“Kontes Putri Aceh” dan Dunia “Sok” Suci

Standard

Saat ini, sebanyak 20 dara Aceh yang terpilih menjadi finalis Pemilihan Putri Indonesia (PPI), mulai dikarantina di Hotel Lido Graha, Kota Lhokseumawe, Aceh. Seluruh Finalis akan menjalani tes membaca quran (mengaji).

Akan tetapi, bukan pengakuaan atawa penghargaan yang mereka peroleh, justru hinaan dan cacian yang diberi masyarakat, bukan hanya kepada para finalis (secara tidak langsung), juga pada acara puti-putrian itu.

Lelah dan bingung, mungkin ini satu perasaan saya saat membaca ribuan komentar yang tidak sedikit memaki dan melecehkan tentang acara Kontes Putri Aceh yang diselenggarakan oleh salah satu lembaga di Aceh.

Lebih dari separuh komentar,baik di dunia maya maupun dunia nyata, menyalahkan dan menganggap kegiatan tersebut sebuah ajang penghinaan dan pengrusakan moral. Merusak keberlangsungan penerapan syariat Islam di Aceh. Huh!! Padahal, “kondisi Syariat Islam di Aceh sudah babak belur!”

Menurut saya, secara pribadi, kontes-kontes putri tidaklah salah dan memang tidak perlu disalahkan. Karena, yang harus kita pahami adalah, apa tujuan dari kontes-kontesan tersebut? Baca selanjutnya Klik disini