rasa sakit yang tak terkira, dengan air mata yang tak tahu sudah berapa banyak terjatuh… next

Advertisements

“Kebersamaan dan Keberagaman”

Standard

Berbagi bersama di bulan suci Ramadan, mungkin memang telah sering dilakukan oleh masyarakat. Berbagai bentuk diberikan untuk saling berbagi, khususnya kepada pakir miskin dan anak yatim.

Namun, Minggu, 29 agustus 2010 lalu, belasan mahasiswa dari DETaK Unsyiah, Banda Aceh, memberikan sebuah hal baru. Ada sebuah semangat, perjuangan dan cinta yang bergelora, sehingga Ramadan tahun ini menjadi sangat berkesan.

Perjuangan, semangat dan cinta, begitu terasa saat acara Pelatihan Jurnalistik Dasar dan berbuka bersama anak-anak panti asuhan Baldatun Thaibatun Warabun Ghafur (BTRG), Desa Cireeh, Ulee Kareng, Banda Aceh.

Kumpulan mahasiswa dari berbagai fakultas di Universitas Syiah Kuala itu, memilih tema “Kebersamaan dan Keberagaman”. DETaK mencoba “memangkas” garis pemisah antara mahasiswa dan anak-anak panti yang selama ini masih kerap terjadi.

Bersama anak-anak panti BTRG, para mahasiswa itu memberikan sebuah “kehidupan” baru. Di Panti BTRG, mereka benar-benar menyatu dalam kebersamaan dengan berbagai perbedaan.

Belasan mahasiswa ini bukan hanya berbagi ilmu dan memberi santunan. Akan tetapi, mereka memberikan sebuah angin segar bagi anak-anak panti yang sebagian besar merupakan yatim piatu.

Para mahasiswi, sedari pagi telah berkumpul di panti asuhan untuk menyiapkan penganan berbuka. Mereka tidak bekerja sendiri, namun mengajak remaja-remaja putri di panti tersebut untuk terlibat. “Hal ini dilakukan agar anak-anak panti juga merasa dihargai, dan mereka juga sama seperti kami sebagai mahasiswa. Tidak ada perbedaan!” Ungkap Reja Hidayat, selaku kordinator kegiatan.

Selain menyiapkan penganan berbuka, team DETaK juga juga disibukkan dengan memberi pelatihan dasar tentang jurnalistik kepada anak-anak panti lainnya.

Karena tidak memiliki ruangan cukup seperti aula, pelatihan jurnalistik dilaksanakan di mushalla panti.

Banyak kejadian unik saat pelatihan jurnalistik berlangsung. Sebagian anak-anak panti bahkan ada yang tertidur pulas dan tidak menyadari bahwa dirinya sedang ikut pelatihan menulis. Bahkan ada beberapa santri yang keluar masuk mushalla untuk berwudhu agar tidak mengantuk. Yang paling menarik, ternyata ada sebagian dari anak panti yang tidak mengerti bahasa Indonesia.

“Sangat unik. Namun kami menjadi semangat dan tertantang dengan keadaan ini,” kata Reja Hidayat, tersenyum.

Walau suhu udara saat itu sangat panas, tapi tidak mengurangi semangat para mahasiswa ini. Bahkan, beberapa mahasiswa harus mondar-mandir dari satu lokasi ke lokasi lainnya yang jaraknya sangat jauh. Selain member pelatihan jurnalistik bagi anak panti, ternyata kegiatan ini juga diminati kalangan umum lainnya.

Karena minat kalangan umum juga tinggi, akhirnya DETaK menerima pendaftar dari umum. Menariknya, dari peserta umum, datang dari berbagai elemen yang sangat unik. Selain mahasiswa, juga ada perwakilan dari Persatuan Pemuda Aceh Barat Daya, Treeng Institute, Balai Latihan Keja Industri (BLKI) Banda Aceh, Komunitas mahasiswa, hingga dua peserta dari kalangan kepolisian.

Hal ini sangat disyukuri oleh Reja. Menurutnya, dengan berbagai keterbatasan panitia, ternyata tema yang diusung, “Kebersamaan dan Keberagaman” benar-benar terjadi saat itu. Kebersamaan bersama anak-anak panti, dan keberagaman dari para peserta pelatihan jurnalistik serta hadirnya teman-teman dari Komunitas Aceh Forum dan Raider Community menambah semaraknya kegiatan saat itu.

Kehadiran teman-teman Aceh Forum dan Raider Community, seolah member semangat baru bagi DETaK. Mereka juga turun membantu saat acara pelatihan jurnalistik dan kegiatan di dapur untuk menyiapkan sajian berbuka.

Seluruh peserta pelatihan, baik anak panti maupun umum, diajak melakukan liputan langsung ke lapangan (hunting liputan). Walau dalam kondisi panas, dan menahan haus dan lapar, ternyata para peserta tetap semangat mengikuti kegiatan hunting tersebut.

