Seandainya Aku Petani, Bukan Jurnalis?

Image

Apa yang istimewa dari seorang jurnalis, bila dibandingkan dengan petani? Kedua profesi ini, memiliki kelebihan tersendiri. Selain pekerjaan sebagai guru (Teladan, tentunya), seorang petani dan jurnalis merupakan sebuah pekerjaan yang sama mulianya.

Tapi , bagi saya , hidup sebagai jurnalis ternyata tidaklah semudah membalik telapak tangan. Sangat berat, bahkan.

Seharusnya, saya tidak layak untuk membicarakan hal ini, karena saya masih terlalu mentah dalam “dunia” jurnalistik. Belum berusia lima tahun saya menjadi seorang jurnalis.

Namun, dalam rentang waktu yang singkat tersebut, saya melihat begitu banyak “kekhilafan” yang sulit untuk dihapus. Sangat jauh berbeda dengan seorang petani (walau sejujurnya, saya tidak berhak membandingkan kedua pekerjaan ini). Tapi ini hanya berupa pendapat pribadi yang telah lama terpendam.

Ternyata, petani lebih mampu menjadi diri sendiri dan menerima apa adanya disbanding pekerjaan sebagai jurnalis. Petani bekerja sepenuh hati dan memberi manfaat jauh lebih luas dan lebih dalam untuk kehidupan orang banyak.

Sebaliknya, ketika berdiri untuk menjadi seorang jurnalis, saya seperti berdiri di antara dua sisi yang sulit untuk dipisahkan, yaitu sisi baik dan sisi buruk. Sulitnya mmebedakan kedua sisi ini, karena keduanya nyaris tidak terlihat.

Saya sadari, ini semua tergantung pada pribadi masing-masing. Namun, melihat kehidupan para jurnalis, ternyata begitu berat “cobaan” yang harus dijalani.

– Cobaan terhadap godaan nafsu (Baik Harta, Tahta maupun Wanita)

– Cobaan terhadap sikap Idealis.

– Cobaan terhadap tekanan luar (Objek pemberitaan), dan

– Cobaan untuk melihat dan bermimpi akan kehidupan masa depan yang layak.

Semua cobaan itu hanya sebagian kecil saja. Karena, pada dasarnya, cobaan lain kerpa datang dari kantor media tempat kerja, termasuk “sempitnya” lahan media di Aceh (khususnya).

Semua cobaan itu seakan menjadi sempurna kala upah mencari berita ternyata jauh dari kata layak, bahkan berada pada titik rendah dari upah minimum yang diberlakukan oleh pemerintah (Baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah). Belum lagi ketiadaan jaminan masa depan ketika keluar, ketiadaan asuransi, menambah beban yang tak berkesudahan. Hidup sebagai jurnalis benar-benar dalam ancaman dan selalu dalam tekanan, jika tak mau dikatakan “ditekan” atau “dipaksa”.

Terkesan cengeng dan bodoh! Tapi, inilah yang saya lihat dan rasakan!

Kerisauan ini, sering sekali saya dengar dari beberapa teman yang berprofesi sebagai jurnalis. Keraguan akan masa depan, kadang-kadang, telah membuat mereka “gelap mata”. Meskipun hati menolak, namun, keadaan telah memaksa untuk ikut “bermain” dan melepaskan tanggung jawab sebagai kontrol sosial.

Tidak hanya itu, kadang-kadang, seorang teman jurnalis berkata: “Aku tidak makan dari pagi karena tidak ada uang”.

Sayangnya, bukan jurnalis muda, para pencari berita yang sudah berlevel senior pun merasakan hal yang sama. “Uang untuk membayar sewa rumah tidak ada”, “Bagaimana saya bisa menikah jika gaji belum tetap”, “Bagaimana saya bisa membayar uang kuliah” dan banyak lagi keluhan-keluhan yang tidak mampu terurai dna diterangkan. Karena, sesame jurnalis, sudah saling memahami kondisi masing-masing. “Curhat” merupakan jalan untuk menenangkan diri dan perasaan akan ketidakpastian hidup sebagai seorang jurnalis.

Saya yakin, mereka bukan manusia lemah. Dan itu terbukti, seberat apapun kehidupan yang harus dijalani, toh mereka tetap setia dengan pekerjaan mereka sebagai jurnalis.

Kadang-kadang saya berfikir, menjadi seorang petani justru lebih baik. Sedemikian burukkah menjaid seorang jurnalis? Tentu saja tidak. Semua, tetap tergantung pada tekad dan kreativitas masing-masing.

Akan tetapi, kondisi riil di lapangan, orang sering tertipu. Sebagian orang menganggap pekerjaan jurnalis adalah profesi yang hebat. Sebagai contoh, seorang jurnalis dapat bertemu langsung dengan tokoh-tokoh besar, pejabat, bupati hingga presiden.

Padahal, dalam kehidupan normal, tidaklah sebagaimana yang terlihat diluar. Seorang jurnalis harus kembali untuk berjuang, bagaimana mencari makan, menghidupi keluarga dan membiayai pendidikan anak-anaknya.

Memang ada ungkapan, “kehidupan ini sudah diatur oleh yang di Atas”. Pernyataan klise ini sering saya dengar, tapi, apakah saya harus tetap menjadikan pernyataan itu sebagai pegangan. Tentu tidak bisa!

Melihat kondisi ini, saya merasa khawatir dan prihatin terhadap masa depan jurnalis muda di Aceh, dan Indonesia pada umumnya. Dalam lonjakan semangat untuk belajar menulis dengan mengikuti berbagai pelatihan jurnalistik, justru masa depan mereka begitu suram. Bukan suram karena sikap diri, melainkan suramnya kehidupan yang harus dijalani. Karena, di Indonesia, sangat sedikit media yang benar-benar bertanggungjawab terhadap jurnalisnya.