“Kebersamaan dan Keberagaman” semakin nyata terlihat. Karena,  DETaK memang tidak memiliki anggaran sama sekali untuk kegiatan ini. Banyaknya proposal yang dilempar ke lembaga-lembaga swasta dan dinas terkait, tidak satupun yang membuahkan hasil. Hingga menjelang hari H kegiatan, kepanikan memang sempat merasuki beberapa mahasiswa ini.

Namun, karena niat dan semangat yang tetap menyala, kegiatan ini tetap dilaksanakan. “Sejujurnya kita tetap sedih, karena sebagian proposal tidak ada yang membuahkan hasil. Namun kita tetap berpikir positif dan kembali meluruskan niat, bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan amal tanpa ada kepentingan lainnya,” ungkap Reja.

Untuk kegiatan ini sendiri, sebenarnya DETaK memperoleh sumbangan dana dari pihak rektorat, namun dana tersebut sangat terbatas sehingga tidak dapat mencukupi untuk melaksanaan kegiatan tersebut. Bahkan, untuk anggota DETaK pun, dana itu tidak mencukupi, apalagi untuk melaksanakan kegiatan yang melibatkan anak-anak panti.

Karena itu, akhirnya, seluruh mahasiswa ini sepakat untuk mengeluarkan uang dari sakunya masing-masing.

Melihat pengorbanan dan usaha ini, ternyata telah memancing teman-teman Aceh Forum dan Raider Communty untuk ikut membantu dengan mengeluarkan dana dari kantong anggotanya masing-masing. Semuanya dilakukan semata-mata untuk “Kebersamaan”.

“Apapun yang terjadi, kami harus tetap melaksanakan kegiatan ini. Apalagi, pihak panti juga sudah kami kabari, sehingga tidak mungkin untuk dibatalkan,” ujar ketua umum DETaK, Rayhamizar.

Salah seorang pengurus sempat menangis, karena dua hari menjelang kegiatan masih belum ada dana. Kejadian ini bukan hanya kali ini, bahkan, dua bulan sebelumnya, DETaK juga terpaksa melakukan saweran dana untuk dapat mencetak tabloid DETaK.

Hasil dari semangat dan kerja keras dan pengorbanan tersebut, ternyata tidak sia-sia. Menjelang hari H pelaksanaan kegiatan, ternyata masih ada sebuah lembaga pendidikan asing yang masih berkenan membantu. Lembaga tersebut siap membantu nasi kotak untuk menyukseskan kegiatan tersebut.

Menjelang berbuka, para mahasiswi kembali disibukkan dengan menyiapkan sajian berbuka. Membersihkan piring, gelas dan nampan bersama anak-anak panti. Semuanya berjalan dengan baik dan penuh kekeluargaan. Senda gurau antara mahasiswi DETaK dan anak-anak panti terdengar indah dan memancing beberapa anggota Raider Communty untuk nimbrung.

Sepuluh menit menjelang berbuka, setelah acara perkenalan secara umum dengan pengruus panti, acara diisi dengan ceramah oleh salah seorang pengurus panti BTRG. Acara berbuka tersebut juga dihadiri oleh Kepala Desa Cireeh, ketua pemuda setempat dan beberapa undangan seperti, Komunitas Aceh Fotografer , Aceh Blogger, dan seluruh peserta pelatihan jurnalistik.

Tidak tampak raut lelah diwajah para mahasiswa ini, padahal sebagian dari mereka belum sempat membersihkan diri (mandi) karena padatnya kegiatan. Maklum, sebagian seluruh panitia memang harus bertanggungjawab terhadap tugasnya masing-masing. Mulai dari persiapan tempat, mengisi pelatihan jurnalistik, membawa anak-anak panti dan peserta umum hunting liputan di lapangan hingga panitia yang berada di dapur panti untuk menyiapkan sajian berbuka. Kebahagiaan dan suksesnya acara telah membuat seluruh anggota bahagia.

Pimpinan sekaligus pendiri panti, Tgk. Marhaban Nafi, menyatakan rasa bahagia atas kegiatan tersebut. Karena, menurutnya, masih banyak mahasiswa yang peduli terhadap sesama. “Apalagi kegiatan yang dibuat oleh komunitas DETaK ini tidak semata berbuka bersama, akan tetapi juga memberi ilmu jurnalistik bagi anak-anak panti. Hal ini belum pernah diberikan oleh siapapun,” ungkap Murhaban Nafi.

Pun, tambah Murhaban Nafi, para mahasiswa ini juga mampu berinteraksi bersama anak panti di dapur. Kegiatan ini benar-benar telah meruntuhkan jurang perbedaan diantara mahasiswa dan anak-anak panti.

Karena itu, Reja Hidayat berharap, kegiatan ini juga dapat dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang. Tidak hanya di bulan suci Ramadan, namun dibulan-bulan lainnya diusahakan kegiatan ini dapat dilaksanakan. “Kami selaku panitia mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung kegiatan ini, khususnya kepada Aceh Forum Community dan Aceh Raider Community dan tentunya kepada pihak panti,” tutup Reja Hidayat.