Ketika mereka melihat kehidupan jurnalis di lapangan , saya ragu apakah mereka dapat meyakinkan diri, bahwa, menjadi seorang jurnalis adalah pilihan utama dan tujuan dalam hidup!

Banyaknya media “bajingan” yang penuh tipu daya, lalu kemanakah para jurnalis muda harus berlabuh? Apakah ada yang peduli ? Apakah ada kekhawatiran ?

Meskipun, lagi-lagi, diakui, itu semua tergantung pada pribadi masing-masing. Jika anda ingin maju dan berkembang, belajar dengan tekun, pasti bisa!

Namun, dengan kondisi dengan “kekacauan” seperti diatas, apakah ada jaminan bagi jurnalis muda untuk terus bertahan? Karena, selama menjadi jurnalis, saya melihat langsung bagaimana jurnalis berjatuhan dan banting setir.

Ribuan jurnalis muda, saat ini, aktif belajar di berbagai tempat. Dengan segala keterbatasannya, dengan segala kekurangannya, dengan minimnya fasilitas, mereka tetap semangat mengejar cita-cita.

Karena, pengalaman di lapangan, banyak jurnalis yang tergelincir untuk terlibat aktif dalam politik praktis dan “terpaksa” menjadikan posisi jurnalis sebagai batu loncatan dengan menjadi bupati atau lainnya. Tidak sedikit pula jurnalis yang menjadi tameng untuk melindungi pejabat dari kasus korupsi.

Paling tragis, tentu saja, ketika saya melihat seorang jurnalis benar-benar terlibat dalam aksi kejahatan, mulai dari perdagangan obat terlarang hingga kejahatan kriminalitas lainnya.

Mengapa hal ini terjadi? Saya yakin, kita semua sudah tahu jawabannya.

Akhirnya, menjadi petani ternyata menjadi pilihan terbaik untuk terus hidup. Tak perlu neko-neko. Tak perlu memakai “topeng” kemunafikan.

Advertisements

Keresahan Saat Menulis (Jangan Buang Tulisan Anda)

Standard

Manulis, mungkin sebuah pekerjaan yang mudah dan ringan. Terkesan sepele. Apalagi, jika sebuah tulisan hanya berupa plagiat (copy paste, mencontek, nyeplak), tentu sangat mudah dan tidak harus memeras keringat dan memutar otak hingga duduk berjam-jam didepan meja.

Akan tetapi, keresahan itu hadir, saat kita mencoba menulis dari “nol”. Rasa bingung, penat, galau dan suntuk secara tiba-tiba menyerbu benak dan pikiran. Lembar-lembar halaman buku, ribuan kata-kata, sering dengan “sengaja” kita buang atau didelete dari komputer.

Mengapa hal itu kita lakukan? tidak lain karena kita merasa tulisan tersebut tidak layak untuk dibaca, sangat buruk untuk dikatakan sebagai sebuah tulisan.

Kekesalan ini, sering sekali berimbas kepada “kemalasan” dan “kebosanan” akibat merasa gagal dan tidak mampu. Fatal!

Berdasarkan pengalaman penulis-penulis sukses di dunia, hasil jerih payah otak yang mereka tuangkan dalam secarik kertas, menjadi mutiara yang harus tetap disimpan. Terlalu mahal untuk dibuang begitu saja.

Keringat, pikiran serta tenaga yang tercurah saat menulis adalah sebuah pengorbanan yang tidak semestinya dibuang begitu saja.

Tindakan ini akan menjadi sia-sia dan percuma. Karena, mutiara-mutiara hasil pemikiran yang telah tertulis itu, suatu hari nanti akan sangat dibutuhkan dan diperlukan. Jika kita membuang mutiara yang terkadang hadir disaat moment-moment tak tersangka itu, adalah sebuah ide-ide cemerlang dari isi otak kita.

Mengapa demikian?

Karena, bisa jadi, hari ini tulisan kita yang masih “bau kencur” itu belum bermanfaat dan tidak sesuai moment. Namun, ketika moment itu hadir, tentu mutiara yang telah kita hasilkan bisa kita buka kembali dan di publish untuk berbagai kepentingan.

Moment-moment penting tidak akan terjadi berulang untuk kedua-kalinya. Pun, bila terjadi berulangkali, belum tentu jalan pemikiran kita masih sama seperti saat awal tulisan dibuat. Tentu, tulisan yang kita delete, tulisan yang kita buang, akan menjadi abu dan sia-sia.

Biarkanlah keresahan, kegalauan saat menulis itu hadir. Karena, tanpa sadar, kegalauan dan keresahan saat menulis, adalah sebuah metamorfosa yang akan membimbing pikiran menjadi “matang” untuk melahirkan tulisan-tulisan  yang lebih baik.

Keresahan dan kegalauan merupakan arena bagi kita sebagai penulis.

So, menulislah. Biarlah mutiara yang bersemayam didalam pikiran terburai menjadi untaian kata, menjadi barisan huruf bermakna. Jangan mudah menyerah, dengan membuang semua mutiara itu. Moment-moment yang tertuang dalam tulisan, suatu saat akan menjadi “hits”.

Nah, disaat itulah mutiara yang kita “anggap” tidak layak itu bisa dikeluarkan. surprise!

Satu hal yang pasti. Penilaian baik buruknya sebuah tulisan, bukanlah dalam kacamata pribadi saja. Akan tetapi, penilaian akan datang dari orang lain, yang telah membaca mutiara yang kita hasilkan.

…………….. mau belajar nulis dulu ah…………… 🙂